Kartu Nama

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 19 August 2013

“Hei, pada minggir semua. Jangan main di jalan raya”, hardik seorang pengemudi mobil ke sekumpulan remaja yang sedang bermain di tengah jalan. Begitulah keadaan yang setiap hari terjadi pada remaja di kampung beling ini karena terbatasnya lahan untuk mereka bermain. Mau nggak mau mereka bermain di tengah jalan yang memang lalu lintas nya tidak terlau ramai, malahan bisa di bilang cuman hitungan jari saja kendaraan yang melintas di situ. “Hu..Hu..Hu..Hu..” timpal mereka ke pengemudi mobil yang mukanya tampak agak sedikit marah tersebut. “Maafin kami pak”, tiba-tiba celetuk salah seorang remaja yang berumur kira-kira 15 tahun dengan perawakan sedang, kulit sawo matang di sertai wajah yang manis. “Boni”, begitulah panggilannya.

Boni tinggal di kampung beling sejak kecil dengan kedua orangtuanya. Keluarga Boni hidup dengan keadaan yang serba pas-pasan dan jauh dari kenyamanan. Bilik tempat mereka berteduh dari panas dan hujan hanya terbuat dari papan triplek bekas dengan tambalan di sana-sini. Tidak ada perabotan rumah tangga yang mencolok yang terlihat di dalamnya. Peralatan elektronik pun tak dapat di jumpai, hanya beberapa lampu minyak tergantung di dinding bilik untuk penerangan keluarga ini di malam hari. Ayah Boni berprofesi sebagai kuli serabutan dengan pendapatan yang tidak menentu sedangkan ibunya hanya sebagi buruh cuci dengan gaji yang hanya cukup untuk menutupi kebutuhan makan sehari-hari. Kondisi kesehatan Ayah Boni yang sudah tua sering sakit-sakitan dan kalau dalam kondisi seperti ini, ibunya hanya bisa menangis pasrah meratapi nasib. Demi terus mendapat pendidikan yang layak dan untuk membantu orang tua, Boni tidak segan-segan untuk mencari tambahan uang. Sepulang dari sekolah Boni menjadi pengamen di perempatan jalan di deket kampungnya. Rasa malu bertemu teman sekolah kala menjadi pengamen sudah di buangnya jauh-jauh.

Setelah 3 tahun bersusah payah dan mati-matian berusaha akhirnya Boni mendapatkan juga ijazah SMA-nya. Hari itu merupakan hari paling bahagia buat Boni di bandingkan dengan hari-hari sebelumnya. Dalam perjalanan pulang ke rumah selepas mengambil ijazah, dalam hatinya berkata “ini langkah awal buatku, semoga ijazah ini bisa membantuku dalam mencari pekerjaan”. Sesampai di bilik kecilnya, Boni menangis terharu dan memeluk kedua orang tuanya yang sudah semakin lanjut usia nya.
“Bapak, ibu, saya lulus”, kata Boni
“Alhamdulillah, semua usaha dan kerja kerasmu selama ini membuahkan hasil nak”, sahut ibu nya
“Walaupun cuma ijazah SMA, Bapak sangat bersyukur nak. Semoga bisa membantu dalam meraih semua impianmu”, timpal Bapaknya sambil berlinang air mata.

Tak dapat di pungkiri bahwa hari itu merupakan hari yang paling membahagiakan bagi keluarga kecil ini yang selalu hidup serba pas-pasan. Dua minggu dari hari kelulusannya kemudian, Boni meminta ijin kepada orangtua nya untuk mencari sebuah pekerjaan.
“Pak, saya mau mencari pekerjaan. Saya mau membantu meringankan beban Bapak dan ibu”, pinta Boni.
“Hati-hati nak, hanya doa yang bisa Bapak sertakan. Semoga kamu mendapatkan yang terbaik”, kata Bapaknya.
“Terimakasih, doakan Boni Pak, Bu”, kata Boni
“Iya Nak”, sahut Ibunya.
“Boni pergi dulu Pak, Bu”, lanjut Boni
Sebelum pergi, Boni pun tak lupa mencium tangan kedua orangtuanya. Dengan semangat membara demi meringankan beban keluarga, Boni pun berangkat dengan senyuman.

Berbekal ijazah SMA, Boni keluar masuk dari satu perusahaan ke perusahaan lainnya. “Ternyata tidak mudah mencari pekerjaan”, dalam hatinya berkata. Sambil menghilangkan penat, Boni beristirahat di bawah sebuah pohon yang cukup rindang. Tiba-tiba seorang lelaki paruh baya menghampirinya dan kemudian duduk di sebelah Boni.
Laki-laki paruh baya: “Lagi istirahat dik?”
Boni: “Iya pak.”
Laki-laki paruh baya: “Habis darimana dik, kok keliatannya lelah sekali.”
Boni: “Nyari kerjaan pak, tapi masih belum dapat.”
Laki-laki paruh baya: “Owwhhh, nyari kerjaan toh, mau nggak dik kerja ikut Bapak.”
Boni: “kerja apa pak? asalkan halal saya mau pak.”
Laki-laki paruh baya: “Ya sudah besok kamu ke alamat ini ya.”
Boni: “Terima kasih banyak pak.”

Ternyata Laki-laki paruh baya tersebut adalah seorang direktur dan keesokan harinya Boni pergi dengan berbekal semangat untuk mencari sebuah alamat yang tertera pada kartu nama yang kemarin. Setelah berputar kesana kemari akhirnya Boni menemukan juga alamat yang terdapat di kartu nama. Sebuah gedung megah berlantai 8, dengan kesibukan yang bukan main padatnya.
“Cari siapa mas?”, tanya seorang security pada Boni
“Mau ketemu Bapak ini”, sambil menyerahkan sebuah kartu nama ke security tersebut
“Hah, Pak Direktur?”, kata security.
“Iya pak”, sahut Boni
“Nggak bisa sembarangan mas ketemu ama Pak Direktur, memangnya kamu siapa?”, kata security dengan intonasi suara yang agak keras.
Tiba-tiba seorang lelaki muncul dan menghampiri mereka, “Sudah datang kamu dik, langsung ke ruangan saya saja”, kata lelaki itu
“Baru saja datang Pak”, sahut Boni
Sambil mengikuti langkah lelaki yang tidak lain merupakan seorang direktur, Boni pun tersenyum dalam hatinya.

Setelah beberapa saat, sampailah mereka di suatu ruangan yang cukup mewah.
“Sejak saya lihat kamu pertama kali, saya berpikir kalau kamu itu orangnya giat, jujur”, kata Pak Direktur seraya meminum secangkir teh yang sudah di siapkan di mejanya. Setelah mengobrol panjang lebar akhirnya Boni di terima menjadi seorang karyawan di perusahaan tersebut.

Dengan pekerjaan baru tersebut, Boni bisa membantu meringankan beban ekonomi keluarganya. Kehidupan yang sebelumnya dirasakan serba kekurangan bisa berangsur-angsur menjadi kehidupan yang lebih baik.

“SEBUAH KARTU NAMA YANG MEMBAWA KEBERUNTUNGAN”, ucap boni dalam hati

Cerpen Karangan: Aries
Blog: http://justthis4u.blogspot.com/

Cerpen Kartu Nama merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kecup Cium Untuk Ibu

Oleh:
Namaku Aisyah, gadis remaja biasa yang baru bangun dari tidur lelapnya. Sudah menjadi kebiasaan bagiku meletakkan jam alarmku bersebelahan dengan kamar mandi. Supaya mau tidak mau aku harus berjalan

Aku Mau Menjadi

Oleh:
Di sudut sebuah ruangan tampak sesosok pria tua renta sedang duduk bersila menikmati makan siangnya, dengan perlahan ia memasukkan sesuap demi sesuap nasi ke dalam mulutnya. Ia terlihat begitu

Diana dan Si Pussy

Oleh:
Diana sekarang telah duduk di bangku kelas lima di Sekolah Dasar. Keluarganya sedang bermigrasi ke kota, tetapi Diana tidak, Dia tetap tinggal bersama kakek, nenek, pamannya Kholil dan bibinya

Kesakitanku

Oleh:
Hari itu hari minggu, hari dimana ayahku libur kerja, dan kebetulan tidak ada kerja tambahan jadi ayahku ada di rumah, hari minggu adalah hari kesukaanku, hari yang sangat menyenangkan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *