Kayu Cemara

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Kehidupan, Cerpen Misteri
Lolos moderasi pada: 9 August 2013

“Bram, Kita tinggal di dunia dimensi tiga, Aku, kamu, binatang, tumbuhan dan masih banyak lagi. Alam semesta kita terdiri dari berbagai macam dimensi. Empat, lima atau enam, entahlah..” Aku sejenak merebahkan badan di atas rumput, lalu menarik ranselku untuk dijadikan bantal. Suasana di taman belakang rumahku menjadi hening. Hanya sepoi angin malam yang berlalu lalang di depan kami berdua. Sepi tapi tenang.

Bram diam saja, dirinya lebih memilih untuk berpikir dahulu, daripada mengucapkan pendapat asal.” Hmm.. Jangan kau cerita padaku soal begituan. Aku bukan dukun atau ahli agama, lagian itu kan urusan sang pencipta, gak usahlah diperdebatkan. Gak akan nyampe logika kita.”
“Bukan maksudku untuk lancang membahas hal yang tidak pantas kita ketahui, tapi..” Air mataku mulai beranjak bangun dari matras kecilnya.
“Tapi kenapa?”
“Aku merindukan pria itu.”
“kakekmu?” Bram memandangku.
Aku mengangguk,” Baru setahun kakek pergi, dunia terasa berbeda. Aku rindu ketika dia bercerita tentang banyak hal, impian, juga harapan. Aku memang paling dekat dengannya, bahkan bisa dikatakan, kami berdua seperti ayah dan anak saja.” Aku menyeka air mataku.
“Sudahlah Jean, manusia tidak ada yang abadi, semua pasti mati. Sekarang, tinggal usaha kita untuk mempersiapkan amalan yang cukup sebelum menghadap-NYA.”
“Aku tahu itu.”. Senyumku mengembang.
“Kalau kamu mau, besok akan kuantar kau ke Bogor, ke rumah kakekmu, kita ziarah membawa oleh-oleh untuknya”
“Maksudmu?”
“Kakekmu tidak ingin dilupakan Jean. Kita oleh-olehnya”. Bram tersenyum memandangku, sekilas mataku dan matanya berpandangan. Dapat kulihat bola matanya yang coklat terang, memancarkan rasa kemisteriusan yang amat dalam. Tetapi melegakan bagiku.

Subuh ini, sebelum si jago keluar dari tempat tidurnya, kami berdua berangkat. Membawa perasaan Rindu yang tidak biasa, antara dimensi ketiga dan dimensi kelima. Sudah kubilang tadi bahwa aku dan kakek dulu dekat sekali. Kakek adalah seorang guru yang baru pensiun. Ia mengajar di sebuah sekolah dasar di kampungnya. Kakeku terkenal ramah dan selalu menebar senyum kepada setiap orang yang ditemuinya. Tetapi sikap kakek yang pendiam, membuatnya kurang bergaul dengan orang-orang desa. Kakek lebih memilih menghabiskan waktunya untuk mengurung diri membaca buku di depan perapian yang hangat. Yang aku suka adalah koleksi buku yang banyak sekali. Aku menerka-nerka kalau jumlahnya sampai 3000 buku. Sastra, seni, cerita, novel, semua jenis buku telah tinggal di rak bukunya yang sudah mulai rapuh itu. Kakek pernah bilang padaku, kalau ia sangat mencintai buku-bukunya. Bahkan sempat menjadi istri keduanya setelah nenek meninggal.

Rumah kakek sekarang dijaga oleh mang Paes, yang dulu bekerja sebagai tukang kebun di rumahnya. Mang Paes berbadan besar, berambut gondrong, kedipan matanya yang menantang, menyurutkan nyali setiap orang yang berbicara dengannya. Aku agak kurang suka dengannya. Sebagai pencinta keramahan, aku sangat anti kemarahan, kebengisan dan sejawatnya. Aku juga tidak sepenuhnya benar. Prinsipku meyakinkan untuk tidak menilai orang dari penampilannya.

Akhirnya kami sampai juga di rumah Kakek. Rumah berlantai kayu itu sangat kurindukan, imajinasiku memutar balik ke masa lampau ketika kakek dan nenek masih hidup di sini. Ketika mereka berdua duduk-duduk di teras setiap sore. Sangat tentram suasananya. Namun seiring waktu mereka menjadi semakin tua dan mulai lemah. Akhirnya berpulang di panggil Tuhan. Sungguh aku tak sempat menemani kakek di malam terakhirnya. Yang kurasakan hanya kegelisahan yang tak berujung hari itu. Seperti ada gelombang yang menerjang segala keresahan di dadaku.

Aku dan Bram bergegas keluar dari mobil menuju teras untuk sekedar duduk-duduk santai menunggu si penjaga rumah membukakan pintu. Matahari sebentar lagi turun ke pangkuannya. Senja semakin dekat. Angin gunung begitu dingin merasuk ke baju, badan kemudian tulang.

“Neng Jean sudah dari kapan disini?”. Tiba-tiba mang Paes muncul dari belakang rumah. Suaranya terdengar tidak seperti biasanya, ada sedikit kegugupan yang aku lihat darinya. Matanya yang nampak merah, dengan nafas yang tersengal-sengal. Keringatnya bercucuran, seraya berjalan gontai menuju kami.
“Baru saja. Oh iya, tolong bukakan pintunya mang”
“Baik neng” Mang Paes mengambil kunci dari sakunya, kemudian membuka pintu rumah kakek yang sudah rusak terkelupas lebar.

Aku dan Bram masuk ke dalam secara bersamaan. Mang Paes pergi ke arah dapur untuk membuatkan minuman. Kami berdua duduk di kursi tamu yang terbuat dari rotan. Mata kami saling mengawasi keadaan rumah ini. Sangat kotor, seperti gudang yang tidak terurus. Aku mendengus kesal, karena mang Paes tidak becus menjaga rumah kakek. Padahal uang bulanan selalu ku kirim dengan rutin. Kalau di suruh memilih, aku ingin tinggal di rumah ini, untuk merawatnya. Siapa yang tidak mau tinggal di kawasan daerah pegunungan yang masih asri ini. Masih terikat dengan dunia perkuliahan. itulah alasanku untuk tidak tinggal disini.

Tiba-tiba dari arah dapur terdengar suara orang terjatuh. Bram bergegas menuju asal suara tersebut, aku mengikut di belakangnya. Terlihat Mang Paes sudah tergeletak di lantai. matanya melotot, keringatnya bercucuran. Kucoba untuk mengangkatnya. Tapi badannya panas sekali. Lantas bram menggendongnya seraya merebahkannya di atas kasur. Aku bergegas menuju mobil untuk mengambil obat-obatan yang tersedia. Ketika aku kembali ke kamar dengan membawa sekotak obat. Bram terduduk di lantai. Badannya menyandar ke dinding yang dingin. Mukanya tegang menyiratkan ketakutan dan kehampaan. Seketika aku melihat tubuh orang tergeletak, dengan mulut mengeluarkan darah sudah tak bernyawa.
“Jean.. dia sudah mati…” Suara Bram berhembus parau.

Terpaan sinar matahari pagi datang dengan bijaksana untuk membangunkan seluruh penghuni alam yang masih terlelap. Berbondong-bondong orang desa berlalu lalang di depan kuburan ini. Sekedar memberi penghormatan terakhir meninggalnya mang Paes secara misterius. Menurut warga desa, Akhir-akhir ini mang Paes selalu gelisah, jarang bicara dan terlihat lunglai. Desas-desusnya, mang Paes meninggal karena Ilmu hitam.

Mang Paes dikenal memiliki sebuah kotak kayu yang disimpan di kamarnya. Katanya kotak kayu itu dibuat dari kayu pohon cemara di dalam hutan angker kawasan gunung Sewu yang letaknya tak jauh dari rumah kakek. Mang Paes berjalan berhari-hari melintasi hutan-hutan rimba, yang konon katanya pohonya bernyawa dan dapat berpindah-pindah. Orang yang miskin ilmu ghaib dapat terkatung-katung dibuatnya. Bahkan sudah banyak orang yang tidak kembali lagi. Terdengar kabar bahwa mereka dikawini oleh dedemit-dedemit hutan.

Sepertinya mang Paes memerlukan kotak itu untuk menyimpan suatu benda pusaka. Keris, badik, mata tombak aku tak yakin. Hutan cemara di daerah gunung Sewu memang menjadi suatu tempat sejarah yang masih diragukan kebenarannya sampai saat ini. Konon dahulu ketika pasukan kerajaan Sunda melewati daerah itu. Mereka di jegal kawanan perampok yang mempunyai anak buah raksasa-raksasa haus darah. Seketika pasukan itu takluk dalam satu serangan. Kemudian mayat-mayatnya menjadi santapan pohon-pohon cemara hidup. Aku memang tak terlalu percaya pada cerita rakyat macam itu. Hanya saja membayangkannya menjadikan diriku agak bergidik dihantui ketakutan yang tidak pasti.

Di luar, udara malam cukup dingin. Orang-orang bernyawa sudah tewas dimakan tempat tidurnya. Sudah lewat tengah malam aku masih terjaga. terduduk di depan perapian hanya untuk menciumi buku-buku kakek. Bau debu sudah seperti melati, menusuk ke dalam indera penciuman berganti menjadi aroma kenangan.

Terlihat Bram datang membawa dua cangkir kopi. Bau wangi itu merayuku untuk meliriknya.
“Secangkir kopi teman menikmati malam yang indah, nona jean” Bram menaruh secangkir kopi di atas meja.
“Dengan senang hati.” Aku mengambil dan menyeruputnya dalam-dalam.
“Kau ingat dengan kotak pusaka mang Paes?.” Bram membuka pembicaraan.
“Tentang mitos-mitos tidak masuk akal itu”.
“Hmm.. bisa saja itu nyata, kau tahu bahwa pohon cemara itu dapat hidup hingga ribuan tahun?”
“Benarkah?, coba jelaskan lebih detail”.
“Pohon gymnospermae itu sangat diagung-agungkan oleh para pecinta botani. Selain digunakan sebagai penghias taman-taman, kayu pohonnya dapat dijadikan perabot. Strukturnya kuat dan awet. Lihatlah, kau bisa melihat pohon cemara di mana saja. Bahkan di area bersalju, kecuali ya daerah gurun. Tidak heran pohon kuat itu dijadikan tempat penyimanan benda-benda pusaka”.
“Tentang usianya?” Aku menegaskan.
“Dan hubungannya dengan kejadian sejarah itu?” Bram tersenyum kecut.
“iya, cepat jelaskan!”. Aku makin penasaran.
“Sepertinya dari tadi kau menyimak perkataanku dengan cermat ya. Baiklah jean, dengarkan baik-baik.” Bram menceritakan dengan amat serius.

Mungkin ada benarnya pendapat Bram, Mahasiswa jurusan biologi itu memang tidak bisa kuremehkan sekarang. Terkadang aku sangat suka untuk membantah perkataan orang, seakan lupa pada diri sendiri. Tapi perkataan bram kali ini patut kucermati juga. Bahwa pohon cemara mungkin hidup hingga ratusan bahkan ribuan tahun lamanya.

Peristiwa kerajaan sunda itu terjadi pada seribu limaratus tahun lalu. Mungkin ketika mayat-mayat para prajurit itu mati. Mereka terkubur di bawah deretan pohon cemara yang kini kayunya dianggap bertuah oleh orang-orang, dan dijadikan sebuah kotak pusaka oleh seorang penganut ilmu hitam radikal mang Paes.

Pantas saja kotak kayu itu di simpan di atas lemari kamarnya yang tinggi. Aku sudah melihatnya tadi. Iya kotak kayu cemara itu, coklat kusam dengan serat-serat kayunya yang memutar melingkar. Tapi nyali ini belum sempat berkobar liar untuk membakar rasa ketakutanku. Kuurungkan niatku untuk membuka kotak itu. Sebuah kotak kayu cemara dengan sejuta kemisteriusan menyimpan sesuatu yang amat berharga di dalamnya.

Pagi ini kuniatkan untuk berangkat ke makam kakek di pekuburan desa. Dulu kakek meninggal terkena serangan jantung. Para warga berkata, kakek tidak pernah keluar rumah selama sebulan, seperti melakukan suatu ritual yang amat penting di kamarnya. Mang Paes juga tidak tahu menahu tentang kegiatan kakek kala itu. Waktu itu aku sedang ujian di kampus. Lantas aku beserta Ibu dan Bapak langsung bergegas menuju desa. Kami tidak percaya kakek akan pergi jauh tanpa diduga-duga. Aku masih penasaran apa yang dilakukan kakek di akhir hidupnya.

Sebelum berangkat kusempatkan untuk melihat kotak itu. Kuturunkan pelan-pelan dari atas lemari. Aku tak menduga ternyata kotak itu sangat ringan. Benda macam apa yang ada di dalamnya, aku semakin penasaran. Kuperhatikan di sekitar kotak. Nampak sebuah kertas putih yang ditempel, tertulis sebuah kalimat:
“Milik Bastian Sutedjo, segala yang berharga akan tetap berharga jika dimanfaatkan secara baik-baik, hartaku yang amat kucintai”.

Ternyata kotak ini punya kakek. Aku terdiam sejenak, apa yang harus kulakukan. Membuka dengan ketidaksiapan, atau meletakan kembali ke atas seakan tidak pernah kulihat sebelumnya. Lantas kotak tidak bertuan ini akan dilupakan seiring waktu yang berjalan.
“buka saja.”
“oh ternyata kau Bram.” Aku terhentak kaget
“Jangan takut Jean. Kadang hal-hal yang kita khawatirkan tidak selalu sesuai dengan kenyataan, ingat itu.”
“t tapi.. Bram.”
“Mang Paes tewas karena terkena pes, Jean. Aku sudah menduganya dengan melihat kondisi fisiknya waktu itu. Jadi bukan karena ilmu hitam. Aku perlu lebih banyak bukti untuk mendukung kesimpulanku. Dan tadi pagi saat aku berkeliling rumah, kulihat banyak tikus-tikus berkeliaran. Kondisi rumah kakekmu sangat mendukung tertularnya penyakit itu Jean.”
“Ternyata memang benar cerita itu hanya bualan belaka.” Aku bernafas lega.

Aku berpaling dari Bram. Fokusku hanya kepada kotak itu sekarang. Dengan degup jantung berdebar-debar, kubuka kotak itu dengan hati-hati.
Mataku masih memperhatikan benda itu secara seksama. Bukan keris, mata tombak ataupun badik, melainkan hanya timbunan kertas-kertas catatan seperti jurnal yang bertumpuk-tumpuk layu. Kuperiksa lembar demi lembar, dan di kertas paling besar, tertulis sebuah tulisan dengan tinta merah:
Aku sudah berpuluh tahun hidup di dunia, beribu buku dari seantero dunia sudah kukecap di dalam sekat-sekat otaku. mungkin kali ini saatnya untuk puasa membaca, sudah banyak ide yang terbuang sia-sia. Bukannya sudah tugasnya para pembaca pembelajar seluk beluk dunia untuk menulis memberitahukan kepada para pembaca penerima ilmu. Tentu semuanya tidak akan sia-sia. Waktu terus berputar, matahari masih setia bergiingsir bulan. Aku tentu tidak selamanya di dunia. Hanya tulisan-tulisan inilah yang menjadi sejarah bagi diriku dimasa muda yang selalu menunda-nunda untuk menulis.
-Bastian Sutedjo-

Udara sekelilingku seakan berhenti berhembus sesaat. Aku terdiam merenung semakin dalam. Kertas demi kertas yang berisi tulisan kakek aku kumpulkan. Agar kubaca untuk mengenal kakek yang hidup kembali di sebuah kotak yang terbuat dari kayu cemara bertuah ini, iya aku tahu bahwa tidak ada unsur klenik yang ada dalam kotak ini. Setidaknya kotak ini tetap bertuah bagiku, terlebih sudah melindungi kumpulan jurnal-jurnal kakek yang amat berharga ini.

Tiba-tiba Bram meraih pundakku dan berbisik.
“Jean, kotak itu memang menyimpan ilmu ghaib. Seakan berbicara sesuatu.”
“Hah?”
“Dia berkata bahwa mempunyai majikan baru sekarang.”

Cerpen Karangan: Rizqi Ardiansyah Tindaon
Blog: kaptengambar.blogspot.com
mahasiswa penulis

Cerpen Kayu Cemara merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Pesona Emak Emak Indonesia

Oleh:
Orangtua, ibu terutama, tidak akan pernah senang melihat anaknya menganggur. Menganggur yang kumaksud disini bukannya tidak memiliki pekerjaan tetap yang menghasilkan uang. Tapi menganggur dalam arti, hanya di rumah

Potret Senja Pak Warno

Oleh:
Jam menunjukkan pukul 4.35 sore. “15 menit lagi sampai,” pikirku setelah melihat jam yang ada di pintu masuk gerbong, bersamaan dengan selesainya pengumuman dari staf kereta api akan tibanya

Ratapan Penyesalanku

Oleh:
Jika aku bertanya, apakah aku menyukai takdir? Untuk beberapa hal aku akan menjawab, ya. Tapi, apakah kau tahu. Masih ada banyak takdir yang tak aku mengerti. Takdir itulah yang

Walaupun 1000 Tahun, Tak Masalah

Oleh:
Ini merupakan kisah seorang wanita. Wanita yang dengan begitu setianya terus menunggu, walaupun dia tahu telah tiba saatnya untuk berhenti. Terus menunggu, hingga janji yang dia terima dapat terlaksana.

Suddenly

Oleh:
Menyusuri jalanan panjang yang hanya bisa dilalui oleh satu jalur kendaraan roda empat, Via melangkahkan kakinya menuju tempat di mana ia mencari nafkah. Tak ada armada yang ia miliki,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *