Kebaikan Kecil Yang Bermakna

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan
Lolos moderasi pada: 22 March 2017

Suara sirine mengaung-ngaung, membubarkan tidur Bahran. Satpol PP datang menertibkan jalanan dari para gelandangan dan preman. Bahran lari terbirit-birit meninggalkan beberapa temannya. Jika pada posisi seperti ini banyak yang tak setia kawan, meninggalkan kawannya diterkam petugas satpol pp.

Pengejaran terus dilanjutkan, beberapa sudah ada yang tertangkap. Bahran mulai kelelahan, di dekat sebuah gang badannya tertarik. Mengajak Bahran bersembunyi di antara celah sempit rumah warga. Bahran berusaha mengenal tapi susah untuk menengokkan kepala, karena celahnya sangat sempit. Satpol PP mencari-cari, merasa Bahran tidak ada di situ, petugas Satpol PP melesat ke gang lainnya.

“Untung kamu aku selamatkan, jika tidak…” Suaranya seperti tidak asing di telinga Bahran. Bicaranya terpotong-potong, sembari mengambil nafas. Bahran ingin menjawab tapi lagi-lagi terlambat. Tangan Bahran ditarik menuju suatu tempat dengan kasar, kuat, tangan ini dalah tangan laki-laki.

Dibawanya Bahran ke sebuah rumah kecil yang sederhana. Bahran tidak mngenali laki-laki seumurannya yang menolong Bahran tadi. Tapi dalam pikiran Bahran terus melayang-layang, mengingat apakah dia pernah bertemu dengannya.
“Untuk sementara kamu tinggal di sini dulu.” Suara yang halus terucap di mulut remaja yang tak dikenal. Bahran bingung.
“Apa maksudmu?” Bahran melihat-lihat sebuah ruangan kecil, berisi puluhan anak kecil yang bermain-main. Ruangan yang sangat pengap, sempit dan dihuni banyak orang. Bahran tidak mengetahui anak siapakah semua ini? Dari mana mereka berasal. Bahran ingin sekali mengucap terima kasih dan bertanya mengenai dirinya, tapi lagi-lagi ia terlambat. Remaja itu telah keluar entah kemana. Bahran mengitari sudut-sudut ruangan. Dapur yang sangat kumuh, satu kamar mandi kecil untuk sebanyak anak ini. Apakah ini penampungan?

Terpaksa malam ini Bahran menginap di sebuah gubuk kecil berisi para kelinci malang, tepatnya anak-anak tanpa orangtua. Remaja yang menolongnya datang dengan membawa sekantug plastik makanan, dibagikannya makananan yang tak banyak itu kepada anak-anak kecil. Berebutan seperti ayam. Remaja itu hanya tersenyum, Bahran melihat ada sebuah penderitaan yang terpancar dari matanya. Suasana hening, anak-anak telah tertidur, belum ada yang memulai pembicaraan dari Bahran dan remaja tak dikenal. Suara muncul mengagetkan Bahran.
“Mengapa kamu nggelandang? Di mana keluargamu?” Remaja tadi bertanya tentang apa yang tidak ingin dibicarakan oleh Bahran. Dia telah muak dengan pertanyaan yang selalu muncul, selalu terdengar di telinganya. Ibu Bahran meninggal diwaktu kecil, dan ayahnya pergi meninggalkannya. Entah pergi ke mana, tak tahu rimbanya.
“Itu bukan urusanmu!” Jawaban Bahran membuat remaja itu terkejut.
“Memangnya kenapa? Apa ada yang salah dengan pertanyaanku?”
“Itu bukan urusanmu!” Bahran menjawab dengan sedikit lebih keras. Remaja itu terdiam, hanya sebuah senyuman yang selalu terurai di wajahnya, apakah itu senyum palsu? Bahran bertanya mengenai siapakah remaja itu dan mengapa ia menolong dirinya.

“Kamu itu siapa? Mengapa kamu menolongku dan membawaku ke gubuk ini?” Pertanyaan Bahran hanya dijawab dengn senyuman. Remaja itu ternyata bernama Wisnu, dan dia menceritakan semuanya pada Bahran. Bahran tak berkutik apapun, terdiam ketika diceritakan masalah Wisnu dan mengapa ada anak-anak di gubuk ini.

Gubuk sederana ini adalah peninggalan satu-satunya dari alm. Ayahnya. Hanya gubuk inilah yang paling berharga bagi Wisnu. Dan anak-anak itu ia pungut dari jalanan kota. Dua puluh anak lebih ia pungut, dan dicukupi oleh dirinya bersama beberapa rekannya. Dikenalkannya aku dengan teman-teman Wisnu. Mereka semua tidak nampak menakutkan, tapi sangatlah bersahabat. Seorang gadis cantik menghampiriku, tangan yang mulus ia julurkan, mengajakku berjabat tangan dan berkenalan.
“Kenalkan aku Risma.” Suara yang merdu dari seorang gadis yang cantik jelita. Gadis cantik yang seharusnya tidak berada di tempat seperti ini. Hatinya seputih salju, ia sangat ramah. Dan tiga sisanya adalah Ahmad, Toha, dan Karin. Ahmad berbadan kekar, tinggi semampai. Jauh di lubuk hatiku aku sangat kagum dengan mereka. Mereka yang telah menjadi yatim piatu malah merawat anak-anak terlantar. Sungguh para pemuda yang berhati baik.

Bahran ingin sekali membantu mereka. Membantu membersihkan ruangan ataupun apapun yang bisa ia lakukan untuk membayar semua ini. Tapi semua itu dilarang oleh Wisnu. Bahran tetap saja membersihkan apa yang seharusnya dibersihkan. Wisnu sudah berkali-kali melarangnya tapi semua itu dianggap angin lewat saja oleh Bahran. Wisnu membiarkan Bahran melakukan semua itu. Bahran sangat heran mengenai pekerjaan lima serangkai itu, pekerjaan apakah yang mereka lakukan untuk membiayai semua ini. Sampai suatu siang, Wisnu keluar rumah tanpa pamit, mencurigakan. Bahran mengikutinya sampai ke beberapa gang. Wisnu terhenti di sebuah gang sempit, di sana terlihat ada Ahmad dan Toha. Mereka mencurigakan.

Mereka menyusuri pasar. Orang-orang berdesak-desakan, sehingga membuat Bahran kehilangan jejak mereka. Teriakan ibu-ibu dengan sangat lantang mengucap Copet!!! Di sisi lain beberapa anak lari menyusuri gerombolan para ibu-ibu dan bapak-bapak di pasar. Mereka adalah Wisnu, Toha dan Ahmad. Tak disangka, mereka semua mendapat uang dari pencopetan. Bahran mengelus-eluskan dada, kemudian lari menyusul Wisnu.

Pada sebuah gang kecil, komplotan itu terhenti, membuka dompet, menghitung uang-uang yang ada pada isi dompet. Bahran mendekati mereka. Wisnu terkejut.
“Oooh, jadi ternyata kelakuan kamu seperti ini, Wisnu! Aku tak menyangka ternyata kamu adalah pencopet!!” Bahran sangat kesal, Wisnu berusaha menjelaskan tapi semua itu ditolak oleh Bahran. Dia pergi, Wisnu mengejarnya.
“Bahran, dengarkan aku, ini semua ada alasannya.” Tangan wisnu menarik-narik tangan Bahran. Dia tetap saja diam seribu bahasa. Semuanya telah terungkap jika ternyata Wisnu adalah pencopet.

Sekitar satu minggu Wisnu berhenti mencopet, anak-anak terlantar di gubuk itu lambat laun meringik kelaparan. Wisnu dan kawan-kawan bingung, apa yang harus dilakukan. Bahran ternyata kerap hilir mudik di dekat gubuk kecil itu, memastikan keadaan anak-anak. Sekarang keadaan anak-anak sungguh memprihatinkan, hati Bahran tersentuh untuk membantu. Pintu diketuk, dibuka pintu, seisi gubuk itu terkejut melihat kedatangan Bahran. Terutama Wisnu.
“Bahran, kau datang, syukurlah, mereka membutuhkanmu.” Suara Wisnu dengan memelas. Tapi masih dianggap angin lewat saja oleh Bahran, kekecewaan itu masih ada di benak Bahran.
“Aku datang ke sini ingin membantu kalian, aku ingin kita mencari pekerjaan apapun untuk bisa memberi makan anak-anak itu, tapi syaratnya harus halal…” Semuanya mengangguk, mendengarkan setiap perkataan Bahran.
“… kita bisa bekrja di warung-warung atau membersihkan piring-piring di warung makan.”
“Tapi semua itu sangat sulit didapatkan di kota ini, Bahran.” Toha mulai angkat bicara, ia tak setuju, ia juga ragu.
“Apapun pasti bisa, kan kita belum mencoba. Kita harus berdoa dan terus berusaha, pasti dimudahkan oleh Allah SWt.”
“Jadi kita akan bekerja apa?”

Semuanya mencoba mencari pekerjaan. Risma dan Karin menetap menjadi pelayan warung makan Padang. Toha bekerja menjadi tukang sol sepatu. Ahmad yang berbadan kekar menjadi tukang pengangkat barang-barang di pasar. Wisnu dan aku menjadi tukang parkir. Rupiah demi rupiah mereka kumpulkan, satu mingu terkumpul lima ratus ribu. Mereka terus mengumpulkan uang itu. Mereka juga ingin membeli rumah yang layak untuk para anak-anak itu.

Sebuah mobil mewah BMW baru saja memarkirkan mobilnya di area parkir Wisnu. Bapak-bapak berjas hitam rapi dengan sepatu mengkilat keluar dari mobil itu. Sangat anggun, tapi mataku terpaku pada apa yang jatuh dari saku belakangnya. Sebuah dompet hitam besar terjatuh. Bahran menghampiri Wisnu dan mendekati dompet itu. Diambillah dompet itu, bapak-bapak tadi telah hilang. Mereka mencarinya, memasuki gedung dekat parkiran. Tapi kami dihadang oleh satpam yang menakutkan.
“Mau apa kalian anak busuk!”
“Ini bukan urusan, Bapak!” Wisnu membantahnya. Pak Satpam menjadi amarah, didoronglah kami keluar dari pintu kaca. Kami terjatuh di aspal. Pak Satpam meneriaki kami, mengusir kami. Tapi, Pak Satpam itu terdiam ketika melihat Bosnya datang.
“Ada apa ini? Mengapa ribut-ribut!”
“Itu Pak, anak-anak jalanan yaang ingin masuk ke apartemen Bapak!”

Ternyata bapak-bapak tadi adalah bos apartemen ini. Mereka berdiri, dan memberikan dompet hitam itu pada pemiliknya. Awalnya bapak tadi bingung, tapi kemudian menundukkan badannya dan mengacak-acak rambut Bahran dan Wisnu. Bapak itu tersenyum.
“Kalian anak-anak yang baik, terima kasih telah menyelamatkan saya dari kehilangan dompet yang beharga ini…” Lantas bapak itu mengajak Bahran dan Wisnu memasuki ruangannya. Wisnu terkagum-kagum pada pandangannya, Bahran juga.
“… ngomong-ngomong di mana orangtua kalian? Dimana kalian tinggal?” pertanyaan yang selalu membuat hati Bahran tertekan, kembali muncul.
“Kami yatim piatu, Pak” Wisnu menjawab dengan menundukkan kepala, seperti bawaham pada pimpinannya.
Percakapan itu terus berlanjut. Diceritakannya usaha mereka yang ingin membeli sebuah rumah untuk anak-anak malang itu. Bapak yang bernama Pak Basran itu tersentuh. Beliau ingin membantu mereka. Awalnya Wisnu menolak tapi terus dipaksa oleh Beliau. Siang itu juga Beliau menyempatkan diri untuk mengunjungi gubuk mereka. Wisnu dan Bahran ikut menaiki mobil BMW milik Pak Basran.

“Inikah yang kamu anggap sebagai rumah? Sekecil ini untuk menampung banyak anak?”
Mereka memasuki gubuk itu. Anak-anak sedang bermain, gubuk itu sangat berantakan. Langit-langit rumah kotor karena sarang laba-laba, di beberapa bagian tembok telah pecah. Pak Basran terdiam menatapi gubuk itu, pipinya dibasahi oleh air mata. Seketika itu juga Pak Basran menelepon seseorang dan menanyakan rumah kosong untuk dibuat panti asuhan. Wisnu dan Bahran terkejut mendengar semua itu, mereka tak menyangka akan kebaikan Pak Basran pada mereka.
“Apa maksud Bapak?” Wisnu bertanya setelah Pak Basran menutup teleponnya.
“Ini semua untuk kalian, Bapak belikan sebuah rumah untuk dibuat panti asuhan, serta semuanya, fasilitas memadai.” Pak Basran memegangi pundak Wisnu, pipinya kembali dibasahi oleh air mata. Wisnu seperti biasa, hanya tersenyum dan mengucap terima kasih dengan lirih. Bahran mendekat dan berpelukan pada Wisnu. Empat teman Wisnu lainnya datang, memasuki rumah dengan bingung. Wisnu masih saja tersenyum, Bahran tak kuasa menahan air mata. Semuanya terharu, bahagia, senang dengan kebaikan Pak Bahran ini.

Sebuah rumah impian yang dijadikan Panti Asuhan telah resmi milik mereka. Beberapa karyawan telah ada di Panti Asuhan itu. Sebuah panti asuhan yang dibilang mewah itu dibeli Pak Basran, dan nama panti itu bernama Panti Asuhan Kebaikan. Anak-anak sangat senang karena dibagian depan panti ada taman, juga ada beberapa mainan. Mereka semua tak khawatir pada kebersihan ataupun soal masak memasak, karena semua itu telah dikerjakan oleh karyawan dan baby sister. Pembiayaannya semua ditanggung oleh Pak Basran. Mereka berenam —Basran, Wisnu, Toha, Ahmad, Karin, dan Risma— tak henti-hentinya mengucap syukur pada Allah SWt. Mereka semua menangis, menangis bersama, bahagia bersama. Pak Basran juga menangis, semuanya menangis, semuanya menangis bahagia.

“Pak Basran, kami sangat berterima kasih pada Bapak…” Suara Bahran terpotong-potong karena isak tangis.
“Tak apa, ini semua juga karena kalian.”
Pertemuan yang tak pernah diduga oleh siapapun, tapi telah diacatat oleh sang Kuasa. Sebuah pertemuan singkat yang telah merubah nasib mereka semua, nasib para anak-anak yang sangat menderita karena lapar. Satu kebaikan kecil dibalas dengan kebaikan besar, itulah kebaikan. Seseorang yang melakukan kebaikan balasannya adalah kebaikan.

Cerpen Karangan: Fardan Yusuf Ibrahim
Facebook: Fardan Yusuf Ibrahim
Saya Fardan Yusuf Ibrahim. sekarang tinggal di kota kecil Wonosobo. saya saat ini masih duduk dibangku kelas 2 Sekolah Menengah Pertama.

Cerpen Kebaikan Kecil Yang Bermakna merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Pelarian Gunung Pelarian

Oleh:
Tanpa pedulikan kondisi pintu yang sudah rusak dan masih dalam kondisi terkunci, kudobrak sekuat tenaga dengan bantuan amarah yang tak terbendung menenggelaman diri dalam nafsu yang hampir tak terkendali,

Hari Rabu

Oleh:
Pagi ini aku awali rabuku dengan membuka pintu gerbang kos-kosan ku, karena adzan shubuh sudah memanggil aku untuk segera sholat di rumah allah yang sangat anggun bak istana itu.

Sahabat

Oleh:
“Rina izin sakit” begitu info di whats app group. Aku melengos kesal.. Hmm alasan lagi nih gak ikut meeting… biar bisa leha leha di rumah… Setiap kali teman aku

Pelangi

Oleh:
Agung bersemangat saat dirinya mengira Riana tersenyum padanya sore itu. Betapa Agung merasakan getaran cinta yang hebat dari perempuan yang diam-diam dicintainya selama ini. Jarang-jarang Agung bisa menikmati senyum

Dunia Baru Sahabatku

Oleh:
Namaku Celia, aku memiliki seorang sahabat bernama Nala, kami biasa pergi bersama berdua, menonton, jalan-jalan, bersenda gurau sambil duduk di resto pinggir jalan. Masa remaja kami begitu indah, dipenuhi

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *