Kecuali Aku!

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 15 July 2013

Sepertinya tak ada perempuan yang rela hati sejak kecil belajar menjadi pel*cur.
Kecuali aku!

Sepertinya tak ada perempuan yang saat tumbuh remaja tak ingin menikmati muda.
Kecuali aku!

Sepertinya tak ada perempuan yang saat tumbuh dewasa tak ingin bersuami.
Kecuali aku!

Sepertinya tak ada yang seperti ini
Kecuali Aku!

Sejak lahir aku tel*njang sendiri, tanpa nikmatnya disusui Ibu, tanpa hangatnya pangkuan Ibu Sejak lahir aku tak mengenal halusnya perempuan. Sejak lahir aku tak mengenal hangatnya dekapan. Tapi, kini aku berhasil menjadi seorang Ibu tanpa anak, dengan rela menyusui, mendekap, dan membelai. Ini semua berkat mereka. Aku tumbuh di antara mereka yang kehausan. Aku tumbuh di antara para pendosa yang mencetakku menjadi pendosa berikutnya. Aku tumbuh di antara mereka yang selalu menel*njangiku. Tak peduli aku merintih. Tak peduli aku mengaduh. Saatku merintih, seringku mengaduh, buat mereka semakin menjadi.

Sepertinya tak ada kisah yang lebih mengharukan, dan menjijikan.
Kecuali Aku!

Sepertinya tak ada kisah yang berdosa di dunia ini, dan tak ada cerita yang tepat untuk difilmkan di Neraka
Kecuali Aku!

Kini aku sendirian, bersama sebotol minuman. Di saat semua manusia sedang diramaikan oleh cerita pemberontakan.
Di saat semua manusia sedang diramaikan oleh film-film cinta penuh tawa.
Kecuali Aku!

Aku terus bercerita kepada dinding yang setia bisu mendengarkan ceritaku dan aku terus mencoba menikmati hidup sendirian. Aku selalu sedih, di saat sendiri begini, memandang cermin, melihat mukaku yang memang tidak begitu buruk, tapi aku sudah tidak bernilai. Malam membawaku pada ribuan asa, pada ribuan gairah hidup, yang sama sekali tak pernah ku anggap. Biarlah ribuan asa, dan gairah hidupku melewat begitu saja, aku tak butuh itu.
Walaupun kini, semua manusia begitu membutuhkan asa dan gairah hidup untuk membentuk bentuknya sendiri.
Kecuali Aku!

Aku hanya mencoba berlapang dada. Tak ada mimpi yang pantas kuimpikan. Semua hidupku sudah dibentuk oleh dosa. Dosa dan derita sudah arahkanku kepada kenyataan.
Sepertinya tak ada manusia yang pasrah seperti ini
Kecuali Aku!

Bagaimana aku tidak pasrah. Aku sudah mencoba untuk pisah. Pisah dari hidup susah. Pisah dari hidup yang tak mudah. Tapi tetap saja semuanya hanya buatku begah. Sudah kucoba jari jemariku kulentikkan pada kertas. Aku tekadkan diriku jamahi kertas saja. Aku tekadkan diriku menjadi penulis saja. Menulis, tidak buatku basah. Menulis, tidak buatku harus keramas. Mereka bilang aku memilih menulis karena aku kelelahan, mereka anggap menulis adalah on*ni.
Mungkin memang benar, menulis adalah on*ni, on*ni berkelas, berbusana, dan merangkai diksi, kemudian hasilnya dipuji..
Kecuali Aku!

Tulisanku tak dapat pujian, kata mereka tulisanku tak berpengetahuan. Dengan hebatnya, mulut pendosa itu mencaci tulisanku, merobek semua tulisanku dengan leluasa, padahal kurang apa aku kepada mereka, sudah kuserahkan kep*rawananku, sudah mereka robek, sudah mereka tertawakan, dan kini tulisanku pun mereka robek, mereka tertawakan pula. Tulisanku kini senasib dengan kep*rawananku sama-sama dirobek. Tulisanku kini senasib dengan kep*rawananku, sama-sama dirobek, kemudian ditertawakan. Keduanya sama, begitu berharga. Harga diriku sudah lama tiada, dan karyaku baru saja dirobek tadi, tak tanggung-tanggung mereka merobek semuanya. Harus apa aku sekarang?
Manusia-manusia di jauh sana berbangga diri, mengangkat kepala atas perubahan.
Kecuali aku!

Aku mencoba untuk menulis lagi, kali ini aku menulis diam-diam. Aku menulis di bawah ranjang. Tapi, sial mereka selalu saja mengendus tekadku. Mereka kemudian menarikku. Mereka kemudian memaksaku. Menarikku kepada pangkuan. Memaksaku kepada kenikmatan. Mereka selalu memaksaku menjadi seorang Ibu. Menyusui, Memanja, dan Membelai. Tapi Mereka tak pernah tampilkan sosok seorang Ayah. Tak ada pengorbanan. Tak ada aksi pahlawan. Mereka terus saja buatku mengaduh. Mereka terus buatku merintih. Sehabis itu aku dibiarkan menangis semalaman, bebarengan dengan waktu mereka dijamah oleh hirup pikuk suasana pesta.

Esok paginya, kulihat koran edisi terbaru, berita di halaman depannya mencuri perhatian, isi beritanya tentang jajaran penulis terkenal, ada begitu banyak nama penulis hebat ditulis disana.
Kecuali Aku!

Disaat manusia sedang berbahagia dengan kebebasan…
Kecuali Aku!

Cerpen Karangan: Ambiwwa Novita
Blog: Ambiwwgerimis.blogspot.com

Cerpen Kecuali Aku! merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Black Ribbon

Oleh:
Aku menatap pita hitam panjang di tanganku. Pita hitam peninggalan sahabatku, Sora. Kenapa? Kenapa, Sora? Kenapa kau pergi secepat ini? Apa kau tak tahu, betapa berharganya dirimu dalam hidupku?

Untukku Dan Kembali Ke Ayah

Oleh:
Perjalanan hidupku tidaklah seperti orang lain, aku harus melewati tiap-tiap ruang kegelapan untuk menuju cahaya kebahagiaan. Tidak hanya itu, tiap ruang kegelapan tersebut ada rintangan yang membuatku kadang lebih

Flower On Piano

Oleh:
Namaku Kezia. Panggil saja Zaza. Aku adalah anak yang terlahir dari keluarga broken home. Aku tidak tahu ayah dan ibuku berada di mana. Yang jelas aku tidak mendapatkan kasih

Sahabat Pelangi

Oleh:
Hari ini aku pergi bareng kedua sahabat yang palng aku sayangi, yaitu JIHAN dan PHELSCHA. Sebenarnya sih, gak hari ini saja aku pergi bareng mereka, tapi hampir tiap hari

Anagram

Oleh:
Stasia meletakkan cangkir kopinya sedikit kasar. Seandainya kafe sepi, mungkin dentingan keramik itu akan membuat pengunjung yang ada menoleh padanya. Perempuan di hadapannya baru saja memutuskan Juan, lelaki yang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *