Kegelisahan Mengenai Korelasi Antara Politik dan Agama

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan
Lolos moderasi pada: 13 October 2021

Pada suatu hari yang cerah, hiduplah seorang Mahasiswa yang bernama Udin yang tinggal di daerah ibukota, ia merupakan Mahasiswa yang sedang menempuh semester 1 di salah satu Perguruan Tinggi di Ibukota. ia mendukung salah satu Paslon pada pemilu pendatang, selain itu, ia pula merupakan orang yang bijak dalam memakai Sosial media, ia tidak pernah menebarkan berita Hoax di sosial media. Terlebih lagi melakukan provokasi dengan membawa unsur Agama agar lawan politik yang dia dukung, namanya menjadi buruk.

Pada suatu hari, Udin sedang membaca buku sembari menikmati secangkir kopi dan ditemani suara burung yang berkicau. Disaat yang sama pula, tetangganya yaitu Acuy yang juga merupakan Mahasiswa semester 1 menghampirinya dan tidak ada angin dan tidak ada hujan, Acuy mengajak Udin untuk berdialog dengannya dan Acuy sebagai tetangga sekaligus teman Udin, lantas bertanya

“Din, kenapa sih lu suka upload sesuatu yang berbau Politik? kita kan Cuma Mahasiswa, seharusnya ga usah ikut campur urusan orangtua. Politik itu hal yang berat, kita ga usah sok ikut-ikutan” ucap Acuy
Udin pun menjawab “Ga bisa cuy, Politik ini harus diusut tuntas sampai ke akar-akarnya, banyak sekali Problematika yang terjadi di Negara kita tercinta ini, khususnya dalam bidang Politik”
Acuy pun lantas membantah “Apa? Problematika? Ga usah sok Perhatian sama Politik di Indonesia deh, ngurus diri sendiri aja belum bener. Coba liat kita sekarang? Berkecukupan semuanya kan? Makan bisa tiga kali sehari, hidup senang-senang saja.”
Udin pun menjawab “Cuy, lu kalo mau jadi orang yang ga peduli akan keadaan sekitar, jangan menebarkan sifat tak acuh lu untuk mempengaruhi orang lain agar mereka menganggap lu benar dan mereka ikut menjadi orang yang tak acuh”
Acuy pun sedikit terpancing dari sisi emosionalnya “maksud lu apa din? Ya udah sekarang, coba lu jelasin, Apa yang membuat lu berfikir bahwa situasi politik kita ini ga baik-baik saja? Karena selama gua hidup, gua merasa situasi Politik terutama di Negara kita tercinta ini sedang aman-aman aja”

“Nih gua kasih bukti cuy bahwa yang terjadi di situasi politik kita sekarang sedang tidak baik-baik saja, di situasi sekarang yang masih dalam atmosfir Pemilu, para partai saling mengangkat namanya sendiri dan menjatuhkan lawan politiknya, dan mereka rela melakukan itu agar mereka memenangkan kompetisi itu demi memuaskan rasa haus mereka akan kemenangan dan juga rasa haus akan kekuasaan dan jabatan” ucap Udin

Acuy pun kembali bertanya karena merasa jawaban dari temannya kurang dapat diterima “hanya itu? Hanya karna hal semacam itu, lu berani mengambil kesimpulan bahwa situasi Politik kita sedang tidak baik-baik saja?”
Udin pun menjelaskan lagi dengan bijak “Cuy, itu bukan masalah yang sepele yang bisa kita anggap remeh, itu merupakan persaingan tidak sehat, Bahkan ada yang mencampurkan antara politik dengan Agama. Padahal Politik itu identik dengan kotor. Sedangkan Agama identik dengan bersih”
Acuy pun membantah kata-kata tetangganya tersebut karena ia beranggapan lain dan ia berkata “Agama boleh dan bahkan Harus berjalan beriringan dengan Politik.”

Kini giliran Udin yang emosinya terpancing dan ia yang meragukan argumentasi Acuy pun lantas membantah perkataan Acuy “Sekalinya tidak bisa, tetap tidak bisa cuy. Lu ga inget apa yang terjadi pada tahun ini dan tahun 2017 pada saat terjadinya percampuran antara politik dengan Agama? ada pihak yang dirugikan cuy”

Sekarang giliran Acuy yang menjawab dengan sisi nalar “Din, tidak semua yang kita lihat adalah kenyataannya. Kita harus bisa memilih dan memilah mana yang benar keberadaannya dan harus objektif. Jangan melihat dari sisi negatifnya saja. Gua disini ga membenarkan atau menyalahkan kenapa orang rela melakukan hal seperti itu. Tapi gua hanya setuju dengan orang yang membela Tauhidnya. Cuman itu”

Sebagai mahasiswa yang memiliki peran sebagai agen perubahan, Udin pun menyuarakan isi hatinya dengan tegas “lu terlalu optimis tanpa memikirkan hal-hal lain Cuy, Agama sama sekali tidak bisa dicampurkan dengan Politik. Karena Agama sudah terlalu sering digunakan menjadi perisai untuk orang-orang yang ingin memuaskan nafsunya akan memerintah, terutama dalam aspek politik.”

Acuy yang juga mahasiswa yang memiliki peran sebagai penguat moral bangsa pun masih melanjutkan proses dialog ini “Din, yang merusak citra Agama adalah Oknum yang mengatasnamakan Agama sebagai “Perisai”. Yang artinya bisa saja manusia berbuat sesuatu yang merugikan banyak pihak dan berlindung dibalik nama “Agama” dan ia bahkan bisa terlepas dari sanksi yang berlaku. Dan jika berbicara mengenai nafsu manusia untuk berkuasa dalam politik, maka ia menggunakan prinsip “Politik Siasat” yang mana ini bukan merupakan hal yang baik dan patut ditiru. Bahkan ada ungkapan “Politik kami adalah Agama kami. Agama kami adalah politik kami”. Dan jika ada yang berpendapat bahwa “Jangan campurkan antara Politik dengan Agama” Menurut Quraisy Shihab, jalan keluar dari permasalahan ini adalah dudukan dulu, agar politik siasat tersebut dapat menjadi “Politik Hikmah” (Politik untuk meraih upaya kemaslahatan bersama). Yang tidak dibenarkan adalah ada oknum atau polisi yang memanfaatkan Agama untuk kepentingan pribadi”

Cerpen Karangan: Muhammad Fajar Fachturahman
Saya merupakan mahasiswa salah satu Perguruan tinggi yang berada di banten. dan saya sedang menempuh S1. saya juga sekarang sedang berada di semester 1 dan berharap agar dapat menyelesaikan dan menempuh jenjang pendidikan ini dengan lancar

Cerpen ini dimoderasi oleh Moderator N Cerpenmu pada 13 Oktober 2021 dan dipublikasikan di situs Cerpenmu.com

Cerpen Kegelisahan Mengenai Korelasi Antara Politik dan Agama merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kenangan di Pohon Mangga

Oleh:
Pohon ini terlihat begitu renta. Sudah nampak keriput-keriput yang tertanggal di kulitnya. Namun, daunnya kian rimbun, batangnya kian kokoh, dan buah yang dihasilkannya begitu nikmat. Oksigen yang berhembus dari

Pengorbanan Seorang Ibu

Oleh:
Pagi buta sebelum berangkat bekerja Ibu salat subuh terlebih dahulu. Setiap hari Ibu bekerja dan bekerja. Pekerjaan Ibuku itu, memang menurut saya tidak terlalu berat, karena saya belum merasakan

Hari Hariku Tanpa Ibu

Oleh:
Kujalani hariku sendiri… Dengan karung goni di tangan kiriku dan penjepit sampah di tangan kananku. Sejenak aku berhenti, di bawah kolong jembatan yang kini kududuki. Kulihat sekelilingku, banyak anak

Satu Cinta Untuk Emak

Oleh:
“Apa? Lima juta?” Ujar Tomi setengah teriak. Kaget. “Iya Pak. Jika ibu Bapak baru bisa pulang setelah biaya administrasinya beres.” Jawab sang suster setengah tenang. Jantung Tomi masih berdetak

Pelangi

Oleh:
Agung bersemangat saat dirinya mengira Riana tersenyum padanya sore itu. Betapa Agung merasakan getaran cinta yang hebat dari perempuan yang diam-diam dicintainya selama ini. Jarang-jarang Agung bisa menikmati senyum

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *