Kegelisahanmu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Sastra
Lolos moderasi pada: 20 June 2019

Kau benci pada kehidupan, meskipun tak pernah terpikir olehmu untuk memaki si pemberi kehidupan. Kau benci pada dirimu sendiri, dan sampai saat ini belum menemukan cara bagaimana harus mengakhiri riwayatmu tanpa perlu meninggalkan berita telah melakukan percobaan bunuh diri. Kau mulai bosan akan malam-malam yang kau habiskan dengan bertemankan air mata yang bercucuran. Setiap pagi entah sejak kapan, kau perlahan menjalin hubungan yang begitu karib dengan mata bengkak dan rasa penat. Tak lupa kacamata hitam turut bergabung dalam lingkaran persahabatan yang tak biasa itu.

Kau kemudian memilih pergi meninggalkan pulau yang telah menjadi saksi bisu segala kisah kehidupanmu hingga kau telah tumbuh menjadi seorang perempuan dewasa penuh rasa putus asa. Kau beralasan tak ingin berlama-lama berada di lingkungan yang penuh sandiwara. Kau muak dengan segala drama yang tercecer dimana-mana. Tapi kau tak bisa menolak ketika di lingkungan baru tempatmu berada, kau kembali bertemu dengan orang-orang yang tak jauh berbeda. Kau mendengar basa basi disana dan disini. Setiap lidah berlomba-lomba menyanjung lawan bicara, meskipun hati dan pikiran mereka sedang berada entah dimana.

Pernah suatu malam kau mendengar beberapa perempuan dengan semangat yang berapi-api membicarakan seorang perempuan yang merupakan teman mereka. Perempuan si bahan pembicaraan tentu tidak bersama-sama dengan mereka. Sesekali mereka cekikikan, tak jarang pula engkau melihat mata mereka melotot, ludah mereka berhamburan dan hidung mereka kembang-kempis saking semangatnya mereka membahas kehidupan orang lain. Keesokan harinya kau terkesima menyaksikan mereka dengan si perempuan itu bisa berbagi tawa dengan hangatnya. Mendadak kau merasa mual, kau ingin muntah dan meludah di wajah mereka satu persatu.

Kau juga benci pada setiap orang yang selalu berkata iya meskipun kau yakin benar orang tersebut mengatupkan mulutnya rapat-rapat untuk tidak menumpahkan segala penjelasannya demi menolak berkata iya. Kau gerah menyaksikan semua orang berlomba-lomba menganggap diri benar, dan membuat orang lain terlihat rendah dan bersalah. Kau pusing menyaksikan orang-orang yang suka sekali menunduk, menatap layar telepon genggam canggih kepunyaan mereka. Kau pusing memikirkan mengapa orang-orang begitu bersemangat berbicara dan menjadi penjilat juga penggosip, namun sungguh lihai pula menguasai jurus diam seribu bahasa ketika sudah tenggelam dalam dunia media sosial mereka.

Kaupun mulai bingung, antara benci dengan kehidupanmu atau kehidupan menyedihkan orang-orang di sekitarmu. Rasa bingungmu kemudian berujung rasa malu, karena sering pula kau menjadi bagian dalam kehidupan menyedihkan yang kau benci itu. Kau mencoba mengingat. Tak jarang kau mengiyakan setiap perkataan yang sebenarnya ingin kau bantah habis-habisan, sering pula kau harus sibuk tersenyum, tertawa dan mengatakan pujian palsu demi kebahagiaan semu lawan bicaramu. Kau ingat betapa ahlinya kau dalam bersandiwara. Kau layangkan pembicaraan dengan nada bersahabat dan pandangan hangat, dibalut suasana yang terasa begitu dekat antara kau dengan beberapa orang. Kau korbankan perasaanmu. Lagi dan lagi kau harus berdusta pada dirimu sendiri. Mencoba menyembunyikan kenyataan tentang betapa kau membencinya dan ingin melenyapkannya secepat mungkin dari jangkauanmu. Kau juga tak bisa pungkiri bagaimana kau ingin mengejar pengakuan dari orang banyak dengan setiap saat mengunjungi halaman seluruh media sosialmu. Meninggalkan komentar di status facebook orang lain, mengunggah foto makanan yang kau nikmati dan tempat-tempat yang kau kunjungi di akun path-mu, berpose sebaik mungkin dan berpakaian se-fashionable mungkin demi mengungguli foto teman-teman di galeri instagram-mu. Ah, ternyata kau sama saja.

Kau mulai gila dengan setiap pemikiran yang mengisi rongga-rongga kepalamu. Kau frustasi dengan dua suara yang berlomba-lomba ingin memenangkanmu. Suara pertama yang menyalahkan orang-orang di sekelilingmu, atau suara kedua yang berbalik menduhmu.

Entahlah. Aku sendiri masih bertanya-tanya bagaimana akhir dari kegelisahanmu itu. Aku tak bisa simpulkan keputusan apa yang akhirnya kau pilih ditengah rasa bimbangmu yang sudah berkuasa sejak lama itu. Aku enggan berkomentar banyak. Aku hanya bisa memandangmu iba saat mendapati ada rongga kosong di kedua matamu yang belakangan ini menyala redup, bibirmu yang kau paksa mengatup rapat dengan benang-benang yang biasa kau gunakan untuk menjalankan hobi menjahitmu. Aku menahan jeritan saat tak menemukan kedua telingamu yang selalu kau hiasi dengan anting-anting hasil pekerjaan tanganmu sendiri. Salahkah bila kusimpulkan kau telah sukses membunuh jiwamu?

Cerpen Karangan: Natanya Aloifolia Munthe
Blog : natanyanya.tumblr.com
Natanya Aloifolia. Perempuan berzodiak Leo yang bersyukur terlahir kidal.

Cerpen Kegelisahanmu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Suatu Sore, Namanya Madlyn

Oleh:
Seperti biasa, aku menghabiskan waktu sore hari ini di sebuah kafe di pusat kota. Kafe yang terletak di lantai paling atas sebuah plasa ini mempunyai dinding kaca di setiap

Tak Berujung

Oleh:
“Sore menjelang petang! Saya Weni, hadir kembali untuk Anda di tembang tembang lawas penghantar minum teh di senja hari… silakan buat yang mau request tembang lawas yang bisa membuka

Manusia ke Tiga

Oleh:
Jikalau kau memandang seseorang di jalanan kota sana, mungkin kau akan sadar tuk sekedar bertanya, “dari mana asal nya!” Haruskah ku sebut apa, tentunya ialah jelmaan manusia. Dandanannya sunggu

Smartphone Baru

Oleh:
Terdengar kabar bahwa Pak Encer membeli ponsel keluaran baru yang iklannya masih hangat-hangatnya di televisi. Warga Desa Pentol sempat heboh karena kabar tersebut. Bukan masalah apa-apa, Pak Encer terkenal

Peri Tanpa Sayap

Oleh:
Tatapan mata itu, aku masih sangat mengingatnya, kurasa aku takkan pernah lupa dengan mata itu, mata yang seperti momok menakutkan, mata yang besar seperti monster yang membelalak yang ingin

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *