Kelontong

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Keluarga, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 10 June 2013

“Kakek belum tidur?”
“Kamu tidurlah duluan, Sur… Tugas sekolah besok sudah dikerjain?”
“Sudah, Kek.”
“Ya sudah, tidurlah… Kakek masih beres-beres warung dulu.” Kakekku yang tua merapikan barang-barang dagangan di warung kami, ruang tamu dan teras yang di gabung menjadi satu. Orang menyebutnya warung kelontong, menjual apa saja kebutuhan sehari-hari. Mulai dari sabun hingga amplop surat. Apa saja. Apa saja yang kira-kira dibutuhkan masyarakat sekitar. Mulai dari keperluan ibu rumah tangga hingga anak sekolah. Dari sinilah kakek mendapat uang untuk kebutuhan hidup kami berdua, termasuk biaya sekolahku.

Aku sudah tinggal bersama kakek sejak kecil. Aku tak ingat kapan orang tuaku berpisah. Bapak pergi entah kemana dan ibuku meninggal tahun lalu saat aku duduk di kelas dua sekolah dasar. Waktu ibu masih ada, dia turut membantu kakek berjualan di luar jam kerjanya, yakni membantu tetangga-tetangga yang perlu bantuan mencuci pakaian. Sepertinya saat itu kami punya uang lebih banyak dari serkarang. Untuk keperluan sekolah misalnya, aku cukup minta sama ibu. Kakek tak pernah terbebani. Namun kini… Kakek harus menanggung semuanya. Mungkin karena itu kakek belakangan terlihat sering bersusah hati. Kakek semakin sering menjaga warung hingga larut malam bahkan dini hari. Pernah ku lihat jam di dinding menunjukkan pukul 02.30 dan kakek masih menunggui warung yang terbuka.

“Kek, kenapa kakek masih buka warung sampai tengah malam?” tanyaku suatu kali.
“Yah… Harus gitu, Sur…” jawab kakek. “Banyak orang mau beli sesuatu malam-malam tapi warung-warung lain kan sudah pada tutup,” jelas kakek.
“Kenapa harus kita yang buka malam, Kek?”
“Ya kasian mereka kalo tidak ada yang buka,” kata kakek. Saat itu aku tidak mengerti penjelasan kakek tapi aku tidak bertanya lagi. Aku baru paham setelah mendengar pembicaraan kakek dengan seorang pembeli pada suatu malam yang lain.

“Untung ada Bapak yang buka malam-malam begini,” kata si pembeli. “Mau beli minuman buat temen nonton bola nggak tau kemana. Apalagi kalo kepepet nyari obat tengah malam.”
“Kalo saya memang sengaja buka sampai pagi, mas.” Kudengar suara kakek menerangkan. “Abis… Malam-malam begini baru ada rejeki. Kalo siang hari orang mana mau beli kesini.”
“Kenapa pak?”
“Toko-toko lain sudah pada rame di sini. Bagus-bagus, pake AC. Kalo dulu mah iya, cuma ada dua warung di sekitar sini. Saya dan warungnya Bu Tati, tuh di perempatan. Sekarang malah Bu Tati udah jual warungnya sama pengusaha market… market apa tuh?”
“Super market?” sambung si pembeli.
“Iya mirip-mirip itu, apaan yah.. Mmm…”
“Mini market?”
“Nah itu… Mini market!” ucap kakek puas telah menemukan istilah yang dicarinya.

Hari-hari berikutnya aku baru memperhatikan bahwa memang sedikit orang yang mau mampir ke warung kelontong kami —yang sempit dan lusuh itu— di siang hari. Lain halnya di malam hari. Pembelinya lumayan. Karena sepertinya hanya warung kami yang buka hingga dini hari. Jadilah kakek harus begadang hampir setiap hari menjaga warung. Padahal jam tujuh pagi sudah harus mengantarku ke sekolah.

Suatu malam kakek pergi ke rumah pak RT. Cuma sebentar, katanya. Jadi aku menggantikan Kakek menjaga warung. Televisi empat belas inci yang menyala di sudut warung menayangkan sebuah acara bincang-bincang. Tampaknya tentang dunia bisnis.

“Jadi menurut anda, tidak benar kalau pembukaan mini market-mini market modern ini dianggap negatif?” tanya si pembawa acara.
“Ya, benar… Saya bisa jelaskan begini, ya… Bahwa retail-retail ini jelas membuka lapangan pekerjaan. Rata-rata satu outlet menyerap lima hingga tujuh tenaga kerja dengan gaji minimal sebesar u-em-er. Belum di hitung tenaga kerja untuk bagian distribusi seperti di gudang, driver hingga helper. Dan tenaga kerja itu sendiri diutamakan berasal dari daerah setempat. Artinya memberi manfaat bagi masyarakat sekitarnya. Itu yang pertama. Yang kedua… Tidak benar kalau usaha ini hanya menguntungkan pengusaha besar di ibukota. Rata-rata outlet yang buka itu adalah milik warga di tempat itu. Misalnya bapak A berminat membuka toko seperti itu, kita yang fasilitasi. Mulai dari desain gedung, manajemen penjualan hingga strategi promosi. Bayangkan jika bapak tersebut tanpa pengetahuan seperti itu harus menghabiskan waktu mempelajari dan mengerjakan sendiri semuanya, tentu sulit. Jadi baik tenaga kerja kelas bawah hingga wirausahawan lokal terakomodir dalam bisnis ini. Yang ketiga… Masyarakat secara lebih luas mendapat kepuasan berbelanja dengan sistem seperti ini. Tempatnya nyaman, harganya pas dan ada dimana-mana dengan standar harga dan pelayanan yang sama. Bayangkan dengan metode klasik selama ini, bapak-bapak harus repot bertanya dulu apa yang mau di beli kepada penjual dan setiap warung memiliki jenis barang yang berbeda-beda, dan harga yang harus di tawar. Jadi kita harus melihat gambar yang lebih besar, bahwa masyarakat saat ini telah membutuhkan sistem berbelanja yang modern di tengah-tengah kesibukan yang tinggi di masyarakat kita. Yang keempat, tentu akan meningkatkan pendapatan daerah melalui retribusi-retribusi, belum lagi ya pak, ketika kita berbicara mutiplier effect yang terjadi.” seorang pria menjelaskan dengan lugas. Kini aku jadi memahami, ternyata apa yang pernah di sebut kakek kemarin-kemarin tidaklah sedemikian buruk. Banyak juga manfaat yang diperoleh masyarakat setempat dengan sistem perbelanjaan modern, seperti yang diterangkan di televisi itu. Meski banyak istilah-istilah yang mereka ucapkan tak kumengerti.

Sore hari sepulang dari sekolah, kutemui kakek sedang termenung di dalam warung. Aku baru saja hendak mengingatkan kakek akan uang buku di kelas yang belum kunjung kubayar selama sebulan. Namun kurungkan niatku melihat suasana kakek seperti itu.
“Kek… Aku pulang!” sapaku saja saat memasuki warung.
“Eh… Sur…” Kakek terbuyar dari lamunannya, dia tersenyum. “Sudah pulang kamu.”
“Iya, Kek.”

Aku hendak masuk ke dalam rumah ketika kakek berkata, “Eee… Sur…” Aku pun berhenti dan berbalik menghadapnya.
“Gimana tadi di sekolah? Mm… Uang buku itu… Ditanyain lagi sama ibu guru?”
“Mmm… Engg… Iya Kek.” Kuperhatikan raut wajah kakek kembali menyuram. Aku mendekatinya. Tak tau harus berkata apa, jadi aku hanya diam.
“Mmm… Kapan terakhir bisa dibayarnya?” tanya kakek.
“Tadi memang di tanya Kek, tapi nggak apa kok… Bu Guru nggak marah.” Kakek kemudian menjulurkan tangannya lalu membelai rambutku.
“Nanti pasti Kakek bayar ya, Sur…” katanya berjanji, mungkin untuk menenangkanku. Aku menjelajahi setiap kerut di wajahnya. Ada garis-garis kekhawatiran di sana. Ada juga garis kesedihan dan sebagian lagi garis kemarahan. Ia melemparkan pandangannya ke luar.
“Kakek sedang ngumpulin uang. Tapi…”
“Iya Kek… Jangan sedih-sedih, Kek.” Aku mengusap tangannya yang keriput. “Mmm… Aku tau kenapa kakek buka warung sampai malam-malam.”
Kakek menatapku dengan heran. Mungkin dia tidak menyangka aku akan membicarakan hal itu.
“Engg… Kenapa memang?” tanyanya dengan tersenyum yang dipaksakan.
“Karena… Malam hari banyak pembeli. Karena siang hari sedikit pembeli karena… Banyak mini market-mini market yang bagus-bagus,” jawabku polos. Senyum kakek perlahan-lahan menguap hingga nyaris tak ada yang tersisa lagi di wajahnya.
“Mini market-mini market itu…” katanya dengan suara pelan namun bernada getir. Tatapannya kini menyebar ke arah jalanan di depan warung. Bergerak-gerak mencari objek yang dipaksakan sebagai fokus. “Pelan-pelan matiin kita…”
“Tapi kek…” Aku ingin menyampaikan apa yang baru ku tahu kemarin.
“Mini market itu kan bermanfaat bagi penduduk di sini, Kek?” Kakek mengeryitkan dahi. Air mukanya tampak semakin aneh.
“Apa?”
“Iya Kek… Mini market itu kan menerima banyak orang bekerja. Trus mereka membantu orang yang ingin membuka usaha modern seperti itu. Trus… masyarakat lebih nyaman berbelanja dan pemerintah dapat keuntungan dari pajak. Ya kan, Kek?” Aku menjelaskan dengan bangga tapi kakek sontak memejamkan matanya. Bibirnya terkatup namun sedikit bergetar. Tangan kanannya di kepal. Tiba-tiba matanya terbuka dan melotot ke arahku seraya menghentakkan kepalan tangannya di atas meja. Aku terkejut.

“YA!” suara kakek setengah berteriak dengan penuh tekanan di kerongkongannya. “Mereka membantu orang kaya di kota ini yang punya modal ratusan juta untuk menjadi lebih kaya lagi tetapi tidak dengan orang miskin yang punya modal pas-pasan seperti kita ini! YA!” Lengannya terangkat lurus dengan jari menunjuk-nunjuk ke luar. “Mereka memberi pekerjaan kepada anak-anak muda yang masih lajang, tapi tidak ada tempat untuk anak-anak seperti kamu dan orang tua lanjut usia seperti aku ini! Lalu bagaimana kita akan hidup?! Setiap kilometer mereka ada dan berdiri pongah meraup semua pembeli yang lewat tanpa tedeng aling-aling dan rasa kemanusiaan bahkan dari pemerintah sendiri yang membiarkan orang-orang seperti kita mati membusuk! Dan besok… Kamu dengar, Sur?! BESOK… MINI MARKET YANG DI PEREMPATAN ITU MULAI BUKA DUA PULUH EMPAT JAM!!!”
”Maafin Sur, Kek…! Maaf… Jangan marah, Keeek…” Aku segera memeluk kakek dan menangis tersedu-sedu di pelukannya.

Cerpen Karangan: Bergman Siahaan
Blog: bergmansiahaan.com
Kumpulan cerpen dan esai saya telah diterbitkan dengan judul “Lamunan Sang Rakyat” silakan kontak saya di bergmansiahaan[-at-]gmail.com atau di facebook: Bergman Siahaan, Twitter: @BergmanSiahaan

Cerpen Kelontong merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Pelangi Yang Hilang

Oleh:
Jam berdetak cepat secepat detak jantung keyla. ia melangkah kesana-kemari layaknya setrika yang sedang menyetrika pakaian. ia tidak memikirkan apa-apa kecuali adiknya reyhan yang sedang operasi. keyla tidak bisa

Dialog Singkat

Oleh:
Tiba-tiba saja tubuh Alan lemas tidak berdaya, kemudian ia putuskan untuk berbaring sejenak tanpa menghiraukan waktu yang semakin petang. Kembali lagi ia ambil ponsel dari saku celananya, dan ia

Ketikan Hidup Langit

Oleh:
Kembali menekan tuts keybord. Hari sudah larut malam. Tapi hati masih saja memikirkan keadaan di rumah. Entah Puri atau Dio. Bagimana keadaan mereka sekarang mebuat nya gusar hingga waktu

Rongsokan Jalanan

Oleh:
Dengan tubuh yang terbilang kurus dan kulit hitam yang penuh debu aku berjalan sempoyongan. Aku capek sehabis dari gundukan sampah tadi, kakiku sakit terkena pecahan beling yang ada disana.

SMS Lailatul Qadri

Oleh:
Setelah shalat Subuh, aku baru kembali mengaktifkan hp yang semalaman di off kan. Malam ke 27 bulan suci Ramadhan aku sempatkan beri’tikaf di masjid dekat rumah. Sebenarnya, ingin sekali

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Kelontong”

  1. Cut says:

    🙁 bener kebawa emosi jg jadinya.. TOP cerpennya…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *