Keluarga Kopi

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Kehidupan
Lolos moderasi pada: 3 March 2017

Aku duduk di balkon ditemani sebuah cangkir tembikar yang isinya selalu saja sama, kopi.
Hidup ini selalu saja tentang pilihan, berawal dari kesenangan bapakku menyeruput minuman pahit bernama kopi di setiap sore aku jadi ikut-ikutan suka dengan cairan berwarna hitam yang satu ini.

“Bapak ini kalau tidak minum kopi malah bakal cepat mati Nak, cepat juga tak ingat siapa engkau.” Celetuknya pada suatu sore saat aku sedang duduk sembari membaca novel, menemaninya meminum kopi dengan cangkir yang sedang aku gunakan sekarang, dari pada tidak pernah terpakai lagi.

Terlepas dari mitos atau fakta tentang kopi yang bisa mengurangi resiko terkena alzaimer, bapakku memang sosok yang tidak mudah lupa dan sangat rinci dalam mengingat. Ingatannya itu layaknya mata yang tercecer di seluruh bagian tubuh hingga ia bisa tahu apapun yang ada di hadapannya. Ia ingat detil berapa kali anak bujangnya ini menggandeng wanita dengan kriteria yang itu-itu saja: kulit putih, suara lembut, bibir merah, dan tinggi semampai yang akhir kisahnya juga selalu itu-itu saja, pisah. Bahkan, saking ‘kebangetan’ detil ingatan bapakku, pernah suatu kali saat aku hendak membaca tumpukan novel-novel di atas meja tiba-tiba ia datang dari belakang “Itu sampulnya font lucida calligraphy ukuran 36 ya?” Dengan cepat ia mengatakan hal tidak penting itu, membuatku kaget saja. Padahal, sudah 40 tahun lalu dia menjadi seorang editor dan itu pun hanya berjalan satu tahun sebelum ia memutuskan resign. Sekarang dia hanya seorang penikmat kopi dan penanam kopi yang tidak lagi menjamah komputer sama sekali.
“Ah, bapak. Penting banget ya tahu font apa ukuran apa? Aku saja tak tahu dan tak tertarik memikirkan itu.” Terkekeh, berusaha menimpali kalimatnya walaupun bagiku itu tidak penting sama sekali.

Ibuku seorang wanita yang hidupnya juga tak jauh-jauh dari kata kopi. Ia adalah seorang yang sangat perhatian kepada suaminya, ia seorang pemetik kopi paling setia di kebun bapak. Ibu selalu menggilingkan biji-biji kopi yang dipetiknya ke uni Jati agar bisa dihidangkan ke bapak sore harinya. Berawal dari keluarga pecinta kopi ini lah karirku dimulai, karirku yang selalu saja tentang kopi.

Bukan tanpa lika-liku perjalanan yang membuat aku sampai berpetualang ribuan mil jauhnya.
“Helmi, apa aku harus menantimu pulang untuk jadi seorang pendamping?” Ragu-ragu wanita di depanku ini mengeluarkan suara lembutnya yang seperti sudah tertahan sejak tadi.
“Rahmi, apa menurutmu aku harus benar-benar pergi ke sana?” aku menjawab.
“Tentu saja, uda harus keluar dari zona nyaman uda di tempat ini demi melihat dunia yang lebih luas di luar sana.”
“Tapi, bagaimana jika aku memutuskan untuk tidak pergi?” Aku bertanya lagi.
“Jangan aneh-aneh uda. Ribuan orang di luar berusaha untuk ini, dan rezeki dari Nya memilih uda, jangan menolak itu.” Ia berusaha membujukku.

Lagi-lagi aku bilang bahwa hidup ini selalu saja tentang pilihan. Pada akhirnya aku menolak beasiswa pendidikan tinggi fotografi ke Amerika demi fokus menjadi seorang barista di sebuah kafe daerah Bukit Tinggi, Sumatera Barat. Barista? Ya, hanya seorang barista. Jelas saja orang-orang di sekitarku tak setuju dengan keputusan bodoh ini, banyak dari mereka yang bahkan terang-terangan mengatai aku sinting.
“Apa masih tidak puas sudah lahir dari keluarga kopi? Kenapa tidak mencoba saja berkarir untuk hal yang berbeda?” Itu adalah ucapan dari Ibuku yang juga sangat kecewa dengan keputusan gilaku ini.

Nyatanya, sekarang sudah tiga tahun aku menekuni karirku sebagai seorang barista, mendalami semua tentang kopi-kopi yang diseruput ratusan pelanggan di kafe ini.

Bruggkk…
Kurebahkan badan ini ke sebuah kasur kamarku setelah pekerjaan di kafe selesai. Capek sekali rasanya menjalani rutinitas yang itu-itu saja.

Tok… tok.. tok
Pintu kamarku diketuk oleh Ibuku. Ya, tentu saja itu ibuku. Di rumah ini hanya Ibu dan aku yang sekarang tinggal.
“Nak, Rahmi datang ingin bertemu denganmu.” ucapnya dari depan pintu kamar yang belum juga aku buka.
Rahmi? Bukankah sudah satu tahun ini dia tak pernah ada kabar lagi? Walaupun ia memang belum mengatakan ingin pisah seperti wanitaku yang sebelum-sebelumnya tetap saja kedatangannya yang tiba-tiba ini terasa janggal dan membuat banyak pertanyaan menyelinap ke pikiranku.

“Kemana saja kau Uni nan elok?” Ucapku seraya mendekat, aku tak mau jeda waktu ini membuatnya canggung untuk bertemu denganku lagi.
“Iya, maaf aku tak mengabarkanmu Helmi. Aku sibuk sekali akhir-akhir ini.”
Huh, sudah kuduga. Pertemuan yang terjadi setelah terjeda waktu lama dari pertemuan-pertemuan sebelumnya tak akan pernah terasa sama. Aku hanya menemukan sosok Rahmi yang sopan-santun, bukan sosoknya penyayang lelaki di hadapannya, seperti satu tahun yang lalu.
“Apa kau mau aku buatkan kopi?” Melirik meja di depannya yang masih kosong aku mengalihkan topik.
“Eh? Tidak, terima kasih. Bukankah kau tahu aku tidak suka kopi? Apalagi kopi robusta tanpa gula seperti yang sering kau buat.”
“Baiklah, akan aku ambilkan air putih. Tunggulah sebentar.”

Saat aku berdiri hendak menuju dapur mengambilkannya air, dengan sigap ia meraih tangan kananku. Aku terkejut dan langsung menoleh ke arahnya seraya bertanya-tanya. Astaga, cepat sekali mimik itu berubah. Bola matanya berkaca-kaca, sedikit lagi cairan bening pasti akan tumpah memenuhi pipi nan elok itu. Aku hanya diam dan heran dengan apa yang terjadi. Aku mulai menduga apa yang akan ia sampaikan, apa ia ingin pergi? Semoga ini hanya asumsiku saja.
Akhirnya tak selang berapa lama tangisnya pecah jua. Dengan sesegukan ia mengatakan apa maksud kedatangan tiba-tibanya kemari.

“Uda Ramli, aku hanya ingin memberikan ini untukmu.” Ia masih menangis, seraya mengulurkan tangannya dan memberikanku kertas berwarna coklat muda bergambar sepasang merpati dengan ukiran nama dua orang yang salah satunya tak asing untukku, Rahmi.
“Maaf aku tak bisa bertahan, aku masih menyayangimu. Tapi, aku tak bisa lagi bertahan.” Ucapnya sebelum pergi.

Apa sebegitu hinanya menjadi seorang barista? Padahal, aku seorang barista yang punya warisan kebun sendiri. Ayah Rahmi menjodohkannya dengan seorang pelaut yang katanya ulung dan punya masa depan yang lebih cerah dari pada aku. Rahmi? Aku jadi membencinya karena tidak mengatakan itu sejak dulu. Aku membencinya, tapi tidak dengan utuh membencinya. Rasa sayang ini jauh lebih luas dari rasa benci yang datangnya baru sebentar ini. Sama sekali tak pernah terbesit dalam benakku bila ternyata di balik lumatan senyumnya yang begitu manis itu ia juga adalah sosok yang sangat tegar menanggung beban yang seharusnya ditanggung dua orang. Selama ini dia selalu berjuang sendirian menentang kemauan ayahnya demi bertahan denganku selama lima tahun. Sungguh wanita yang tangguh, terima kasih pernah singgah menjadi wanitaku.

Apa ini gara-gara kecerobohanku yang menolak beasiswa itu? Apa jika saja saat itu aku pergi melanjutkan studiku beliau akan mengizinkan aku meminang anaknya? Huh, aku jadi menyalahkan pilihan gilaku sekarang. Tapi aku lebih menyukai kopi, lebih menyukai menjadi seorang barista, aku menyukai semua tentang kopi walaupun aku juga menyukai fotografi, tapi bukan untuk sebuah kata bernama karir.

Akhirnya aku pergi juga meninggalkan Indonesia, tempat ternyamanku karena aku ingin melupakan sisa-sisa kenangan bersamanya. Sekarang tujuan hidupku adalah petualangan, aku ingin mengembara sebanyak yang aku mau dan aku mampu dengan sisa umur yang aku punya ini. Mungkin ini namanya pelampiasan, tapi aku menyukai pelampiasanku ini. Pelampiasan yang membuat aku berpetualang ribuan mil jauhnya di negeri orang.
Sekarang aku sudah pergi dari tempat ternyamanku! Dan aku sudah tak ingin anakmu, semoga.

Masih tentang kopi, aku bekerja sebagai green coffee buyer. Rasanya seperti liburan setiap hari tetapi mendapat gaji, bukankah pergi ke negeri yang bukan Indonesia ini jauh lebih bisa menolong hatiku daripada harus pergi ke tempat orang tersayangku mengatakan selamat tinggal dan pergi bersama orang lain?

“Helmi, tolong fotokan kami berempat dengan bapak ini.”
“Oke, satu.. dua.. tiga” cekrek, langsung kuangin-anginkan foto langsung jadi itu. Foto empat orang patnerku bersama seorang bapak tua pemilik tanah dengan latar belakang hamparan hijau kebun kopi berhasil aku abadikan dengan angle yang apik. Aku mencintai semuanya tentang karirku sekarang, bertemu orang baru setiap hari, melihat pemandangan yang berbeda, juga menikmati rasa kopi yang tidak itu-itu saja adalah pekerjaanku sekarang. Aku bahkan bisa mengasah bakat fotografiku walau tanpa kuliah ke Amerika. Sempurna, aku sangat suka dengan ini semua.

Jauh di pedalaman negara asing, dengan jalan depannya yang sudah meretak berdiri sebuah kafe. Aku dan keempat patnerku heran dengan keberadaan kafe terasing itu. Tapi singgah juga akhirnya. Lumayan menikmati penghangat ruangan dari pada berteman dengan gerimis ringan di luar sana.

“Helmi, kapan kau mau menikah? Bukankah usiamu sudah lebih dari kepala tiga?” Celetuk temanku tiba-tiba, membuyarkan fokusku melihat hujan dari kaca setebal satu centi kafe ini.
“Entahlah, sepertinya pengalaman dan mengembara adalah tujuan hidupku sekarang.” Apa-apaan Daniel ini, ucapannya merusak suasana saja.
“Ayolah, aku sudah tahu masa lalumu. Mau sampai kapan kau mengingatnya? Bukankah itu kejadian tujuh tahun yang lalu? Itu sudah lama sekali.” Penghangat ruangan ini jadi terasa panas mendengar kalimat yang Daniel keluarkan.
“Hey, sepertinya kau lupa bila kau juga belum menikah teman. Kemana bule Brazil Tempo hari? Apa kau meninggalkannya?” ucapku agak terkekeh.
“Aku masih ada waktu untuk mengurusinya nanti, usiaku masih wajar jika belum menikah. Apa aku harus memilihkanmu calon?” tanyanya.
“Lupakanlah. Segera habiskan kopimu, hujannya sudah reda.”

Kapan aku dapat mempunyai kekasih yang datang dengan kesetiaan dan akan selamanya tinggal?
Bukan lagi kekasih yang selalu saja berujung pada perpisahan
Aku terlalu penakut untuk berusaha lagi sekarang
Mungkin ini namanya trauma, trauma akan rasa yang dinamakan cinta
Rahmi, aku masih ingin mengetahui hari-harimu
Apa senyummu masih semanis dulu?
Atau malah senyummu lebih pahit dari kopi robusta tanpa gula yang kerap kusesap ini?
Apa engkau bahagia dengannya?
Untuk engkau yang seharusnya tak aku kenang, engkau yang seharusnya tak aku rindukan
Kali ini izinkan rinduku jatuh tepat pada sosokmu,
Seorang wanita yang sudah bertahun-tahun lamanya tidak aku jumpai, Rahmi.

Kopi, kafe, sore dan gerimis ringan itu tak aku sangka akan memaksa pikiranku kembali pergi ke tempat yang sudah bertahun-tahun lamanya aku tinggalkan. Aku masih merindukan kekasihku yang tiba-tiba datang membawakan surat undangan pernikahannya sendiri, tapi surat undangan pernikahannya dengan orang lain bukan denganku. Bila saja bisa kuhalau datangnya rasa ini pastilah tak akan aku biarkan dia kemari, haram rasanya mencintai seseorang yang sudah aku lepas sekian lama.

Cklek, terdengar pintu kamar yang aku tutup dibuka oleh seseorang.
“Hey, kenapa seenaknya kau membuka pintuku begitu?” Ucapku pada Daniel agak berteriak.
“Bukankah aku sering melakukannya?” Daniel menimpali. Benar juga, dia adalah patner kerja sekaligus teman akrabku selama ini. Hanya saja aku tak merasa nyaman terpergok olehnya saat sedang menulis puisi di kamar seperti ini. Aku jadi kehilangan image garangnya petualang karena putus cinta.
“Cepat pergilah.” Aku melemparkan bantal ke arahnya. Sayang dia terlalu cepat menghindar. Bantalku hanya mengenai daun pintu.
Daniel mendekat ke arahku.
“Aku tak suka Helmi yang kacau seperti ini. Besok perjalanan kita ke Aceh, tetap profesionallah dengan pekerjaanmu.” Kemudian ia pergi. Sampai di ambang pintu ia menghentikan derap langkahnya lalu berbalik meneruskan celotehan yang ternyata belum selesai.
“Kita dibayar untuk ini, jangan cengeng di perjalanan dan menggangguku.” Dia memang teman terbaik yang aku punya. Tapi, disaat pikiranku sedang kacau seperti ini ceramah-ceramahnya yang seharusnya memotivasiku malah membuat aku kesal saja.

“Helmi, apa kau tahu bila di Aceh ini ada seorang wanita yang begitu manis dan bermata biru? Aku akan memperkenalkannya padamu agar kau bisa melupakan Rahmi yang selalu membuatmu terlihat cengeng.”
“Ayolah, kenapa kau terus membahasku dan membahas cinta? Lagi pula kita sedang bekerja di Indonesia, mana ada gadis bermata biru, aku tidak percaya bualanmu.”
“Bagaimana kau bisa sangat yakin begitu? Aku sudah mengenal gadis ini sangat baik.”

Benar saja, di antara hijaunya pohon-pohon kopi di kebun kopi tempat aku bekerja sebagai green coffee buyer aku menemui sosok wanita yang sangat cantik bermata biru. Kata-kata Daniel pun ternyata tak salah, wanita ini bisa membuatku melupakan Rahmi dalam sekejap.
“Sial, bagaimana bisa seorang buruh pemetik kopi berpenampilan seperti itu? Kedua bola matanya yang berwarna biru amat teduh untuk aku pandang, kulitnya putih bersih, wajahnya dihiasi senyuman ranum saat aku ke sana.”
Aku menerka-nerka mungkin dia sendirilah pemilik kebun ini, sehingga ia punya banyak uang untuk make up dan membeli produk-produk kecantikan artis-artis ibukota yang harganya selangit. Atau mungkin juga ia bisa meracik ramuan rahasia pembuat wajah cantik dengan jutaan tanaman yang ada di negeri Indonesia ini. Ah, aku mulai tidak peduli darimana datangnya pesona itu, urusanku hanya menilai bahwa ia benar-benar cantik dan sangat masuk dengan kriteriaku yang kata bapak selalu itu-itu saja. Memang benar pepatah bilang “Jangan melihat buku dari covernya.” Tapi, bila aku tak mengenal apapun tentang seseorang yang aku temui, apa lagi yang harus aku nilai?

“Apa kau tadi bilang kau mengenal baik buruh pemetik kopi itu?” tanyaku penasaran kepada Daniel.
“Ya, dia adalah temanku saat sekolah sebelum aku pindah ke Padang.”

Keluarga kopi. Sepertinya dua kata itu cocok untukku. Sekarang aku meneruskan julukan itu bersama Rimar, buruh pemetik kopi bermata biru yang sangat aku sayang. Lucunya, walau sudah banyak negeri yang aku singgahi untuk memilih biji-biji kopi aku menemukan wanita di Indonesia lagi, negeriku sendiri. Sama seperti kopi robusta tanpa gula kesukaanku yang bijinya selalu berasal dari Indonesia. Tuhan benar-benar mempunyai banyak cara bagaimana menghapus kesedihan seorang lelaki yang kehilangan cinta, Ia juga punya banyak cara bagaimana dua orang dipertemukan, seperti pertemuanku dengan wanita yang kini menjadi kekasihku, Rimar.

Aku duduk di balkon ditemani sebuah cangkir tembikar yang isinya selalu saja sama, kopi.
“Rimar, apa kau tahu alasan kenapa aku begitu suka kopi robusta tanpa gula walaupun rasanya pahit?”
“Entahlah, mungkin karena lidahmu cocok dengan itu?”
“Bukan. Tapi, karena kopiku sudah terasa manis dengan kehadiran dirimu.” Aku tersenyum ragu-ragu, kemudian melanjutkan bicara dan buru-buru mengalihkan topik karena sepertinya ia tidak tertarik dengan rayuanku.

“Oh iya, bolehkah aku tahu kenapa engkau harus menjadi wanita pemetik kopi?” tanyaku
“Itu karena aku sangat suka memetik kopi, menjadi pemetik kopi itu menyenangkan. Tak ada jarak antara aku dan alam. Dulu, saat aku berumur tujuh tahun aku selalu melihat ayahku di teras menghabiskan waktunya dengan duduk dan melamun lalu sesekali memutar-mutar bola kasti di genggaman tangannya sebagai terapi. Terus begitu sampai ia meninggal karena stroke yang diderita. Aku tidak mau terjebak hari tua yang membosankan seperti itu, jadi aku memilih pekerjaan ini untuk aku tekuni.”

Cerpen Karangan: Diwanti Panca Satiti
Blog: penepenyanyi.blogspot.com

Cerpen Keluarga Kopi merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Alunan Piano Dave

Oleh:
Di siang hari yang panas, Momo baru pulang kuliah. Sampai di rumah, dia langsung merebahkan diri di sofa ruang tengah. Sofa warna cokelat kesayangannya. Di situ tempat favoritnya untuk

Gara-Gara Caraka

Oleh:
“Raka…!!!” teriak Bu Ely (guru Bahasa Indonesia). Seisi kelaspun terdiam, mengalihkan padangannya ke Caraka. Bu ely menghapiri bangku caraka. “Kka, bangun ka” Nano teman sebangku Caraka mencoba membangunkannya, tapi

End of Love Story (Part 3)

Oleh:
Hampir seminggu berlalu, gak terasa sudah mau 2 minggu aja off-nya dan bentar lagi harus ke lokasi kerja lagi. Waktu itu Deniz bilang kalau dia akan pindah tugas ke

She Is, Who Left Behind (Part 3)

Oleh:
Chenxiao memahami kebingungan dan keresahan Yanxi. Tapi bagaimanapun semua ini akan menyakitkan, tetap saja Yanxi perlu tahu apa yang sebenarnya telah terjadi. Dan setelah berjalan melewati beberapa barisan batu

Woles Aja Pren!

Oleh:
Ini cerita tentang anto kawan lamaku yang sekarang jadi tetanggaku. Dulu aku dan dia sama-sama sekolah di stm harapan, dalam cerita ini terpaksa harus ku sebut diriku rian si

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *