Kematian Gadis Muda

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Kehidupan
Lolos moderasi pada: 5 May 2018

Gadis itu masih begitu muda. Sama seperti tiap gadis yang datang sendiri atau bersama pasangannya untuk menikmati mata air. Bercanda atau sekedar memandangi pepohonan di sekitarnya. Tapi siapa yang tahu bahwa mata air itu adalah pemakaman dari seorang putri. Pemakaman putri dari seorang gadis yang begitu muda. Begitu mudanya sehingga harus digugurkan. Tak terdengar lagi detak jantungnya ataupun geliatnya, “mati…”, bersama keindahan mata air yang terus memanggil untuk aku selalu datang. Kematian janin gadis muda yang menghiasi indahnya mata air. Bersama jasad-jasad lain yang dimakamkan di sana.

Siapakah gadis muda itu yang tak menginginkan kehamilannya. Ia memilih kematian dari janin dengan menggugurkannya. Dan hingga kini masih memanggil nama ibunya. “Bunda…, Aku rindu Bunda!!!”. Tapi Bayi itu terlalu kecil untuk berbicara bahkan tak terdengar suara tangisannya. Hanya detak jantungnya yang menyatu bersama alam dunia orang mati. Tiada yang peduli tentang kematian seorang putri bahkan kematian janin di antara kuburan-kuburan dekat mata air itu. Tiada keangkeran di sana hanya beberapa onggok tanah bernisan dan pohon beringin tua memagari mata air bersih.

Ketika cinta memanggil, seorang gadis muda hadir dengan lirikan yang terlalu mudah dikenali. Lirikan yang menarik hati siapa saja. Mata air kasmaran dan juga pemakaman jasad yang tak bernyawa lagi. “Bunda… aku rindu Bunda”. Mungkin terdengar seperti rintihan kesakitan, rintihan ketika rohnya diambil, tak sempat menangis, jantung pun berhenti berdetak dan jasadnya yang mungil mengalir bersama beningnya air. Tak anyar lagi, bunda sudah melupakan putri mungil yang bersemayam dalam rahimnya. Tiada yang menyanyanginya layaknya bayi mungil. termasuk bunda yang tak sempat dikenalnya, Apalagi ayahnya yang tak bertanggung-jawab akan buah kandung ibunya, yang membuat janin tak bernama harus kehilangan kesempatan hidup dalam kefanaan.

Hari ini entah hari keberapa ia terbangun, tapi masih terasa sakit di bagian rahimnya. Gadis muda itu merasa senang akan sesuatu beban yang hilang dari pundaknya. Setidaknya beban itu tak ada lagi di perutnya. Saatnya pulang menempuh hidup yang baru jauh dari semua mimpi buruk yang seolah nyata. Seperti bukan mimpi yang dia alami. Gadis muda itu masih tetap cantik. Ia terlalu muda untuk mengerti apa arti keburukan matinya janin mungil. Setidaknya seorang bayi yang tak sempat menyuarakan tangisan dari mulutnya. Kemudian banyak tangisan lain yang mengganggu hidupnya.

Aku tak tahu cerita itu, tentang suara yang memanggil “Aku rindu Bunda…” Aku juga tak tahu tentang gadis muda dan pertemuannya dengan Ayah dari janin yang mati itu. Bagiku itu hal yang terlalu tabu untuk dipahami bahkan dilakukan. Seperti ada jarak yang menolak semua itu. Jarak yang seperti rasa bersalah yang membuat menangis seperti tangisan seorang pendosa yang dosanya tak terampuni, walau sesaat. Sekalipun hanya seperti memegang dada seorang gadis muda. Tangisan pendosa itu bukan seperti rasa malu akan sebuah aib kecil. tetapi lebih kepada sebuah rasa bersalah yang terlihat di antara orang-orang biasa yang tidak melakukannya.

Aku sendiri berjalan melawan arus di antara kerumunan yang begitu banyak pulang dari ritual doanya dan nyanyian pujian penyembahan mereka. Tangisku terhenti. aku terus berjalan di antara kerumunan yang begitu ramai. Aku tak seperti mereka. Aku sudah memegang dada seorang gadis muda. Aku pendosa.

Cinta itu tak memegang dada, tidak juga bergandengan tangan. hanya sebuah pundak untuk gadis muda menyandarkan kepalanya.
Cinta atau tidak, dalam keterpurukan aku melihat bayangan akan cinta. Cinta yang datang selintas waktu dan pergi tanpa ada kata cinta terucap. Seperti itu terjadi dua kali dalam hidupku. Pertama seakan bayangan. Kedua, bagaikan racun yang memberi harapan kepalsuan lalu pergi tanpa ingin dikenang.

“Aku rindu Bunda…”, sepertinya kalimat itu tak nyata bagaikan cerita kematian yang palsu. tapi air terus mengalir dan memanggilku untuk datang seperti dorongan untuk melihat gadis muda dari kejauhan. Mungkin kali ini di tepi jalan. Jalan yang memanggilku untuk tetap berlama-lama menanti gadis muda. Akulah sang gadis muda yang menepi di sudut jalan di antara arus kerumunan manusia. Kali ini bukan air yang mengalir tetapi kerumunan manusia yang mengalir. Dan sebentar aku mengikuti kerumunan manusia, gadis muda pun mati dalam perih yang hebat. Aku berlari bukan karena aku pendosa. Akan tetapi, kematian gadis muda terlalu tragis untuk diingat, bahkan lebih tragis daripada puluhan nisan di sekitarnya. Tetapi aku tak tahu. tentang cerita cinta gadis muda yang mati di antara kerumunan manusia dan kerumunan nisan yang menyeramkan di sore itu.

Dan aku mati untuk ketigakalinya. Tetapi aku tak mati. Aku mendengar dalam ketidakmatianku seorang gadis muda berdoa untukku tetap hidup. Meskipun ceritanya seperti cerita peperangan antara mereka yang berdoa dan mereka yang memberikan nyawanya kepada setan sebagai pengganti dendam. Para pembunuh juga berdoa dan menyanyikan lagu pujian penyembahan. Tetapi cerita itu tidak benar. itu adalah kematianku yang keempat. Kematianku yang pertama ketika aku berdiri di tepi jalan dan melihat kerumunan manusia yang mengalir bagai aliran sungai. Tidak seperti kematian gadis muda kali ini. Bukan di antara puluhan nisan nisan. Tetapi di antara hutan belukar yang sepi dan menakutkan di malam hari. Kematian yang sangat tragis. Kematian itu bukan kuserahkan kepada setan. Bukan pula kepada mereka yang berdoa dan menyanyikan lagu pujian penyembahan. Tapi penyerahan hidup pada kematian karena terdera. Sama seperti tak masuk akalnya ketiga kematianku berikutnya. Sesungguhnya aku belum mati. selanjutnya aku muak dan lupa pada cinta yang bersandar di pundakku. kali ini aku tak hanya memegang dadanya tapi juga mencium dadanya bagai seorang bayi. Seorang bayi yang menyusu dari ibunya. Bagai janin yang hidup menjadi seorang bayi. setidaknya tidak untuk membuahkan janin yang mungkin mati digugurkan. Tetapi aku bukan lagi pendosa yang memegang dada dan menangisi dosanya. bukan pula karena jalanku terhambat oleh kematian gadis muda di tengah kerumunan manusia dan puluhan nisan yang tragis. meski aku tak tahu cerita cintanya.

Tetapi aku menyadari kebodohanku tentang gadis muda yang berasal dari kerumunan mereka yang berdoa dan menyanyikan lagu pujian. Yang memaksaku untuk berdoa dan minum racun untuk membuktikan cintanya. Di hadapan kerumunan mereka yang berdoa kemudian cinta pun mati. ia tak meminum racun itu. Tetapi aku tahu masa depanku mati karena racun yang diminumnya. Sama seperti gadis muda yang gagal meminum racunnya. Aku bergegas menyelamatkan gadis muda lain dari racun yang mematikan yang seolah menakutiku karena di tanganku gadis muda itu mati. Tetapi gadis muda itu tak mati. Yang tertinggal hanyalah kerumunan dan keributan bagai mata air yang mengalir yang membuat semua bertanya. Aku takut.
Sebagai seorang bodoh yang menyesali perbuatan memegang dada gadis muda. aku menghampiri gadis muda itu di antara kerumunan manusia yang mengalir. Bagaikan mabuk akan cerita angkuh aku menyudahi cerita cinta yang bersandar di pundakku. sepertinya bukan mimpi. Dan kematianku yang keempat aku mendengar gadis muda berdoa untuk kehidupan yang tak kuingini lagi karena dendamku pada mereka itu. Dalam dendam yang tersisa, mereka datang dalam kesakithatianku ke sebuah mata air yang memanggil bundanya, “Bunda, aku rindu Bunda”. Meski suara itu tak memanggil. Meski aku belum mati. Aku selalu datang melihat gadis muda.

Cerpen Karangan: Heri Aprilando
Facebook: Heri Aprilando

Cerpen Kematian Gadis Muda merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Anti Gadis Supranatural

Oleh:
“SEMUANYA TUNDUUUKK!!!” Teriak salah satu kakak senior Anti saat Anti mengikuti MOS (Masa Orientasi Siswa) SMP. Semua murid baru disuruh mengenalkan nama masing-masing, namun saat gilirannya Anti memperkenalkan namanya,

Pelangi Untuk Kita

Oleh:
Hujan masih menyelimuti bumi yang gersang. Air menggenang di jalan yang berlubang. Entah ke mana sang matahari sehingga tiada hadir menyapa. Sepeda tua itu tetap melaju menembus tirai-tirai air

Tanpa Warna

Oleh:
Aku pernah dengar, katanya, warna kesukaan merupakan gambaran dari kepribadian seseorang. Setiap warna menggambarkan kepribadian yang berbeda. Misalnya orang-orang yang suka warna merah, mereka mempunyai kepribadian berani. Meskipun banyak

Lima Belas Juni

Oleh:
Kasih… Atas nama cinta, aku akan menahan himpitan kemiskinan dan kepedihan derita, serta kehampaan yang terasa dalam perpisahan. Atas nama cinta, aku akan tetap berdiri kokoh laksana batu karang

Pasrah

Oleh:
Inge,37 tahun, istri yang baik yang bagi Aldi, 42 tahun yang sudah 7 tahun dalam perkawinan mereka hidup sederhana saja. Inge bekerja dan menerima suaminya yang bekerja partime sebagai

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *