Kembali Keniat Awal

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Islami (Religi), Cerpen Kehidupan
Lolos moderasi pada: 13 February 2013

Mentari masih enggan menampakkan sinarnya. Namun pagi ini harus ku paksakan melangkahkan kaki untuk mengikuti tes masuk perguruan tinggi. Udara dingin menyelimuti tubuhku yang mulai menggigil. Ku intip wajah kakakku lewat sepion sepeda motor yang selalu setia menemaniku kemanapun ku pergi. Ku lihat semangat terpancar dari rona wajahnya. Semangat itu seakan mengalir juga dalam tiap denyutan nadiku. ”Ya Alloh semoga aku tidak mengecewakan” bisik hati kecilku.

Tepat pukul 13.00 peserta tes berhambur keluar ruangan. Kupercepat langkah menghampiri kakakku yang menungguku di parkiran. Perut keroncongan tak lagi ku hiraukan. Ketegangan masih ku rasakan. Entah apa yang ku rasakan mataku perih, tanpa kusadari butiran-butiran putih air mata memebasahi pipiku. Aku berharap untuk tes yang kedua ini aku tidak gagal lagi. “Ya Alloh, aku tak ingin mengecewakan lagi” do’a hati kecilku.
“kak” ucapku memecahkan keheningan.
“trimakasih ya kak sudah mau menunggu dan mengantarkan. Mohon do’anya semoga tes yang ke dua ini aku ditrima, bisa tetap melanjutkan kuliah dan mendapatkan ilmu yang bermanfaat.”
“itu pasti, jangan pernah mengecewakan, terus semangat. Jangan tiru kakak. Kakak sudah banyak mengecewakan. Mendengar adek masih berniat mencari ilmu dengan semangat saja kakak sudah sangat bahagia. Semoga adek bisa menjadi contoh yang baik untuk keponakan, adek dan anak-anak mas nanti. Teruslah mencari ilmu, kemanapun itu kakak akan selalu mendukung”

Kupeluk kakakku. Tak mampu ku menghalangi air mata ini untuk mengalir. Kakak yang selama ini ku anggap seperti patung yang dingin tak pernah ku dengar sepatah teguran bahkan nasehatnya untukku. Ternyata dia menyimpan perhatian yang besar untukku. “Ma’afkan aku Tuhan yang telah berburuk sangka”. Dulu senyumnya begitu mahal, setiap kata tertanam dalam. Namun, yang kurasakan saat ini keteduhan yang amat mendalam dalam hatiku.

“Assalamualikum..”
“walaikumsalam…baru pulang fan?”
“iya ni.. hari ini jadwal kuliah full huft tapi harus tetap semangat, hehe” kurebahkan tubuhku sejenak.
Fikirku melayang, benar-benar cepat sekali. Waktu seakan dikejar zaman. Sepertinya baru kemaren mengenakan putih abu-abu. Tapi sekarang aku sudah bukan lagi siswi M.A tapi Mahasisiwi, terbayang juga wajah-wajah manis sahabatku, kini kita menjalani takdir kita masing-masing, aku hanya bisa berdo’a semoga kami mendapatkan yang terbaik, Teringat saat aku dan sahabatku nisya mengucapkan mimpi-mimpi kita yang telah terancang indah, nisya yang tak bisa melanjutkan mimpinya untuk melanjutkan kuliah karena kondisi ekonomi yang tidak memberinya kesempatan, tiba-tiba air mataku tanpa izin membasahi kedua pipiku, teringat saat aku melangkahkan kaki keluar rumah untuk berangkat keasrama disisi lain nisya berangkat ke tempat kerjanya, Kita yang memiliki mimpi yang sama namun menjadi berbeda karena takdir Tuhan, Kupeluk nisya “semoga Tuhan memepertemukan kita lagi dalam kondisi yang lebih baik lagi” nisya hanya mengangguk dan mengaminkan do’aku. Tubuhnya terguncang hebat dalam pelukanku. Aku mengerti apa yang dirasakan nisya sekarang, dia benar-benar gadis yang sabar dan tegar.

“Fanni, ikut seminar nasional gak?” pertanyaan ira memecahkan lamunanku.
“ikut kok, nanti jam 15.00 baru dimulai acaranya. Kamu ikut kan? nanti berangkat bareng aja”
“siiip, entar bangunin aku ya!! aku mau istirahat sebentar, memanjakan otak dan tubuh mungilku, hehe” cengirnya, kulemparkan bantalku ke tubuhnya “huuuh dasaaar, trus aku suruh jadi patung penunggu tidurmu, pasang alarm ra, aku juga ingin memejamkan mataku sejenak, merefleksikan sendi-sendiku yang mulai protes kelelahan, hehe” dibalasnya aku dengan lemparan bantalku. Ira cekikikan dan beranjak tidur.

“jadi sering kepikiran dia ni, Huft!!” gerutuku.
“Wah jangan-jangan kamu suka ya sama dia?” ledek tinka tetangga depan kamarku.
“Tau nih gara-gara rinda sering ngejodohin aku sama anak adam itu. Aku jadi sering kefikiran. Tapi ya sudahlah gak usah dibahas. Brangkat kuliah yuk udah hamper telat ni” bergegas ku meninggalkan tinka yang berdiri mematung. Entah apa yang terasa dalam hatiku saat ini, aku jadi selalu merasa penasaran dan ingin tau apa saja tentang dia. Mulai dari semua hal yang ada di facebooknya, status yang terupdate sampek yang kadaluarsa gak pernah ada satupun yang lepas dari intaian mataku. HUft, benar-benar hal yang gila.

Sempat ku tanyakan pada diriku sendiri, apakah ini cinta atau hanya sebatas nafsu saja. Lantas kenapa harus dia yang aku cinta? dia memang baik. Tak pernah ku lihat dia marah, dendam, membenci atau berbuat kasar. Saat semua berkata kasar padanya, dia hanya diam, bahkan ia membalasnya dengan senyuman. Setiap kata yang terucap tidak ada yang menyakitkan hati. Tutur katanya meneduhkan siapapun yang mendengarnya. Pandangannya selalu tertuduk dari kaum hawa. Beruntung sekali wanita yang bisa menjadi pendamping hidupnya. Tapi apakah aku pantas mendahului takdir Tuhan. Jika ku biarkan rasa ini terus bersenayam dalam benakku.

Siang itu mata kuliah sorof berhasil membuatku frustasi. Hafalan tasrif yang hampir melayang membuat mukaku tertunduk pasrah. Malu bukan main saat ustad Mubaligh berkali-kali menunujukku untuk mentasrif dan berkali-kali aku gagal. Tubuhku bergetar hebat, keringat panas dingin. Seperti mengigilnya Nabi saat mendapatkan wahyu pertama hehehe. Tapi bedanya aku menggigil saat mendapati diriku satu-satunya diantara semua teman-temanku yang kemampuan sorohnya bisa dibilang lemah, karena mungkin aku juga satu-satunya mahasisiwi Pendidikan Bahasa Arab yang bukan dari baground pesantren. Kenapa aku bisa kuliah disini dan mengapa ada dijurusan ini, bisa mencapai waktu tiga hari tiga malam untuk menceritakan itu. Tapi setidaknya aku punya semangat untuk selalu belajar, belajar dan belajar.

Tanggal 12 desember 2012, tanggal yang cantik dengan kegiatan yang cantik pula. Aku dan teman-teman sekelasku mengadakan bakti sosial pada tanggal itu. Di desa yang kebetulan dekat dengan rumah seseorang yang kini telah membuat resah hatiku. Keberadaannya selalu membuat mataku sibuk mengintai gerak-geriknya. Tiap melangkah bola mataku tak lepas mengawasi gerak-geriknya. Ini benar-benar gila. Hal yang belum pernah terjadi dalam hidupku. Entah kenapa aku ingin terus memperhatikannya. Hingga perhatianku beralih pada gadis kecil berkerudung putih. Dia terlihat sedikit berbeda diantara teman-temannya yang lain. Jika hari itu semua anak tersenyum bahagia, gadis kecil itu hanya duduk menyendiri disusut ruang.

“Dek, namannya siapa?” gadis kecil itu mendongakkan kepalannya terkejut.
“khadijah kak, tapi biasannya dipanggil tijah.”
“adek, kenapa tidak ikut bergabung dengan teman-temannya? Adek kenapa disini sendirian?”
“Teman-teman semuanya ditemani ayah dan ibunya kak, sedangkan aku tidak.” matannya berkaca-kaca, tiba-tiba saja gadis kecil itu menagis sesenggukan.
“adeeek, memangnya ayah dan ibu adek kemana?” ku peluk tijah dengan penuh kasih sayang, aku teringat adekku di rumah. Gadis kecil ini berhasil menyelipkan rinduku pada keluargaku di Rumah.
“Orang tua tijah sudah berada disisi ALLAH kak, tijah juga tidak pernah melihat wajah ayah tijah. Setiap melihat teman-teman dipeluk dan di temani orang tuanya tijah selalu berdo’a semoga ALLAH selalu memeluk ayah dan ibu tijah dengan rohman-rohimnya di syurga. Meski terkadang tijah merasa kesepian tapi tijah yakin ALLAH sedang menguji tijah untuk tetap bersabar kak” tanganku bergetar saatku coba mengelus rambutnya yang terbalut jilbab putihNYA. Kata-kata gadis kecil itu membuatku merasa tercambuk. Gadis sekecil ini mampu memahami apa arti dari sabar itu. Dia mampu melewati hari-harinya meski tanpa kedua orang tuannya.

“Tijah, sayang, tijah boleh menganggap kakak seperti kakak tijah sendiri. Tijah jangan merasa sendiri ya! Anggap kakak ini keluarga tijah.” ku usap air mata gadis kecil yang penuh kesabaran ini yang membuat diriku malu, harusnya aku kesini untuk berbagi kebahagiaan dengan mereka yang mungkin memiliki nasib seperti tijah. Berkali-kali ku ucap istigfar, aku kesini gak sepenuhnya untuk bakti social tapi juga karena ada niat yang lain. Ya rabb,, aku harus memperbaiki niatku (lirih hati kecilku).
“kak boleh tijah cium pipi kakak?”
“Boleh dek” Kami saling memandang dan berbagi senyum. Senyum gadis kecil itu membuat hatiku damai. Dan membuat cambuk dalam benakku bahwa niatku kesini hampir salah.

Cerpen Karangan: Faddilatusolikah
Aku adalah seorang mahasiswi jurusan pendidikan bahasa Arab di UIN maliki malang. yang memiliki hobi membaca dan menulis meski kemampuan menulisku masih terbilang lemah setidaknya aku punya niat untuk belajar. Salam kenal untuk sahabat-sahabat yang mau meluangkan waktunya untuk membaca coretan-coretan cerpenku.
Bagi sahabat yang ingin berbagi bisa hub 085748790625

Cerpen Kembali Keniat Awal merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Muadzin Warsidi

Oleh:
Warsidi adalah juara adzan kabupaten, dan sebentar lagi kemungkinan dia akan menyabet juara satu adzan provinsi. Bagi warsidi memenangi perlombaan itu adalah satu langkah maju menuju cita-cita mulia ayahnya.

Di Terminal

Oleh:
Minggu lalu, di terminal, aku menunggu truk mau pulang kampung. Siang itu memang panas sekali. Tampak bukan hanya penjual asongan yang kepanasan. Barang-barang dagangan mereka pun tampak kepanasan. Mereka

Menjala Asa

Oleh:
Kom melihat dengan pandangan kosong sawah-sawah yang kini mulai keriput. Bongkahan-bongkahan bekas bajakan yang terinjak-injak kaki masih kentara. Memang disaat ini dapat dikatakan musim paceklik. Untuk mencari air saja

Cahaya di Malam Hari

Oleh:
Di suatu malam Minggu, seorang bunda menyuruh anaknya untuk naik ke atas tempat tidur. Namun, anaknya itu susah untuk diperintah. Ia selalu saja tidak menghiraukan omongan bundanya. “Cahaya, untuk

Media Sosial

Oleh:
Saat itu aku sedang duduk di kelas, mereka semua menatap layar-layar itu dengan serius. Berteriak, dan selalu mengejek-ngejek. Entah mengapa mereka semua melakukan itu. Apa ini semua adalah perilaku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *