Kemerdekaan Itu Apa? Hidup Untuk Mati Atau Mati Untuk Hidup

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 18 September 2013

“Bagaas.. sini nak, ayo ikut ibu mulung. Biar nanti untuk beli sembakoo”.
“Iya buu.. iyaaa” ucapku seraya menghampiri wanita paruh baya yang amat-teramat aku cintai. Dengan aturan nafas tak beraturan aku berlari menujunya, walau sebenarnya hatiku sudah bosan untuk tetap bekerja seperti itu dan seperti itu, namun tetap saja masih berada di posisi ini, ya posisi rendahan tak dianggap khalayak ramai. Bagi mereka kami ini hanya sampah, sama halnya seperti benda-benda yang kami pulung ini.
“Nak, ayoo kita pergi lagi, keburu matahari 10 cm di atas kita” celetuk ibu merangkul tanganku.
“iya ibuuu”

Dengan berbagai perlengkapan seadanya aku berangkat mengumpulkan sampah-sampah yang membajiri jalanan. Maklum saja, ini kan kota besar, kotanya orang kaya kotanya orang berpunya dan kotanya orang besar. Walaupun demikian tetap saja ada yang hidup dibawah keadaan normal, makan seadanya, tinggal di lingkungan kumuh tanpa fasilitas layaknya hotel mewah yang berdiri tegak di tanah kami, ya tanah kami sang pemilik tanah. Miris jika masih Aku ingat nasibku saat ini, mungkin di kota ini, propinsi ini, dan indonesia ini bukan hanya Aku saja yang berkeadaan serba kekurangan, bisa dipastikan sangat menumpuk sama halnya seperti sampah-sampah yang Aku cuil ini dan mana yang pantas itulah yang diselamatkan dari sengatan lebah serta bebauan teman-temannya yang busuk.

“Gaaas, kok kamu gak semangat gitu mulungnya? kamu sebel ya sama ibu?” celoteh ibuku yang berada di ujung sana.
“eh Ibu, enggak kok ini Aku semangat gitu mulungnya, ini buktinya bu.. udah dapat banyak kan” seraya menunjukkan karung kecil yang dekil untuk tempat menampung hasil yang ku pulung.
“Bagas, Bagas baru segini kamu bilang banyak anakku. Jangan bohongin Ibu naak, walaupun sudah setua ini, Ibu masih bisa berjiwa muda nak. Ibu ngerti perasaan kamu kok. Kamu sedih kan? kamu gak mau kan terus berada di posisi ini. Maafin Ibumu ini naaak jika tak bisa membahagiakan mu dan melahirkan dengan beban-beban kesedihan ini.”
Aku hanya bisa terdiam mendengar ocehan sekaligus nasehat Ibuku, kali ini air mata kepedihan sudah terlanjur turun tanpa ada arahan terlebih dahulu.
Melihat itu, Ibu langsung menghampiriku dan mendekapku hangat.
“Naaak, maafin Ibu nak. Ibu juga gak mau kamu seperti ini, Ibu gak mau nak. Memang ini hal yang bodoh dan menyebalkan untukmu nak, tapi inilah hidup. Tuhan sudah menulis sebuah buku kehidupan untuk keluarga kita, dan ini adalah buku Tuhan untuk Ibu. Tuhan memang memberikan Ibu kesempatan untuk hidup seperti ini, Tuhan punya rencana dibalik semua ini, dengan beginilah Tuhan dapat menunjukkan dia itu sayang Ibu. Walaupun rejeki Ibu masih sebatas makan, dan minum. Ibu sudah puaas, karena Ibu senang Ibu dikarunia anak sepertimu. Ibu sekarang sadar, Tuhan itu adil, Tuhan memberikan rejeki bathin untuk Ibu tetap kuat dan juga tuhan sudah mengemas indah titipan Tuhan untuk Ibu. Kamu ngerti kaaan nak?” Ibu mengusap kepalaku dengan lembut.
“Ibu bilang Tuhan itu adil? Tuhan itu punya rencana dibalik ini semuaa? Lalu rencana macam apa lagi Bu? Rencana bodoh untuk kita tetap terpuruk di posisi ini? dan titipan apa lagi yang Ibu anggap?”
“Sudah nak, Ibu gak sanggup liat kamu seperti ini. Kamu marah? Marah dengan Ibu, silahkaan. Tapi jangan salahkan Tuhan naak.”
“Iya bu. Aku tahu Tuhan tak pernah salah dan tak bisa disalahkan. Lalu kenapa Tuhan mentakdiri nasib buruk ini ke keluarga kita? kenapa gak ke orang lain?”
“kamu tahu kenapa?”
Aku hanya menggeleng tanda Aku tidak tahu tentang jawaban ini.
“Karena Tuhan melatih kita untuk tetap tegar dengan ribuan cobaan yang diberinya. Dan apa kamu tahu kenapa Tuhan memberikan ini semua ke keluarga kita? Karena Tuhan ingin melihat Apakah kita bisa lolos di posisi ini dengan keadaan yang tetap utuh punya rohani dan jasmani yang layak seperti sediakalanya, tentunya dengan keadaan itu kita akan dituntut untuk menjadi contoh bagi keluarga lainnya yang hidup sama seperti kita. Membuktikan kita sanggup kita bisa hidup dengan kekurangan ini nak, apa kamu sudah pahaam?” Ibu menatapku penuh keharuaan.
“Iya bu, Aku ngerti!”
“Baiklaaah, mari kita lanjutkan nak!” Ibu mengusap air mata yang hadir di pipiku
“Iya bu. Makasih telah memberikanku kesempatan untuk hadir didunia ini. Dengan hadirnya Ibu, itu sudah bisa menutupi semuanya buuu. Aku sayaang Ibu” dengan wajah sedih tapi senang Aku mengecup pipi Ibu dengan hangat.

Akhirnya kami melanjutkan untuk mulung kembali, sekarang kesedihan itu telah berubah dengan canda tawa. Aku yang sekarang telah bangkit, Aku ingin merubah coretan buku yang ditulis Tuhan untuk Ibu, Aku ingin melihat catatan Ibu yang dipenuhi kesedihan menjadi kebahagiaan.

“Bagaaas… bagaaas” panggil seseorang dari balik pintu rumah yang layaknya seperti gubuk buruk dari anyaman daun kelapa tua.
“Ehh iya Gil, ada apa?” sapaku membuka pintu.
“Satu minggu lagi kan ada acara 17 Agustusan, jadi gue sebagai Ketua Pemuda gue mau adain acara sama masyarakat lain, jadi sekarang gue ajak elo untuk partisipasi nya ya datang hari Rabu jam 9 malam ke Balai Pemuda. Oke!”
“Gue gak mau Gil” jawabku pendek
“Kenapa? ini kan acara sosial.”
“buat apa gue ikut kalo misalnya kehidupan gue belum merdeka, jadi buat apa juga gue ngerayain kemerdekaan?”
“Tapi kan ini buat rasa sosialita sesama warga gas?”
“Sosialita sih sosialita? Tapi coba lo pikir-pikir deh Gil, gue ini rakyat jelata yang belum pernah ngerasain kemerdekaan, gue masih terikat dengan kesengsaraan. Keluarga gue masih keluarga yang berjalan otodidak. Gue gak mau gil!”
Agil hanya bisa ternganga melihat ungkapanku itu. Suasana berubah hening untuk suatu Waktu. Tiba-tiba saja Agil menepuk bahuku.
“Okee gaas, gue paham maksud lo. Tapi bisa kan lo sisain waktu lo sedikit untuk ngehadirin rapat itu.”
“Biar waktu yang menjawabnya gil” sahutku tunduk tanpa basa-basi.
“Ya udah gue pergi dulu ya” Agil pun beralih pergi meninggalkanku. Ya tanpa jawaban apa-apa Aku malah membiarkannya pergi. Memang semua ini salahnya, tapi hatiku udah terlanjur bertolak belakang dengan keadaan yang sebenarnya.

Malam pun semakin larut hingga mengantarkanku ke cahaya pagi. Panas kini telah menusuk tulangku, cuaca yang sangat membosankan ini membuatku merasa jengkel, apalagi kerjaanku hanya beratapkan awan melintasi kota. Untung saja hari ini aku tidak ditemani Ibu, kalau itu terjadi, mungkin Aku tak sanggup melihat wajah letih nya.
“Bro, hari boleh panas, tapi jangan jadikan itu ngancurin semangat lo buat kerja.”
“Gue lagi emosi ni broo”
“Istilah baru darimana tuh! Daripada lo panik sendiri, mending kita kerja yuuuk, sekarang lagi banyak pasokan kertas di taman kota. Lumayan buat tambahan uang makan gas”
“huu.. elo orang lagi galau gini malah disuruh mulung kertas” sahutku cemberut akan respon yantg diberikan Roni.
“heeehee.. sory masbro, iya daripada banyak bengong lebih baik banyak uang lagi kaan” bujuknya menghilangkan konflik yang terjadi.
“oke..”
Aku dan Roni pun beranjak pergi ketaman kota.

Sesampainya di bagian ujung pintu masuk sebelah kanan, mataku melotot panjang, bagaimana tidak? sampah yang berjejer di taman bagaikan uang berserakan. Aku gembira, mungkin dengan ini, Ibu akan senang dapat membeli baju lebaran, walaupun tak banyak. Maklum saja, sudah berulang kali lebaran, Ibu hanya memakai baju itu-itu saja. Apalagi baju nya sudah kuno ditelan waktu, itupun pemberian terakhir dari Ayah sebelum dia pergi meninggalkan kami berbeda dunia 7 tahun yang lalu di saat usiaku beranjak 11 tahun. Sedih memang bila itu masih kuingat-ingat.

Dengan wajah bahagia, aku berlari memungut sampah yang berserakan itu. Tapi aneh? kenapa sampahnya hanya bergambar itu-itu saja. Aku heran seribu Tanya.
“Gas, lo kok bengong, ambil gih sampah tu. Keburu orang lain yang mulung.” Celetuk Roni mengagetkanku.
“Iyaiyaaa, tapi gue heran loh Ron, kenapa ni sampah gambarnya itu mulu itu mulu”
“wkaka, terus lo mau apa? mau gambar lo yang dipajang disana, trus ditulisin DICARI ORANG HILANG?”
“Ehh Roni, gue serius nih. Gue ngerti maksud ini semua. Lo kan pernah sekolah dulu Ron, otomatis lo bisa baca kan tulisan itu, artiin ke gue dooong”
“oke, lo beneran pengen tau nih”
“iya” jawabku singkat.

Roni pun menjelaskan panjang lebar kepadaku. Aku baru tersadar, jadi mereka ini adalah calon orang-orang yang mau bangun mall, hotel di tanah kami. Jadi orang ini orang yang makan uang rakyat, jadi orang ini yang mau ngatur fasilitas serta keadaan kota. Waaah, jadi orang ini orang yang bikin gue dan lainnya tetap miskin.
“Lalu apa maksud mereka nempel foto kaya gini Ron?” tanyaku membeleduk.
“Lo masih belum ngerti ya, maksud mereka yaitu mereka ingin dipilih oleh suara rakyat untuk jadi pejabat di kota ini?”
“Pejabat itu apa?”
“Waduh, ini efek dari keegoisan mereka nih salah satu nya. Makanya banyak orang yang kurang ngerti tentang keadaan, habisnya gak diajarin sih. Pejabat itu sama seperti pemimpin broo”
“Trus ngapain harus cetak kertas sebanyak gini? mereka ngaku pintar, gak harus buang-buang duit kayak gini dong bro, mubazir tuh kata emak guee. Mending kasih ke orang gak punya duitnya. Toh orang milih mereka bukan karena bagus, menarik dan mahalnya aksesoris yang mereka gunain. Tapi berdasarkan apa yang bisaa mereka beriin untuk kota ini khusunya, Indonesia umumnya. Sekarang aja udah kelihatan sikap mereka yang suka buang-buang uang. Apalagi besoknya kalau udah kepilih. Kita ini masyarakat kecil cuman jadi kerikilnya aja, sedangkan mereka jadi semen. Padahal usaha kita buat ngebangun lebih besar, walaupun kita hanya dianggap kerikil aaja. Wah semen itu dikasih air aja udah lengket, sedangkan kita? perlu diginiin dulu, diituin dulu, baru deh nyatu. Jadi percuma dong, dulu gue liat di televisi tetangga waktu kampanye-kampanye gitu “jika kalian memilih saya, saya akan (blablabla), karena saya sebagai pemimpin kalian berjanji demi kesejahteraan rakyat, rakyat harus mendapatkan hak nya, karena rakyat adalah bibit dari semuanya, tanpa adanya rakyat takkan ada yang menjadi faktor pendukung, saya cinta kalian semuaa, saya berjanji!” itu semua janji palsu ya Ron!
“ya sudah Gas, kalo memang lo beneran gak suka dengan mereka, gak usah ribet-ribet gitu. Mending sekarang lo kemasin tu sampah, keburu maghrib ntar!” bujuk Roni yang mulai melihat wajahku memanas.
“ogah ah, gue gak sudi mungut wajah mereka-mereka itu, gara-gara mereka gue begitu!”

Aku pun beralih pergi meninggalkannya, yang aku tahu dia hanya terengah tak percaya melihat ku berbicara seperti itu, ya aku sendiri juga tak menyadari omongan ala politik itu tiba-tiba menyedotku untuk menuangkan nya, mungkin itu semua karena emosi ini, emosi yang benci akan sikap mereka itu, mereka yang tidak bisa menjadi yang terbaik untuk mengubah lebih baik. Betul juga syair-syair yang banyak diciptakan teman-teman pengamen yang aku kenal, mereka bernyanyi haru ditengah megahnya kehidupan para pejabat.

Tak terasa, akhirnya hari sudah beranjak Rabu, apalagi sekarang sudah jam 8.30 malam, Aku melangkah kaki menuju pelataran Balai Pemuda, walau awalnya hatiku benar-benar tak tertarik untuk menghadiri itu, tetapi Ibu tetap saja memaksaku. Untuk kali ini, Aku benar-benar tak berani untuk melawan perintah Ibu, apalagi Ibu sampai berbicara kata-kata yang membuatnya bersedih seperti “Nak, kita tahu kita ini bukan keluarga yang terpandang, kita hanya orang yang tidak punya apa-apa. Termasuk kekayaan harta, namun tahukah kau naak? kita tetap punya Tuhan disana, dialah yang selalu menjadikan kita kaya dengan apapun kekurangan yang kita miliki.” Membayangkannya saja aku tak mapu, apalagi untuk mendengarnya.

Dari jarak 5 meter aku sudah melihat ramainya orang di dalam sana. Aku jadi takut untuk melangkahkan kaki terlampau jauh. Desah nafasku mulai tak beraturan, mungkin itu terjadi karena percaya diriku telah hilang karena aku melihat didalam sana hanya orang berada saja yang ada, Andi anak juragan pakaian, Riski yang bokapnya punya showroom mobil, Junaidi yang kakeknya warisin banyak tanah, dan banyak lagi yang lain. Walaupun di dalam sana masih ada Roni sahabatku, tapi Aku tetap saja enggan untuk kesana. Akhirnya aku memutuskan untuk berbalik arah, namun ada saja yang menghalangku.
“Gaaas, tunggu” panggil seseorang dari belakangku.
“Mau kemana lo, ayo masuk!” tutur pria itu yang ternyata Agil.
“Ehh Agil!” sambutku dengan wajah gugup.
“Ngapain masih disana, yuk masuk” bujuk Agil menarik tanganku.
Dengan wajah takut, Aku masuk keruangan Balai Pemuda bersama Agil. Baru di depan pintu saja, hujaman demi hujaman telah membelenggu perasaanku.
“Ih ngapain lo cacing liar datang kemari, telat juga lagi” celetuk Andi dengan wajah sangar.
“Bener tuh! lo kan gak penting buat acara ini, lagian mau nyumbang pake apa lo? pake kertas lusuh sama botol minuman yang lo anggap uang itu!” timplukan Roy memandangku jijik.
“Stop! Apa hak kalian ngatain dia! yang ngundang dia kesini gue, jadi kalian jangan bikin keributan deh! hargai dia” bela Agil menenangkanku sambil menepuk pundakku.
“Mau dihargai pake apa dia gil? pake uang Rp. 500,- mau kan lumayan dapet sekilo kertas! hahaaa” ejek Riski.
Sumpah, batinku rasa mau terangkat ke derajat panasnya. Aku muak dengan cacian mereka itu. Hingga akhirnya tumpahan air mata mengalir di pipiku. Aku memang anak cowok, tetapi jika aku disakiti malah status aku memang tak kuasa untuk itu.
Tiba-tiba saja Roni menarikku untuk pergi, Roni tak sanggup menatapku, dia cukup kaget dengan perlakuan orang-orang itu. Sedangkan mereka yang mengganggap dirinya serba cukup malah asyik menertawakanku, suara nya menggema sampai keluar Balai Pemuda.
Yaa, di luar yang beratapkan awan ini, hanya ada Aku bersama Agil dan Roni, mereka masih saja menepuk pundakku, 1 menit, 5 menit, 10 menit mereka masih saja diam membisu memperhatikan tangisanku. Hatiku berceloteh sendiri, “Mungkin saja mereka menunggu Aku memulai pembicaraan terlebih dahulu”
Ku tarik nafas dalam-dalam untuk memastikan Aku bisa tenang memulai pembicaraan. Yaa sekarang Aku bisa pastiin Aku sudah siap untuk berbicara.
“Roni, Agil maafin gue ya, gue udah bikin rapat 17 agustus jadi ambruk kayak gini, maafin yaa”
“Iya gue gak ada salahin lo, gue tau ini gak salah. Ini salah brandalan itu” ucap Agil angkat bicara.
“Tapi semua ini karena kedatangan gue loh gil,”
“Udah bro gak usah nyalahin diri, mending sekarang kita balik aja!”

Sekarang tepat 4 hari setelah kejadian itu dan sekarang juga tepat Hari Kemerdekaan RI. Dimana-mana sibuk memasang aksesoris dengan warna merah putih, apalagi bendera disut jalan, di tempat-tempat sudah berdiri tegak berkibar disepoi angin. Namun entah mengapa, Aku sama sekali tidak mood untuk hadir diacara 17 agustusan, buat apa Aku merayakannya jika Aku masih saja tidak merasakan kemerdekaan? Bukan hanya Aku yang merasakan itu, anak-anak lain, pemuda-pemudi, bapak-bapak, ibu-ibu, hingga kakek nenek juga belum merasakan itu. Malahan penderitaan terus bertubi-tubi menghadiri mereka. Yang lemah tetap di bawah yang tinggi tetap bahagia, ulah para koruptor kita tetap sengsara, disana disini hamper selalu terjadi korupsi, jadi caleg, jadi pegawai sogok sana-sini. Mahalnya BBM, kurangnya pendidikan, sedikitnya lowongan kerja mengantarkan mereka ke beban penderitaan lahir dan bathin. Hidup di tanah Indonesia nan subur dengan berbagai keaneka ragaman sumber daya alam sama sekali tidak menentramkan mereka. Siapa yang mau disalahkan jika ini sedah terjadi? Mungkin hanya Tuhan lah yang mampu menjawab kegelisahan hati masyarakat yang hidup dunia bagaikan Padang Pasir yang kering dan tandus tanpa kebahagiaan. Banyak orang yang bilang Indonesia itu kaya. Kaya apanya? Kaya emosi bisa jadi. Percuma ada Soekarno hatta membela negri ini dengan tumpahan darah, jika penerusnya masih saja bertindak tak beraturan. Mereka bangga dengan merdeka, sedangkan mereka sendiri tak tahu tentang makna itu. Merdeka itu bukan dalam artian ketika kita mulai terbebas dari celetukan penjajah, namun Merdeka itu ketika kita secara bersama-sama hidup dalam ketenangan yang penuh dengan kebahagiaan, sehingga kesejahteraan selalu mewarnai kita, masyarakat, dan para pemimpin dalam suatu kebersamaan menggapai sebuah tujuan bersama.
Seperti puisi dibawaah ini:

Tangisan Pertiwi

Negeriku…
Negeriku adalah hamparan pertiwi
Yang mempertaruhkan hidup dan mati
Tanpa mengenal adanya mentari
Rintisan dan jeritan kesakitan
Selalu meraung-raung tak kenal waktu
Menyusuri sebongkahan jalan berlampu
Terkesiap si miskin tak berdaya
Terlelap di genangan kehidupan
Menyapu injakkan goresan tanah
Hamparan tangan tertadah tanpa malu
Batasan pemisah kini telah membelenggu
Yang kuat yang berisalah
Yang lemah bermasalah
Pertiwi…
Haruskan tanah airku jadi begini?
Ketentraman, kedamaian, dan keadilan
Telah jauh menghepas tanpa alur
Remuk rendam habis tenggelam
Masih terasa pahit
Masih terasa sakit
Ketika kata dikhianati
Ketika janji dilupai
Kini badai mafsu meraja
Nafsu jiwa durhaka
Tentang pertiwi sepi
Dan
Tentang pertiwi yang lebih gelap lagi
Entah sampai kapan?
Mungkin hingga titik penghabisan

Cerpen Karangan: Anggun Langi Sripati Dewi
Blog: http://anggunlangi.blogspot.com

Nama : Anggun Langi Sripati Dewi
fb : Anggun Langi Sripati Dewi
email : anggunlangi_03[-at-]yahoo.com

Cerpen Kemerdekaan Itu Apa? Hidup Untuk Mati Atau Mati Untuk Hidup merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


365 Hari Bersama Hujan

Oleh:
“Kamu yakin dengan keputusanmu?” “Hm” Dia hanya bergeming tak melanjutkan pertanyaannya. Aku tahu, dia pasti ingin tahu apa alasan yang membuatku memilih berhenti menjadi atlet karate. Hai, namaku Risal.

Harus Kuat Sebagai Ulat

Oleh:
Seperti biasa, pada pagi buta Andi harus bersiap menuju sekolah dengan mengendarai sepeda butut kepunyaan ayahnya. Andi terlahir dari keluarga yang kurang berada, dimana dia harus mencari uang sendiri

Brie, Itu Aku

Oleh:
Aku Brie. Ini kisah hidupku. Kejadian itu sudah lama, saat itu kami masih sangat kecil, saat aku masih senang-senangnya mengejar seekor cicak sombong, ia meledekku dengan ekornya yang jelek.

Air Mata Cinta

Oleh:
Cinta merupakan seorang gadis yang cantik dan tegar, walaupun nasibnya kurang beruntung. Setiap hari dia hanya berteman dengan bunga yang berada di kebunnya. Meskipun dia ingin sekali mencurahkan isi

Ku Kehilangan Sosok Penyemangat

Oleh:
Dulu aku memiliki seseorang yang mampu membuat aku tertawa lepas, seakan dunia ini hanya milikku saja! Disaat aku kehilangan arah, dia mencoba membuatku tersenyum seakan lupa akan sebuah masalah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

2 responses to “Kemerdekaan Itu Apa? Hidup Untuk Mati Atau Mati Untuk Hidup”

  1. AdeHaze says:

    another great short story

  2. Mizhu says:

    Keren banget cerpen nya , anggun-san bikin cerpen yang baru lagi dong :3

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *