Kesabaran Ibuku

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 8 August 2014

Pada suatu ketika Bapak dan Ibuku bertengkar, entah apa yang dipermasalahkannya. Pada saat itu aku bertanya kepada ibu. “Ibu, mengapa Ibu menangis?”. Ibunya menjawab, “Sebab, Ibu adalah seorang wanita Nak”. “Aku tak mengerti”. Ibuku hanya tersenyum dan memelukku erat. “Nak, kamu memang tak akan pernah mengerti…”

Kemudian, aku bertanya kepada Bapakku. “Pak mengapa Ibu menangis? Sepertinya Ibu menangis tanpa ada sebab yang jelas?” Bapakku menjawab, “Semua wanita memang menangis tanpa ada alasan”. Hanya itu jawaban yang bisa diberikan Bapak.

Ibuku hanyalah seorang penjahit yang kemudian pergi ke surabaya menjadi pembantu rumah tangga disana, sedangkan Bapakku berstatus pengangguran. Terkadang kerja terkadang tidak.
Ketika Bapak pulang larut malam Ibuku bertanya kepada Bapakku “Dari mana saja kamu, jam segini kok baru pulang?”, bukannya dijawab eh Ibu malah dimarahin sama Bapakku. Pada saat itulah terjadi pertengkaran yang begitu dahsyat.

Di keesokan harinya Bapakku pun pergi lagi, entah pergi kemana. Dalam hati Ibu tak ada kebahagiaan yang dirasakannya, akan tetapi kesedihanlah yang selalu Ibuku rasakan selama ini. Ibu selalu memikirkan apa yang akan dimakan sehari-sehari untuk anaknya, belum lagi biaya sekolah ku yang begitu besar yang harus ditanggungnya disaat melihat Bapak yang pengangguran.

Pada saat itu ibuku berpesan kepadaku dan kakak-kakakku “Nak, kamu jangan mencontoh perilaku Bapakakmu. Seperti itu telah membuat hati ibu sakit”. Kami pun menjawab, “Ya ibu, aku akan berbakti kepada ibu dan Bapak, walau bagaimanapun juga dia Bapakku”.

Dan pada suatu ketika ada seorang laki-laki yang bertamu ke rumah, yang ternyata laki-laki itu adalah pihak bank yang ingin menagih hutang ke rumah. Padahal Ibuku tidak tau akan hal itu, Ibuku bingung buat apa Bapak hutang sebanyak itu. Ibuku tidak pernah menerima sepeser pun uang yang dihutangi bapak.

Setelah Ibuku tahu hutang Bapak yang begitu besar, Ibuku sangat terpukul dan sering menangis karena takut rumahnya disita dan takut akan tinggal dimana anak-anaknya nanti. Jika Rumanya disita pihak Bank. Belum lagi nasib sekolah ku yang selama ini biaya SPP ku sudah tiga bulan belum dilunasi, Ibuku takut aku akan berhenti sekolah jika tidak ada biaya.

Pada saat itu yang aku pikirkan adalah kesabaran Ibuku yang begitu besar. Walaupun apa yang terjadi, Ibuku selalu memikirkan masa depan anak-anaknya. dan mengapa Bapak begitu tega menyakiti ibu, menghianati ibu. Dalam seyumanya Ibu selalu menyembunyikan keletihannya. Derita siang dan malam yang menimpanya, tak sedikitpun menghentikan langkah ibu untuk bisa memberi harapan baru bagiku.

Dan pada suatu ketika tepatnya sore hari Bapakku pulang, Ibuku memarahi bapak dan
Ibu bertanya “Kenapa kamu hutang sebanyak itu kepada pihak Bank?”,
Bapakku menjawab “Karena aku memakai uang itu untuk membuka usaha, akan tetapi usaha itu gagal sia-sia”.
Ibuku tidak percaya dengan semua yang diucapkan Bapakku.Dan pada saat itulah Ibuku mengucapkan sebuah kata “PERCERAIAN” aku dan kakakku mendengar akan hal itu. Kami pun bersedih karena keluarga kami tidak akan utuh lagi, akan tetapi jika Bapak dan Ibuku tidak berpisah kami juga sedih karena kami tidak tega melihat Ibu sering disakiti oleh Bapak.

Di malam harinya dengan perasaan hancur dan sesak, perlahan sang ibu paksakan diri untuk berdiri dan keluar dari kamar untuk menghampiri ku, ketika dilihatnya aku dengan kondisi penampilan yang kacau, ibu pun tersenyum. Ibuku berkata padaku kalau Ibu ingin pergi ke Surabaya untuk bekerja disana menjadi pembantu rumah tangga. Aku pun diam tanpa kata, aku hanya menangis dan takut akan ditinggalkan oleh Ibuku, karena tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya jika nanti aku di tinggalkan Ibuku. Namun harus bagaimana lagi jika Ibu tidak pergi untuk mencari uang, Aku pun takut berhenti sekolah dengan sia-sia karena tidak ada biaya.
Ibuku selalu bersedih dan meneteskan air mata nya, Ibuku selalu bilang padaku “Bersabarlah nak”. Ibu tidak tahu apa yang harus ibu lakukan selain pergi kesana buat mencari uang untuk biaya sekolah kamu”. Disitu aku berfikir sungguh mulianya ibuku, dia mengorbankan seluruh jiwanya untuk hidupku.

Di keesokan harinya Ibuku siap-siap akan pergi ke surabaya, disaat bapak tidak ada di rumah. Sebelem pergi Ibuku berpesan padaku dan kakak-kakakku untuk saling menjaga dan melindungi satu sama lain. Walaupun apa yang terjadi pada kalian, kalian harus bersabar dan berdo’a meminta petunjuk kepada Allah swt.
Disaat Bapak sudah tahu Ibu sudah pergi, bapak tidak pernah pulang selama 1 minggu lebih. Entah pergi kemana. Pihak Bank pun selalu mendatangi ke rumah sedangkan kami tidak tahu apa-apa akan hal itu.

Kemudian di keesokan harinya ibuku menelfon dan berkata pada kami, kalau Bapak sudah menikah lagi dengan perempuan lain dan Ibuku dan Bapak akan bercerai. Kami pun hanya bisa pasrah dan hanya mengingat apa yang dikatakan oleh ibuku yaitu “Berdo’a dan meminta petunjuk kepada Allah”.

Dan pada tanggal 29 April 2013 Ibuku pulang ke rumah kami pun senang, karena kami rindu akan kedatangan Ibu. Akan tetapi ibu memberitahu pada kami, kalau ibu akan bercerai dengan Bapak pada hari itu juga.
Pada saat itu juga Ibuku pun bergegas pergi ke pengadilan dengan kakakku, setelah usai ke pengadilan ibu akan pergi lagi ke Surabaya. Sebelum ibuku pergi ibu berkata padaku kalau ibu sudah resmi bercerai dengan bapak.
Disaat ibuku berpesan seperti itu aku jadi ingat apa yang pepatahkatakan yaitu: “Kasih ibu sepanjang masa, sepanjang jaman dan sepanjang kenangan” Inilah kasih seorang ibu yang terus dan terus memberi kepada anaknya tak mengharapkan kembali dari sang anak. Hati mulia seorang ibu demi menghidupi sang anak berkerja tak kenal lelah dengan satu harapan sang anak mendapatkan kebahagian serta sukses dimasa depannya. Mulai sekarang, aku akan mengingat dimanapun aku berada karena: “Aku Mencintaimu, Aku Mengasihimu… selamanya, Terimakasih Ibu”.
Disaat ibu pergi kami seperti hidup sebatang kara, tidak ada Bapak dan tidak ada Ibu. begitu juga denganku, aku benar-benar kehilangan sosok ibu yang telah pergi. “Ya Robb.. itukah rasanya ditinggal orang yang amat sangat kita kasihi, tak memandang dia orang kuat atau lemah, yang ada pasti kesedihan yang berkecamuk, jika mengingat-ingat pasti butir butir airmata berjatuhan tak tertahan”. Kami sangat merindukan kedua orangtua kami.
Akan tetapi kami senang karena kami bisa hidup menjadi mandiri. Pada saat itu kami merubah gaya hidup kami yang berantakan dan terkesan ugal-ugalan menjadi lebih baik. begitu juga denganku. aku bisa menjadi seorang perempuan mandiri tanpa adanya sosok ibu. kehidupan sederhana tidak menyusutkan semangat belajarku. Kini aku harus benar-benar bisa membagi waktu untuk kegiatan di rumah dan di sekolah.

Aku tidak perduli walaupun aku berangkat ke sekolah akhir-akhir ini sering tidak sarapan dan tak ada uang saku. walaupun aku berangkat ke sekolah hanya menaiki sepeda mini yang aku miliki. Aku sama sekali tidak perduli, karena yang aku inginkan hanyalah membahagiakan ibuku dan membuatnya tersenyum. Dengan bisa sekolah saja aku bersyukur sekali, karena aku bisa menggapai cita-citaku nanti.

Di sekolahanku ada pembagian raport untuk kenaikan kelas, disaat itu aku sempat iri dengan teman-temanku, karena orangtua mereka sempat menyenyempatkan dirinya pergi ke sekolah untuk mengambil raport demi anaknya. Sedangkan aku sama sekali tidak ada yang menyempat dirinya, untuk datang ke sekolah mengambil raport ku. Aku sadar sih memang ibuku ada di Surabaya dan kakakku sibuk kerja.
Pada saat itu Allah berkehendak lain kepada ku. Allah Maha penyayang dan Maha pengasih, setelah aku buka raportku ternyata aku menjadi juara kelas di kelasku dan aku tidak menyangka akan hal ini bisa terjadi pada ku. Sejak kecil aku tidak pernah merasakan akan hal ini terjadi padaku, menjadi juara satu di kelas adalah sesuatu hal yang dulu- dulunya aku impikan dan kini telah terwujud “Maha Besar Allah”. Dan pada saat itulah aku sadar bahwa Allah itu memberikan cobaan pasti ada hikmanya dan akan indah pada waktunya. Kini aku senang karena aku bisa membahagiakan Ibuku dan membuatnya tersenyum. Subhanallah… jika itu adalah harapan dan hadiah terbesar untukmu ibu, maka aku pastikan aku akan terus dan terus berusaha mencapai itu.

Pepatah mengatakan Hidup adalah tantangan. Dan orang yang tak mau bersaing dalam tantangan itu, sulit baginya untuk maju.
Dan kini “Ibuku adalah orang yang mengajariku tentang arti kesabaran dan Ibu adalah Pahlawan yang Tak memiliki Sayap dan Kekuatan super, Tapi Ibu memiliki Kekuatan Hati yang Super”.
Bukan hanya itu, Ibu adalah sosok wanita yang pantas mendapatkan segala bentuk kebaikan, karena sosok ibulah aku bisa terlahir dan karena sosok ibulah kita bisa merasakan indahnya kasih sayang dan kehangatan dari seorang ibu.

Saya yakin bahwa kita semua terlahir dari seorang ibu yang melahirkan hingga besar karena kasih sayangnya dan perjuangannya. Kasih sayang seorang Ibu adalah bahan bakar yang memampukan Ibu untuk melakukan hal-hal yang mustahil dilakukan.

Sebelum engkau dikandung, Ibu menginginkan engkau ada. Sebelum engkau dilahirkan, Ibu telah mengasihimu. Sebelum engkau keluar dari kandungan, Ibu pun rela mati untukmu. Inilah keajaiban kasih sayang Ib oleh karena itu untuk kalian yang saat ini memiliki ibu, bersyukurlah kalian karena Ibu itu segalanya buat kita. Terkadang ibu memang sering kali memarahi kita, akan tetapi tahukah kalian?. Ibu marah itu karena sayang kepada kita, takut akan kehilangan kita oleh karena itu mulai dari sekarang sayangilah ibu kalian sebelum terlambat.

Di dalam cerita ini adalah kisah-kisah pribadi tentang Ibuku serta kesabaran ibuku dalam menghadapi cobaan.
Semoga cerita ini bisa berguna bagi yang membacanya. Dan mohon maaf jika ada kesalahan kata-kata. Sekian, saya ucapkan terimakasih.

Cerpen Karangan: Masrifa Khayun
Facebook: Khayun Islamy

Cerpen Kesabaran Ibuku merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Semua Untuk Ayah

Oleh:
Namaku alvi yang sudah menginjak umur 18 aku hidup di keluarga yang sederhana tapi itu menurutku sudah lebih dari cukup bahagia karena aku memiliki ibu dan ayah yang menyayangiku

Sepasang Liontin

Oleh:
Rabu pagi yang cerah, toko-toko di Jalan Cendrawasih mempersiapkan barang dagangan mereka. Pemilik toko bunga menyiapkan bunga-bunga segar untuk dijual, aroma kopi yang khas juga sudah mulai tercium dari

Terima Kasih, Ma

Oleh:
19 Desember. Sebentar lagi hari ibu. Apa yang akan aku berikan untuk Mama? Mungkin dalam kondisi seperti ini aku hanya bisa mengatakan ‘Selamat hari ibu’ ke Mama. Tapi aku

Titip Rindu Buat Ayah

Oleh:
Menjadi siswa kelas X semester 2 di SMA Negeri 2 Ngawi tidaklah mudah, apalagi menjelang UAS seperti ini. Pikiran dan tenaga seakan terkuras habis hanya untuk berkutat dengan tugas,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Kesabaran Ibuku”

  1. Man Angker says:

    Sya Tidak Suka Klau Ibu Di Permainkan Oleh Bapak

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *