Ketika Jembatan Itu Jatuh

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Misteri
Lolos moderasi pada: 14 November 2017

Pagi itu Desa Moro digemparkan oleh bunyi deru air di Sungai. Dentuman keras berlangsung beberapa detik. Warga sangat panik. Akankah tanah longsor telah terjadi ataukah batu meteor jatuh ke air. Tak ayal para bapak-bapak berlari ke sumber suara. Sedangkan Ibu-ibu bersembunyi di balik selimutnya. Seakan bunyi itu adalah malapetaka bagi mereka. Walaupun ada beberapa lagi sibuk dengan racikannya sendiri, berharap masakannya menjadi buah bibir suami mereka.

Nawir lalu lalang di depan rumahnya. Daripada mengacuhkan bunyi dentuman keras, ada yang lebih genting daripada itu. Perut istrinya kesakitan tanda ingin melahirkan. Tapi sulit baginya untuk mendapatkan pinjaman motor. Karena para warga disibukan dengan bunyi dentuman. Sudah berlari ke mana saja, tetapi nihil hasilnya. Akhirnya dia kembali ke rumah dengan wajah panik.

Seorang wanita tua keluar dari rumah. Matanya terasa berkaca-kaca. Dia menuju ke arah Nawir. Berharap laki-laki tersebut sudah dapat bantuan. Akan tetapi setelah melihat di belakangnya ternyata tidak ada. “Bagaimana ndu? Sudah dapat pinjaman motor?” Wanita itu masih tak berhenti menatapnya. Karena dia tidak melihat motor di depan rumah.
“Tidak ada pinjaman motor. Kita bawa saja ke dukun beranak sini bu!” ucap Nawir dengan wajah menyerah. Selama ini prinsip mereka untuk tidak menggunakan dukun akhirnya dilanggar sudah. Tapi telah dalam keadaan genting. Walaupun mereka tahu kalau dukun beranak itu tidak dapat dipercaya. Karena selalu gagal dalam proses persalinan anak. “Apa boleh buat bu”.

Si wanita tua yang dari tadi sudah panik akhirnya menyetujuinya. Tapi dia tidak dapat membantu Nawir membawa Erna. Seakan mengerti, Nawir merengkuh Erna yang sudah dalam keadaan kritis. Hanyalah Nawir yang menenangkan istrinya itu. Nawir mendengar nafas terengah istrinya. Itulah membuatnya panik dan mempercepat larinya.

Akhirnya mereka sampai juga di rumah dukun beranak. Rumah kecil itu tampak kosong. Nawir mencoba mengetuk pintunya. Berharap seseorang datang dari dalam. Sedangkan Erna masih saja kesakitan. Nawir semakin panik. Dia mencoba mengetuk lagi. Akhirnya ada yang membukakan pintu. Seorang gadis berambut panjang. Tampak manis dan cantik.
“Bu Arsinya ada?” tanya Nawir ke gadis itu. Sedangkan gadis itu terbengong-bengong melihat Erna yang digendong oleh Nawir. “Bu Arsinya ada?” Nawir mengulangi pertanyaanya lagi. Berharap kali ini gadis itu mendengarnya.
“Mama ke sungai ndu. Lagi lihat jembatan roboh.” Begitulah gadis itu menjelaskan. Tanpa salah sedikitpun. Bahkan dia tak memandang bagaimana kepanikan Nawir. Sedangkan Erna masih saja terus menggerutu kesakitan. Akhirnya keputusan Nawir sudah tetap. Dia membawa istrinya ke sungai.

Begitu sampai di sungai, Nawir berhenti sebentar. Dia melihat dari kejauhan, memang tampaklah jembatan itu roboh. Dia juga menerawang di setiap warga yang berdiri di depannya. Berharap secepatnya menemukan dukun beranak itu. Namun tetap saja tidak ditemukan. Di antara kepanikan warga, hanya satu caranya dia, yaitu dengan berteriak meminta tolong. Karena istrinya yang menahan kesakitan sekarang sudah pingsan.

Tiba-tiba saja dukun beranak datang dari belakang. Seakan mengerti kewajibannya, dia pun membimbing Nawir masuk ke salah satu rumah warga. Lalu dukun itu menyuruh Nawir meletakkan Erna di tempat tidur. Dukun itu sempat bingung karena melihat kondisi Erna. Selama ini dia belum pernah membantu ibu hamil dalam keadaan tidur. Karena itu harus mebutuhkan alat seperti di rumah sakit.

“Dia harus ke klinik ndu.” ungkap dukun beranak itu. Karena menurutnya kondisi Erna itu harus membutuhkan operasi. Atau juga semacam alat kejut untuk membangunkannya dari tidur. Tapi melihat nawir bagaikan wajah koala kebingungan dukun itu bergeming. “Dia harus ke klinik, ndu. Biar dia selamat”.
Nawir bingung dengan perkataan dukun itu. Apakah mungkin membawanya ke klinik dengan jembatan roboh seperti itu. Nawir tidak habis pikir kenapa dukun tidak dapat membantu. “bagaimana bisa saya membawa istri saya. Sedangkan dia sudah sekarat dan jembatan roboh.”
“Saya bisa membantunya, asal dengan syarat kamu menerima apapun yang saya lakukan” dukun beranak itu merapikan posisi tubuh Erna. Sambil mengutarakan itu kepada Nawir. Dia berharap laki-laki itu mampu mengerti apa yang dikatakannya.
Nawir mengangguk tanda setuju. Persyaratan ke dua dia tidak bisa berada di dekat istrinya. Dia menunggu di luar rumah. Sambil melihat berkumpulnya warga di sekitar sungai Comal. Perasaan khawatirnya masih mendesir. Perasaan takut menghantuinya. Bagaimana jika istrinya tidak bisa diselamatkan.

Ternyata panik itu tidak hanya dirasakan Nawir. Di kejauhan dari rumah yang dipijakinnya, warga-warga tampak panik. Jembatan roboh adalah pertanda buruk. Para warga akan kesulitan pendapatan. Karena sumber penghidupan mereka ada di seberang sungai. Namun juga bukan itu alasan utama. Para warga sudah mengerti bahwa sesuatu buruk akan melanda mereka. Seperti yang terjadi di tahun lalu. Pasti ada jiwa yang harus dikorbankan.

Nawir sudah tahu gerangan apa di wajah warga karena panik. Yah karena sebuah mitos yang tidak jelas asal usulnya menurutnya. Nawir bersifat defensif terhadap itu. Menurutnya kepercayaan masyarakatnya itu bukanlah kebenaran. Dia hanya percaya dengan Tuhannya saja. Karena yang memberi rezeki dan menghidupkan dan mematikan manusia adalah Tuhannya. Cukup berpegang teguh terhadap itu menurut Nawir sudah cukup.

Tapi dalam hatinya, prinsip teguhnya itu semakin lama lindap. Dia menjadi khawatir apakah benar mitos seperti itu bisa terjadi. Nawir mengaburkan kekhawatirannya, sambil menoleh sedikit ke arah kamar. Nawir tak mengerti apa yang sedang dilakukan oleh dukun itu. Yang dia ingin tahu apakah istrinya selamat atau tidak.

Seorang laki-laki tua dari kejauhan menatapnya. Mulutnya yang kaku pucat seperti ingin mengatakan sesuatu ke Nawir. Tapi seperti kakinya tak bisa mendekati Nawir. Hanya berdiri di tempat. Karena penasaran, Nawir pun melangkah ke laki-laki tua tersebut. Namun langkahnya dihentikan oleh suara dukun beranak dari dalam. Dia di suruh masuk karena proses persalinan sudah selesai. Nawir kemudian masuk ke kamar. Dan dia terkejut dengan apa yang dilihatnya.

Erna duduk di tempat tidur sambil menyunggingkan senyumnya. Di pelukan istrinya ada sebuah bayi lucu yang terlelap. Sudah pasti itu adalah anaknya. Nawir pun mendekati istrinya itu. Dia tak sabar ingin mengendong bayi itu. Di samping Nawir, dukun beranak itu tersenyum. Lalu mendekatkan sedikit ke telinga Nawir. Dia mebisikkan sesuatu kepada Nawir.
Seakan mengerti, Nawir menganggukan kepala. Dia akan mengingat pesan dukun beranak itu. Dengan sunggingan senyum dan sedikit menundukan kepala sebagai tanda terima kasih. Dukun bernanak itu pun berlalu di balik tirai biru. Meninggalkan sepasang suami-istri bersama bayi mereka di tempat tidur sederhana itu.

Dari pandangan lain, Erna tampak bahagia, sambil memberikan asi untuk bayinya itu. Nawir hanya bisa tersenyum melihat kelakuan ibu dan anak itu. Namun ada yang aneh dari wajah mereka. Tampak pucat dan lesu. Dia pun hanya datang merengkuh mereka. Berharap kebahagiaan itu tak cepat berlalu.

Banjir di Desa Moro sudahlah hal yang biasa terjadi setiap tahun. Tapi kali ini banjir itu menjadi luar biasa. Karena jebolnya tanggul sungai dan robohnya jembatan Comal. Banjir itu menimbulkan semua warga Desa Moro hilang ditelan air sungai comal. Karena akses yang sulit membuat warga terkurung di desanya sendiri. Tak ada yang selamat. Kecuali satu, Nawir.

Dia ditemukan terdampar di seberang Desa Moro. Kainnya robek-robek seperti pengemis jalanan di kota besar. Nawir tak sadarkan diri. Rupanya dia sudah lama tertidur di sebuah klinik. Mengeram mimpi yang menurutnya indah. Sekitar empat hari akhirnya Nawir terbangun.

Para relawan banjir segera memeriksa keadaan Nawir. Apakah dia baik-baik saja. Sedangkan Nawir hanya bergeming bingung. Dia tidak mengingat apa-apa tentang kejadian banjir itu. Yang dia tahu dia ingin ke klinik. Dan juga, hanyalah bisikan itu yang dia dengar sebelum tak sadarkan diri. “Lupakan”. Baginya bisikan itu sangat mistri dan hidup. Letih tuk mengingat, dia pun tidur kembali. Ingin merengkuh mimpi yang siapa tahu nyata.

Dari seberang sungai, di sanalah jembatan comal hancur lebur karena peristiwa banjir itu. Di kejauhan sebelah jembatan, hiduplah jiwa-jiwa putih bagaikan terkurung dalam elegi. Mata mereka jingga membara. Seakan robohnya jembatan itu menjadi suatu kehancuran peradaban. Siapa yang salah? Coba tanyakan saja pada jembatan yang roboh itu.

Cerpen Karangan: Indriana Igirisa
Facebook: facebook.com/ardi.algifari.1004

Cerpen Ketika Jembatan Itu Jatuh merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Misteri Seorang Gadis

Oleh:
Everyday is holiday. Maha, Aryo, Dani, Yuli, dan Vita mengawali liburan sekolah mereka dengan menginap di villa dekat perkebunan kopi milik orang tua Aryo. Mereka sengaja membangun villa itu

Cerita Dibalik Rumah Yang Indah

Oleh:
Siapa yang tidak ingin membeli rumah yang indah dan sesuai dengan kriteria? Tidak ada satu orangpun yang akan menolaknya, apalagi jika dijual dengan harga murah. Namun, rumah yang indah

Anak Jalanan

Oleh:
Tahu apa itu istilah anak jalanan…? Ya, kebanyakan pasti tahu. Apalagi para muda-mudi yang setiap harinya nonton RCTI tiap malam sebelum isyak. Anak Jalanan adalah sebuah drama elektronik —sinetron—

Misteri Rumah Angker

Oleh:
Minggu ini Yona berkumpul dengan Vela, Ricky, Hesa dan Lyla. Yona tinggal di sebuah desa terpencil yang jauh dari keramaian kota, desa yang penuh dengan kemisteriannya, dan penuh dengan

Teater Jalanan

Oleh:
Siang itu di sebuah pinggiran kota besar, tampak sepasang suami istri sedang berteduh di bawah pohon besar rindang yang letaknya tidak jauh dari pertigaan jalan yang terbilang masih baru.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *