Ketika Langit Terasa Pahit

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan
Lolos moderasi pada: 7 March 2016

Sunar bangun sebelum matahari dan sebelum speaker langgar. Rejeki datang untuk orang yang bangun pagi, begitu katanya, meskipun orang miskin yang selalu bangun lebih pagi daripada orang kaya sepertinya tetap tidak dapat rejeki. Dan kalau orang kaya itu dulunya miskin, Sunar sudah bangun pagi sejak tiga puluh tahun yang lalu dan sampai sekarang tetap miskin. Ia sudah menerima kemiskinannya, maka ia bahagia. Lagi pula ia masih selalu bisa makan, dan lantai rumahnya yang tanah itu, akan selalu mengingatkannya pada bumi dan pada mati. Setiap kali itu pula ia menikmati hidup dan menghirup melati, supaya tidak ada yang terlewat.

Penjual jamu gendong saingannya semakin banyak, ditambah laki-laki yang menjalankan gerobak jamu dan jamu bungkus plastik dari pabrik. Penjualnya cukup membuka warung dan menyediakan air panas. Namun Sunar tetap percaya jamunya laku. Selama penjual bakmi jawa masih bertahan bersaing dengan mie instan dan penjual mie instan rebus, jamunya masih akan ada yang beli. Ia tidak tahu ada orang-orang yang ingin menyelamatkannya dengan kampanye pemakaian produk lokal tradisional dan anti bungkus plastik serta pabrik farmasi yang memahalkan racunnya. Sunar selalu membuat jamunya sendiri, bahkan menanam bahannya sendiri. Sirih meneduhi serambi rumahnya, dan rak bambu bertingkat di samping rumah penuh dengan jahe, kencur, kunyit.

Sunar belajar meramu jamu dari istri pertama suaminya, yang juga saudara jauhnya. Tidak ada yang menganggap aneh pernikahannya itu, kecuali dirinya. Orang-orang menganggap wajar bahwa ia dijodohkan untuk menjadi istri kedua hanya karena ia sudah perawan tua. Ia sendiri tidak berdaya melawan seluruh dunia. Tidak lama, ia jadi istri kedua. Suaminya dan istri pertamanya meninggal dalam kecelakaan sepeda motor pasca lebaran. Mereka meninggalinya anak tiri, yang suka bangun siang karena malamnya jadi pemain seruling di orkes dangdut keliling.

Semua tentang jamu yang dipelajarinya dulu masih diterapkannya dengan setia. Ia sangat cepat belajar. Mungkin di kehidupan sebelumnya ia adalah salah satu penulis Prasasti Madhawapura dari zaman Majapahit yang menatahkan tentang tukang racik jamu. Ia mengerjakannya dengan cinta tanpa mengetahui berapa seminar nasional dan lokal yang telah membahas jamunya dari sisi keragaman hayati sampai kekayaan intelektual, atau dari segi biologi dan farmasi. Ia tidak tahu bagaimana laboratorium internasional berusaha mencuri hak paten dan menggunakannya sebagai bagian industri kosmetika eksotis.

Mungkin ia hanya hidup karena menghirup rempah-rempah dari tangannya. Ujung-ujung jarinya selalu berwarna senja akibat perasan kunyit, dan wajahnya tak pernah tersentuh pelembab tetap berseri. Wangi akar-akaran itu adalah rumahnya, sebuah gelembung berpelangi dimana ia merasa nyaman, bukan dalam bentuk bangunan batu bata melainkan bangunan wewangian yang tersusun dari bau-bau yag melekat dalam memorinya. Ia tetap setia dengan penumbuk batu, kendi, dan kualinya.

Kunir asem, beras kencur, cabe puyang, kunci suruh, kudu laos, uyup-uyup, dan pahitan adalah nama tujuh botol yang ada di gendongannya Sejak sepuluh tahun lalu, ia mulai juga membawa jamu-jamu bungkus itu karena banyak yang menanyakannya, terutama jamu kuat laki-laki dan jamu rapet. Jamu yang sebenarnya ia bisa buat sendiri juga. Pembeli kadang aneh, mereka lebih percaya dengan jamu bubuk dari pabrik itu hanya karena ada iklannya di televisi. Tidak lupa, ia menggendong juga telur ayam kampung, madu dan jeruk nipis, lalu menenteng ember untuk mencuci gelas-gelas kecilnya, daripada membeli gelas plastik. Ada yang nyinyir gelasnya kotor, tapi dalam 30 tahun, tidak ada satu pun pelanggannya yang mencret karena gelasnya kotor.

Meskipun tidak makan sekolahan lama, Sunar bisa membaca dan tahu benar apa yang dijualnya, dan bisa membujuk pembeli supaya mereka merasa bahwa membeli jamunya adalah penting dan strategis. Tidak seperti dokter puskesmas yang pelit penjelasan, ia bisa menjelaskan kalau beras kencur baik untuk mahasiswa yang hobi hiking dan naik gunung, atau perlu diminumkan untuk anak yang tidak doyan makan. Cabe puyang untuk mereka yang masuk angin, karena malamnya ronda. Jamu pahitan adalah obat untuk penyakit orang kaya yaitu kencing manis dan kolestrol: siapa lagi yang bisa kebanyakan gula, lemak, dan gorengan kalau bukan orang kaya. Ia juga mengumpulkan daun-daun yang banyak ditanyakan orang seperti keladi tikus yang katanya obat kanker, daun sirsak, daun nangka, dan daun jambu biji.

Sunar sudah menyiapkan bahan dari semalam, maka yang dilakukan paginya hanya menyaring lalu memasukkannya dalam botol. Setelah mandi, ia berjalan ke pasar. Kadang di jalan, ia berhenti karena ada tukang becak yang akan beli jamunya. Kadang ada tukang becak yang belum ada penumpang sama sekali, akan menukar segelas jamunya dengan kayuhan pedal untuk mengantarnya sampai ke pasar. Pagi ini tak satu pun tukang becak kelihatan, ia berjalan sampai ke pasar. Pagi itu ia tidak begitu beruntung, sampai pasar, jamunya masih utuh. Ia tidak tahu kalau semalam pertandingan pertama sepak bola piala dunia disiarkan langsung di televisi. Bapak-bapak langganannya, masih tertidur karena tidak biasa nonton sepak bola jam dua sampai jam empat pagi.

Pembeli pertamanya adalah sopir truk yang minum sementara kuli-kuli menurunkan beras. Mereka memang sering minum jamunya meskipun bukan orang Jawa. Ia sering penasaran apakah di pulau-pulau lain mereka juga minum jamu, apakah mereka juga punya racikan yang sama. Ia menebak-nebak, seharusnya ada, kalau tidak, bagaimana mereka dulu menyembuhkan penyakit. Sambil minum, sopir bertato tengkorak itu bercerita tentang truknya yang hobi mogok, sementara anaknya harus masuk SD. Sunar jatuh kasihan, ia menggratiskan jamu pahitannya. Wajah sopir itu mengingatkannya pada seorang penjual tembakau di pasar itu yang pernah ia jatuhi cinta. Mungkin karena bau tembakau bercampur cengkeh yang dijualnya, apakah perempuan jatuh cinta karena bau laki-laki?

Laki-laki itu memberinya gelang dari kayu cendana yang diukirnya sendiri pada malam setelah ia melulur tubuhnya dengan bunga kenanga, daun kemuning, dan temu giring. Kemudian setiap hari ia memakai minyak mawar di belakang telinganya dan membasuh dirinya dengan daun sirih sampai suatu hari, tembakau dari asalnya di Sumenep gagal panen. Laki-laki itu pergi dan tak pernah kembali. Pembeli keduanya, anak laki-laki seumuran anaknya, berjalan sambil menoleh berulang kali ke belakang terengah-engah. Beli koran lampu merah di loper koran pojokan lalu pesan cabe puyang dan langsung membayarnya, dua lembar seribuan.

Penghasilan pertamanya itu, langsung ditempel-tempelkan ke botol ‘laris, laris, laris’. Pemuda itu minum sambil membuka korannya lebar-lebar menutup tubuh dan wajahnya. Sunar tidak memperhatikannya lagi karena serombongan hansip berseragam menyerbu dagangannya, minta setoran pungutan sekaligus minta jamunya. Mereka minum lalu melanjutkan ke pungutan berikutnya. Dompet kainnya kembali kosong. Sunar mencuci gelas-gelas kotor di ember hijau kecilnya. Saat itulah ia melihat dompet hitam tebal basah terkena percikan air pencuci gelas. Ini pasti dompet pemuda pembeli pertamanya tadi. Ia bicara pada penjual pecel dan hiasannya berupa tempe tahu dan kerupuk di sebelahnya.

“Wah ini ada dompet Masnya yang tadi beli jamu ketinggalan.”
“Nanti kan balik ke sini lagi kalau merasa kehilangan.”
“Lah kalau sudah jauh, kan ya dia tidak tahu di mana ketinggalannya.”
“Mau dikembalikan? Ada uangnya enggak?”
“Belum aku buka.”

Sunar pun membuka dompet itu, ada berlembar-lembar uang ratusan ribu dan lima puluh ribuan. Ia langsung menutup lagi dompet itu. “Uangnya banyak, ada sejuta lebih mungkin.”
“Diambil aja!”
“Masa diambil, kasihan kan siapa tahu harus bayar sekolah atau bayar rumah sakit.”
“Duit kan rejekinya yang nemu, yang dikembalikan surat pentingnya saja, yang ada namanya. Duitnya kan nggak ada namanya dia. Kalau mau dikembalikan, duit lima puluh ribuan dikembalikannya ke Bali tuh, namanya I Gusti Ngurah Rai.” Mereka tertawa.

Sunar kembali membuka dompet, ada 3 ktp di dalamnya dengan foto yang sama, hanya nama dan alamatnya beda-beda. Sunar membacanya keras-keras.
“KTP pertama Umar Wirahadikusuma, KTP kedua Sudharmono, KTP ketiga Tri Sutrisno. Namanya bagus-bagus ya.”
“Lah itu kan nama-nama wakil presiden zaman dulu.” Sahut loper koran.
“Wah kamu kok pinter aku aja ndak ingat, ingatnya Suharto sama Harmoko.”
“Bapak saya dari dulu kan jualan gambar presiden dan wakilnya.”
“Tapi yang mana yang asli, ini fotonya sama. Punya KTP aja kok sampai 3.”
“Ya kan jadi bisa ngutang di tiga tempat, apalagi kalau ngutangnya harus ninggal KTP.” Sahut loper koran lagi.

Sudah jam sepuluh, hari ini benar-benar sial dan sepi untuk Sunar. Mbak Mini pecel di sebelahnya saja laris, tadi ada ibu-ibu yang memborong, bawa kotak plastik. Ada keluarga besar mendadak datang, katanya belum sempat masak. Jamu tidak ikut diborong, ibu itu hanya minum segelas kunir asem, sambil menunggu pecel dimasukkan kotak. Jam dua belas, jamu-jamu masih separuh botol, kunci suruhnya bahkan masih utuh. Biasanya setengah dua belas sudah hampir habis karena jam sebelas banyak ibu-ibu dan pembantu yang belanja sambil menjemput anak ke sekolah. Mbak Mini sudah siap-siap pulang. Masih ada beberapa tahu tempe tapi sayur dan bumbu pecelnya sudah habis.

Sunar biasanya senang dapat sisa tahu tempe, tapi kali ini Mini berkata, “Ada tetangga ngidam bacemku, katanya minta dibawakan, aku baru ingat, untung belum habis.” Sunar hanya menelan ludah, perutnya mulai terasa lapar. Ia pun minum beras kencurnya sebagai ganjal perut. Dua kuli pasar datang minum jamu kuat bungkus. Sunar lega melihat uangnya, cukup untuk ongkos pergi ke alamat di KTP tadi. Ia sedang membereskan gendongannya, ketika Parman, penjual jamu pabrik yang biasa jualan sore datang. “Masih punya telur ayam kampung?”
Sunar memberikan seplastik telurnya tanpa menghitung. Parman menjawab sambil pergi, “Saya bayar besok, janji.”

Sunar tidak sempat menjawab apalagi merebut kembali plastik berisi telur. Ia menarik napas panjang. ‘Besok’ menurut Parman bisa berarti minggu depan atau bulan depan. Sunar berjalan sambil melihat alamat KTP. Panas menyengat di ubun-ubunnya. Keringatnya mulai menetes berbulir-bulir dari kedua dahinya, dan botol-botol jamunya terasa semakin berat. Ia mampu membayar becak untuk mencari alamat, tapi ia merasa harus mengembalikkan dompet ini. Ia membayangkan bahwa jika ia yang kehilangan, ia akan sangat khawatir dan berterima kasih bahwa ada orang yang mengembalikkan dompetnya.

Mungkin juga tidak, karena tidak pernah ada uang sebegitu banyak di dompetnya yang akan membuat dia merasa kehilangan. Tidak ada apa-apa di dompetnya, ia bahkan tidak menyimpan KTP-nya di sana. Dipikir-pikir, ia bukan orang yang punya sesuatu untuk bisa merasa kehilangan. Bahkan ketika ia kehilangan suaminya dulu, sejujurnya ia merasa biasa saja. Di alamat pertama, rumah petak berjejer, semua pintunya tertutup, hanya ada satu pintu terbuka. Seorang ibu sedang menyusui anaknya di depan pintu. Ia bertanya sambil menunjukkan KTP Umar Wirahadi Kusuma. Ibu itu mengaku tidak kenal, tapi pas melihat fotonya, ia memanggil suaminya di belakang. Suaminya menjawab

“Oh ini si botol, udah lama nggak ke sini, coba Ibu tanya di regol depan jalan besar, yang suka nongkrong di tempat ojekan itu teman-temannya, mereka mungkin tahu.” Sunar kembali berjalan. Kali ini setidaknya ia tahu, yang dicarinya bernama Botol. Tukang ojek yang sedang main gaple berkata, “Oh botol barusan pulang, rumahnya di gang belakang sana, Ibu lurus aja tiga perempatan belok kanan, sampai depan langgar, ada gang buntu terus nanya tempat Pak Haji Kambing, yang jualan kurban.”

Sunar sebenarnya sudah kecapean, panas bergeser menjadi mendung menggantung sebentar lagi hujan, seharusnya ia sudah di rumah, seperti biasa tidur siang sambil mendengarkan keroncong di radio kecilnya. Sepertinya hari ini memang pahit, mana ia belum belanja, dan kencurnya sudah habis. Namun ia menelan dalam-dalam kepahitan itu. Ia percaya bahwa kepahitan hidup seperti juga kepahitan jamunya adalah rasa hidup sebagaimana adanya, tidak lebih baik dari rasa manis atau rasa asin. Langit yang pahit hari ini tidak ingin dihindarinya bahkan mungkin membuatnya lebih kuat. Untungnya rumah Pak Haji Kambing tidak susah ditemukan. Laki-laki bernama botol itu sedang main hp di depan rumahnya. Ia tampak kaget melihatnya.

“Eh Bu, saya tadi sudah bayar kan jamunya?”
“Iya sudah, ini tadi dompetnya jatuh.” Katanya sambil mengulurkan dompet itu. Laki-laki itu menerimanya tanpa kata. Mengambil lima ribuan di antara uang ratusan ribu di dalamnya dan mengulurkannya pada Sunar. Ia tidak menerimanya, “Sudah ndak usah.” Karena di pikirannya ia hanya ingin cepat pulang karena mulai gerimis. Ia sudah lega bahwa ia berhasil mengembalikan dompet pada pemiliknya tanpa memikirkan apakah si pemilik itu layak dibantu atau tidak. Laki-laki itu masuk dan ia masih bisa mendengar suara laki-laki lainnya berkata, “Loh itu kan duit hasil copetanmu tadi pagi.”

Cerpen Karangan: Gracia Asriningsih
Facebook: Gracia Asriningsih

Cerpen Ketika Langit Terasa Pahit merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Indonesia Baru (Part 2)

Oleh:
“Dan juara pertama kita adalah… Aldi Saputro.” tepuk tangan begitu meriah, tapi aku hanya terbengong. Namaku? “Saudara Aldi dipersilahkan naik ke podium.” ucap juri sekali lagi. Aku menatap Pak

Diary Seorang Gadis

Oleh:
Inilah kisah gadis itu… Gadis namanya, cantik… nyaris menyentuh garis kesempurnaan! Usia nya baru menginjak 17 tahun. Putri sematawayang dari keluarga konglomerat.. dia dimanjakan oleh orangtuanya. Hidupnya sangat royal..

Pelangi Sederhana (Part 2)

Oleh:
Happy b’day mom.. besok adalah ulang tahun ibuku yang ke40. “terima kasih Tuhan, Engkau masih memberiku kesempatan untuk hidup bersama orang yang aku cintai. Semoga ibu, panjang umur, di

Melihat Dari Sisi Yang Lain

Oleh:
Memandangmu hampa, tiada kutemukan ujung. Melihatmu bagaikan merana nasib yang tiada bertukar. Engkau mencerminkan pada keasaan langit. Menambah sari patinya memantul meriuhkan batin. Memandangmu terasa sunyi, menghidupkan keberadaan yang

Titik Api

Oleh:
Dulu, Kalimantan ditajuk sebagai paru-paru dunia. Barangkali, “dulu” tinggallah menjadi mozaik-mozaik masa silam. Dan kini, lihatlah, para penguasa, konglomerat, pembisnis, atau setara dengan itu mengeksploitasi hutan besar-besaran. Maka kemarau

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *