Ketika Manusia Berhenti Menjadi Manusia

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan
Lolos moderasi pada: 6 June 2016

“aku berhenti menulis ”
“kenapa? Apa kau bosan padaku, bukankah kau bilang aku satu-satunya?”
“kau memang satu-satunya ”
“bukankah kita slalu bersama? Lalu mengapa?”
“aku takut tuhan marah”
“mengapa tuhan harus marah?…”
Aku segera memasukkanmu dalam tepak kecil biru kotak-kotak pemberian bapak ku saat aku masih Sd. Tak mau lagi berdebat dengan mu. Kau tau benar kau tak tergantikan. Bolpoin keramat warisan mbah kung ku yang konon adalah hadiah dari kompeni. Bersama mu aku meraih cita-cita ku. Penghargaan, royalti, ketenaran dan pengalaman tak ternilai tak bisa aku dapatkan tanpamu. menulis menjadi hidupku.

Tapi apa kau ingat, siang yang melelahkan waktu itu di atas jembatan penyebrangan di tengah kota. Seorang wanita memangku anaknya yang tertidur dan merintih setengah teriak kalau anaknya lapar. Begitu banyak orang lalu lalang namun tak mengindahkannya. Anak wanita itu terlihat lemah dan tertidur. Begitu pahit hidup ibu anak ini. Dan buruknya lagi ada jutaan yang seperti mereka di negeri ini. Tak lama seseorang pun berhenti. Melempar receh lalu pergi. Aku pun terinspirasi untuk menulis tentang mereka. Dengan harapan saat seseorang membacanya maka hatinya akan tergerak untuk membantu orang-orang seperti ibu-bapak ini.

Di waktu yang lain, berita tentang seorang kaya raya dermawan menjadi hangat di perbincangan di berbagai media. Aku mendapatkan kesempatan untuk melakukan wawancara dengan beliau. Dengan menulis tentang beliau mungkin seseorang yang membacanya akan terinspirasi oleh kebaikan dan kedermawanannya. setiap hari puluhan tunawisma mendatangi rumahnya hanya untuk mendapatkan makanan dan sedikit uang.

Aku baru berlalu melewati pagar besi berwarna perak di depan istana seorang dermawan itu saat aku melihat wanita dengan anaknya yang tertidur menuju rumah sang dermawan. Berbeda dengan saat mengemis di atas jembatan, sepertinya Dia tergesa-gesa dan terlihat panik. apakah terjadi sesuatu? ah, anak di gendongan nya masih tertidur. Aku terus memperhatikannya dari luar. Benar memang terjadi sesuatu. Wanita itu meminta penjaga rumah untbuk memanggil tuannya. Sang penjaga gerbang sempat melogok ke arah si anak sebelum bergegas menuju ke dalam rumah untuk memanggil bosnya.
“Tuan, anak ini nggak bergerak.” seru wanita itu setelah sang dermawan itu muncul.
“Apa yang terjadi?” teriak lelaki paruh baya itu.
“dia terus saja menangis, makanya aku memberinya ctm 2 butir lagi.” kata si wanita gugup.
“ahh ya sudah, ya sudah. Penjaga!!! Cepat bereskan bayi ini dan jangan sampai ada yang tau.” teriaknya kepada para penjaga.
“Dan kau…!!!” tunjuknya pada si wanita.
“Kau harus membayar kelalaian mu ini. Setiap hari setoran mu tambah 50 ribu. Kau pikir gampang dan murah apa cari bayi? Apalagi saat ini polisi sudah curiga. Lain kali jangan beri ctm, beri saja b*r atau v*dka, dia tidak akan mati!?!!”
“Iy, iya tuan.” sahut si wanita.

Aku yang sedari tadi sembunyi di balik pagar menjadi merinding dan tak percaya atas apa yang ku lihat. Aku menulis tentang malangnya seorang pengemis agar orang lain tergerak untuk membantunya. Tapi aku justru membuat orang lain membantu wanita biadab ini membunuh seorang anak kecil. Aku menulis tentang seorang dermawan agar orang lain bisa sedermawan dia. Tapi aku justru membantu laki-laki kejam ini untuk menutupi dosa nya di depan orang lain.
Tuhan, bagaimana aku bisa menulis lagi? Kalau tulisan ku membuat orang lain berbuat dosa. Apakah seperti ini sebenarnya sifat manusia yang diciptakan dengan akal budi dan cinta? Aku takut tuhan marah. Karena dosa yang kita ciptakan sendiri. Bumi yang kita rusak sendiri. Moral yang kita rusak sendiri. Aku putuskan berhenti menulis. Karena manusia berhenti menjadi manusia.

Cerpen Karangan: Ella Hamada
Facebook: Ella Ciimaniezz Titik

Cerpen Ketika Manusia Berhenti Menjadi Manusia merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Seekor Anjing Peliharaan dan Seorang Pencuri

Oleh:
Seekor anjing peliharaan yang telah dikebiri lantas kehilangan hasrat dan naluri liarnya, dibelai dengan kasih sayang dan dibuai oleh kesenangan dalam berbagai permainan, karena ia telah menjadi milik seseorang.

Rahasia Kepulauan Seribu (Part 1)

Oleh:
Aku berjalan memasuki lorong-lorong rumah sakit, membaca tulisan yang terletak di depan setiap ruangan yang telah ku lewati, berharap segera menemukan ruangan yang bertuliskan, ‘Kamar Mayat’ tepat di atas

Arah Baru

Oleh:
Hari ini hujan kembali turun. Ya memang sudah musimnya. Mari kita bermain ke tegalan milik seorang teman di gunung sana. Aku membayangkan ketika datang ke sana, Anan dengan sepatu

Dibalik Kabut

Oleh:
Sudah tiga hari Ari tinggal di kampung halamannya sejak kepergiannya ke kota tempat ia menekuni ilmu. Baru kali ini Ari pernah pulang ke tempat kelahirannya setelah setahun ia berada

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *