Kisah Kehidupan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan
Lolos moderasi pada: 26 September 2013

Hidupku mungkin adalah sebuah kesalahan, aku merasakannya demikian. Bisakah segala sesuatunya berubah menjadi lebih baik lagi? Aku yakin bisa. Hanya saja, hal itu memerlukan sedikit waktu dan lebih banyak kesabaran; kau tahu, cercaan dalam sebuah gurauan dan pujian yang mengiris perasaan semua itu benar-benar terjadi. Dalam suatu waktu, terkadang aku tak tahu apa yang harus ku lakukan ketika hal ini terjadi; depresi.
Ya Tuhan, ketika terjebak dalam keadaan seperti ini, apakah yang akan ku lakukan agar Kau merasa senang?

Aku hidup di suatu tempat, jauh dari rumah orang tuaku dan tempat kelahiranku tak lagi ku ingat. Mungkin itu bukanlah hal yang terlalu buruk atau bagaimana menurutmu? Ya, semuanya baik-baik saja. Aku tiba di tempat ini beberapa tahun yang lalu, dengan hanya membawa badan dan keinginan untuk mendapatkan sesuatu yang hingga hari ini belum juga ku peroleh. Dua puluh kali tahun baru telah terlampaui sejak hari itu. Tapi semuanya masih terkenang dalam ingatanku. Mungkin itulah satu-satunya kenangan hidup yang tetap ingin ku simpan, selebihnya hanyalah kepahitan dan penderitaan. Tuhan, aku tak sanggup jika mengingat semua itu.

Pada masa itu, setiap orang hidup dalam keadaan yang pas-pasan, termasuk juga keluargaku. Ayahku bekerja sebagai seorang kepala sekolah di sebuah tempat yang cukup jauh untuk berjalan kaki, tapi terlalu dekat untuk menetap disana. Setiap hari ia pergi kesana dan kembali pada sore hari. Ibuku seorang ibu rumah tangga dan tak bekerja di luar rumah. Setiap pagi, ia akan mengomel dan berteriak jika kami belum terlihat di dalam rumah, karena masih tertidur di hari ynag cerah. Ia akan berteriak hingga kami terlonjak dan tetangga yang kebetulan lewat akan menoleh dan berlalu dengan terburu-buru. Kami, maksudku aku dan saudaraku yang lima tahun lebih tua dari padaku, berlari terbirit-birit ke kamar mandi dan setelah itu berkumpul di meja makan. Sarapan nasi putih dan telur goreng yang itu-itu saja setiap hari ditambah dengan omelan menjadi makanan setiap hari. Itu pengalaman yang kudapatkan ketika aku masih sangat muda. Hingga hari ini, jika aku bertemu dengan saudaraku itu, kami tak pernah melewatkan membicarakan peristiwa itu.

Beberapa tahun kemudian, aku memasuki pendidikan tingkat pertama selama tiga tahun. Sedikit hal yang kuingat saat itu ataupun peristiwa-peristiwa yang ku alami juga tak terlalu menarik. Selain aku hanya bisa mengatakan, aku hanyalah seorang anak sekolahan dan anak rumahan yang membosankan. Sementara saudaraku itu, ia telah memasuki pendidikan tingkat menengah atas. Aku tak begitu mengetahui apa saja yang ia perbuat. Pernah suatu ketika, ia terlibat pertengkaran hebat dengan ayahku dan berakhir dengan ibuku yang menangis. Pada saat itu, aku hanya bisa bersembunyi di dalam kamar dan menghindari teriakan penuh amarah dan hentakan-hentakan yang menyiksa jantungmu. Hal itu seringkali terjadi, namun aku sudah terbiasa. Aku tak lagi bersembunyi, tapi aku akan pergi dari sana dan berdiam diri di luar rumah.

“Kau sedang apa?” tanya seseorang suatu ketika.
“Apa?” tanya ku seolah tak mendengar perkataannya.
“Sepertinya kau punya sedikit masalah disini.” Ia melihat sekeliling.
“Aku tak tahu. Mungkin saja. Siapa kau?”
“Aku seorang pelancong, jika kau ingin menyebutnya begitu.”
“Semacam orang-orang aneh yang menghabiskan hampir sepanjang hidupnya di jalanan itu?”
“Ya, seperti itulah. Tapi mereka tidak aneh. Kami sama sekali tidak merasa aneh. Hanya sedikit berbeda.” Sahut orang itu seraya meletakkan tas besarnya direrumputan.
“Cukup menarik. Ngomong-ngomong, bagaimana rasanya menjadi pelancong?
“Aku tak bisa mengatakannya padamu. Kecuali kau pernah menjalaninya.
“Kenapa begitu?”
“Kau tak kan merasakan segarnya air jika bukan kau yang meminumnya.”
“Bawalah aku bersamamu.”
Orang itu menatapku lekat-lekat. “Mungkin suatu saat nanti.”

Waktu berlalu dengan sangat cepat, tak terasa tahunan terlewati dan segala sesuatu berganti menjadi hal yang semakin tak kumengerti. Bahkan kenangan tentang peristiwa yang pernah terjadi di masa yang lampau tak membekas dalam ingatan. Hidup menuntutmu menjadi sesuatu. Hanya saja, aku tidak menyukai sesuatu itu. Dan saat ini, aku mendapati diriku terduduk diam dalam heningnya senja dengan pikiran melayang entah kemana, aku juga tak tahu. Aku sudah kehilangannya bertahun-tahun yang lalu.
“Apa yang sedang kau pikirkan? Apakah yang menggelisahkan hatimu?” tanya ibuku.
“Oh, ibu.” Sahutku. “Aku tak mengerti betapa anehnya kehidupan ini.”
“Aku tahu, anakku. Aku tahu kegelisahan hatimu, tapi, sayang sekali ibu hanya bisa melihat dari jauh dan tak bisa melakukan apapun untuk menolongmu.” Dengan lembut ibuku yang tua itu membelai rambutku. Rasanya masih seperti dulu, ketika masa-masa dimana segala sesuatu masih sangat sederhana dan murni.
“Kenapa begitu, Bu?”
“Tengoklah ke dalam dirimu. Temukan sesuatu inti dirimu dan kau akan berbahagia.”
“Bahagia? Aku tak pernah merasakannya lagi hari-hari ini. Aku tak sanggup menatap wajah ayahku, atau mengangkat wajahku ketika aku berjalan di hadapan orang-orang yang mengenalku. Tidakkah kau juga akan bertindak demikian? Aku terjebak di suatu tempat dan kemana aku akan pergi dari sini?”
Hanya terdengar desau pasir tertiup angin sore yang kering.

Perjalanan itu semakin terasa berat. Siang hari matahari membakar kulit hingga ke jiwa. Pada malam hari, seluruh badan bergetar dan membeku hingga ke ujung kaki bersamaan dengan semangat yang membusuk. Tak ada jalan kembali, bahkan pilihan itu terdengar sangat tidak masuk akal. Tak ada tanda-tanda di atas permukaan pasir yang dapat kau jadikan patokan akan keberadaanmu. Hanya gundukan pasir yang menggunung. Pada malam hari, dengan memandang bintang, kau mengetahui arah langkahmu. Ke Utara.

Aku semakin terdesak ke dalam diriku. Dunia dan keramaiannya yang menyesakkan pandangan tak lagi menghibur atau memberi kepuasan. Kemurnian yang dahulu menjadi harta paling berharga kini bagai seonggok sampah di tempat pembuangan akhir. Segala sesuat menjadi lebih buruk. Aku tahu kau juga merasakannya. Jiwamu haus dan lapar. Tapi kau tak akan menemukannya disana. Bagai setitik tahi di angkasa, kau menoleh ke atas dan berseru, apakah arti dari semua ini? Tapi tak ada jawaban.

Aku melanjutkan perjalanan. Aku tak ingat lagi sudah berapa lama aku disini; waktu yang kulewatkan, kesempatan demi kesempatan yang berlalu begitu saja dan isak tangis seseorang yang merindukan kedamaian. Namun hingga saat ini, aku belum juga menemukan apakah kedamaian yang sebenarnya itu.

Ayahku pernah berkata padaku:
“Waktu aku muda dulu, ayahku, yaitu kakekmu, mengatakan bahwa seorang lelaki harus memiliki sesuatu untuk hidupnya. Menurut hematku, pada saat sekarang ini, seorang lelaki harus memiliki pekerjaan dan paling tidak rumah, pendeknya segala sesuatu yang berhubungan dengan kemapanan hingga ia menjadi mandiri. Bagaimana kau akan menghidupi keluargamu kalau kau tak memiliki kedua hal itu? Aku tahu, tidak mudah memang, tapi kau adalah seorang lelaki. Dan kau ditakdirkan untuk bertanggung jawab. Hidupmu bukan milikmu sendiri, tapi milik mereka yang di dekatmu, keluargamu. Kau mengerti?”
Pada saat itu, aku hanya mengangguk-angguk bagai orang mabuk yang tak dapat lagi mengetahui keadaan dan keberadaannya. Tapi beliau orang yang keras, produk didikan zaman penjajahan dimana kemiskinan dan penderitaan menjadi pemandangan sehari-hari. Dengan otot bahu menonjol dan pemikiran modern. Kombinasi yang menarik, tapi menurutku terasa sangat aneh. Bayang-bayang beliau mengikuti kemana saja aku berada.

Orang-orang mengatakan aku terlalu cerdas bagi seorang anak seusiaku. Buku-buku dari berbagai pemikiran yang bertolak belakang dengan budaya luhur turun temurun dan banyak orang menentangnya pada saat itu, kudapatkan dengan mudah melalui seorang pamanku yang seingatku memiliki pemikiran yang terlepas dari budaya dan kebiasaan, dan beliau seorang penganut kebebasan yang luar biasa. Ia bahkan tak peduli dengan kritikan bahkan hujatan orang-orang di sekitarnya.

Aku menulis pada ayahku:
“Setelah sekian lamanya aku memberanikan diri mengatakan padamu hal yang sebenarnya ku cari di dunia ini. Pada awalnya, aku tahu kau akan berpikir betapa bodoh dan sia-sianya apa yang ku perbuat ini. Tapi sejujurnya, dengan hati yang tulus ikhlas dan murni, aku tak dapat lagi hidup dalam keinginan dan cita-cita kalian; tinggal di suatu tempat dalam waktu yang sangat lama, yang disebut rumah. Aku hanya ingin pergi melihat dunia. Dunia yang mereka katakan begitu luas dan indah sehingga akan sangat menyesal apabila melewatkannya.

Aku pernah beberapa kali berjumpa dengan orang-orang yang memiliki pemikiran yang bahkan menurutku benar-benar aneh dan sangat tidak masuk akal. Mereka, orang-orang itu, bahkan tak memiliki pekerjaan dan tempat tinggal yang tetap. Mereka berbahagia bahkan ketika mereka tak berpihak pada kehidupan modern dimana uang, kekayaan, jabatan, dan ketenaran bagai candu yang merusak dan meracuni pemikiran setiap manusia yang hidup di muka bumi ini, tak terkecuali kalian, dan kemapanan merupakan pertanda keberhasilan seseorang. Hal itu baik sekali, tapi aku tak dapat menerimanya dan aku tak bisa hidup seperti ini. Maafkan aku jika jalanku sunyi dan sepi. Semoga engkau mengerti betapa aku ingin sekali memberikan apa yang kau inginkan, walau aku tak dapat melakukannya. Aku hanya ingin menikmati kehidupan, tidur berselimutkan bintang-bintang dan beralaskan bumi dan meyakinkan diri bahwa dunia dan isinya ini adalah milik kita. Itu merupakan bentuk kehidupan yang sangat luar biasa yang pernah ku temui. Jikalau ayah dan ibu berkenan, sudilah kiranya menanti aku kembali. Aku akan menulis dimana pun aku berada di tempat yang baru agar kalian tidak mengkhawatirkan aku lagi. Bukankah kehidupan ini sederhana?”

Malam tiba dengan sangat cepat. Deru angin di padang sunyi seakan hendak mematahkan pepohonan kecil itu. Pasir beterbangan dan udara dingin mulai mengigit tulang. Perapian itu menerbangkan sebentuk bara ke udara. Untuk sesaat dan setelah itu, aku membungkus diri ke dalam kantung tidur yang selalu ku bawa serta. Sejenak aku memikirkan segala sesuatu yang pernah ku lakukan dan ku lewati. Ya Tuhan, betapa hidupku tidak berarti. Semoga Engkau mengampuni aku yang telah menyia-nyiakan kehidupan dan segala sesuatu yang diberikan padaku.

Bintang-bintang seakan bergerak kian kemari. Aku pun terlelap. Namun, sayup kudengar suara ibuku. Semakin lama terdengar jelas menghujam ke telingaku.
“Kembalilah nak.” Katanya. “Berapa lama lagi engkau berdiam diri seperti ini? Sadarlah. Dengarkanlah perkataanku. Kembalilah. Apa yang kau cari di sana, tak ada, hanya dunia yang sama sekali tidak nyata. Kembalilah. Kami merindukanmu.”
Aku terjaga. Langit gelap dan bintang-bintang yang tampak bagai titik-titik di angkasa yang jauh di atas sana. Tuhan, apa yang ku lakukan?

Cerpen Karangan: Patrick Hariadi
Facebook: Patrick Andromeda

Cerpen Kisah Kehidupan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Inilah Nasibnya

Oleh:
“Jammie!!”, Ibunya memanggil seperti biasanya. Selalu dalam nada tinggi dan penuh emosi. “Ya Tuhan, Jammie!! Kenapa kau selalu mengabaikan panggilan Ibu?!”. Wanita bertubuh kurus tinggi dan beberapa kerutan tampak

People Change

Oleh:
Aku Maulida Anjani, panggil saja aku Lida. Aku adalah seorang mahasiswi di salah satu universitas di Bandung. Lahir 19 tahun lalu di Semarang dan berada di tengah-tengah keluarga yang

Keadilan Dalam Ledakan

Oleh:
Tidak pernah terbesit walau sekilas, bahkan di zona terliar benakku sekalipun bahwa aku akan melakukan ini. Saat pertama kali mendengarnya dari atasan hati kecilku menolak tegas tapi tidak dengan

Berkah di Malam Minggu

Oleh:
Malam Minggu adalah malamnya anak remaja katanya. Karena beberapa remaja sering nongkrong di malam Minggu. Enggak sih bukan Cuma malam minggu aja, tapi lebih tepatnya kebanyakan di hari minggu.

Genteng Bocor

Oleh:
Menjelang senja pertama di awal tahun ini, rona mendung terlihat di atas langit Jakarta. Rintik hujan mulai turun membasahi ranah ibukota. Di dalam rumah mungilnya, Pak Samad yang sudah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Kisah Kehidupan”

  1. yuliana sari says:

    saya mau buat cerpen kisah nyata apa yang sedang saya alami saat ini , begitu memilukan memang kesalahan ku dari awal menyetujui permainan cinta segita

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *