Konflik di Jalan Beauharnais (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Perjuangan
Lolos moderasi pada: 7 February 2018

Tahunnya 1965, bulan Desember, tanggal 15. Kira-kira sudah 20 tahun aku berkecimpung di bisnis ini, suara dentingan mesin dan palu yang bertabrakan dengan logam sudah menjadi musik di telingaku, begitu pula suara orang-orang di pengadilan, yang sudah terdengar seperti musik orkestra bagiku. Kehidupanku kini sudah berbalik sepenuhnya, pada awalnya aku hanyalah seorang bujang muda yang merantau ke negeri orang, kini aku sudah menjadi pengusaha sukses. Perusahaan tempat dulu aku melamar pekerjaan sekarang sudah berada di bawah naunganku, ratusan pekerja dan pengrajin bekerja keras untuk menafkahi diri mereka dan keluarga mereka yang senantiasa menunggu di rumah.

Orang-orang pun datang silih berganti, ratusan orang datang mendampingiku setiap tahunnya, tapi hanya ada satu pendamping hatiku, hanya ada satu malaikat yang tetap setia menjaga hatiku meskipun dia sudah di alam sana, semua kenangan yang tidak akan bisa hilang. Omong-omong tentang kenangan, hari ini aku memutuskan untuk bertemu temanku waktu masih sekolah dulu, hanya sekedar melepas rasa rindu antar teman. Aku memakai setelan jas terbaik yang kumiliki, well untuk seseorang yang telah berkepala 3 bisa dibilang aku masih memiliki gaya berpakaian yang mumpuni. Setelah berpakaian, aku langsung berangkat menuju kafe tempat aku biasa makan waktu pertama kali aku datang ke Prancis.

Oh, alasanku memakai setelan terbaikku karena dia berkata akan mewawancaraiku perihal perusahaanku dan akan memajangnya di halaman depan surat kabar The Times. Pada awalnya aku menolak namaku dipajang di halaman depan surat kabar yang tenar itu, tapi karena dia memaksa, apa boleh buat.

Aku hanya perlu berjalan selama 5 menit untuk sampai di tempat yang telah kami tentukan, sebuah kafe kecil yang terletak di ujung jalan yang dinaungi dua buah pohon yang daunnya sudah mulai berwarna kekuningan. Aku duduk menunggu temanku yang belum juga datang sambil minum secangkir teh. Dasar, dia itu seorang jurnalis, tapi dia selalu saja datang terlambat ke berbagai acara, aku heran, bagaimana dia mau sukses kalau beritanya saja tidak pernah terkejar.

Pikiranku yang sudah mengantuk terbangun kembali saat sebuah tangan menepuk bahuku dan sebuah wajah familiar muncul.
“Bonjour, Monsieur Sutton!”
“Bonjour, Monsieur Darwin!”
“Lama tidak bertemu kawan! Wah, ternyata tidak ada yang berubah dari dirimu selama ini. Masih saja berbadan kecil walaupun sudah menjadi sukses”

“Ah, kau bisa saja. Kau juga, apa kau masih memakai kawat gigimu yang konyol itu?”
“Tentu saja tidak. Ayolah kawan, itu kan salah satu dari cerita masa laluku yang memalukan, lupakan saja!”
“Bagaimana bisa aku melupakanmu yang seharian keliling sekolah memamerkan kawat gigimu itu!. Hampir seluruh kelas menertawakanmu.”
“Dan hampir sepekan perempuan di kelas kita tidak ada yang bicara denganku, mereka menganggap diriku terlalu aneh lah, eksentrik lah…”

“Dan gara-gara sifat-sifatmu itu kau bisa bergabung dengan The Times London, kan?”
“Ya memang betul sih, bahkan aku sekarang aku sudah mengepalai tim jurnalisku sendiri, harusnya anak buahku sekarang yang mewancaraimu, tapi sebagai teman lama, aku jadi kepingin bertemu lagi denganmu, dan hasilnya… bertemulah kita di sini. Sayang sekali si Bernard tidak bisa berkumpul di sini”
“Kau benar, seandainya dia di sini, maka jadilah tiga serangkai Worcester bertemu di Paris. Oh ya, kudengar baru-baru ini salah satu hasil karyamu itu mendapatkan penghargaan Pulitzer, benar begitu?”
“Benar sekali kawan, kalau saja waktu itu aku mengetahui keberadaanmu di Prancis, tentu aku akan membagi hadiahnya denganmu kawan! Kita bisa pergi minum bersama, pergi melihat karnival bersama, dan juga… Hey, tunggu dulu kawan, kenapa aku yang ditanya-tanya? Bukankah seharusnya aku yang bertanya dan kau yang menjawab, bukan?. Baiklah, kita mulai saja Mister… maaf, maksudku Sir John Sutton, bisakah anda berbagi cerita dengan kami, warga Inggris tentang awal kesuksesanmu di Paris?”

“Tentu saja, tuan Darwin. Begini ceritanya…”

Waktu itu tanggal 13 Desember, tahun 1945. Pada waktu itu aku bukanlah seorang yang lahir dari keluarga orang kaya, kuyakin kau sudah tahu tentang itu. Aku adalah seorang yatim piatu, ibu asuhku bilang kalau dia menemukanku ditinggalkan di depan pintu panti asuhan. Aku hanya bisa menyelesaikan pendidikanku hingga ke sekolah menengah tingkat atas, apa boleh buat, aku tidak punya biaya lagi dan juga akan lebih baik kalau uang yang kudapat digunakan untuk keperluan anak-anak panti asuhan lain yang sudah kuanggap seperti adik sendiri.

Waktu itu perang dunia 2 sudah berakhir sehingga minatku untuk bergabung dengan pasukan Kerajaan berkurang. Aku lebih tertarik kepada dunia sastra dan mempelajari beberapa bahasa negara lain di sela-sela istirahat makan siangku. Oh, ya saat itu aku menghabiskan waktuku dengan bekerja sebagai pengantar koran di siang hari dan pelayan sebuah restoran bintang tiga di pinggir kota

Alkisah pada suatu malam datanglah seorang pria yang kuyakin berasal dari Prancis makan malam di restoran tempatku bekerja, pakaiannya terlihat sangat mewah, dia juga membawa tongkat yang kuyakin terbuat dari kayu ek, penampilan yang cukup eksentrik untuk seorang kaya.

Tidak tanggung-tanggung, ia memesan wine termewah yang kami punya dan memesan hidangan yang mewah juga. Setelah menghabiskan makanannya ia langsung menuju kasir dan terlihat kebingungan, pasalnya tidak ada orang yang berdiri di meja kasir, aku baru ingat kalau si tua Freddy tadi izin pulang lebih cepat karena merasa sakit, otomatis aku pun langsung menggantikan tempatnya.

“Selamat malam, Sir”
“Selamat malam, boleh kulihat tagihannya?”
“Tentu sir, sebotol Chateau Rogue Wine dan sepiring Radicchio Rosso, totalnya menjadi 200 pounds sir”
“Baiklah… ini ambil saja kembaliannya”

“Tapi sir ini kan…”
“Ambil saja, sebelum aku berubah pikiran”
Dengan senang hati, kuambil 50 pounds dari kasir dan meletakan dua lembar 100 pounds, setidaknya aku bisa membeli beberapa buku sastra untuk kubaca. Sesaat setelah kembali bekerja sebagai pelayan, aku menyadari ada sebuah kartu di atas meja kasir…

Damien Laurentin
Laurentin.Co Telegraph Company
Beauharnais St. 68 Paris

Laurentin… wah, ini pasti kartu bisnis milik orang Prancis tadi. Cepat-cepat aku keluar pintu restoran dan mendapati orang itu sedang berkunjung ke sebuah gerai buku yang kebetulan terletak persis di sebelah restoran tempat aku bekerja

“Permisi, Sir”
“Hm? Ada apa nak muda? Bukankah sudah kubilang untuk mengambil kembaliannya, atau kau ingin aku…”
“Tidak sir, tidak. Aku hanya ingin mengembalikan kartu ini, kuyakin ini pasti milikmu, benar? Monsieur Laurentin”
“Oh!, Oui, ini memang benar milikku, ternyata pemuda inggris memang luar biasa baik! Terima kasih!”

“Terima kasih, sir. Tapi sebenarnya aku ini seorang keturunan Amerika, tapi aku lahir di Inggris”
“Oh, sebuah kejutan yang menyenangkan. Dan sekali lagi kuucapkan terima kasih, Merci!”
“Je vous en prie, Monsieur.”

“Wah, ternyata bahasa Prancismu cukup lancar ya, untuk ukuran seorang pelayan restoran”
“Ah, iya sir. Sebagai seorang pelayan, aku merasa harus belajar beberapa bahasa asing, tapi lebih tertarik kepada bahasa Prancis sir”

“Kalau boleh tahu, siapa namamu nak?”
“Sutton, John Sutton sir, kau boleh memanggilku John kalau kau mau”
“Laurentin, Damien Laurentin. Boleh kutahu berapa umurmu anak muda?”
“19 sir”

“Kau pernah belajar ilmu manajemen?”
“Aku pernah mempelajarinya waktu sekolah sir”
“Hmmm… katakanlah John, jika kau mempelajarinya lagi dan kuajak kau ke Prancis untuk menjadi asistenku di sana, apa kau tertarik?”
“Tentu saja, sir!”

“Baiklah kalau begitu, sekarang kita harus pergi ke grand hotel Worcester untuk bertemu seseorang yang penting, kau bisa?”
“Tentu saja bisa sir, sifku berakhir sebentar lagi”
“Oh, kalau bisa, tolong gunakan baju yang formal dan rapi”
“Baik, sir. Aku yakin aku punya beberapa potong baju formal di lokerku”

Setelah berganti baju, aku mengikuti Damien ke Grand Hotel yang berada di pusat kota. Di sana kami langsung menuju ke balai pertemuan, di situ aku disuruh untuk diam dan menunggu di luar. 5 menit kemudian aku mulai bisa mendengar cacian-cacian sudah mulai dilempar, dan beberapa bahasa prancis yang tidak aku mengerti. Setelah setengah jam, Damien ke luar dengan wajah yang merah padam, bagaikan wajah seorang bayi yang diambil permennya.

“Maaf, sir. Bukan maksudku ikut campur, tapi kalau boleh tahu, dengan siapa kau bicara tadi sir? Kedengarannya seperti perdebatan yang seru”
“Dia itu Joseph Mercer Baurdin, dia itu musuh yang paling berbahaya!. Dia selalu mencaplok paten-paten milik perusahaanku, sudah 2 paten yang diambilnya bulan ini, dan dia ingin mencaplok 1 lagi!. connard!”
“Tenang sir!, tenangkan dirimu terlebih dahulu. Kuyakin masih ada cara untuk menghentikan dia
“Moga-moga ucapanmu benar nak, kalau tidak, aku bersumpah bahwa hanya Tuhan yang tahu apa yang akan terjadi padanya kalau dia meruntuhkan perusahaanku!”

Sebenarnya pada saat itu aku mulai ragu untuk meneruskan perjalananku ke Prancis, akan tetapi darah Amerikaku terus berkobar, menyeru-nyerukan untuk meneruskan petualangan ini. Keesokan harinya aku pergi ke Old Bailey Hotel di Oxford untuk menemui Damien dan langsung terbang ke Paris.

Perjalanan dari Oxford ke Paris memakan waktu sekitar 6 hingga 7 jam-an. Tapi semua waktu yang terbuang itu ternyata tidak sia-sia, aku terpesona melihat keindahan kota Paris, terutama jalan Beauharnais tempat aku akan bekerja nanti. Pohon-pohon yang daunnya berguguran, suara kicauan burung yang bernyanyi, hembusan angin yang meniup daun-daun, semuanya membuatku merasa seperti berada di Taman Eden.

“Hei John, jangan melamun terus, kita harus segera mengunjungi perusahaan tempat kau akan bekerja. Kau tahu pepatah lama, ‘Waktu adalah Uang’, jadi, ayo!”
Kami berjalan kaki menuju sebuah pabrik sederhana namun cukup luas di ujung jalan. Suara dentingan palu yang beradu dengan besi memekakan telingaku, entah apa aku bisa terbiasa dengan suara ini.

“Nah John, bagaimana menurutmu tentang tempat ini?”
“Entahlah Monsieur Damien, kulihat di kartu namamu kalau kau ini pemproduksi mesin telegraf kan? Tapi setahuku, pembuatan telegraf tidak membutuhkan pukulan palu sekuat itu”
“Kau benar John, aku memang memproduksi telegraf, tapi aku juga mempekerjakan pengrajin-pengrajin lokal di daerah ini yang tidak mempunyai modal untuk menghasilkan karya. Aku memodali mereka dengan peralatan dan bahan-bahan yang mereka perlukan, yang mereka perlu lakukan hanyalah menyetor sejumlah persenan dari hasil penjualan karya mereka kepadaku”

“Wah, ternyata anda juga dermawan sir. Tapi, mohon maaf sir, kurasa aku tidak bisa bekerja dengan maksimal dengan adanya suara bising di lingkungan kerjaku”
“Jangan khawatir John, kau akan bekerja di kantorku di gedung sebelah, ya meskipun kau juga harus sering berkunjung ke sini untuk mengontrol. Tapi, percayalah John, kau akan terbiasa dengan suara itu dan suara dentingan palu itu pada akhirnya akan terdengar seperti musik klasik di telingamu!”

Aku menerima pekerjaan dengan penghasilan 25.000 $ per tahun itu. Gaji sebesar itu sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupku, bahkan menurutku sedikit berlebihan untuk seseorang yang pekerjaannya hanya mengawasi orang-orang bekerja, ya meskipun setiap bulannya aku juga menghitung pengeluaran dan pemasukan perusahaan. Kadang kalau gajiku masih berlebih, aku sempatkan untuk mengirimnya ke ibu asuhku.

Saat itu sudah bulan ke dua aku berkecimpung di dunia ini, dan suara dentingan palu pun sudah mulai terdengar seperti musik di telingaku. Aku juga sudah dekat dengan para pengrajin di sana, salah satunya adalah Jacques. Ia hanyalah seorang pemuda dari desa kecil yang merantau dari rumahnya untuk bekerja ke kota sama sepertiku, itulah mengapa kami menjadi akrab. Seperti biasa, aku berkeliling pabrik untuk mengontrol dan memastikan proses produksi tetap berlangsung. Pada saat aku berkunjung ke tempat pengrajin bekerja, Jacques menghampiriku dengan tergesa-gesa.

“Monsieur Sutton, Monsieur Sutton, darurat!”
“Ada apa Jacques?”
“Monsieur Laurentin, sir. Monsieur Laurentin pergi ke toko Monsieur Baurdin dan mengancam akan membunuhnya!”
Dengan segera, aku berlari ke toko Baurdin.Co yang terletak persis di seberang jalan, saat sebuah kursi melayang dari dalam toko memecahkan kaca toko dan memperlihatkan dua sosok pria yang sedang bertengkar.

“Monsieur Laurentin! Tolong hentikan pertengkaran ini sekarang juga!. Demi Tuhan, Damien! Lepaskan tongkatmu dari lingkar lehernya!”
Dengan susah payah kulepaskan tongkat kayu Damien dari leher Baurdin dan kutenangkan Damien yang terlihat merah padam mukanya.
“Akan kubunuh kau Baurdin! Lihat saja! Kalau saja tak ada Sutton, sudah tentu nyawamu melayang Baurdin!”
“Mengelola perusahaan saja tak bisa, bagaimana kau ingin membunuhku Laurentin!? Dasar pengecut! Dan jangan lupa untuk membayar ganti rugi kacaku!”

Seselesainya pertengkaran itu, aku langsung menyusul Damien yang berjalan dengan tersungut-sungut ke kantornya
“Astaga Damien, apa yang ada di pikiranmu sehingga kau ingin membunuhnya hah?”
“Dia itu, keparat itu telah menyebarkan fitnah terhadap kita John! Bagaimana bisa aku tidak ingin membunuhnya? Aku menggunakan cara-cara bersih untuk menghasilkan keuntungan dari bisnis ini, sementara dia dengan seenaknya mengambil pelanggan dan keuntunganku dengan cara kotor John!”
“Tenang Damien, kuyakin ada cara untuk menyelesaikan ini. Sementara ini tenangkanlah dirimu sejenak, dan berusahalah untuk mencari inovasi-inovasi baru yang dapat melahirkan paten baru, gunakanlah otakmu oke?”

Kutinggalkan dia sendirian di kantornya untuk menenangkan diri. Jika dilihat dari sisi akademiknya, Damien itu sangat pintar, bisa memikirkan sesuatu yang tidak bisa dipikirkan orang lain Tapi, amat disayangkan temperamennya sangatlah tinggi, mudah sekali baginya untuk tersulut emosi, apalagi kalau membicarakan musuhnya itu.

Sementara itu, aku mulai bekerja untuk mencari tahu kebenarannya. Kutanya para pegawai dan pengrajin di pabrik, dan kuperiksa silang latar belakang mereka untuk memastikan tidak ada yang aneh. Pada hari kedua, desas-desus terdengar di kalangan pekerja kalau sebenarnya penghasilan mereka seharusnya lebih besar, akan tetapi Damien mengambil keuntungan besar dari mereka secara diam-diam, kudapatkan informasi ini dari informanku yang paling setia, Jacques.

Aku juga mempekerjakan laskar jalanan yang terdiri dari anak-anak jalanan yang hidup di jalan Beauharnais dan di sekitarnya. Menurutku sekumpulan anak jalanan akan lebih berguna, dibandingkan 1 batalyon polisi. Kugaji mereka sebesar 5franc setiap ada informasi yang mereka dapat. Dan ternyata dugaanku benar, aku mendapat informasi kalau semua fitnah-fitnah tidak benar itu berasal dari toko milik Joseph Baurdin.

Jacques juga bilang kalau ada pekerja baru di pabrik yang mencurigakan, dia bilang orang itu perantauan dari pedesaan, sama seperti dirinya. Tapi, ada satu hal yang mengganjal di pikiranku, Jacques bilang nama orang itu adalah Chadburn Jerome Spier, nama yang cukup aneh untuk seorang Prancis.

Nama itu terus terngiang di pikiranku. Nama itu terdengar aneh di telingaku ini, meskipun aku bukan orang Prancis tulen, aku bisa memastikan ada yang tidak benar dari nama itu. Ada sesuatu di nama itu yang janggal… Ah, sialan, aku tidak bisa menemukan apa yang salah dengan nama itu. Kupindahkan posisi alfabet di nama itu sambil memikirkan apa saja yang dapat kutemukan dari nama itu… tunggu dulu, kalau kupindahkan huruf J ke awal lalu O, lalu S dan seterusnya… sialan, Joseph Mercer Baurdin!

Cerpen Karangan: Akbar Multazam R

Cerpen Konflik di Jalan Beauharnais (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Mengukir Pelangi Di Negeri Rangsang

Oleh:
Suasana pagi nan indah, semilir angin yang berhembus dari arah laut, menyeberangi bebatuan pantai yang berbaris dengan rapi di mulut pantai. Tak tertinggal, burung-burung berterbangan di sekitaran semenanjung pantai

Jalan Tengah

Oleh:
Malam itu seperti malam-malam sebelumnya. Abdul Rahim, yang dikampungnya kurang begitu popular sedang berbincang dengan seorang temannya, di kampung mereka teman abdul Rahim ini kurang begitu di suka. Abdul

Kebenaran Tak Kan Usai

Oleh:
Suara itu terdengar sangat jelas sekali, menggetarkan gendang telinga ini sampai ke hati. Baru-baru ini mereka menyerang kota lagi, setelah beberapa hari berlalu. “Ziyad, bangun ziyad! Apa telingamu telah

Hari Pertama di Ibu Kota

Oleh:
Tiba di Bandara Soekarno-Hatta. Aku segera mengambil koperku berniat ingin keluar dari pesawat yang kutumpangi semalam. Perlahan-lahan aku melangkahkan kaki beranjak dari bangku yang aku duduki semalam, menuju pintu

Pelarian Gunung Pelarian

Oleh:
Tanpa pedulikan kondisi pintu yang sudah rusak dan masih dalam kondisi terkunci, kudobrak sekuat tenaga dengan bantuan amarah yang tak terbendung menenggelaman diri dalam nafsu yang hampir tak terkendali,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *