Konflik di Jalan Beauharnais (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Perjuangan
Lolos moderasi pada: 7 February 2018

Dengan bergegas aku langsung menuju pabrik dan mendapati kalau sedang waktunya istirahat.
“Jacques! Di mana pekerja baru yang kau bilang itu?”
“Di pojok sana sir, sedang merok*k di pojokan sir”
Kutarik pria itu dan kubawa ke kantorku untuk diinterogasi

“Jadi, ada keperluan apa sir? Sampai perlu membicarakannya di kantor segala?”
“Ah, tidak ada apa-apa Monsieur Spier, hanya saja aku mendapati kalau sedang ada desas-desus yang terjadi di pabrik, benar begitu?”
“Kuyakin begitu sir. Lalu, apa hubunganku dengan kasus ini sir?”
“Well, sebenarnya tidak ada kaitannya denganmu. Hanya saja aku mulai mencurigai dirimu itulah yang menyebarkan desas-desus tidak benar itu, apa benar begitu? Chadburn Jerome Spier, atau lebih tepatnya Joseph Mercer Baurdin!?”

Ada keheningan selama beberapa detik setelah kuselesaikan kalimatku, lalu dengan santainya ia mengambil sebuah cerutu dari kantongnya dan mmenyalakannya.
“Kau benar sekali sir, wah ternyata keputusan si bodoh itu untuk mempekerjakan orang Inggris tidaklah salah…”
“Si bodoh? Bukannya kau yang bodoh? Menciptakan paten sendiri saja tidak bisa, tapi sudah merendahkan orang lain. Setidaknya mengaca sendiri dulu pak tua!”
Ucapanku yang terlalu bersemangat itu hampir saja melukai diriku sendiri, kulihat Baurdin sudah siap dengan tangannya yang mengepal di kursi dan mukanya yang kelihatan merah padam, tapi akhirnya dia bisa menguasai dirinya sendiri. Untuk orang seumurannya bisa dibilang kalau badannya sangat atletis, tentu saja aku bisa dijatuhkan dengan mudah olehnya.

“Well, setidaknya orang Inggris tidak serakus orang Prancis dalam perihal bisnis”
“…kau salah nak, kau akan lihat kalau semua orang yang terjun ke dunia bisnis pasti akan terjerumus kepada kerakusan”
“Lalu, apa alasanmu untuk menyusup ke sini dan menyebarkan fitnah-fitnah tidak benar dan berusaha menyabotase kami?”
“Dunia itu kejam nak, tidak ada yang mudah di dunia ini, kau harus mengusahakan segalanya, dunia manusia tidak jauh berbeda dengan dunia hewan dengann hukum rimbanya, sadarlah nak! Di dunia ini yang lemah akan tertinggal dan mati sementara yang menang akan menikmati kekayaannya yang berasal dari yang lemah! Dunia bisnis juga tidak kalah kejam nak, bahkan bisa dibilang lebih kejam lagi nak! Di sini akulah sang pemenang dan kau dan Damien adalah sang pecundang! Akulah yang menjadi Scipio dan kau yang menjadi Hannibal! Mungkin pada awalnya kalian menang, tapi sadarlah kalau di akhir nanti akulah yang jadi pemenang!”

“Sadarlah pak tua! Pada awalnya kukira kau ini seorang pria yang bijaksana yang bisa mengontrol amarahnya melebihi Damien, tapi ternyata aku salah, kau tidak lebih dari sekedar binatang, pak tua! Kau tidak lebih dari seorang Senat Roma yang hidup berfoya-foya seperti binatang! Menikmati kekayaan sementara orang orang di sampingmu menderita, bukankah itu menjadikanmu lebih rendah dari seekor binatang hah!?”
“Kau boleh menyebutku binatang, tapi tolong kau ingat nak, di hukum rimba itu binatang yang paling kuatlah yang menang! Dan juga aku tidak akan mengeluh kalau dijadikan anggota Senat Roma. Dan juga satu hal lagi, aku ingin berhenti dari pekerjaan ini, tidak sesuai dengan kastaku. Dan tolong bilang juga kepada Damien untuk tidak meneriakan idenya keras-keras!”
Orang tua itu meninggalkan ruangan dan menghapus penyamarannya itu, tampaklah seorang pria paruh baya dengan gaya flamboyan yang menyusuri pabrik sambil menghisap cerutu Karibia. Namun, ada satu lagi kata-katanya yang janggal. Bagaimana dia bisa mendengar suara Damien dari pabrik yang bahkan berbeda gedung dengan kantornya? Atau jangan-jangan…

Ku berlari dengan secepat yang kubisa dan langsung menuju kantor Damien. Setibanya di sana, Damien terlihat sedang bersantai dan meminum secangkir teh. Kugeledah setiap sudut kantor Damien, dan aku berhasil menemukan 2 alat penyadap dan langsung menghancurkannya

“Hey John, benda apa yang baru saja kau injak-injak itu?”
“Penyadap, Damien. Sadarkah kau kalau si tua Baurdin itu telah menyadap kantormu sejak beberapa hari yang lalu!?”
“Astaga, kau tidak mengada-ngada kan? Jadi semua kerja kerasku selama ini menghasilkan paten terbuang dengan sia-sia?“

“Oh tuhan, jangan bilang kau sudah menyelesaikan paten itu, sudahkah?”
“Sudah, baru tadi pagi ini selesai”
“Astaga, kalau begitu demi tuhan Damien, kita harus ke kantor paten dan mendaftarkan paten ini! Sebelum diambil setan itu!”

Dengan tergesa-gesa kami mendatangi kantor paten yang berada tak jauh dari pabrik kami. Namun, semuanya sudah terlambat, di situ sudah tertera nama Joseph Baurdin atas paten yang didesain oleh Damien.
“Mon Dieu, John, hancur semua kerja kerasku selama ini”
“Tenang Damien, kita akan bawa urusan ini ke pengadilan, akan kubawa semua permasalahan kita selama ini dan akan kumasukan ke pengadilan, percayalah dan pegang kata-kataku. Kita-akan-memenangkan-kasus-ini!”

Dan begitulah awal dari perjalanan kami peperangan di dunia paten. Kami berulang kali memasuki pintu ruang pengadilan, disambut oleh puluhan rakyat kelas pekerja sebagai saksi dan rakyat kelas bangsawan sebagai juri. Dentuman palu hakim dan suara jaksa yang membuat keputusan sudah terdengar seperti alunan biola yang biasa muncul di orkestra, gedung pengadilan sudah seperti rumah kedua bagi kami karena seringnya kami mengunjung bangunan putih menjulang itu, lebih sering dari kunjungan kami ke gereja.

Akhirnya, setelah tiga bulan melakukan perdebatan yang tiada henti, akhirnya kami bisa memenangkan paten-paten kami! Hasil 6 buah paten berhasil kami borong atas nama Damien Laurentin. Seluruh penduduk jalan Beauharnais mengelu-elukan nama Damien, nama Damien di puja-puja bagaikan seorang malaikat penyelamat, seorang pahlawan untuk kalangan menengah ke bawah. Sementara itu, takdir berkata lain untuk Baurdin, semua aset perusahaannya dibekukan oleh bank, pabriknya pun turut serta di sita oleh bank, semua etalase-etalase tokonya kini sudah menghilang dan hanya menyisakan tumpukan debu yang duduk dengan tenangnya.

Aku mempunyai ide bagus untuk memanfaatkan tanah milik Baurdin yang disita dan dilelang oleh pemerintah. Setelah kubujuk-bujuk, akhirnya Damien setuju untuk membeli tanah tempat pabrik milik Baurdin pernah berdiri, ia mendirikan ekspansi perusahaan disana dan mempekerjakan pegawai-pegawai Baurdin yang kini pengangguran. Sementara itu, aku memutuskan untuk menaikan pangkat Jacques menjadi pengawas pengrajin dan menaikan gaji para karyawan, tentu saja atas sepengetahuan Damien.

Damien juga memutuskan untuk beristirahat sejenak dalam dunia bisnis dan membeli sepetak tanah pertanian untuk diolah penduduk di sana. Sifatnya yang dermawan inilah yang membuatnya dijuluki ‘Malaikat dari Beauharnais’. Tapi, sifatnya yang temperamen itu juga kadang membuatku ragu apa dia cocok dijuluki seorang ‘Malaikat’. Tapi, aku juga menyadari kalau setiap manusia tidaklah sempurna, aku juga tahu kalau Damien sedang berusaha menurunkan tingkat temperamennya itu. Lalu, siapa yang mengelola perusahaan? Damien memutuskan untuk menunjuku sebagai pemimpin perusahaan yang sekarang.

Bagaimana dengan Baurdin? Hakim memutuskan untuk mengkerangkengnya selama 6 tahun, dan membayar denda sebanyak $ 2.000.000.00. Aku tidak mendengar banyak kabar tentangnya selama di penjara, yang kutahu aku pernah memergoki Damien beberapa kali pergi ke penjara sendirian, aku sendiri masih ragu dan masih mempertanyakan alasannya untuk mengunjungi penjara. Karena setahuku, dia belum pernah sekalipun berkunjung ke penjara waktu awal-awal aku bekerja disini…tapi, ya sudahlah, itu bukan urusanku.

Yang jelas, setelah 6 tahun di penjara, aku berjumpa dengannya di pusat kota Paris. Keadannya terlihat sangat memprihatinkan dengan kemejanya yang compang-camping dan sebuah map yang ia apit dengan eratnya, kurasa ia sedang berusaha untuk mencari kerja. Setelah kubujuk, dia baru setuju untuk mengunjungi pabrik kami dan bertemu dengan saingan lamanya.

Jujur saja, pertemuan itu sangatlah canggung, bahkan Damien nyaris memukul kepala Baurdin waktu mereka bertemu. Setelah 2 jam pembicaraan yang sangat alot, aku memutuskan untuk mempekerjakannya sebagai juru bicara di perusahaan kami. Mengapa aku mempekerjakan Baurdin? Menurutku dia mempunyai kemampuan berbicara yang luar biasa, buktinya dia mampu menahan pengacara kami di ruang sidang selama 3 bulan!. Akan tetapi, seperti Damien, Baurdin juga mempunyai kekurangan, sifatnya yang ingin selalu bersaing, dan egonya yang sangat tinggi kadang membuatku sedikit jengkel, tapi semua itu sepadan dengan keuntungan yang dia bawa untuk perusahaan.

2 tahun kemudian aku menemukan pasangan hidupku. Seorang bunga desa yang melamar pekerjaan di perusahaan. Namanya Joan Marie Cervaute, bisa dibilang kami jatuh cinta pada pandangan pertama dan aku langsung mengutarakan cintaku padanya di malam harinya. Kami selalu pergi kemana-mana bersama karena ternyata dia adalah sekretarisku yang baru, hal ini tentu memperlancar hubungan kami. Akhirnya kami memutuskan untuk menikah dan membeli sebuah rumah mungil di ujung jalan Beauharnais untuk melanjutkan hidup sebagai sebuah keluarga utuh.

Namun, kebahagiaan dan kedamaian itu tidak berlangsung lama…
Aku mendengar kabar kalau Damien, Damien yang membawaku duduk di puncak perusahaan ini tewas tertabrak mobil yang tergelincir. Dia tewas di jalanan tepat di depan rumahnya sendiri setelah makan malam di restoran di kota. Sontak kabar tersebut membuatku murung selama beberapa hari, pekerjaanku menjadi tak terurus. Aku memutuskan untuk minum ke bar untuk menenangkan diriku, di sanalah aku bertemu Baurdin.

“Hei nak… kau sudah dengar kabar tentang Damien?”
“Sudah”
“Well kalau begitu baguslah, aku tidak harus memberi tahu kabar duka itu dua kali”
“Dua kali?”

“Ya, aku harus menjelaskan kepada Lily tentang bagaimana Damien menghadapi saat-saat terakhirnya, sangat sulit kan? Oh ya, Lily adalah mantan istri Damien, sekaligus teman masa kecilku”
“Teman masa kecil? Apa jangan-jangan kau dan Damien…”
“Ya… aku memang teman masa kecil Damien. Aku, Damien, dan Lily selalu bermain bersama. Kami masuk ke sekolah yang sama sejak Sekolah dasar, orang tua kami juga sudah saling kenal, aku berpisah dengan mereka ketika aku beranjak ke sekolah tinggi, kondisi ekonomi keluargaku membuat kami harus pulang ke rumah keluarga ayahku di Nantes. Kami semua berkumpul lagi sewaktu aku masuk ke sekolah Bisnis. Kami selalu pergi bersama-sama, bahkan sarapan pun harus bersama. Kami itu bagaikan The Tree Muskeeters yang tidak bisa terpisahkan. Tapi semuanya berubah ketika aku dan Damien jatuh hati kepada Lily, persaingan kami itu membuat Lily menjadi muak dan memutuskan untuk pergi ke Inggris. Aku menyalahkan Damien untuk peristiwa itu, saat itulah awal aku dan Damien memulai permusuhan kami. Hingga, 2 tahun kemudian aku mendengar kabar kalau Damien sudah menikah dengan Lily, tapi tiba-tiba, Damien memutuskan untuk bercerai dengan Lily setelah 1 tahun menikah. Hal ini tentu membuatku sangat marah, bagaimana dia menyia-nyiakan perempuan secantik itu. Hal ini membuat persaingan kami semakin sengit, hingga aku mendengar alasan Damien menceraikan Lily kemarin…”

“Dan, apa alasannya?”
“Maaf nak, kurasa aku tidak bisa menceritakannya. Bahkan, kalau bisa aku ingin melupakannya. Setiap kali aku mengingatnya, akan tampak sosok kami bertiga saling bergandeng tangan dan duduk di bawah pohon ek dan bersenda gurau bersama… Maaf nak, tapi aku tidak ingin terjebak di masa lalu.”
“Tidak apa-apa, maafkan aku juga yang serba ingin tahu ini”
“Tidak apa, hal itulah yang membuat Damien memilih dirimu, percayalah. Kalau begitu, aku pamit. Jangan lupa untuk datang ke pabrik besok! Selamat malam!”

Malam itu aku berjanji kepada diriku sendiri kalau aku tidak akan berhenti hingga perusahaan kami berkembang hingga ke seluruh Prancis. Tahun ke tahun aku terus bekerja membuka cabang di seluruh Prancis sampai kami sudah membuka 5 cabang di seluruh kota Paris. Aku terus bekerja keras, terus bekerja tanpa henti, sampai aku mendengar kalau istriku, pasangan hidupku yang setia menemaniku selama beberapa tahun terakhir ini meninggal, saat melahirkan anak kedua kami. Aku merasa tertekan, karena mulai sekarang, tidak ada lagi sosok yang menemaniku, menyambutku setiap aku lembur, menyelimutiku ketika aku tertidur waktu bekerja. Oh Tuhan, demi apapun aku merasa ingin mati saja pada saat itu.

Aku menyerahkan alih perusahaan kepada Baurdin pada saat itu, karena untuk makan saja aku tidak bisa bagaimana aku bisa mengurus perusahaan?, dan entah mengapa dialah satu-satunya orang yang kupercaya pada saat itu, padahal dulu kami bertatap muka saja tidak sudi. Baurdin berhasil membuka cabang di kota Bordeaux hingga ke Nantes. Baurdin terus bekerja keras, sampai maut menjemputnya 2 tahun kemudian di tanggal yang sama maut menjemput Damien, seolah mereka ditakdirkan untuk mati bersama

Aku kembali mengambil alih perusahaan dan berhasil mendirikan sebuah cabang lagi di Cannes. Aku sadar kalau perjalanan untuk meraih mimpiku ini masihlah panjang. tapi aku akan tetap setia menunggu di sebuah rumah mungil bersama kedua putriku di sudut jalan Beauharnais, dimana kau bisa mendengar alunan palu yang berdenting, seperti alunan melodi sebuah simfoni di malam hari.

Cerpen Karangan: Akbar Multazam R

Cerpen Konflik di Jalan Beauharnais (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cermin

Oleh:
Aku berdiri di depan sebuah cermin. Cermin sebesar setengah badan yang tergantung di dinding putih. Ku lihat orang lain berdiri di seberang sana. Menatapku dengan sorot mata penuh seribu

Konteks Tanpa Teks

Oleh:
“Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya, dan buah dikenal dari pohonnya.” Pepatah lama yang masih tetap popular yang menceritakan keteladanan manusia. Sosok kakek bagi kami, acap kali memperagakan arti

Ada Yang Pergi dan Kembali

Oleh:
“Mereka selalu berjuang demi beberapa lembar rupiah yang halal. Dengan cara apa pun asalkan halal. Setiap harinya berjuang demi menafkahi keluarga. Mereka bukan kepala atau Ibu rumah tangga, tapi

Sebuah Elegi

Oleh:
Seseorang melambaikan tangan ke arahku sambil setengah meneriakkan namaku. Aku menoleh dan melihatnya duduk santai di bawah pohon mangga, tepatnya di atas sebuah kursi kecil setengah jadi. Aku menyebutnya

Chip Robot (Part 3)

Oleh:
Aku terbaring di atas sebuah kasur lantai yang sedikit koyak. Perlahan aku buka mataku. Lalu bangun dengan perlahan sambil menahan sakit di tanganku ah.. Ah.. Aw.. Dan terlihat seorang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *