Kopi Pending

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Inspiratif, Cerpen Kehidupan
Lolos moderasi pada: 3 September 2013

Naples, Italia. Tempat paling pas untuk ngopi sepulang kerja. Ditambah pemandangan kota yang perlahan menelan senja tepat di depan mata. Keindahan yang tak dapat diucapkan dengan kata-kata.

Setelah pulang dari kantorku, aku terbiasa mampir ke kedai kopi kecil di pinggir pantai ditemani 2 gelas coklat panas dan, terkadang, seekor camar manja yang meronta menginginkanku berbagi biskuit lezat seharga 7 Euro (bayangkan dalam Rupiah, mahalnya bukan main!). Yang dapat kulihat bukan hanya panorama Laut Tiberia berbatas cakrawala ungu tua, tapi juga panorama kedamaian yang hanya bisa dideskripsikan oleh mata jiwa.

Sore ini lebih dingin daripada biasanya. Musim dingin sebentar lagi tiba dan kedai kopi akan sangat padat beberapa bulan ke depan. Ketika aku masuk ke kedai kopi yang sama dengan kedai kopi yang sudah aku kunjungi seminggu terakhir ini, aku hanya melihat dua kursi kosong: satu berada di meja kayu panjang yang memang biasa ada di kedai-kedai kopi dan yang satu sudah ditempati seseorang yang, ehm, secara harfiah membutuhkan jatah 2 kursi orang normal (baca: gemuk). Tentu aku memilih kursi di meja kayu panjang. Aku tidak ingin menyakiti hati wanita gemuk tadi karena harus memintanya berbagi jatah kursi dan tidak ingin menyakiti badanku karena harus memaksa duduk di sana.

Seperti biasa, aku memesan dua cangkir coklat panas. Saat kulilitkan ke leherku dengan selembar halsduk biru tua pemberian istriku nun jauh di Indonesia sana, aku mendengar dua orang pria yang duduk di sebelahku memesan kopi hitam panas: lima cangkir! Tapi ada yang janggal pada saat mereka memesan kepada pelayan.

“Lima cangkir kopi, dua untuk kami, dan tiga lagi pending.”

Si pelayan yang berumur 50 tahunan itu—dengan kesigapan mendekati seorang tentara—langsung membuat dua cangkir kopi hitam panas dan menyodorkannya dengan ramah kepada dua orang tadi.

Kopi pending? Sudah 5 tahun aku merantau, bekerja keliling seluruh Eropa, bahkan dunia, mampir ke kedai kopi di hampir seluruh penjuru benua, tapi belum pernah aku mendengar kata ‘kopi pending’. Terdorong rasa penasaran yang kuat, aku bertanya kepada pria yang memakai jas coklat muda.

“Maksudnya kopi pending?”

“Lihat saja nanti.” alih-alih si pria berjas coklat muda tadi merespon pertanyaanku, pria berjas hitam di sebelahnya yang menjawab. Si jas coklat hanya menyenggolkan sebuah senyuman yang sedikit terlalu lebar. Lalu, dua pria itu lalu menyeruput kopi dengan nada yang sinkron, terlalu sinkron bagiku bahkan.

Setengah jam berlalu, kedua cangkir coklatku sudah habis. Aku hanya menunggu ‘lihat saja nanti’ yang dijanjikan oleh pria tadi. Akhirnya, dua pria itu berdiri, membayar kelima kopi yang dipesannya; termasuk tiga kopi yang masih dia pending.

Lalu, keluar dari kedai.

Terdorong kembali oleh rasa penasaran yang semakin tinggi, aku menahan bahu si jas hitam dan kembali bertanya. “Jadi kopi pending itu?”

“Lihat saja nanti.” sekarang pria berjas coklat muda yang membalas pertanyaanku. Si pria berjas hitam hanya mengibaskan senyuman.

Satu setengah jam sudah kuhabiskan untuk menunggu kopi pending itu. Karena bosan, akhirnya aku keluar dari kedai itu menuju rumah dinasku beberapa ratus meter dari kedai ini.

Keesokan harinya, hampir tepat 24 jam setelah dua pria kemarin membeli tiga cangkir kopi pending, aku kembali menunggu apa yang akan terjadi dengan kopi itu. Sekarang, aku duduk di sebelah dua gadis yang sepertinya baru pulang dari kuliah: yang satu memiliki muka yang manis, sedangkan temannya, well, tidak terlalu. Mereka memesan dua cangkir cappuccino panas. Tak kudengar kata ‘pending’ dari bibir mereka. Hari ini tak lagi kudengar kata ‘pending’ dari mulut semua orang yang memesan minuman di sini.

Tapi rasa penasaran menyebalkan ini masih menyelimuti pikiranku.
Setengah jam kusediakan untuk menunggu kopi pending kemarin. Tapi tidak ada juga tanda-tanda yang berhubungan dengan kopi pending tersebut.

Esoknya, esoknya, dan esoknya lagi, aku ulang rutinitas temporal ini: menunggu setengah jam setelah dua cangkir coklat panasku habis hanya untuk melihat apa yang terjadi dengan kopi pending itu. Jika ada orang yang duduk di sebelahku, tanpa tahu malu, langsung kutanya dengan pertanyaan yang sama dengan yang kutanyakan kepada si pria-kopi-pending- beberapa hari lalu.

Setiap orang yang kutanya menjawab dengan kata-kata yang sama persis dengan si pria-kopi-pending: seorang pengacara amatir yang baru menyelesaikan satu kasus, seorang pria yang baru diusir dari rumah karena dituduh selingkuh oleh istrinya, bahkan pemilik kedai kopi sebelah yang ingin mencicipi dan menyakinkan pegawainya bahwa kopi kedai mereka lebih nikmat dari kedai ini.

“Lihat saja nanti.” ucap setiap orang.

Lima hari sudah kulewati menunggu nasib kopi pending. Ini hari keenam dan kuputuskan untuk menjadi hari terakhirku menanti si kopi pending ini.

Ah! Kenapa tidak kutanyakan saja kepada pelayan di sini?

Bergegas aku bertanya kepada pelayan berseragam biru muda dan bercelemek putih yang sedikit kumal jika dilihat dari dekat. “Maksudnya kopi pending itu apa?”

Dengan sedikit senggolan senyum jahil di bibirnya, wanita itu membalas pertanyaanku. “Lihat saja nanti.”

Aku mulai curiga bahwa sebenarnya mereka menjahiliku karena mukaku memang, tak bisa dipungkiri, bukan muka asli daerah ini. Jadi, siapapun akan tahu bahwa aku memang bukan orang Italia. Mungkin ada tradisi di seluruh kedai di kota ini untuk menjahili setiap orang yang terlihat asing atau… entah aku tidak mengerti.

Setelah kembali menunggu setengah jam yang membosankan dan tetap tidak ada tanda-tanda dari kopi pending itu, rasa kesalku sekarang yang mengepul di kepala. Namun, rasa penasaranku kembali datang ketika seorang tua di sebelah kananku memesan 2 cangkir kopi pending (akhirnya). Kembali, tanpa tahu malu, aku kembali bertanya.

“Sebenarnya, apa sih kopi pending itu?”

Sudah kuduga, reaksi yang diberikan oleh orang itu sama saja.

“Lihat saja nanti.”

Sepertinya asumsiku memang benar. Semua orang di sini menjahiliku. Tujuh orang, bung! Tujuh orang menjawab ‘lihat saja nanti’! Kuminum coklat panasku cepat-cepat dan cepat-cepat pula aku taruh uangku di atas meja (sedikit kugebrak mejanya karena aku kesal). Tepat saat aku membalikkan badan ingin pulang ke rumah dinasku, seorang tua berbadan lusuh, berbau sampah plus daging busuk, berbaju compang-camping, berdiri di sampingku. Seluruh tubuhnya gemetar seperti dapat rubuh kapan saja.

“Adakah secangkir kopi pending di kedai ini?” seorang pengemis menghampiri si pelayan.

Pelayan tadi lalu membuat secangkir kopi hitam panas dan memberikannya kepada pengemis yang baru saja masuk. Dia meminum habis kopi panas yang uapnya masih terlihat jelas itu. Sedikit menyeramkan membayangkan kuatnya lidah dan kerongkongan orang itu.

“Terjawab?” si pelayan menyondongkan badannya sambil memangku tangan di atas meja. Senyuman jahil kembali terlukis di muka bulatnya. Ada kepuasan tersendiri yang tersirat di gestur wajahnya.

“Selamat datang di Naples, Nak. Kota para dermawan.” Orang tua di sebelahku tadi menggeleng-gelengkan kepalanya sembari menepuk pundakku yang sudah berbalik menghadap pintu.

Hening berkelibat dan membanjur seluruh tubuhku. Aku tidak berpikir bahwa kemuliaan bisa datang dari secangkir kopi hitam panas. Aku tidak mengira bahwa kebahagiaan bisa dibagikan di kedai-kedai kecil di pinggiran pantai. Aku tidak berpikir bahwa ‘lihat saja nanti’ yang mereka janjikan akan terjawab seperti ini, bahkan membumbung tinggi di atas ekspektasiku (ekspektasiku, orang-orang yang memesan kopi pending akan datang kembali dan mengambilnya di lain hari). Dengan refleks, kubalikkan kembali badanku, dan berdiri dengan tampang serius-agak-kaget dan mata tajam sedikit melotot seperti seorang pemburu yang baru melihat seekor rusa whitetail besar lewat di depan matanya.

“Aku pesan 10 cangkir kopi pending.”

Cerpen Karangan: Finlan Adhitya Aldan
Blog: finlanadhitya.blogspot.com

Cerpen Kopi Pending merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Padamu Wanita Indonesia

Oleh:
Hari ini aku dan kawanku Fadyta berkunjung ke salah satu desa di Kabupatenku, Kabupaten Banjarawi. Disana kami telah merencanakan apa yang akan kami lakukan sesuai perintah Pak Fajar Arif,

God Says

Oleh:
Masa muda adalah masa dimana anak-anak muda sedang mencari jati diri mereka, masa dimana hidup untung kebanggaan mereka, masa dimana mereka ingin menunjukkan eksistensinya. Dengan satu tujuan untuk menyatakan

Violet Magenta

Oleh:
Violet magenta. Betapa anganku terpenjara olehnya. Serupa lembayung langit mengurung cakrawala. Serupa alga-alga melukis kebiruan samudera. Di depan sana, warna itu mengelana. Sore bergelora. Pada geligir pasir. Pada geladak

Warisan Fatimah

Oleh:
Kehidupan di SMA-ku normal-normal saja, Aku dan teman-teman sekelasku selalu belajar agar mendapatkan hasil yang terbaik saat ulangan. Di SMA-ku, ketika sebelum pelajaran pertama dimulai, Aku dan teman-temanku membahas

Tentang

Oleh:
Adakalanya kau membutuhkan kesendirian untuk memekik pada udara kering perihal semua rahasia hatimu. Dengan tatapan pasi. Dengan ratapan nanar. — Malam turun dengan sempurna di Kaduara Timur. Menyisakan tebasan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

9 responses to “Kopi Pending”

  1. rasta says:

    hahaha banyak betul B-)

  2. Cerpen yang menarik sekali

  3. Abdul Holil S says:

    Minta nomor teleponnya dong

  4. sekarr says:

    seperti sebuah pengalaman pribadi..
    ? o.O

  5. Jumady bat says:

    Bravo!

  6. ali anfal says:

    cerpen terbaik yang pernah saya baca di cerpenmu

    terus berkarya yah

  7. Nanda Insadani says:

    Ini baru cerpen yang tak hanya endingnya “twist” banget, tapi juga memberi pesan moral yang oke bingits!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *