Kosong Tiga (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan
Lolos moderasi pada: 17 November 2017

Pukul 15.30 saat menunggu giliran antri jalur tak jauh dari tempat parkir angkot terdapat sebuah mall yang besar dan sudah ramai diserbu para pembeli, Jaka memperhatikan dari jauh kesibukan yang terjadi disana. Terasa sekali semangat Hari Raya tersemat dalam setiap gram udara yang mereka hirup, hingga nantinya menyatu dengan tubuh dan pikiran mereka. Setiap kali mereka jalan-jalan di tengah kota, mereka akan melihat deretan pakaian, sepatu dan sandal yang dipajang di jendela etalase toko; Bukan itu saja parsel-parsel yang dikemas begitu unik dan mewah hadir di sepanjang mata memandang, spanduk banting harga, diskon besar-besaran dan aneka promosi terpampang dengan megah,mengelitik… menggoda… membujuk hasrat konsumtif mencabik nurani. Di pelosok seluruh kota suasana Hari Raya tak dapat dihindarkan yang memang demikian di desain seperti itu dengan alasan menambah semarak Hari Raya yang Fitri. Di televisi, di Koran dan Majalah maupun media online kemeriahan Hari Raya tergambar dengan jelas. Namun, bagaimana dengan kami kaum yang miskin-apa yang akan kami katakan kepada anak-anak dan istri jika Hari Raya tak dapat diselenggarakan dengan meriah seperti mereka yang mampu… karena Hari Raya bukan milik orang yang tak punya uang… gelitik kalbu Jaka mulai menggoda kembali.

Tepat pukul 16.00 giliran angkot Jaka masuk jalur terdepan, tidak membutuhkan waktu lama Angkot Jaka penuh sesak dengan penumpang, mungkin karena mendekati waktu Maghrib menjadikan angkot-angkot diburu penumpang yang tak sabar untuk kembali ke rumah masing-masing. Laju kendaraan sore ini begitu padat merayap, semua ruas jalan macet ditambah bisingnya pengendara yang membunyikan klakson menambah kesemrawutan. Pemandangan seperti ini merupakan hal yang biasa tersaji di jalanan perkotaan, bagai menu utama di sebuah restro ternama. Tepat di pertigaan dua orang pemuda tanggung melompat masuk ke dalam angkot, dengan pakaian ala ‘kebebasan’ anting di telinga kiri-kanan, jarum pentul di hidung dan hiasan tato di sekujur tubuh menambah kesemarakan tampilan keduanya. Yang satu memegang ukulele dan yang satunya lagi bawa alat seperti kendang yang terbuat dari paralon bekas.

“Asslamu’alaikum Bunda, Ayah, Kakak, Om dan Tante mohon maaf bila kehadiran kami mengganggu perjalanannya. Tak lupa kami ucapkan terimakasih pada bapak sopir yang telah memberi ijin kepada kami untuk menyampaikan karya kami”… “Semoga ada rezeki untuk kami seribu atau dua ribu dari khalayak, ke-ikhlasan Anda merupakan berkah bagi kami”
selanjutnya lantunan musik menggema di penjuru ruang angkot, mencari perpaduan simponi keharmonisan antara vokal dan musik. Tetabuhan dan petikan ukulele tak menemui harmoni serta dinamika melodi yang melahirkan karya indah merasuk jiwa. Raungan klakson dan lengkingan jeritan pemusik jalanan bagaikan camilan utama bagi para penumpang umum di jalanan perkotaan.

“Ibu” Suara seorang Bocah memecah hiruk pikuk suasana, ia terlihat mengantuk dan lelah.
“Apa lagi?”
“Apa masih jauh?”
“Ya, masih jauh sekali. Jika kau mengantuk, bersandarlah pada Ibu dan tidurlah.”
“Aku tidak mengantuk.”
“Kalau begitu makan bakpao aja yah?.”
Bocah itu mengangguk pelan. Dari dalam kantung plastik, sang ibu mengeluarkan bakpao kacang hijau kegemaran anaknya. Dengan cepat, bocah tersebut mengambil bakpao dan melahapnya sambil bersandar di pangkuan ibunya. Tepat di sepertiga perjalanan titik terakhir pemberhentian angkot, jalanan mulai lancar dan laju angkot pun dapat lebih dipercepat dan rasa ‘gerah’ panas tak karuan terobati dengan kelancaran jalur jalanan. Perjalanan rit ke empat ini merupakan perjalanan penuh dengan berkah, dimana penumpang banyak yang turun naik menjadikan pendapatan Jaka bertambah. Tepat di tiga pertiga titik akhir perjalanan trayek angkot mulai sepi penumpang, mungkin karena maghrib tinggal 10 – 15 menit lagi.

“Bang, nanti sekalian antar kami bisa?”
“Maaf Pak ke mana?”
“Kampung Pamijahan?”
“Pamijahan sebelah mana?”
“Lembur Totogan”
“Oh Totogan, bisa pak”
“Berapa ongkosnya Bang?”
“Semua yang dibelakang juga keluarga Bapak?”..”Ongkosnya Rp. 75.000,-”
“Iya Bang! Bisa kurang nggak… Rp. 50.000,-?”
“Gak bisa pak kalau segitu, paling Rp. 70.000,-”
“Rp. 65.000,- gimana bang?”
“Segitu sudah murah pak! Bagimana?”
“Baiklah Bang! Rp. 70.000,-. Bisa dipercepat angkotnya Bang?” begitulah Bapak yang disebelah Jaka mengakhiri percakapan. Sedari awal bapak ini tidak banyak bicara namun, diperhatikan oleh Jaka jika Bapak ini seorang yang penyayang dilihat dari caranya memangku dan memperhatikan anak dalam pangkuannya.

Saat itu gema azan berkumandang membahana memecah langit jingga yang mulai tertutup gelapnya malam yang menjemput. Jaka bersama penumpang angkot lantas membatalkan puasa dengan minum air.

“Bang! Belok kiri dari sini lurus dekat pohon petai yang didepan sana belok kanan”
“Terus lurus aja, nah itu yang dekat surau itu rumah kami Bang”
“Nah sudah sampai kita Bang!”… “Bang kami mohon ikut ke rumah dulu yah, kita makan sama-sama sekedar takjil”
“Tapi bagaimana yah pak… baiklah saya mampir ke tempat Bapak, terimakasih atas undangannya”
“Mari Bang masuk” Dengan ramah Bapak itu mempersilahkan masuk ke Jaka.
“Iya pak, Maaf pak nama saya Jaka Tetuka”
“Oh Nak Jaka… saya Maulana Malik Ibrahim, biasa dipanggil Abah Malik oleh orang-orang di sekitar sini”
“Bang silahkan di minum Kopinya dan di makan Takjilnya, ini buatan putri sulung kami yang biasa menjual takjil dan kue-kue di pinggir jalan bersama kawan-kawannya” Suara lembut seorang dengan sopan mempersilahkan Jaka mencicipi hidangan.

Jaka merasakan ketenangan dan ketentraman dalam rumah Abah Malik, tampak berwibawa sekali Abah serta benar-benar menjadi sorang panutan. Jaka menikmati hidangan yang tersaji tetapi ada suatu perasaan gundah dalam hatinya manakala melihat makanan yang ada didepan matanya, ia teringat keluarganya di rumah… makan apakah mereka? Sedangkan aku enak-enakan makan disini, apa yang mereka makan? Sedangkan aku tahu sisa uang tidak cukup untuk membeli makanan untuk buka paling habis untuk membeli tiga liter beras, telur seperempat dan minyak goreng setengah kilo namun, jika gas habis… celaka tidak cukup lagi uangnya… hmm bagaimana ini?.

“Bagaimana nak Jaka? Makanannya enak? Silahkan tambah lagi” Sahut Abah Malik
“Enak Abah! Sudah cukup, kenyang rasanya. Luarbiasanya enak sekali!”
“Oia Nak, sudah lama narik Angkot?”
“Baru tiga bulan ini, sebelumnya saya buruh pabrik”
“Kenapa bisa beralih profesi?”
“Karena faktor keadaan, saya terkena PHK. Lantas mengganggur selama enam bulan, kerja serabutan gitu hingga akhirnya terdampar di dunia angkot”
“Maaf nak atas pertanyaan Abah, sebab sedari tadi diperhatikan pikiran nak Jaka tak sepenuhnya menikmati makanan yang disajikan”
“Bu… Bu..Bukan begitu Abah, saya menikmati makanan yang disajikan… sungguh! Hanya saja saya teringat keluarga di rumah, bagaimana keadaan mereka?”
“Bagus itu memiliki perasaan seperti itu, memangnya kenapa dengan keluargamu?”
“Beginilah Abah nasib seorang sopir angkot yang tak menentu pendapatan, mendekati Hari Raya seperti menjadi beban tekanan yang sangat bagi saya. Piker saya Hari Raya bukan untuk kami kaum yang tak mampu, Hari Raya hanya untuk kaum yang mampu.”
“Mengapa begitu?”… “Lantas apa itu Hari Raya?”
“Begitulah Abah, Gema dan kemeriahan Hari Raya hanya untuk mereka yang memiliki uang saja, yang dapat memberikan pakaian, sepatu dan sandal baru, serta menghidangkan makanan serba mewah”… “Apalah kami? Untuk makan sehari-hari saja sudah begitu berat, bagi kami perayaan Hari Raya hanya sebuah impian belaka. Bagi kami Hari Raya tidak seindah yang dijanjikan” tanpa sadar meluncur keluh kesah dari mulut Jaka.
“Nak! Apa yang salah dengan profesimu? Apa yang salah dengan jalan nasibmu? Tidak ada yang salah dengan semua yang diperhadapkan di depanmu, semua adalah kitab perjalanan yang akan engkau tulis dengan pena keputusan dirimu sendiri”
“Apapun itu pekerjaan yang diberikan Allah kepadamu adalah itu yang terbaik, selama kita mencintai pekerjaan itu maka pekerjaan itu akan mencurahkan kasih kepada kita.”… “Yang terpenting pekerjaan itu tidak menyalahi dan melanggar apa yang Allah perintahkan, jauh dari kebatilan, kecurangan dan hal-hal yang jangankan Allah, kita yang menjalankannya juga merasa jijik, bukan begitu nak, jika kita berlaku curang”… “Hakekatnya Hari Raya adalah kemenangan kita melawan diri kita sendiri, sifat jelek dan hawa nafsu, perayaan hanyalah seremoni belaka… bukan itu tujuannya tetapi fitri-kan hati, jiwa dan perilaku kita itu yang utama”
“ehmm… minum dulu kopinya nak!”..”Yang utama harus kita ingat adalah bukan tentang masalah itu tetapi tentang diri kita dan juga tentang lingkungan sekitar kita juga”
“Masalah boleh silih berganti menghampiri yang terpenting diri kita dalam menghadapi masalah tersebut harus seperti apa? Masalah ada agar kita semakin kuat dan kokoh… dan terutama semakin yakin terhadap Tuhan kita yang setia menemani kita”
“Iya Abah… tapi terkadang selaku manusia selalu saja cemas jika melihat apa yang akan terjadi didepan dengan keadaan yang kini tidak memungkinkan kita menghadapi hari esok”
“Nak masalah yang kita hadapi adalah masalah dunia bukan? Kenapa harus dirisaukan, yang harus dikuatirkan adalah apabila kita tidak lagi taat dan patuh pada perintah-Nya”… “Nak! Yang terpenting dalam hidup adalah jangan terlampau larut pada masalah itu, hingga terlupakan nikmat lain yang lebih banyak dari pada masalah itu”… “Namun, seperti itu manusia selalu diperdaya oleh pikirannya yang negatif yang belum tahu bagaimana nanti, esok dan akhir dari semua ‘lakon’. Intinya jangan fokus pada masalah tetapi cari apa sebab masalah itu datang, inshaallah solusi dapat diperoleh. Saya bicara begini karena mengalami titik nadir dalam hidup dan kehidupan dan saya tak ingin orang larut dalam masalah hingga tidak melihat hikmah yang ada didalam masalah itu”
“Terimakasih Abah! Pencerahannya membuka hati dan pikiran saya yang mudah mengeluh”… “Boleh saya nanti silaturahmi kembali ke tempat Abah?”
“Sama-sama nak! Dengan tangan terbuka silahkan kapan-kapan singgah kembali, terimakasih nak sudah mau mengantar kami”
“Baiklah Abah, saya mohon pamit”
“Oia nak hampir saja lupa, ini ongkosnya” Abah Malik memberikan Jaka satu lembar uang seratus ribu-an, dan Jaka pun memberikan kembalian dari harga kesepakatan tiga lembar uang sepuluh ribu. Dengan halus di tolak Abah, sambil memberikan bungkusan…
“Tidak usah nak! Ambil saja kembaliannya, dan ini bawalah untuk anak-anakmu di rumah, sampaikan salam kami”
“Terimakasih Abah atas semua kebaikannya”… “Asalamu’alaikum Warahmatullah Wabarakatuh” Ucap Jaka
“Wa’alaikum salam warahmahtullah Wabarakatuh”

Catatan:
*lieur: Pusing
*Boroning: Jangankan
*BTM: Bogor Trade Mall, sebuah mall yang terletak di jalan Ir. H. Juanda berdekatan dengan Kebun Raya Bogor
*Ciapus: Daerah pegunungan letaknya di selatan kota Bogor, disini terkenal dengan alam curug dan tempatnya perkebunan rakyat
*Ps. Bogor: Pasar Tradisional peninggalan Zaman Belanda yang hingga saat ini masih aktif, berdekatan dengan klenteng dan gerbang masuk utama Kebun Raya Bogor.
*hebring: Hebat
*ngetem: Parkir menunggu penumpang

Cerpen Karangan: AR. Rahadian

Cerpen Kosong Tiga (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


White Musk

Oleh:
“Maaf ra”. Sepintas kata yang mudah itu keluar dari mulutnya itu. Aku tidak menyangka bahwa dia, orang yang sangat disayang bisa pergi begitu saja. Malamnya aku tidak bisa tenang

Supir Angkot Merah Tua

Oleh:
Hujan mulai turun. Saila melambaikan tangannya, menghentikan angkot merah yang sudah jarang lewat. Tanpa ragu-ragu Saila masuk, duduk di kursi depan dekat supir. Saat ditoleh ke belakang, laki-laki tua

Kakek Mono dan Boneka Angry Bird

Oleh:
Wajah sumringah penuh keceriaan Kakek Mono terpancar jelas dari setiap guratan kulit yang semakin menua dan berkeriput. Senyumnya selalu mengembang di setiap langkahnya yang mantap, sedikit miring ke kanan

Gadis Kecil Tunawisma

Oleh:
Ia hidup namun ia mati Ia bernapas namun sesak yang ia dapat Ia benyanyi hanya dengan melodi perih Ia tersenyum hanya pada maut yang mendengung Tiada kasih, tiada sayang

Blur

Oleh:
Mencari nafkah, setiap orang pasti harus melakukan hal itu untuk bertahan hidup, paling tidak untuk menghidupi dirinya sendiri agar tidak mati kelaparan. Sama seperti yang aku dan orang lain

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *