Kota Mbah Karsono

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Nasihat
Lolos moderasi pada: 27 October 2018

Warung kopi sederhana milik seorang janda yang dirintisnya kurang lebih dua puluh lima tahun yang lalu masih ramai mampu bersaing dengan caffe-caffe yang ada di sekitarnya. Warung mak Ijah terkesan unik dengan beberapa sentuhan tangan kreatif suaminya mampu memberikan kesan yang dapat menambah daya tarik pelanggan, kesan tradisional menjadi titik tekan desain warung itu. Beberapa tokoh pewayangan menghiasi dinding dalam, tidak lupa wayang yang terkenal dengan jenakanya sengaja diletakkan di pintu masuk seperti sedang menunggu para pelanggan. Halaman luar tidak dibiarkan begitu saja sedikit sentuhan mampu meberikan kesan dan kenyaman bagi para pengunjung warung mereka. Banyak makanan tradisional yang ditawarkan dan mereka menjadikannya sebagai menu andalan.

Di bawah pohon mangga yang rindang di samping warung sebagian pelanggan mak Ijah berkumpul seperti Mbah Karsono, pelanggan setia di warung mak Ijah, di waktu sedang menunggu penumpang atau saat sedang beristirahat kopi buatan mak Ijah senantiasa menjadi teman setianya. Cuaca pagi itu cerah tak ada sedikitpun gumpalan awan putih, kebetulan hari itu Mbah Karsono tidak sendirian, cucunya yang masih berumur sepuluh tahun ikut bersamanya Mbah Karsono sengaja mengajaknya untuk menikmati kopi buatan mak Ijah dan cucunya pun tidak keberatan dengan ajakan Mbah Karsono.

Tidak hanya hari itu Mbah Karsono mengajak cucunya ikut menikmati kopi buatan mak Ijah setiap cucunya liburan sekolah pasti Mbah Karsosno mengajaknya tentunya tidak hanya sekedar menikmati segelas kopi ataupun beberapa biji gorengan, Mbah Krsono hanya menjadikan momen itu sebagai media dalam mengajarkan banyak hal pada cucu kesanyangannya itu.

Hari itu Mbah Karsono datang lebih pagi dengan alasan ingin menikmati udara pagi yang masih belum tersentuh oleh asap kendaraan. dengan nada dan rawut wajah yang tenang mereka mulai membahas kota yang mereka tempati dia memulainya dengan pertanyaan “Nduk, apa yang kamu suka dari kota ini?” tanyanya sambil meleparkan senyum yang tidak bisa menyembunyikan kulit bergarisnya. “Banyak Mbah”. “Apa saja?” dia mengejarnya penuh penasaran. “Karena keindahan alamnya dan juga kota ini terkenal dengan kota pendidikan”. Jawab anak itu sambil menunjukkan wajah cerianya yang menggemaskan, mbah Karsono hanya tersenyum melihat tingkah lucu cucunya yang kemudian melanjutkan pertanyaan berikutnya “Kamu mau mempelajari budaya dan kearifan lokal yang ada di kota ini?” “Kenapa anak seusiaku harus mempelajarinya mbah? Bukannya hal itu tidak wajib” cucunya menatap wajah mbahnya dan kemudian dia melepaskan kegelisahannya. “Jadi seperti ini, kita wajib menjaga kelestarian budaya yang ada di kota ini karena kebudayaan itu meruMbahan ciri khas dan identitas kita, apalagi kamu yang akan melanjutkan cerita yang ada di kota ini. Jangan sampai budaya itu hilang apalagi di klem oleh orang luar, nenek moyang kita tidak main-main menciptakan hal tersebut, mengerti” tutur Mbah Karsono sembari tangannya meraih kopi yang ada disampingnyanan menempelkan bibir gelas di bibirnya.

“Ingat setelah kamu besar nanti rawat kota ini jangan biarkan tangan-tangan jahat mencemarinya jangan biarkan alam dan moral manusianya hancur meskipun sekarang sudah mulai tidak karuan, kota ini sudah mulai seperti hutan rimba siapa yang kuat dia yang akan berkuasa. Memang benar di satu sisi kota ini banyak menarik turis asing karena wisatanya akan tetapi masih banyak di sudut-sudut kota ini perut-perut busung dan pemukiman kumuh belum mendapat perhatian, sayangi rakyat kecil.” Cucunya seksama mendengarkannya, mbah Karsono kembali menepelkan bibir gelas dibibirnya namun kali ini sedikit berbeda setelah gelas tersebut lepas rokok kretek di tangannya menjadi ganti.

Mbah Krsono pun melanjutkan “Di kota ini, penduduknya beragam mulai dari suku dan agama ada di sini, jika hendak membantu orang lain jangan pernah memandang suku dan agama mereka. Suku dan agama adalah hal yang paling rentang menimbulkan perceraian maka kamu harus menjaga keberagaman ini jangan mau dipecah belah hormati perbedaan, sebentar kopi mbh habis mbah pesan kopi dulu”. “Iya mbah” anak itu langsung bergegas menemui Mak Ijah. Tak lama kemudian kopi pesanan mbah Karsono datang lengkap dengan goreng pisang enam biji besar-besar, sesuai pesanan.

Matahari semakin tinggi menaiki tangga langit udara pelan-pelan mulai hangat menyentuh kulit, kendaraan semakin padat memenuhi jalan raya depan warung kopi Mak Ijah memberikan tanda kesibukan kota ini. Semua bergerak untuk memenuhi kewajiban keluarga dengan berbagai macam profesi. Akhirnya mbah karsono pun beranjak dari tempat duduknya, tangan kirinya masih setia dengan rokok yang sesekali ia hisap penuh nikmat. “ingat kamu harus terus belajar jangan pernah berhenti atau kamu akan tergilas, dan jangan lupa senantiasalah rendahkan hatimu” pesan mbah Karsono pada cucunya lagi yang kemudian mereka lenyap di balik kerumunan.

Cerpen Karangan: Mas’udi
Blog / Facebook: Mas’udi

Nama: Mas’udi
Alamat: Sumenep Madura
Aktif di Komunitas Arek-arek Kesenian (KOREK) Malang.

Cerpen Kota Mbah Karsono merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Tikus Kantor

Oleh:
Hiruk pikuk manusia berkumpul dalam suatu lapangan nan luas sedang berjuang menegakkan keadilan dan hak-hak mereka. Suara takbir “Allahu akbar!!” lantang terdengar di langit. Semuanya saling menyuarakan aspirasinya kepada

Kartini Yang Salah

Oleh:
Langkah berisik dari badan jalan benar-benar mengganggu. Bau rokok di mana-mana, tatapan mata yang menghujani lorong-lorong sempit perumahan kumuh. Aku marah, kesal dan segala jenis peluapan emosi negatif. Negeri

Mimpi Merajut Misteri

Oleh:
Gontai kuberjalan. Galau hati tak menentu. Keramaian saat itu di sekeliling, mulai hilang satu per satu. Kulayangkan pandang pada sebuah tangga berbahan bambu. Kupegang tangga itu lalu kujadikan tempat

Gadis Kecil Tunawisma

Oleh:
Ia hidup namun ia mati Ia bernapas namun sesak yang ia dapat Ia benyanyi hanya dengan melodi perih Ia tersenyum hanya pada maut yang mendengung Tiada kasih, tiada sayang

Aku Pulang….

Oleh:
Saat ini hari hampir berakhir, matahari tak berbekas, lampu-lampu rumah telah menyala, malam telah datang. Pohon-pohon di halaman telah menggelap, kebun-kebun di belakang rumah menghitam dan jalan setapak di

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Kota Mbah Karsono”

  1. Falah says:

    Izin Share cerpen nya Kak kalau boleh…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *