Kue Apem Fitrah

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan
Lolos moderasi pada: 9 August 2016

Saya mengenalnya sudah cukup lama. Dan saya bukanlah tipikal orang yang pilih-pilih dalam berkawan. Karena saya menyadari setiap manusia adalah terlahir ke dunia ini sesuai fitrahnya. Saya berprinsip, jika saya bisa mengambil manfaat dari setiap relasi dari kalangan yang saya kenal, mengapa saya tidak bisa memberi manfaat juga kepada mereka?

Selama perjalanan menyusuri waktu hidupnya inilah, begitu banyak “warna” yang mewarnai hidupnya. Satu rahasia hati terdalam –dari sosok yang terlihat periang, sosok yang memandang hidup dengan penuh percaya diri dan mandiri– yang akhirnya ia ceritakan kepada saya.

Dan saya menuliskan apa yang dikatakannya ini melalui gaya penyampaian tulisan ‘narasi’ “Aku”.

Aku lahir dan dibesarkan dari keluarga yang mapan. Orangtuaku hanya memiliki dua orang anak. Dan aku adalah si bungsu. Dan kakak aku satu-satunya adalah perempuan. Aku dan dan kakakku hanya berbeda umur satu tahun. Keakraban kami sebagai kakak-beradik begitu dekatnya. Kami tidur satu tempat tidur, bermain mainan yang tidak pilih-pilih. Mainan kakakku sering aku gunakan saat kami bermain. Bahkan, boneka kakakku sering menjadi teman tidurku saat kami sudah lelah bermain.

Mama Papaku begitu sibuknya bekerja, hingga yang mereka perhatikan hanya mencukupi kebutuhan sandang, pangan kami saja. Tapi kurang memperhatikan perkembangan kejiwaan kami, anak-anaknya. Hingga aku beranjak remaja pun, mereka tidak berubah.

Satu kesalahan yang aku pun tidak menyadari hingga aku beranjak dewasa. Ditambah juga akibat dari pergaulanku saat dewasa semakin menjadikan aku merasa bersalah dengan “sesuatu” yang ada di tubuhku.

Hingga aku bekerja dan mendapat porsi gaji yang lumayan akibat bantuan dari relasi Papa, “sesuatu” yang aku rasakan aneh itu belum mau juga pergi dari pikiranku juga hatiku, bahkan semakin meraja. Aku pun berusaha mencari referensi-referensi –yang salah– untuk mengetahui “Mengapa aku terjebak dalam tubuh yang salah ini”.

Setelah aku memahami apa “sesuatu” yang aku alami, aku pun berusaha “menyelesaikan” permasalahanku dengan kemampuanku. Aku bekerja, punya penghasilan. Itu (uang) dapat menyelesaikan masalahku. Saat itu, karena merasa sudah begitu yakin bahwa dengan “cara itu”, permasalahanku dapat selesai dan aku bisa mulai merasakan pikiran dan jiwaku menjadi tenang dan “terbebas” dari jebakan tubuhku ini.

Singkat cerita, aku pun menggunakan “cara itu” dan berlalulah waktu dengan pikiran dan jiwaku yang beberapa saat merasa nyaman. Beberapa tahun aku menapaki hidup dengan tubuh baruku, cemoohan kuacuhkan dari lingkungan sekitar.

Hanya saja, beberapa waktu belakangan ini, hatiku terketuk dan ini membuatku merenungi kembali “sesuatu” dan “cara itu”. Aku menyadari, aku sudah salah mengambil pilihan hidup, dan salah menafsirkan apa kehendak Tuhan atas diriku. Bahwa, sebenarnya segala sesuatu sudah ditetapkan-Nya. Begitu juga dengan diriku. Jika dulu aku menyadari, tentu aku tak ‘kan mengambil keputusan besar yang serampangan itu.

Aku tidak bakal mendapatkan cinta seutuhnya sesuai fitrahku sebagai manusia. Dengan keadaanku yang sekarang, aku akan selalu mengalami apa yang disebut “cinta yang salah”, jika pun aku menikah. Selain itu, aku juga tidak akan mampu mengalami kebahagiaan murni layaknya mereka yang sudah sejak lahir ditakdirkan dengan tubuh dan jiwanya.
Kini… aku menyesal… tapi, nasi sudah menjadi…

Maaf, narasi “Aku”-nya saya cukupkan sampai di sini, sebab apa yang dia ceritakan tentang apa penyesalannya, saya perlu menggunakan gaya bahasa lain supaya lebih santai dibaca.

Sebut saja dia, Mawar. Jadi, Mawar itu menyesal, setelah ia memutuskan membeli. Ya, ia ibarat membeli kue apem, tapi… setelah ia membayar harga untuk kue apem yang diinginkannya, ia juga harus menukar dengan pistol airnya. Ditambah lagi, harga kue apem yang diinginkannya mahal, lebih mahal dari harga kue apem umumnya.

Setelah ia mendapatkan kue apem dan kehilangan pistol airnya, ternyata, ia harus merogoh koceknya lebih dalam lagi. Sebab untuk mendapatkan hasil yang sempurna, dibutuhkan lagi satu proses yang memakan waktu dan biaya. Sebab kue apem itu ternyata dijual terpisah.

Dan kini, Mawar menyesal… pistol air sudah menjadi kue apem. Namun, jika bisa dan mampu, marilah kita ikut membantu, atau mencegah agar supaya penyesalan itu tidak meliputi hati para Mawar yang lain.

Pelajaran yang bisa kita petik dari kisah fiktif ini adalah:
1. Segala yang diciptakan Tuhan sudah sesuai fitrahnya.
2. Renungi lagi, apa hakikat kita, manusia, diciptakan dan membiak di muka bumi ini.
3. Biar bagaimanapun, “kue apem” original ‘asli’ masih lebih enak rasanya, dan kita bisa membeli dengan harga ikatan sakral pernikahan dan penuh cinta yang fitrah.

Cerpen Karangan: Andriyana
Blog: http://rbdungaran.blogspot.com
Saya hobi menulis di waktu luang. Rangkuman tulisan saya ada di blog RBD Ungaran. Cukup ketik: “rbd ungaran” dari form mesin pencari seperti Google atau Yahoo.
Terima kasih ya, sudah sudi membaca tulisan-tulisan saya. ^_^

Cerpen Kue Apem Fitrah merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Prahara Kampung Rawa

Oleh:
Setiap kali musim penghujan tiba, sudah bisa dipastikan bahwa kampung yang letaknya di bantaran kali sana pasti akan banjir. Setiap tahun, setiap kali hujan mengguyur, pasti sungai atau yang

Mimpi Merajut Misteri

Oleh:
Gontai kuberjalan. Galau hati tak menentu. Keramaian saat itu di sekeliling, mulai hilang satu per satu. Kulayangkan pandang pada sebuah tangga berbahan bambu. Kupegang tangga itu lalu kujadikan tempat

Semilir Angin, Kapankah?

Oleh:
“Praannggg….” Bunyi itu pun terdengar sampai ke kamar Ridwan. ”suara apa itu?” ucapnya dalam hati. Iapun melangkahkan kakinya dan mencari apa yang sedang terjadi. Tampak ibunya sedang gemetar dan

Mimpi Kami Anak Bangsa

Oleh:
Berjalan menyusuri jalanan saat dimana orang lain melakukan aktivitas mereka dan juga anak seusiaku tentunya mereka bergegas ke sekolah. Tidak sepertiku hanya melihat megahnya gedung sekolah tanpa pernah merasakan

Butiran Dandelion

Oleh:
“Faizal, bunganya sudah Ibu siapkan di meja!” “Iya! Makasih, Bu!” segera pemuda itu melangkahkan kakinya dengan cepat ke luar kamar, lengannya menyambar sebuket bunga berkelopak mungil warna kuning cerah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *