Kukejar Mentari

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Kehidupan
Lolos moderasi pada: 21 December 2019

Siang itu, di sebuah rumah tua dan usang. Di tengah ruangan berdirilah seorang lelaki berusia 20 Tahun. Memiliki mata yang sesikit besar, hidung mancung, kulit putih, tubuh tegap badan semampai. Seolah ia adalah lelaki pekerja keras dan rambut cepak yang membuatnya semakin terlihat tampan.

“Ketika penjelasan hanya dianggap bualan. Ketika janji hanya dianggap penenang. Maka apa yang harus dilakukan untuk membungkam mulut pencaci?? Ketika “kesabaran” harus terus berdiri kokoh di hati, ketika pikiran membalut hati? Kekerasan yang menghakimi jiwa”

“Aku tidak bisa berjalan tanpa alas di tanah tandus nan gersang.
Aku tak bisa berenang di danau yang keruh. Aku tak bisa melangkah tanpa arah.”

Keluh Adra sembari melihat cahaya yang masuk ke dalam rumahnya melalui celah-celah atap rumanya.

“Sudahlah Adra, kamu sadar. Ibumu ini hanya seorang pencuci Baju. Cukup ibu yang selalu dihina. Ibu tidak ingin kamu Terhina karena menikahi Wanita kaya. Meskipun seluruh cinta kau berikan. Itu takkan membuatnya kenyang”.
“Baiklah Bu. Akan Adra tunjukan dan buktikan kepadaNya dan Keluarganya”.
“Apa Adra? Apa yang akan kau buktikan?”
“Adra akan merantau Bu. Adra akan bekerja di Tanah perantauan Bu”.
“Kamu tega meninggalkan Ibumu ini sendiri?”
“Aku akan kembali Bu. Aku akan membahagiakan ibu dan mengangkat martabat Ibu. Aku tidak ingin Ibu dihina. Aku akan Bekerja Bu. Besok aku akan pergi”

Keesokan harinya…
“Adra, kamu sudah yakin ingin pergi nak? Kamu sudah yakin ingin melangkahkan kakimu di kota perantauan?” tanya Ibunya sembari memegang kedua bahu Adra dan meneteskan air matanya. Adra langsung memegang kedua tangan Ibunya. “Ibu. Ibu tidak perlu khawatir. Masih, ada Bunga yang akan selalu kemari Ibu”.
“Tapii Adra…” jawab ibunya…
“Memangnya kamu mau kemana Adra?” Sela Bunga mendengarkan Cerita mereka. Adra langsung menghampiri Bunga dan memegang kedua bahunya. Bunga lantas melihat tangan Adra lalu menatap matanya. “Bunga, bisahkan kau berjanji padaku?” …
“Berjanji untuk apa?”…
“Aku ingin engkau menjaga Ibuku”…
“Lantas? Kau ingin kemana?”…
“Aku ingin merantau” jawab Adra sambil melepaskan pegangannya.
“Lalu kamu ingin meninggalkan kami?”..
“Ini untuk kebaikan Ibuku. Dan untuk orang-orang yang menghinaku”…
“Adra!” Bentak Bunga. “Masih banyak perempuan yang ingin hidup denganmu. Masih banyak perempuan yang ingin mengantarkan makanan di kebun Talasmu. Lantas mengapa kau berambisi untuk bisa melukai mereka??” lanjut Bunga…
“Sudahlah. Kamu tidak mengerti, aku bukan dari keluarga kaya. Ibuku hanya seorang pencuci baju di Rumahmu. Walaupun orangtuamu tidak pernah membenci dan mencaci Ibuku. Tapi aku tidak ingin ibuku selalu dicaci oleh mereka. Aku ingin ibuku bisa dihargai di Tempat ini”… “Tapi Adra…” Jawab Bunga sambil meneteskan air matanya… “Sudahlah Nak. Itu sudah pilihannya. Mungkin kita tidak bisa membendung keinginannya. Tapi kita bisa mendoakannya di sana nanti. Ini Adra, ongkos untukmu nanti pergi ke Kota. Semoga Allah selalu melindungimu Nak”… Sela Ibu Adra sembari memberikan segepok uang.. “Apakah ini tidak berlebihan Bu?”… “Hidup di kota itu keras Nak. Semoga Impianmu tercapai (mengelus rambut Adra)… “Terimakasih atas Restumu Ibu” jawab Adra sambil memeluk Ibunya… “Bunga. Aku mohon. Aku sangat memohon padamu. Tolong jaga ibuku selama aku pergi. Aku akan kembali. Dan akan melamar Meli”… Jawab Adra bersemangat. “Meskipun orangtuanya telah menghina hidupku. Tapi akan aku buktikan kepada mereka, jika Adra, anak pencuci Baju ini. Mampu menjadi Juragan di Desa ini” Lanjut Adra dengan semangatnya yang tak putus-putus. Hati Bunga semakin Hanjur. Tetesan Air matanya semakin membasahi wajahnya…

Tintintin
Suara Truck menuju Kota Medan yang akan di Tumpangi Adra telah Tiba. Semua mata menoleh ke arah Truck itu… “Truck yang akan membawaku telah sampai Bu. Jaga kesehatan Ibu baik-baik” Kata Adra sambil memeluk Ibunya… Ibunya hanya meneteskan Air mata dan menganggukkan kepalanya… Adra pun masuk kedalam Truck. “Teruslah berdoa anakku” seru Ibu Adra… “Baik Buuuu” jawab Adra…

Ibunya dan Bunga tak henti-hentinya melihat Truck yang di tumpangi Adra. Hingga batas mata memandang. Kemudian Ibu Adra, masuk ke dalam Rumah. Bunga terus meneteskan air matanya. “Begitu besar rasa Cinta Adra kepada Meli. Hingga dia berusaha keras agar bisa melamarnya”… Kata Bung pelan… “Sudahlah Nak. Adra pasti kembali. Ibu tahu, kamu sangat berat melepaskannya” Kata Ibu Adra keluar dari rumah dan menujunya. Tampak senyum kecil di wajah Bunga. Berharap Ibu Adra tahu jika ia mencintai Puteranya… “Ibu tahu, kalian sudah bersahabat sejak kecil” lanjut Ibu Adra, yang membuat senyuman kecil Bunga semakin Menghilang. “Ibu masuk Dulu. Ibu akan bersiap-siap untuk memcuci baju di rumahmu” lanjutnya lalu masuk kedalam Rumah…

Di dalam Truck…
“Bang. Berapa saya harus membayar abang?” tanya adra
“Oh seikhlasnya saja. Saya juga ingin ke Medan membeli perabotan. Katanya disana harganya Miring” jawab supir truck Itu.
“Oiya, kemaren saya kerumah Abang saya lupa nama Abang”…
“Perkenalkan Nama saya Sukiman”..
“Sukiman?”
“Iya Sukiman. Tapi orang-orang biasa memanggil saya. Bos Toyib”.
“Hahaha, kenapa bisa seperti itu?”
“Karena saya jarang Pulang. Hahaha”

Perjalanapun dilanjutkan dengan percakapan.
kurang lebih 10 jam Adra pun sampai di Kota Medan… “Aduuuuh, aku capek sekali. Berhenti hanya beberapa kali”… Keluh Adra. “Hahaha, bukannya kau ingin cepat sampai? Aku tidak bisa menghalangi permintaan penumpang”. “Baikah Bang Toyib. Apakah 200 Ribu Cukup?”. “Hah. Itu terlalu banyak. Tapi ya sudahlah” jawab Bang Toyib sambil mengambil uangnya. “Terimakasih yaa Adra. Sampai jumpa lagi di kemudian hari”… “Baiklah bang Toyib. Jangan lupa pulang. Haha”. Jawab Adra.

“Sekarang aku sudah di depan Bandara. Lalu apa yang akan aku lakukan?” Kata Adra bertanya-tanya.
“Yang akan kamu lakukan adalah. Membeli Tiket dengan tujuanmu. Lalu terbang” sela Seorang lelaki yang ada di sampingnya. “Waduh. Saya harus memesan di bagian mana?” tanya Adra bingung…
“Haduh. Perkenalkan. Nama saya Andre. Saya akan menuju Jakarta. Bersama teman saya. Tapi ia tidak jadi. Tiket sudah dibeli. Dia takut naik Pesawat”.. “Bagaimana kalau aku membayari Tiketmu itu?”… “Mmmmm”. Kata Adra mengangguk-angguk.

Di dalam Pesawat…
“Kamu ke Jakarta ingin kerja?” tanya Andre.. “Iya, aku ingin bekerja. Tapi aku belum tahu ingin kerja apa”… “Kalau saya, sudah ada kerjaan sih. Di Hotel milik paman saya. Sebenarnya sih Ayah saya itu punya kos-kosan 100 rumah. Terus kebun sawit 5 hektar. Tapi saya ingin mandiri saja. Dan gajih saya di Hotel Paman saya itu puluhan juta” kata Adra, membual… “Wah itu sih kalau di desaku Bisa buat beli Rumah dan sawah serta kerbaunya. Bahkan berlebih” Jawab Adra… Lalu Andre tertawa kecil… “Dan kalau kamu tau. Hotel Paman saya itu kan tinggiiii sekali. Nanti saya berada di paling atas”.. Lanjut Andre…
Merekapun saling ngobrol didalam Pesawat. Dan iya, Andre selalu mengarang cerita tentang kekayaannya.
Kurang lebih 2 jam mereka pun sampai di Bandara.

“Nah sekarang. Akan kamu mulai dari mana?” tanya Andre… Adra bingung. Dia harus mencari pekerjaan apa. Merekapun berjalan menyusuri kota jakarta.
Sampailah di HOTEL IDAMAN. “Nah Adra, ini Hotel milik pamanku. Lihat itu (menunjukan tempat tertinggi) itu, aku akan berada di bagian atas itu”. Kata Andre… “Wah kamu keren yaa. Yasudah aku akan mencari Lowongan pekerjaan. Siapa tahu rezekiku ada disini”. Jawab Adra sembari menyalami Andre lalu pergi.
Andrepun celingukan. Melihat kanan kiri lalu ia masuk ke dalam Restauran yang tidak jauh dari HOTEL IDAMAN. “Huhh, habis. Beruntung Adra sudah tak ada” kata Andre sambil memegang dadanya… “Kamu Andre kan?” tanya Pak Budi (Pemilik Restauran).. “Iya iya pak. Bapak pasti Pak Budi kan”.. “Oh iya iya. Kamu disini bekerja sebagai pelayan. Kamu bekerja mulai besok”… “Oke pak. Baiklah. Ngomong-ngomong dimana tempat tidur saya?”.. “Kamu akan tidur bersama karyawan lainnya”… “Terimakasih pak”… “Iya, kamu sudah tau gaji kamu kan? Gaji kamu 3 juta perbulannya. itu sudah uang kamu. Karena Ayah kamu dulu juga pernah kerja disini”… “Terimakasih, terimakasih pak”…

Di perjalanan. Adra merasa lelah. Uang ditangan hanya tinggal beberapa lembar saja. Dia pun duduk di halte bus, disampingnya ada seorang nenek tua sendirian… “Anak Muda. Sepertinya kamu orang perantauuan. Begitu banyak tas yang kamu bawa”.. “Oh iya Nek. Saya dari Desa ke Jakarta ingin mencari kerja. Kata orang kerja di Jakarta itu mudah”… “Siapa bilang? Mereka belum tau susahnya kerja di Jakarta. Jika di Jakarta mudah mencari Kerja, takan ada lagi pengangguran disana-sini”… “Apa salahnya mencoba keberuntungan Nek”… “Sudah mendapat kerja?”… “Belum nek. Baru ingin mencari kerja”… “Kamu lulusan apa?”… “Saya hanya lulusan SMA nek. Setelah itu saya tidak kuliah. Saya juga tidak ingin membebani ibu saya Nek. Dia hanya seorang pencuci Baju”… “Kamu bisa apa lagi?”… “Saya bisa memijat nek. Di desa saya selalu dipanggil pak RT buat mijat kakinya yang selalu terkilir. Sampai-sampai saya bingung nek”… “Kemudian? Apa lagi?”… “Saya juga bisa menanam talas, singkong. Pokoknya semua yang bisa menghasilkan uang dan bisa untuk makan saya dan ibu saya nek. Ibu saya sudah cukup susah untuk membiayai sekolah saya”… Jawab Adra. Matanya sedikit berbinar dan memerah… “Bagaimana kalau kamu kerja saja di tokoh Roti nenek? Di sebelah sana (menunjuk seberang jalan)”… “Tokoh Roti istimewah” kata adra membaca pamplet di depan tokoh itu… “Tapi nek. Apa yang saya kerjakan?” tanya adra melihat kesamping tetapi nenek itu sudah tidak ada. Dia sudah berjalan menuju tokohnya itu. “Nenek” kata adra pelan sambil memandang nenek itu lalu mengikutinnya dari belakang…

Keesekokan harinya. Berhari-hari Adra dengan bersemangat melayani pembeli. Hari demi hari berlalu. Semakin hari semakin ramai pembeli. Apalagi Adra masih muda dan tampan. Banyak wanita yang membeli Kue sembari meminta Foto… 4 bulan sudah berlalu. Adra meninggalkan Desa untuk merantau ke Jakarta uang yang dikumpulkan di tabungannya sudah banyak. Karena hidup hemat yang ia budayakan… “Adra, sudah berapa banyak tabunganmu Adra? Nenek melihat, kamu sangat hemat”… “Ah nenek. Hanya beberapa saja”… “Bagaimana apakah kamu jadi melamar anak orang kaya itu?”… “Tidak tahu nek. Saya kok jadi ragu gini ya?”… “Kalau kamu betul ingin menghalalkannya. Uang kamu sudah cukup. Bagaimana kalau kita besok pulang kedesamu. Nenek ingin jumpa dengan ibumu”… “Tapi nek. Uangku hanya limaa”…
Belum sempat Adra berbicara sudah banyak saja pelanggam yang membeli…

Keesokam harinya. Saat Adra dan nenek berkemas untuk pergi keDesa Adra. Andre pun datang untuk membeli Roti di toko nenek. Ia tak tahu kalau Adra bekerja disitu. “Bang beli Roti manisnya 200 bungkus. Dikirim ke alamat ini” kata Andre sembari memberikan alamat itu kepada Adra yang menunduk sambil memakai Topi. “Restauran Klasik ya bang?” jawab Adra sambil menatap Andre kaget. Karrna Andre memakai baju pegawai Restauran Klasik. Yang jaraknya hanya 700 meter dari tokoh Kue nenek.. “Andre. Bukannya kamu kerja di Hotel?” tanya Adra tetapi Andre berlari kemaluan… “Huh ada ada saja” kata Adra…

Adra dan nenek bersiap-siap untuk kembali ke Desa. Sampailah mereka di bandara. Sebelumnya nenek telah memesan tiket secara online di Aplikasi.

Di dalam pesawat…
“Nek. Maaf kalau saya lancang. Saya hanya ingin tahu. Kenapa nenek tinggal sendiri di jakarta? Dan saya tidak pernah tahu siapa nama nenek”… “Sebenarnya nama nenek adalah nenek Siti. Nenek pemilih kos kosan yang pernah nenek beri tahu padamu kemarin. Tetapi anak nenek yang paling tua. Dia sangat senang dengan harta. Itu sebabnya nenek meninggalkan rumah dan memilih membeli tokoh roti itu”… Jawab Nek Siti.
“Saat itu, nenek bingung harus kemana. Nenek membawa semua dokumen tanah itu. Nenek tidak ingin terjadi permusuhan antara Nenek dan Anak nenek” Jawab Nek Siti. Matanya berbinar… Adra menjadi tak Enak hati. “Maaf nek” kata Adra dengan nada penyesalan…

Sampailah mereka di bandara Kuala Namu. Lalu melanjutkan perjalanan menggunakan Bus…
Perjalanan berjamjam membuat nek siti yang kira-kira berusia 64 tahun itu sedikit lelah dan pegal. Adrapun memijat kaki dan lutut Nek Siti.
Berjam-jam mereka di dalam Bus. Sampailah mereka di Desa tempat Adra Tinggal… “Ayo nek. Rumah Ibu saya ada disana” (menunjuk arah rumah Adra) sembari membawakan barang-barang Nek Siti… “Bukannya itu Adra Bu?” kata Bunga… “Iya Bunga. Itu Adra anak saya”. Jawab Ibu Adra sembari mendatangi Adra. “Adra. Kamu sudah pulang Anakku. Ibu sudah merindukan kamu”… “Ibu, adra baru saja 4 bulan di Jakarta. Ibu sudah sangat seperti ini. Bagaimana jika Adra bertahun-tahun di jakarta?”… Jawab Adra dengan muka kusam… Sejenak Ibunya terdiam. Bunga pun heran… “Tidak Ibu. Adra hanya bercanda” jawab Adra memeluk Ibunya… “Siapa Nenek Ini nak?” tanya Ibu Adra… “Inilah Nek Situ Bu. Bersama Nenek Siti saya bekerja. Dan saya telah mengumpulkan uang Rp. 15.500.000 Bu. Masih kurang sih buat melamar Meli Bu”.. Jawab Adra. Ibu Adra pun menatap Bunga yang kacau hatinya. “Meli sudah dijodohkan Adra. Dengan saudagar kaya” jawab Ibunya… Adrapun tampak kesal, tetapii ia malah tertawa “aku tidak mencintainya Bu. Aku juga sudah tahu kalau Meli bulan depan akan menikah”… “Kamu tahu dari mana Nak?”…
“Saat di jakarta. Bang toyib menghampiriku. Dia bersama istrinya yang sedang hamil dan ngidam pingin ke Monas. Kemudian dia bercerita. Kalau Meli akan dinikahkan bulan depan dengan duda kaya”… Jawab Adra… “Sudahlah Bu. Ayo kita masuk Bu. Ayo Nek Siti” kata Adra sambil membawakan barang-barang nek Siti… “Ayo Bunga” kata Adra lembut, sehingga membuat wajah bunga menjadi kemerah-merahan…

Berhari hari telah berlalu. Nek Sitipun sudah menganggap Adra sebagai Cucunya. Dia menelepon pengacara. Untuk memberikan warisan pada Adra. Adra sudah menolak selama berhari-hari. Namun Nek siti hanya ingin melihat Adra bahagia karena adra juga sangat baik pada Nek Siti… Adra menerima. Dia berkata pada Nek siti, Untuk menjual Rumah kos itu pada Anak pertama Nek Siti. Untuk membeli sawah dan kerbau di desanya ini. Agar ia bisa membahagiakan ibunya. Walau dekat dan bersama. Ternyata nek siti malah mendukung. Dan anak pertama nek siti. Tidak canggung untuk memanggil Adra adik. Ternyata ia sangat baik. Apa yang dikatakan Nek Siti tentang keburukan anaknya. Hanya untuk mengetahui isi hati dari Adra. Anak pertama Nek Sitipun menjemput Nek Siti. Adra meminta alamat Asli nek Siti. “Agar kelak Aku dan Istriku, Bunga. Bisa mengunjungi Nenek” kata Adra… “Bunga? Kamu ingin melamar bunga? Hari ini juga nenek dan anak nenek akan melamarkan kamu dengan bunga” jawab Nek Siti… “Kamu mencintai Bunga Adra?” tanya Ibu Adra… “Iya Bu. Aku mencintainya. Semenjak dia menjaga mu Bu” jawab Adra … Tak menunggu lama. Nek Siti memerintahkan anaknya untuk mengajak orang agar bisa melamar Bunga…

Sesampainya di rumah Bunga, tanggapan orangtua bunga sangat memuaskan. Mereka setuju. Dan minggu depan mereka harus menikah… Kabar baik ini diterima Adraa dan Ibunya. Adra mendapatkan kembali senyuman ibunya yang hilang beberaoa bulan Lalu… Nek siti dan anaknya membatalkan kepulangan mereka. Mereka akan tinggal sampai Adra menikah dengan Bunga.

Tamat…

Thanks for Reading:):)

Cerpen Karangan: Ayu Indah Lestari
Blog / Facebook: Ayu Indah Lestari (Yundari)
Haiii. Saya Ayu. Jangan lupa baca cerpen saya yaaa.
1. Cinta masa sma
2. Rahasia Ayu.

Cerpen Kukejar Mentari merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Hujan

Oleh:
Bukan hal yang baru memang yang sedang terjadi. Hujan. Ya.. hujan. sebuah peristiwa alam biasa yang menyapa tanah kami, negri kami. Maklum tanah kami ada di bentangan katulistiwa sehingga

Akhir Mimpi

Oleh:
Malam minggu yang kelabu. Mengapa? 1. Karena aku masih sendiri 2. Karena belum kutemukan pangeranku Mia, teman sekelasku mengundangku ke acara prom nightnya. Di bagian akhir kartu undangannya, terpampang

Randy Si Penyelamat Nyawaku

Oleh:
Pagi yang cerah, secerah hatiku ketika melihat dia telah menungguku di bawah. “Pagi Ra, kamu tambah cantik deh, ayo berangkat nanti telat loh” kata Randy, sahabat sejatiku. “Pagi juga

Hidup Sampah

Oleh:
Siang bolong di terik yang menusuk. “Gila! Dunia apa neraka ini? Anj*ng!” keluh seorang supir angkutan umum lewat bibirnya yang melengos. Peluh yang mengucur di dahinya ia usap dengan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Kukejar Mentari”

  1. windra saputra tateuteu says:

    keren, ceritanya bagus..
    good luck, sukses terus ya??

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *