Lain Kali Ke Rumahku Ya

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Jepang, Cerpen Kehidupan
Lolos moderasi pada: 16 September 2017

Dingin. Hanya kata itu saja yang terlintas di otakku untuk mendeskripsikan hari burukku ini. Sudah dingin, lemas, dan aku hanya mengenakan rok panjang yang berwarna hitam gelap! Betapa ceroboh, tidak, bodohnya aku. Jujur saja, aku memakai rok bermodel ini hanya karena aku ingin orang-orang di sekitarku melihatku sebagai perempuan yang cantik jelita. Tetapi sudah jelas-jelas, mukaku menunjukan ekspresi yang masam. Sehingga orang tidak akan melihatku sebagai perempuan yang cantik jelita. Melainkan, perempuan bermuka murung. Atau mungkin, perempuan yang mencurigakan! Alamak! Gimana nih?! Tetapi mau apalagi, tidak ada pilihan lain selain terus saja, mengabaikan pikiran orang lain tentang penampilanku kini yang terlihat seperti sebentar lagi aku akan mati lemas karena hawa dingin ini. Tantangan datang lagi, begitu aku harus pulang dengan berjalan kaki berkilo-kilo untuk sampai di apartemen yang kutinggali.

Mukaku yang hanya sekedar murung, sekarang berubah menjadi kesal juga lelah. Mataku menjadi susah untuk dibuka karena angin yang meniupku di saat aku berjalan. Sekarang, bukan hanya kakiku saja yang kedinginan, tetapi mukaku juga! Rasanya sebentar lagi, mukaku akan mengeras menjadi es. Atau mungkin, seluruh tubuhku yang akan mengeras menjadi es!
Dari ekspresi muka kesal dan lemas, setelah mendapat pemikiran itu, raut mukaku berubah lagi menjadi ketakutan. Mungkin sekarang orang-orang di sekitarku akan menganggapku orang gila karena aku terlihat seakan-akan melihat makhluk yang luar biasa menakutkan.

Beberapa menit berlalu, aku telah sampai di halte bus. Sayang tempat duduk, sudah ditempati oleh semua orang. Oh, betapa sedihnya aku. Kakiku mulai bergoyang-goyang bukan karena ingin berdansa. Melainkan terlalu capek untuk menopang diriku yang terasa berat ini. Tetapi, aku mengabaikannya saja. Aku melihat setiap orang yang duduk. Mayoritas adalah orang-orang yang sudah lanjut umur. Karena aku sudah diberikan pengetahuan untuk selalu sopan kepada orang yang lebih tua, aku menunjukan senyum kecilku kepada orang lanjut usia tersebut. Sebenarnya, tidak ada yang membalas senyumanku. Mereka hanya menatapi aku, lalu sudah. Yah, ada beberapa yang memberikan aku tatapan mematikan, membuatku ketakutan. Tetapi untung bukan karena pakaian yang kupakai ini.

“Shibuya… Shibuya,” Itulah tandaku. Tanda untuk destinasi apartemen aku. Dari kejauhan terlihat jelas bahwa bus umum akan segera datang. Di saat bus umum terlihat dekat di depan mataku, pintu bus langsung terbuka secara otomatis. Para orang tua langsung berjalan secara pelan, dipandu dengan tongkat kayu yang mereka genggam erat. Aku pun juga mulai masuk ke bus. Disitu, bisa dirasakan rasa canggung saat merasa tatapan orang lain yang sedang duduk ataupun berdiri. Aku pun langsung mengabaikannya dan fokus, mencari tempat duduk. Kutemukan satu, tetapi di saat itu pun juga, aku berhadapan dengan seorang nenek.
Karena merasa simpati merayap ke dalam hatiku, aku pun langsung menawarkan tempat dudukku sambil memberikan senyuman manisku. Nenek itu dengan senang menerimanya dan langsung duduk. Setelah menaruh beberapa keranjang belanjanya, nenek itu langsung memalingkan mukanya ke arah mukaku dan langsung tersenyum. Mukaku hanya menunjukan bahwa itu biasa saja, tetapi sebenarnya, di dalam hatiku terasa perasaan kaget. Tidak kusangka nenek ini akan tersenyum begitu hangatnya kepadaku yang biasa dianggap orang asing oleh orang-orang di sekitarku. “Huh..? Mengapa, nenek ini malah tersenyum hangat padaku? Padahal aku hanya memberinya tempat duduk..?” aku berpikir masih saja heran.

“Terima kasih ya.. Tempat duduk yang engkau berikan ini sangat berharga,” nenek itu berkata di waktu yang tidak menentu, membuatku agak kaget. “Huh? Oh ya! Sama-sama! Tidak perlu berterimakasih,” aku berkata dengan nada sopan. “Eh! Harus dong! Jarang-jarang loh orang asing ingin mengorbankan tempat duduknya demi orang lain! Boro-boro orang lain, orang tua aja belum tentu!” nenek itu berkata. Yah, benar juga sih. Di saat ini, memang banyak orang yang masih `malu-malu´ untuk mengorbankan tempat duduknya untuk orang lain.

Yah, bisa dikatakan bahwa aku salah satu orang yang beruntung sekali untuk mempunyai keluarga yang begitu peduli akan bersikap sopan terhadap orang lain. Sebelum sampai di lokasi apartemen aku, bus umum harus berhenti di beberapa perhentian. Di perhentian pertama, tidak ada yang turun. Membuatku terpaksa harus berdiri, menunggu perhentian berikutnya untuk orang lain turun. Tetapi, pintarnya nenek ini, nenek ini mengajak aku berbincang. Aku pun mulai terlarut dengan pembicaraan ini. Tiap kali nenek itu berbicara hal yang lucu, ia akan tersenyum lebar yang menyebarkan kehangatan di dalam tubuh aku. Sungguh senang untuk berbincang dengan nenek ini. Bukan hanya itu, tetapi juga senyuman hangat nenek.

Jujur saja, senyuman nenek itu mengingatkan aku akan satu karaker drama Jepang yang kusukai dari usia belia. Namanya Oshin. Ia dari keluarga miskin. tetapi disaat umur dewasanya, ia bisa membuka toko. Bahkan toko itu berkembang terus-menerus. Oshin, menurut aku, bagaikan pahlawan wanita bagi bangsa Jepang. Ya, aku tidak bisa berdebat dengan hal itu. Seandainya saja Oshin adalah tokoh wanta asli, pasti ia akan cukup terkenal dengan namanya.

“Nakahara Apartement… Nakahara Apartement,” suara bus umum didalam terdengar. Itu nama apartemen aku. Artinya aku harus turun.
Sebelum turun, aku berkata terimakasih pada nenek itu. Ia juga berkata, “Lain kali ke rumahku ya.. Ini alamatnya”. Ia pun memberikan aku secarik kertas yang berisi angka-angka yang tersusun menjadi sebuah alamat. Aku pun berpikir bahwa itu merupakan alamat rumah nenek itu. Hatiku pun terharu, melihat apa yang nenek itu telah lakukan kepada aku, perempuan biasa ini. Air mata bercucuran sedikit dari air mataku. “Oh! Jangan menangis. Aku tidak bermaksud untuk membuatmu sedih!” nenek itu berkata lalu memberikan aku sebuah sapu tangan berwarna biru dengan motif bunga sakura berjatuhan dari dahan pohonnya. “Eh! Tidak usah! Aku tidak menangis kok. Hanya terharu saja karena Nenek telah melakukan banyak hal terhadap saya”, dengan itu pun air mata keluar sedikit dari mataku, aku menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi padaku. Nenek itu hanya membuka mulutnya membentuk kata ‘oh’ lalu mengangguk.

Dua tahun kemudian….
Cuaca begitu muram. Tetesan air hujan memberikan suaranya saat mengenai payungku. Aku, berdiri bersama dengan kekasihku, memandang sebuah peti berwarna putih. Itulah nenek kekasihku, tidak, nenekku juga. Nenek itu adalah nenek yang menghangatkan hatiku dengan senyum hangatnya dua tahun yang lalu di dalam bus umum. Aku menoleh ke arah kekasihku, dan apa yang kulihat? Sungai air mata yang mengalir dari matanya ke pipinya. Aku mengeluarkan sapu tanganku dan menghapus aliran air matanya. Aku pun juga menangis, anehnya saja aku tidak ingin menghapus air mataku. Aku ingat persis saat nenek itu, bukan, Nenek Iroshi (itulah namanya) melihatku menangis karena sekali bertengkar dengan kekasihku, ia memelukku erat-erat dan membelai kepalaku seakan-akan aku adalah cucu peremepuannya yang masih kecil yang baru saja dimarahi oleh ibunya dan memerlukan kasih sayang dari neneknya. Aku tidak ingin melupakan momen dua tahun yang lalu itu. Apalagi di saat ini.

Di saat Nenek Iroshi berbaring di ranjang kematiannya. Akan aku ingat. Disaat pertama kali kita bertemu, dan juga kata-katanya…
“Lain kali ke rumahku, ya..”

Cerpen Karangan: Re Re

Cerpen Lain Kali Ke Rumahku Ya merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Halimun di Tengah Malam

Oleh:
Hu…hu…hu!” Isak tangis kecil memblender ulu hati Berulang-ulang ambul dalam pilu Meringis miris menggidik bulu kudukku “Uuuuuk… uuuuuk!” Lolongan panjang anjing di tengah malam buta Menguras rasa menggetar atma

Meja Istriku

Oleh:
“Kami nikahkan anak kami Rida Hidayati binti Hidayat dengan Muhammad Erwin Burhannudin bin Muhammad Subekti dengan maskawin sebuah meja bundar ukiran Jepara tunai.” “Saya terima nikah dan kawinnya Rida

Secangkir Kopi dan Renungan Sore

Oleh:
Kopi sudah menjadi bagian dari keseharian. Menikmati secangkir kopi di pagi hari dan sore hari, bagiku sudah menjadi ritus yang wajib kulakukan. Ibarat beribadah jika aku melewatkanya seperti ada

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *