Lalat Lalat Waktu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Penyesalan
Lolos moderasi pada: 11 October 2017

Judul cerpen ini (atau apapun bentuk tulisan ini menurut kalian) mungkin terdengar seperti terjemahan bebas dari judul salah satu lagu band progressive rock asal inggris: Porcupine Tree, yang berjudul Time Flies. Dan aku tak akan menyangkal hal itu.

Dulu, saat usiaku masih dua tahun, saat aku mulai bisa berpikir secara sadar. Aku ingin melihat dunia ini secara lebih luas. Rasa ingin tahuku mulai tumbuh. Namun, di sisi lainya, aku juga mulai merasa takut dengan dunia yang sama sekali belum aku kenal. Ibuku, selalu mendekapku dalam pelukan saat aku menangis dalam ketakutan.

Saat usiaku tiga tahun, ibuku memarahiku karena aku dengan sengaja menumpahkan semua gula pasir, kopi, teh, dan bumbu-bumbu di dapur untuk mainan. Saat itu aku belum tahu fungsi dari bahan-bahan dapur itu. Aku hanya ingin memuaskan rasa ingin tahuku. Saat itu ibuku menampar bokongku lalu berkata, “Itu bukan mainan! Jangan diulangi lagi!” Dan aku menangis saat memahaminya.

Saat usiaku lima tahun, aku masuk taman kanak-kanak untuk pertama kali. Aku mulai berkenalan dengan teman-teman baruku. Teman-temanku kini lebih banyak. Bukan lagi hanya para anak para tetangga, dan sepupu-sepupu yang sebaya denganku. Duniaku lebih luas sekarang.

Saat usiaku sepuluh tahun, aku terlibat perkelahian pertamaku. Aku memukul wajah seorang anak besar bernama Gista karena dia begitu menyebalkan dengan mengataiku anak cengeng. Dia membalas pukulanku dengan menghantam mata kiriku. Untungnya tak ada kerusakan berarti di mataku itu. Kami sama-sama dihukum.

Saat usiaku tiga belas tahun, aku mulai bercita-cita menjadi seorang tentara. Aku terinspirasi oleh salah seorang kerabat yang baru diterima menjadi anggota TNI. Selain itu, aku juga terinspirasi dari kisah salah seorang pahlawan nasional: Panglima besar Sudirman.

Saat usiaku lima belas tahun, aku bergabung dengan sebuah band rock bernama Opera Shoes. Aku mendapat kehormatan di posisi gitaris. Namun, band ini bubar setelah delapan bulan berdiri. Di tempat lain, aku berkenalan dengan Farah, yang kemudian menjadi pacar pertamaku.

Saat usiaku enam belas tahun, aku berkenalan dengan rok*k dan minuman keras pertamaku. Sikapku mulai berubah, meskipun aku masih bisa menyembunyikanya di depan orangtuaku. Pestasi sekolahku juga tak terlalu menurun drastis. Prestasi akademikku masih di atas rata-rata.

Usia tujuh belas tahun, dan aku bertengkar hebat dengan pacarku saat itu, Fina. Kami putus dengan cara yang begitu menyakitkan. Belum cukup sampai disitu, kedua orangtuaku bercerai. Aku nyaris lari ke arah obat-obatan terlarang saat itu. Meskipun aku berhasil menghindarinya, namun semenjak itu mentalku benar-benar telah down. Prestasiku mulai turun, dan aku mulai sering bolos sekolah. Bimbingan konseling menjadi langganan sehari-hariku. Pikiranku sering gelisah. Seringkali aku pergi ke sebuah tempat yang sepi, menyendiri.

Usia delapan belas. Fina dan perceraian orangtuaku memang sudah terlupakan. Namun penyakit mental sudah terlanjur hinggap di kepalaku. Aku nyaris menjadi pemuda yang tak berguna. Meskipun tanpa nark*ba, hidupku sudah hancur. Ayahku (ibuku sudah tiada saat itu) tak mampu membantu banyak. Ia hanya bisa memasukkanku ke pengajian malam yang nyaris tak membantu masalah mentalku. Aku beruntung masih bisa lulus ujian akhir sekolah. Soal cita-citaku yang ingin jadi tentara? Itu sudah jadi almarhum. Aku berubah menjadi pemuda yang malas.

Setelah lulus, aku kembali masuk dunia musik. Aku bergabung dengan sebuah band indie beraliran black metal. Setiap hari isinya latihan di studio. Banyak uang keluar dari kantong, tapi tak banyak yang masuk dari aktifitas ini. Saat teman-temanku yang lain (yang mentalnya belum seperti aku) sedang belajar di perguruan tinggi, atau sedang bekerja keras menyiapkan masa depanya. Aku hanya bisa menjadi seorang pemuda yang kebingungan. Untuk mendapatkan uang saja (selain dari hasil manggung yang tentu terbatas) aku mengamen, dan bahkan pernah beberapa kali mencopet.

Hingga usia dua puluh empat tahun, aku masih merasa diriku tak berguna. Hanya sampah. Aku mulai suka melamun. Berharap bahwa aku bisa kembali ke masa-masa sebelum terjerumus ke dalam keadaan ini. Dan berharap aku bisa memperbaiki semuanya. Hingga suatu waktu aku menyadari bahwa waktu-waktu yang terlewat itu takkan bisa kembali. Kemarin, aku masih seorang anak berusia tiga tahun yang tak tahu apa-apa kecuali ibunya. Kini dua puluh empat tahun telah terlewat dan berada di belakangku. Lalat-lalat waktu itu beterbangan dengan begitu cepatnya hingga nyaris tak kusadari keberadaanya. Kini setelah kusadari keberadaanya, apalagi hal terbaik yang bisa kulakukan selain dengan lebih mengahargainya. Menghargai waktu. Sebelum lalat-lalat waktu itu membuatmu menua tanpa sadar, dan akhirnya membuatmu menyesali masa lalumu yang penuh dengan kesia-siaan.

Cerpen Karangan: Danang Teguh Sasmita

Cerpen Lalat Lalat Waktu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Dokter Yang Datang Terlambat

Oleh:
Ruang tunggu kecil yang terletak di bagian dalam sebuah apotik itu dipenuhi pasien. Mereka duduk di kursi-kursi dan memegang selembar kecil kertas yang bertuliskan nomor antrian dengan wajah gusar.

Obat Alami Layila

Oleh:
Di pinggir jalan, seorang anak yang kira-kira berusia 12 tahun duduk sambil berjualan obat-obatan alami. Namanya Layila. Barang dagangannya masih lengkap, belum ada yang terjual. Daun sirih, lidah buaya,

Tempe Goreng

Oleh:
Hah? Di mana aku? Kukerdipkan mataku beberapa kali, berusaha memulihkan kesadaranku. Oh, aku baru ingat, aku sedang berada di asrama. Mimpi barusan benar benar terasa nyata, membuatku sempat lupa

Cinta Yang Terlambat

Oleh:
Namaku Sherly, umurku 13 tahun aku bersekolah di SMP pangudi luhur st albertus saat ini aku duduk di kelas 8. Aku emang dikenal sangat muda untuk merasakan cinta, ya

Pelangi

Oleh:
Pagi yang cerah matahari terbit dari ufuk timur. Sinarnya menembus rimbunnya pepohonan di desa yang indah, desa tempat Nina dan keluarganya tinggal. Akhirnya desa itu mendapatkan hangatnya mentari pagi

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *