Lampu Merah

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan
Lolos moderasi pada: 2 January 2017

Awalnya aku pengen berpuisi untuk hal ini, namun sepertinya kurang pas. Harus diungkapkan dengan kesederhanaan, apa adanya. Terlalu panjang dan memutar mutar seperti angka 8, jika ditulis dengan puisi.

Di pusat kota, siang hari, ketika sang perwujudan Dewa Rah –matahari- sedang ganas ganasnya memelototi setiap kepala manusia. Di jalan raya yang padat, macet, bahkan sama sekali tidak berjalan. Bus transjogja dengan ketidakpeduliannya menyemburkan asap hitam, tidak karuan. Ingin rasanya aku sumbat knalpot yang tak tahu diri itu, dengan tiang bendera, hingga tembus ke mesin dieselnya yang sudah usang, sumber pembakaran sialan. Lalu pengendara motor yang saling serobot mencari posisi terdepan, seperti sekumpulan semut yang berebut keluar dari sarang, tak tahu adat. Ingin juga aku membunyikan klakson, menggeber motorku, dan turun lalu melepas helmku, membantingkannya di aspal yang mengkilap karena kepanasan lalu meledak seperti bom atom. Belum lagi di sudut trotoar, lampu berkerlap kerlip, berwarna merah, dilihat semua orang, menunjukkan angka 152. Sialan, aku harus seperti ini 152 detik. Kaki ku terasa panas, seperti terbakar. Keringat terasa mengalir dari balik bajuku, deras, mirip sungai Progo. Di kananku ada motor tua, dengan oli samping, yang knalpot dan mulut pengendaranya mengeluarkan asap, karena dia sedang merok*k menggunakan robot, vape namanya kalau tidak keliru. Dihisap dalam, disemburkan, menyatu dengan asap knalpotnya, membentuk reaksi kimia, lalu berhembus menerpa wajahku, sampai ke hati, merangsang saraf sarafku, lalu menimbulkan emosi.

Di tengah kesemrawutan yang carut marut, aku melihat seorang bapak bapak paruh baya, jalan kaki, melawan arus arah kendaraan yang berada di jalurku, berkeringat, kulitnya hitam, mengacungkan dua jarinya sambil tersenyum, dan mengenakan topi yang tidak pernah aku lihat dijual di toko, bertuliskan “Kedaulatan Rakyat”. Oh dia juga membawa koran, jadi dia adalah penjual koran. Maksud acungan dua jarinya adalah dua ribu, itu dugaanku, untuk harga salah satu koran yang dijualnya. Dengan senyumnya, serasa di jalan itu bagaikan di sebuah oasis, atau di puncak Kaliurang, Telaga Putri yang sedang mendung. Semua yang dilihatnya berjalan lambat, slow motion. Serasa ia menawarkan dagangannya kepada turis-turis yang berbahagia, seperti sedang menyambut hari lebaran yang tinggal besok pagi
Saat ia berada tepat di depanku, seperti biasa, aku tidak membeli dagangannya. Alasan yang pertama, aku tidak mau bersusah payah berdiri, merogoh saku belakang celana, mencari uang, menyerahkan kepadanya, lalu menunggu kembalian. Belum lagi aku mengendarai motor yang harus dikopling setiap pindah gigi, akan kesulitan membawa koran itu, karena seperti biasa, aku sedang tidak membawa tas.

Lalu ia mulai berjalan meninggalkanku, ke arah pengendara di belakangku. Tapi belum habis pandanganku kepadanya, aku sudah mulai masuk, perlahan namun pasti, ke alamku sendiri, MELAMUN. Aku berfikir, dan berkhayal, tapi tidak ngawur, tidak juga ilmiah, kira kira saja, aku menerka nerka. Pertama aku melamunkan, bagaimana ia berpamitan dengan anaknya sebelum berangkat berjualan dengan sepedanya itu, yang dia sandarkan di tiang lampu merah. Berangkat setelah adzan subuh berkumandang. Lalu dengan sepedanya menuju ke pangkalan koran, tempat dipasoknya koran dari percetakan. Memesan beberapa eksemplar, dicatat oleh petugas yang berada di sana, lalu membawa dan menjualnya ke lampu merah. Begitu dia sampai, jalan masih sepi. Hanya dilalui pedagang yang akan berjualan di pasar, tukang jaga sekolah yang harus membuka gerbang sebelum murid pertama datang, security yang terkantuk setelah jaga malam, orang orang yang kebetulan libur lalu bersepeda, damai dan sejuk. Lalu ia mengenakan topi, pemberian dari salah satu surat kabar yang juga ia jual, tanda dedikasinya selama beberapa tahun. Menyenderkan sepeda setianya, seperti posisi yang saat ini aku lihat.

Ah bapak itu, betapa tulus hatinya, seakan Dewa Rah memanjanya, menghindarkan pancarannya yang menyengat dari si penjual koran. Melindungi dan mengikuti, seperti tukang ojek payung yang setia mengikuti pelanggannya.
Tidak lama setelah lamunanku memikirkan dewa matahari, aku melihat seorang wanita, yang lebih tua dari si penjual koran. Ia melewati para pengendara motor, seperti air sungai yang menghindari batu batu besar, nampak tak peduli. Yang ia tuju hanya satu, kaca kanan mobil yang sedang berhenti menunggu lampu merah menjadi hijau, ajaib benar lampu itu. Saat ia menghampiri mobil pertama, tak sedikit pun kaca mobil itu terbuka, ia menunggu sebentar, lalu terlihat bayang bayang semu dari balik kaca, lambaian tangan, seperti sedang mengucapkan good bye, see you tomorrow, atau see you yesterday, atau see you next year, tapi kalau tidak salah itu seperti “minggat lah, enyah dari pandanganku, bedebah tengik, aku sudah lihat kau ratusan kali tiap melintasi jalan ini, tak ingatkah kau? Aku selalu menolakmu”. Betapa kontras hal itu terjadi di dalam kabin mobil mewah yang dingin, sejuk sekali, angin dari ACnya menghembus di rok sebuah boneka penari hawai dan mengibar-ngibarkannya. Nenek itu tak bergeming sama sekali, hal itu sudah biasa, sudah “kulina” (baca kulino, ‘o’nya sama seperti saat kita bicara “ompong”) ia rasakan. Semacam lubang kecil di jalan saat bersepeda. Tak berarti, ya cuman gronjal dikit.

Ia lalu hinggap ke mobil lain lagi yang tak kalah mewah, dibungkukkan sedikit badannya, tengadahkan tangan, sedikit senyum, dan berkata “nyuwun den”. Dengan halus kaca itu terbuka sedikit, jelas sudah otomatis, pakai power window, tinggal pencet pakai jari telunjuk sudah bisa turun. Terlihat ujung tangan dari dalam mobil keluar, posisinya berada di atas tangan wanita tua itu, dan menjatuhkan uang kertas, seperti peribahasa: “tangan di atas lebih baik dari pada…” (lanjutkan sendirilah). Lalu kembali menutup kacanya dengan power window lagi. Wanita itu terlihat bahagia, dia tak henti hentinya mendoakan agar rejeki sang dermawan itu lancar, perjalanan selamat, keluarga bahagia, dan masuk surga. Padahal dari dalam mobil yang sudah tertutup rapat, pengendara dermawan itu hanya melihat wanita tua yang sedang komat kamit tersenyum, membungkuk, lalu pergi. Justru ini yang namanya ‘keikhlasan’, begitu memberi, langsung melupakan.

Ia malanjutkan berjalan ke arahku, aku sudah tergopoh gopoh mencari uang yang mungkin sudah terlupakan berada di saku jaket, atau saku celana. Terpancing untuk ikut memberi. Namun tiba tiba suara klakson terdengar di mana mana, seperti ada kampanye pemilihan umum, dan terdengar juga seperti kepanikan orang yang sedang dikejar gelombang tsunami. Oh sial, ternyata lampunya sudah jadi hijau, aku bikin macet selama beberapa detik. Maaf ya Buk Pengemis, aku belum bisa memberi. Mungkin belum rejekimu menerima sedikit dariku, dan bukan rejeki ku untuk berbuat baik kepadamu.

Seperti adegan tambahan di saat sedang menampilkan tulisan nama artis dan sponsor di akhir sebuah film. Sebenarnya masih ada 3 orang lagi yang aku lamunkan di lampu merah, diantaranya penjual tongsis, penjual balon gas berkarakter spongebob, helicopter, nemo, upin dan ipin, dan penjual terompet yang jika ditiup seperti memanjangkan plastik, yang akan kembali memendek saat angin berhenti dihembuskan di lubang peniupnya. Saat di tiup juga ada suara, “teeeeeet” kecil suaranya, tapi bernada tinggi. Membuat anak anak usia 8 tahun ke bawah keranjingan meronta kepada bapak ibunya untuk dibelikan.

Jadi aku ingin sedikit saja bercerita tentang mereka bertiga. Waktu itu sore hari, di lampu merah juga. Si penjual tongsis terlihat mendekati sebuah mobil pickup, bekas pengangkut pasir. Hal ini jelas tidak biasa, bahwa target pembelinya biasanya mobil mulus yang mengkilap, yang dia bisa berkaca menggunakan seluruh bodinya. Ia terlihat ngobrol sebentar dengan sopirnya. Tiba tiba ia melompat ke atas mobil pickup itu, aku yang berada tepat di belakangnya kaget dan heran. Lalu dari balik antrian kendaraan, nampak sekumpulan balon gas terbang mendekat, meloncat kecil kecil, ternyata balon gas itu dibawa seseorang, penjualnya tentu saja. Tak kalah membuatku terkejut, penjual balon gas melakukan hal yang sama dengan si penjual tongsis, melompat naik ke atas pickup. Perbedaannya adalah keringanan loncatan si penjual balon gas, yang berat beban hidupnya, eh, maksudku berat badannya sedikit meringan karena sekumpulan balon gas, yang masing masing terikat senar tipis transparan, lalu senar itu dikumpulkan menjadi satu dan digenggamnya. Tak lama juga si penjual terompet muncul, lebih kencang larinya dari pada kedua penjual sebelumnya. Padahal seharian penuh ia kepanasan berjualan sambil meniup niup terompet kecil, yang jika ditiup seperti memanjangkan plastik, yang akan kembali memendek saat angin berhenti dihembuskan di lubang peniupnya. Saat ditiup juga ada suara, “teeeeeet” kecil suaranya, tapi bernada tinggi (biar kalian ingat terompetnya). Meloncat juga di atas pickup. Kompak mereka duduk dengan rapi, seperti pengajian di serambi masjid, duduk bersila. Lalu sang penjual tongsis memukul mukul balon gas yang mengenai badannya, dan berbicara dengan logat… ngapak. Oh ternyata mereka bertiga dari satu daerah, yang menumpang sebuah mobil pickup untuk bersama sama pulang ke daerahnya, aku tidak tahu daerah mana. Yang jelas hampir pasti, mereka tadi pagi juga berangkat bersama sama. Juga dengan menumpang, caranya adalah, sang penjual tongsis menyetop pickup, balon gas meloncat loncat, penjual terompet datang paling akhir. Ah persahabatan yang hangat.

Cerpen Karangan: Dicky Puja Pratama
Blog / Facebook: saratalinga.blogspot.com / Dicky Puja Pratama
Anggota Lembaga Pers Mahasiswa PROFESI FTI, Universitas Islam Indonesia

Cerpen Lampu Merah merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Aku Ingin Berhenti Dari Pekerjaan Ini

Oleh:
“Aku ingin berhenti dari pekerjaan ini.” ucap hatiku. Logika dan rasaku sudah lama bersepakat untuk itu. Hanya saja, nasib masih terlalu sering mangkir dari janji-janjinya sehingga niatku masih belum

Uang Untuk Operasi Istriku

Oleh:
“Maaf mas, Tapi saat ini saya masih belum bisa bantu, Bukanya saya tak memiliki uang, tapi uang yang saya punya juga sedang saya butuhkan untuk biaya sekolah anak saya

Takdir Teridah

Oleh:
Separuh nyawaku terasa hilang, buliran bening air mata turun tak terbendung membasahi pipi, hati kalut dan dipenuhi kekawatiran yang dalam, ketika engkau melambaikan tanganmu di dalam bis yang akan

Mimpi Kami Anak Bangsa

Oleh:
Berjalan menyusuri jalanan saat dimana orang lain melakukan aktivitas mereka dan juga anak seusiaku tentunya mereka bergegas ke sekolah. Tidak sepertiku hanya melihat megahnya gedung sekolah tanpa pernah merasakan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *