Lebih Lega Kalau Mereka Menyalahkanku (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Nasihat
Lolos moderasi pada: 1 July 2021

PERJALANAN Zuruf penuh duri, dari duri satu ke duri yang lainnya. Semua itu tetap tidak memadamkan semangat peetualangannya, dalam jiwa masih terus bergema, “jalan terus! Jangan nyerah, beginilah dunia ini bersikap. Sekuat apapun berbuat baik, dunia akan selalu penuh tipu daya.”

Awal mula Zona bisa menahan kebiasaan Zuruf yang sangat sederhana. Minta ini itu pun tetap berlanjut. Bukan hanya AC, Kulkas, Mesin Cuci. Zona menambah permintaannya, “Sayang… Kamu sayang engga sih sama aku? Beli motor baru dong, aku malu pakai motor itu, udah gembel, aku gengsi! Aku enggak mau hidup miskin terus kayak gini!”

Zuruf belum merespon, ia masih tetap diam sambil memikirkan solusi dan jawaban terbaik untuk seorang putri pemilik kastil, peternakan kuda dan kambing. “Bukan begitu Zon say, aku hanya hidup sederhana aja, biar gampang nanti ketika tiba hari perhitungan.”
“Sederhana, sederhana, sederhana, hari perhitungan, hari perhitungan, hari perhitungan. Itu bukan ‘sederhana, bukan juga hari perhitungan’. Tapi kamu enggak mampu kan? Kenapa sih kamu miskin?”
“Zon…” Zuruf tetap berusaha setenang mungkin menghadapinya. Batinnya sambil tetap terus beristighfar.
“Apa Zon, Zon. Kamu tuh harusnya mikir! Udah nikah tuh hidup bukan tentang gimana kamu nyaman aja, tapi juga gimana aku! Jangan egois dong! Kamu siap nikah engga sih!”
Zona sedang di ambang kemarahan sempurna, wajahnya memerah, napasnya tersengal-sengal.

Sedang Zuruf yang baru pertama kalinya menghadapi dan merasakan hal itu, ia hanya tercengang, dan berujar dalam benaknya, “beginikah pernikahan yang penuh intrik paksaan, apakah seperti itu semua sifat putri orang kaya? Akankah tidak seperti ini bila aku tidak menikah dengan wanita yang benar-benar aku ingini? Ini keinnginan nikah hanya kuat darinya? Tapi mengapa dia tidak bisa terima aku apa adanya, kan dia yang telah memilihku, Abangnya yang memaksa keras agar aku menikahinya, bahkan sampai memenjarakanku! Ada apa dengan keluarga mereka?” Pikiran Zuruf teraduk-aduk oleh suasana yang sedang ia dapati hari itu.

Lagi-lagi Zona kembali meninggalkan Zuruf yang sedari tadi berdiam diri di ruangan depan. Zuruf dengan segala kebingungannya segera ia ambil air wudhu lalu sholat dua roka’at berharap Sang Pencipta berikan-nya secercah petunjuk.

“Sayang udah pulangkan saja aku pada Ibuku dan Ayahku. Aku mau istirahat dulu di rumah sungguhan! Bukan rumah hewan yang kayak gini! Tolong ya antar aku.”

Sebenarnya Zuruf bisa saja menyerang balik dengan, “kan kamu yang mau sama aku, kenapa kamu yang malah engga siap dengan semua ini” ia bisa, tapi ia tahan, karena ia tahu wanita itu memang lebih suka memonopoli segala, ya hampir segalanya. Zuruf tidak mau mematahkannya dengan kata-katanya.

Zuruf pun mengantar Zona ke rumahnya menggunakan motor Suzuki next bututnya yang berwarna coklat tua. Warna coklat tua itu sebenarnya ia yang warnai sendiri menggunakan pilok yang dibelinya di toko bangunan dekat rumah.

“Zona! Zuruf! Ada apa?” Tanya Ayahnya Zona ke mereka berdua.
“Aku mau istirahat dulu Yah…” Zona melengos pergi meninggalkan Ayah dan Zuruf.

“Ada apa nak?” Tanya Bapak Mertua.
“Ini Pak… ia belum bisa atau mungkin tidak bisa hidup dengan gaya hidup yang saya anut.” Jawab Zuruf.
“Ha ha ha, yang kamu anut? Gimana? Gimana?”
“ia menuntutku agar membeli AC, Kulkas, Mesin Cuci serta Motor baru. ia lebih sering cemberut, marah-marah, uring-uringan di rumah.” Jelas Zuruf menjawab penasaran Bapak Mertua.

“Zuruf… Kamu kan sudah nikah, kamu bukan lagi tinggal seorang diri, melainkan berdua bersamanya. Kamu harus lebih gesit lagi cari kerjanya! Jangan ngandelin satu sumber aja! Kamu kurang gesit sih!”
“Bagaimana Pak, kan saya nernak kuda, kambing, cari makanan buat kuda dan kambing aja udah habis waktu saya, bagaimana saya harus lebih gesit lagi, sedangkan seharian saja penuh waktu saya untuk tenggelam di satu perkerjaan, yaitu peternakan.”

“Begini Ruf… Biar kamu tahu ya! Sebenarnya Bapak dan Zic tidak mengizinkan Zona menikah denganmu…”
Zuruf terperanjat dengan kata-katanya, ia hanya kembali beku terpaku seperti keadaan sebelumnya.
“Lalu siapa yang menginginkan aku menikah dengan Zona?” Tanya Zuruf yang langsung meruncing.
“Zona.”
“Ha! Apa yang ia pikirkan? Kenapa sih dia itu Pak?”
“Entah, aku, Ibu, Zic. Kita semua berat mengizinkannya. Yang ada di otaknya, hanya kamu Ruf! Ia betul-betul tergila-gila padamu.”

Zuruf hanya diam dan bertanya-tanya pada dirinya sendiri “seperti itukah karakter wanita, setelah tahu pahitnya dihempaskan begitu saja? Aku rasa tidak semua wanita, ini hanya dia saja.” Batinnya terus ribut dengan dirinya.

Baru enam bulan Zuruf bekerja di peternakan kuda dan kambing milik keluarga Zic. Setelah itu Zona adik perempuannya Zic menyukainya. Awalnya ia memang menolak keras nikah dengan Zona, tapi semua penuh PAKSAAN! sampai dipenjarakan di penjara bawah tanah agar tidak bisa kabur. Ketika tinggal bersama Zona malah banyak menununtut Zuruf dengan permintaan yang banyak.

Pagi hari ia berangkat dari rumahnya menuju sumber peternakan. Baru sampai di gerbang, terdengar suara teriakan yang amat lantang! “Enyah sana! Pergi kau! Lelaki miskin! Tidak ada gunanya! Aku tak sudi melanjutkan hubungan pernikahan dengan orang sepertimu! Pergi! Engga ada kerja-kerja lagi!” Bentak Zona dari Ujung kastil menggunakan pembesar suara.

Seketika itu juga Zuruf langsung balik kanan. Ia benar-benar dicampakan oleh wanita yang berada. Yang dulunya naksir, kini mengusir. Ia hanya mengelus dada dan meninggalkan janda itu. Dan dirinya pun telah menjadi duda.

Ia pergi, masih bersama motor Suzuki next bututnya yang berwarna coklat tua. Digerakan-nya motor menuju rumah, rumah yang tadinya tempat tinggal mereka. Kini dilepas ke pemilik kontrakannya. Barang-barang yang dimilikinya pun dijual murah. Semua hasilnya ia gunakan untuk kembali berkelana. Sebelum itu ia juga tak lupa menjual motor next butut kesayangannya.

Kini ia berjalan seperti semula ia pernah bertemu Zic di Padang pasir yang begitu terik. Zuruf sangat suka karena mereka lebih menyalahkannya walaupun ia tidak salah, itu lebih membuatnya sangat, sangat merasa lega.

Ia tetap terus berjalan hingga menemui kumpulan majlis ilmu lalu berhenti untuk belajar. Hal itu dilakukannya sampai ia berumur 35 tahun. Di usia itulah baru ingin menikah dari lubuk hatinya yang paling dalam. Ia pun telah memiliki peternakan kuda dan kambing sendiri, bahkan sudah punya percetakan buku pribadi yang ia beri nama Zurufoundation press. Baik percetakan maupun peternakannya benar-benar berkembang sangat pesat. Semua ia yakini sebagai ganti dari semua penghinaan yang ia terima di hari kemarin.
Bahkan kini Zona dan Zic bekerja di peternakannya, Ibu dan Ayahnya Zic dirawat oleh Zuruf karena telah masuk usia tua dan tak mungkin lagi untuk bekerja.

Zuruf hanya banyak-banyak bersyukur kepada yang Maha Pencipta atas semua potongan kejadian yang menimpanya.
“Semua ini karunia Tuhanku, untuk mengujiku, apakah aku bersyukur atau ingkar akan ni’mat-ni’matnya.”

Walaupun Zona dan Zic pernah berlaku kurang ajar kepadanya. Ia tidak membalasnya, bahkan waktu kerja bagi Zona dan Zic dipersingkat. Ia merasa bisa seperti sekarang ini, salah satunya berkat kenal dengan mereka berdua serta kedua orangtuanya.

Dan kini Zuruf pun telah menikah dengan wanita cantik dan santun yang lebih muda darinya 9 tahun. Kurang lebih umur wanita yang dinikahi Zuruf 26 tahun. Namanya adalah Zoya, yang artinya “Mencintai dan peduli” mereka pun sudah dikarunia dua orang anak, satu laki-laki bernama Ziczuic yang artinya konselor yang hebat karena sangat mengerti orang-orang lain, sedang Zuic adalah isim tasghir dari zic yang artinya Zic junior, yang berarti juga ia ingin membuktikan akan meregenerasi Zic yang sudah ada. Dan satu anak perempuan yang bernama Zonazuin. Ini pun begitu, yang artinya Zona adalah kondisi. Sedang Zuin pengecilan dari Zona, artinya Zona junior. Zuruf berharap akan mencetak ulang Zic dan Zona dengan motif perbaikan dan penuh penjagaan dengan full Akhlaqul karimah.

Zic dan Zona hanya kesal dan kesal melihat keadaan Zuruf yang begitu berbalik 360 derajat. Tapi apa daya mereka berdua tak berkuasa sama sekali, bahkan terhadap dirinya sendiri.

“Kita ini bukan siapa-siapa ya, hanya manusia yang diberi kesempatan beribadah, bertaubat, dan berbuat baik. Takkan ada untungnya berlaku semena-semena. Yang kita miliki semuanya hanya titipan, bahkan jiwa raga kita pun titipan yang akan dimintai pertanggungjawabannya kelak. Ingat ya di atas langit selalu ada langit. Di bawah tanah masih ada tanah. Jangan lupa selalu ingat cara bersyukur. ‘sombong’ bukan selendang yang pantas bagi manusia. Ia hanya pantas bagi Pencipta yang Maha Kuasa.” Nasihat Zuruf di depan Zoya, Zuic, Zuin.

@Rtd. Cileungsi.
Ahad 27 Juni 2021.
hlb©

Cerpen Karangan: halub
Blog: Huzuryakindir.blogspot.com
halub dari Cileungsi, tinggal di Masjid Darurrozaq sebagai pembantu masjid.
Tangsel-Pamulang, terima kasih sudah bersama hingga lulus SD.
“Pencipta Terima kasih atas segalanya”

Cerpen Lebih Lega Kalau Mereka Menyalahkanku (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Mystery Of Love (Part 2)

Oleh:
“Derika?” Tanya Anfa hati-hati. “Sebentar ya.” Aku pun berdiri dari kursiku dan mengahmpiri Sandi. “Sandi.” Panggilku dengan suara serak, orang yang dipanggil pun menoleh dengan kaget. “Derika.” “Sandi mereka

Surat Senja Untuk Fuada

Oleh:
“Tahukah kamu, Fuada, kapan tulisan-tulisan ini diikat oleh penaku dalam kertas kusam ini??” “Senja” Banyak hal yang kupelajari dari senja, dan kau harus tau!!! Pertama, aku melihatmu untuk kali

Pasir di Pucuk Ilalang

Oleh:
Gelap malam yang begitu menyelimuti bumi kecil dengan warna hitamnya yang menggugah kalbu, untuk terus menyebut asma-NYA seiring deras hujan bak air terjun dari pegunungan dan kilatan petir yang

Sepeda Kenangan Dari Ayah

Oleh:
KKKRRRRIIIINNGGG! KKRRRRRIIINGGGGG! Suara sepeda yang baru saja dibelikan ayahnya untuk Bima. Ya setelah sekian lama ayahnya menabung untuk kado ulang tahun anak tersayangnya itu. Dibanding dengan kakaknya ayah lebih

Cincin Kawin Ibu

Oleh:
Suara mesin jahit ibu sudah mulai terdengar, pertanda subuh sudah datang. Seperti biasa ibu meneriakiku untuk bangun dan salat subuh. “Bangun, Le. Sudah subuh,” Ibu yang sudah bangun lebih

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *