Lelaki Aib

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Keluarga, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 31 May 2017

Aku ingat suatu masa ketika itu aku pernah menjadi lelaki. Namun, kurasa itu sudah lama sekali. Hari-hariku kini adalah hari-hari dimana aku mengenali diriku sebagai seorang bernama Santi, bukan lagi Sandy yang sewaktu kanak-kanaknya pernah mengejar dan menyepak bola di kampung dengan semangat dan kucuran keringat, juga bukan lagi Sandy yang pernah punya cinta monyet dengan seorang gadis ingusan ketika mengaji dulu. Kini aku adalah wanita dan tentu saja, aku menyukai pria.

Aku sengaja melupakan banyak hal di masa lalu. Namun, ketika salah satunya tiba-tiba muncul maka aku tak pernah menyukai kenangan itu. Terlebih kenangan saat aku beranjak remaja; saat itu, disebabkan kedapatan mencoba baju ibu, menggunakan celak dan lipstick-nya untuk pertama kali, murka ayahku pun meledak-pecah. Aku diusir, diseret keluar rumah sebelum akhirnya dilempar layaknya kain buruk hingga terjengkang ke halaman berlumpur, tepat pada malam yang dihantam badai dan kelebat-kelebat petir. Serupa badai, seperti itulah kemarahan ayahku saat itu.

Aku telah begitu takut pada ayahku sendiri hingga tak lagi peduli pada ibuku yang tersedu-sedu tak berdaya di pojok rumah, menyesali tindakan ayahku yang tak sanggup dibendung. Bayangan terakhir wajah ayahku ketika diamuk marah saat itu, yang terekam begitu kuat hingga kutak lagi sanggup membayangkan senyumnya yang paling riang, telah menghancurkan harapanku untuk diterima kembali di rumahku sendiri. Dengan berbekal hanya pakaian di badan, aku menguatkan diri untuk berjalan berkilo jauhnya, menempuh malam yang dingin dan gelap, menumpang truk-truk malam hingga akhirnya aku terdampar ke kota ini, tempat yang akhirnya menempaku menjadi diri sendiri. Dan sejak saat itu aku tak pernah ingin pulang.

Akan tetapi, sekali waktu dalam tahun-tahun yang melelahkan, saat kejemuan menyeruak pelan ke dalam ruang-ruang kehidupan, sama halnya dengan perantau-perantau lain, terbersit juga dalam hati, keinginanku untuk mengunjungi kedua orangtua di kampung. Namun, keinginan itu selalu dikomentari oleh teman-teman satu duniaku dengan nada sinis dan menjatuhkan semangat. Berkali-kali pula mereka mengingatkanku tentang alasan pengusiranku dari rumah, mengingatkanku pada kenyataan bahwa betapa tak diinginkannya orang-orang seperti aku berbaur dengan tatanan sosial. Hatiku selalu saja mencelos ketika mendengar mereka berceloteh.
“Pulang berarti babak belur, Bo’!” ujar Mince genit, sedang sibuk mengacak-acak rambut pelanggan di dalam baskom keramas. Tangannya berlumur busa sampo. Rambut merahnya yang mirip ekor kuda bergoyang-goyang nakal di atas punggungnya yang agak bongkok. “Orang-orang kampung pasti akan berjejer di tepi jalan mengejekmu. Bahkan mereka tak segan-segan melemparimu.”
“Kau kira kami di sini tak punya keluarga, apa?” timpal Margareth di ujung ruangan tak acuh, tangannya cekatan memainkan gunting di kepala seorang wanita yang tampak senang dengan model baru rambutnya. Bedaknya begitu tebal, meskipun demikian, tetap saja tak kuasa menutupi tompel berbulu sebesar koin di tengah pipi kirinya. Tubuh lelakinya masih membayang jelas dari balik bajunya yang ketat. “Pasti punya, donk! Tapi mereka, biasanya tak menerima kami. Tak pernah! Mereka malu dengan kita yang seperti ini.”
“Kita hanyalah sampah bagi mereka. Hal-hal yang menjijikkan dan patut dibuang,” lirih Rosalina di sudut ruangan, sibuk merias pelanggan yang sedang memejamkam mata. Tubuhnya yang gempal dan sedikit berotot sungguh menjadikannya seperti badut wanita yang menyedihkan. Namun bagi kami, meski dia adalah sosok yang paling buruk dan tua —dengan wajah tak rata dan nyaris tak ada bentuk— adalah pribadi yang paling lembut di salon ini. Kami menyayanginya bagai ibu kami sendiri.
“Di sini bukan kampung kita, Santi” ujarnya kemudian, dengan nada sama lirihnya, “Ini adalah kota. Hingar-bingar kehidupan telah mengabaikan terlalu banyak hal. Uang telah menjadikan orang-orang kota serba permisif. Itulah alasan mengapa kita memilih terdampar di sini. Hanya di sinilah kehidupan kita ada. Cuma di sini kita dipandang sebagai manusia.”
Yang lain mengangguk setuju dengan wajah mengabut suram, getir menyadari keberadaan mereka yang hina. Para pelanggan tampak tak peduli, atau barangkali berpura-pura tak peduli, memilih memicingkan mata hingga rambut mereka selesai ditangani, jelas-jelas menghindarkan diri agar tak terlibat ke dalam diskusi sensitif itu. Aku termenung beberapa saat, kemudian dengan lemah melepaskan pandangan keluar jendela berkaca besar. Merek ’Salon Cantik Jelita’ tertulis setengah melingkar di sana.

Rosalina benar. Kota ini telah memberiku nafas. Nafas bagi eksistensiku. Namun kerinduan itu, bukankah juga sebentuk nafasku yang lain? Senyum ibu dan tawa ayah yang merekah, adalah juga bagian dari hidupku? Nafasku juga?
Meski cuma sekali, sejak terakhir aku pergi dan tak pernah kembali lagi, aku sungguh ingin menghadapkan muka, menjatuhkan diri ke kaki mereka layaknya seorang anak yang disayangi. Ah, akankah ayah sanggup memberiku nafas itu? Menerimaku seperti dulu? Memberikanku senyumnya yang paling riang hingga hati ini mampu melupakan segala pedih?

Aku mengalihkan pandangan saat berikutnya, berharap kepedihan sunyi ini tak melahirkan air mata. Kemudian mataku terpaku pada cermin besar di depanku, dan mulai menatap bayangan diriku dengan tatapan seolah segala harapan telah lepas-pergi. Bayangan separo wanita dalam cermin itu tampak kurus, berkulit gelap dan kusam. Sosok itu sungguh jauh dari kecantikan wanita seharusnya. Dengan rambut dibiarkan tergerai, wajah tak menarik yang tertutup bedak tebal dan lipstik menyala, mataku menyusuri tubuhku sendiri, dengan perasaan yang tak pernah menyenangkan. Inikah aku? Demikian menyedihkannya? Jika dalam tubuh ini, jiwa ini, adalah wanita, mengapa aku tidak terlahir sebagai wanita saja? Jika aku adalah lelaki, mengapa aku tak seperti lelaki biasa? Caraku berjalan, berbicara, bahkan caraku dalam diam, sungguh tak sama kaum adam itu. Sebagian orang malah berpendapat tak adil bahwa caraku bersikap pastilah dibuat-buat untuk mencari uang. Barangkali, begitu juga cara ayah memandangku jika seandainya aku begitu berani pulang dengan wujud seperti ini. Namun tahukah mereka, aku hanya berusaha menjadi diri sendiri? Tak lebih dari upaya untuk mencari ruang bagi eksistensiku? Ya, hanya agar aku dianggap ada. Juga ingin dipandang sebagai manusia? Itu saja. Aku ingin hidup wajar layaknya manusia normal lainnya, meskipun aku tahu, tubuh ini menyandang sebuah perbedaan, yang ternyata tak mudah diterima.

Kurasa aku telah begitu meresapi kata-kata Rosalina dan berulangkali menegaskan dalam hati bahwa kepulanganku ke kampung ini hanya akan sia-sia; bahwa hadir dalam wujud seperti di depan hidung mereka sementara orang-orang kampung mengetahuinya, tentu saja akan mempermalukan orangtua sendiri. Aib! Aku sadar sekali akan hal itu. Kepulanganku hanya akan mencoreng muka mereka. Begitu yang selalu diingatkan Rosalina.
Namun ternyata aku tak pernah benar-benar meresapi kata-kata Rosalina. Keraguanku untuk pulang dan berupaya memberikan alasan masuk akal atas perasaan itu, seperti yang kusadari kemudian, ternyata hanyalah untuk memuaskan teman-temanku saja, sementara aku tahu, aku telah banyak mengorbankan perasaanku sendiri. Aku sadar, dan tak pernah benar-benar mengungkapkannya bahwa kerinduanku selama ini, sama sekali tak sanggup kubendung seberapun kata-kata Rosalina menyentuh perasaanku, seberapapun besarnya kepedulian teman-temanku pada perasaanku yang suatu saat nanti bisa terluka sangat dalam. Wajah -wajah itu— wajah ibu yang kucinta, mungkin juga ayah yang kusayang —yang selalu saja menggempur benakku akhir-akhir ini dengan kilasan-kilasan senyum masa lalu mereka, malah menambah dorongan batinku untuk pulang. Perasaan rindu yang selama bertahun-tahun ini kumampatkan terus ke lubang kelam tak bernama, kini seakan memuntahkan segalanya. Aku benar-benar kewalahan dan akhirnya memang tak punya pilihan lain. Maka akhirnya kuputuskan untuk mengepak barang pada malam berikutnya.

Besoknya, di awal keberangkatanku pada pagi yang agak mendung dan suram, teman-teman satu salon melepasku di ambang pintu dengan tatapan tak rela, berharap lebih dari apapun agar aku berubah pikiran, dan kalau bisa, melenyapkan keinginan pulang itu untuk selamanya. Namun seperti yang telah kuutarakan pada mereka pada malam terakhir sebelum hari keberangkatan, aku sepenuhnya telah membulatkan tekad.

Dalam perjalanan di atas bus ekonomi yang hening, walau setengah mengantuk, aku memaksakan diri tetap terjaga. Sudah sekitar delapan jam aku duduk di atas bus ini, di samping seorang nenek bongkok, berpakaian lusuh, tengah pulas tertidur dan tampak sangat letih. Sesaat, rasa ibaku tumpah bersama bulir-bulir air mata. Pikiranku melesat pada kenangan silam, membayangkan wajah ibu yang lembut dan tersaput senyum getir. Sesak di dadaku hendak meledak pecah, tapi dengan cepat aku melempar pandangan keluar jendela, berharap kesedihan ini berlalu, berkelebat tertinggal bersama pemandangan senja hari yang membosankan di luar bus.

Kesedihan tadi akhirnya menghantarkanku pada lelap yang dipenuhi mimpi-mimpi suram dan beberapa kilasan memori kelam tak terjamah, dan ketika kuterjaga beberapa jam sesudahnya dengan segera aku merasa lega bahwa tak satupun dari mimpi-mimpi tersebut berhasil kuingat. Namun, perasaanku berubah drastis ketika bus mulai mengurangi kecepatan dan mengambil ancang-ancang untuk berhenti di sebuah terminal tua yang sepi. Hari ketika itu, aku sangat yakin, tengah malam.
Ketegaran yang telah kubawa dari salon sehari sebelumnya seolah runtuh demikian cepat. Begitu mesin bus telah mati total pada detik berikutnya, aku mulai digerogoti perasaan tak yakin untuk bertemu dengan kedua orangtuaku. Kampung ini tampak begitu asing di malam hari, layaknya kota tua yang telah bertahun-tahun dilupakan. Aku tak yakin berani turun dari bus dan meneruskan perjalanan ini.

Setelah beberapa menit bergulat dengan pemikiranku sendiri dan menimbang-nimbang dalam hati apakah perjalanan ke rumah orangtuaku ini layak diteruskan atau tidak, akhirnya keputusanku berakhir pada penerimaan tawaran salah seorang tukang ojek yang siap menghantarkanku sampai ke tujuan.
Tukang ojek itu masih sangat muda. Sekitar dua-puluhan. Jelas sekali beberapa tahun di bawahku. Angan-anganku terbang liar ke tempat-tempat nan tinggi dan indah; jika aku ini benar-benar seorang wanita, menarik dan cantik, pastilah laki-laki tukang ojek ini menaruh rasa suka padaku, dan akhirnya aku menemukan lelaki yang tepat untuk mengisi kekosongan hidupku selama ini. Kami akan memenuhi kehidupan dengan tawa dan cinta.
Tapi bayangan itu memudar secepat datangnya, dan aku segera terpuruk kembali ke dalam perasaanku yang tak berharapan, bahwa aku akan selamanya hidup sendiri, tanpa teman hidup sampai mati. Juga dengan getir kusadari, tak akan ada yang sanggup mencintai laki-laki separo wanita seperti diriku. Ya, tak akan ada hati yang mencintai jiwa abu-abu ini.

Sesaat setelah aku duduk di boncengan, dengan segera motor itu melaju kencang ke dalam kegelapan, menembus udara malam yang dingin dan berkabut, kemudian melintasi jalan berkerikil tak beraspal yang membelah hamparan-hamparan liar pucat tertimpa cahaya bulan.
“Ke rumahnya Pak Saidi, ya Kak?” tanya tukang ojek itu memastikan lagi. Aku langsung membalasnya dengan gumaman tanda setuju. Di kampung ini, para lelaki memanggil setiap wanita dewasa dengan sebutan ’Kakak’. Bunyi itu, entah mengapa, membuatku begitu berarti. Begitu ada. Begitu diakui.
“Emang Kakak ini siapanya Pak Saidi?” tanya tukang ojek itu lagi.
Selain udara dingin malam yang membuat kaku, lebih dari itu, lidahku terasa kelu. Pertanyaan ini seolah menyudutkan pada dinding tak berpintu. Jawaban apa yang mesti kuberikan? Kejujurankah?
Meski dibalik lipatan hasratku terselip harapan untuk diakui dan diterima, membeberkan statusku sebagai anak semata wayang Pak Saidi yang kabur dan tak pernah kembali, kurasa hanya menjadi bumerang yang akan memporakporandakan sisa kebahagian. Ayahku, jelas tak suka jika anak lelakinya, akhirnya benar-benar menjelma perempuan. Lalu, bagaimana dengan ibu? Ibuku yang lembut dan bijak, masihkah cintanya padaku sebesar dulu? Dan memaafkan segala yang kupunya?
“Aku keponakannya!” kataku akhirnya, sangat berharap tukang ojek itu tak bertanya lagi.
“Aku tetangga Pak Saidi,” timpal tukang ojek itu sok dekat. “Sekitar sepuluh rumah. Kakak dari mana?”
“Kota.”
“Wah, dari kota ya, Kak!” Tukang ojek itu tak segan-segan menunjukkan antusiasnya. “Suatu hari aku juga ingin ke kota. Katanya, di sana gampang cari duit. Benar ya, Kak?”
“Tidak juga.”
Tukang ojek itu mengangguk-angguk. Seolah memahami benar maksudku.

“Kasihan Pak Saidi sekarang, Kak!” kata tukang ojek itu tiba-tiba.
Darahku berdesir. Jantungku berdegup menyakitkan. Aku merasakan sebuah petanda yang akan membuat luka. “Ada apa dengan Pak Saidi?”
“Seperti mayat hidup saja.”
“Maksudnya?”
“Sudah jarang keluar rumah. Semua pintu dan jendela selalu ditutup. Bahkan siang hari. Sering duduk di ruang tamunya dan tak hentinya memandangi pintu. Lupa waktu. Lupa segala.”
Sunyi menyeregap. Udara dingin malam mengalirkan perih ke dadaku. Aku merasakan hatiku berdarah. Mataku pun mengabut.
“Lalu Bu Munar? Bagaimana keadaannya sekarang?”
“Mungkin karena itu, Kak!” tukas tukang ojek begitu yakin, “Mungkin gara-gara istrinya meninggal…”
“APA?? Ib-ibu, Bu Munar meninggal?” Aku tercekat. Tubuhku mati rasa, nyaris kehilangan pegangan. Motor pun berhenti mendadak, berdecit keras di jalanan yang berkerikil dan berdebu. Tukang ojek itu nyaris jatuh saking kagetnya.
“Maaf, Kak!” kata tukang ojek merasa bersalah, “Jadi, Kakak tidak tahu kalau istri Pak Saidi sudah meninggal?”
Aku menggeleng, berusaha menyembunyikan air mataku yang tumpah. Tapi, aku tak tahan dan akhirnya terisak.
“Duh, maaf, Kak!” Tukang ojek itu turun dari motornya. Panik dan salah tingkah. “S-saya, tidak berm…”
“Kapan?” tanyaku dalam tangis seraya mengusapkan saputangan ke mataku yang basah.
“Sudah setahun lalu, Kak! Karena sakit parah. Enam bulan berbaring saja di tempat tidur. Dulu, istri saya sering menjenguknya.”
Isakku semakin dalam. Kepedihan telah menjelma lubang besar. Lubang yang memisahkan diriku dan ibu berjuta kilo jauhnya. Lubang yang membuat benakku, bahkan rinduku, seolah tak sanggup lagi merengkuh bayangannya.
“Kalau saja, anaknya sudi pulang,” gumam tukang ojek itu, “Mungkin tak akan begini…”
Hening menjelma sejenak, begitu pongahnya bagai dinding kelam raksasa, “Ya, Aku telah terlambat pulang!” bisikku lirih, penuh sesal.
Aku terduduk ke tanah yang kering dan berdebu. Segala daya, sisa tekad, dan kerinduan bagai tercerabut. Ketidakberdayaan yang bergelombang-gelombang menghantamku dari dalam hingga rasanya aku ambruk ke jurang curam dan terhempaskan.

Pagi datang lebih cepat dari yang kuduga dan tanpa sadar, aku telah dihantarkan tukang ojek itu sampai ke depan rumah. Tukang ojek itu pun berlalu, meski tampak enggan meninggalkanku yang berdiri mematung di halaman terlantar.
Rumah kayu itu telah doyong ke samping, menyiratkan keletihan yang telah berkelindan dengan kepedihan bertahun-tahun lamanya. Kelapukan yang menyakitkan dan kesuraman hari-hari, bagai kabut yang enggan pergi, terus menggerogoti dinding-dinding dan tiang-tiang. Juga daun-daun.
Kini aku mendekati rumah itu dengan perasaan hampa. Tak lagi ada harap. Rindu itu pun telah pupus. Dengan getir aku mendorong pintu kayu yang reot itu. Derit panjang memilukan melanglang ke sudut-sudut kelam ruangan, seakan mengoyak luka lama.
Lalu darahku berdesir! Beberapa langkah di depanku, sebuah siluet lelaki tua tengah terduduk merana di salah satu kursi rotan. Asap rokok yang mengepul-ngepul dari mulutnya meneriakkan kesunyian yang menyakitkan.

“Ayah?” kataku tercekat.
Tak ada jawab. Udara pun hening. Bising pagi penuh kicau di luar rumah bagai tak mampu menembus kepekatan sunyi dalam rumah ini.
Asap rok*k terus mengepul. Namun tetap tak ada suara. Tak ada derit kursi. Semua bagai mati. Waktu pun berhenti.
Lalu aku berjalan mendekati jendela dan membukanya lebar-lebar. Cahaya pagi yang hangat menghambur masuk, menyiram lelaki tua itu dengan limpahan cahaya keemasan, sementara udara pagi yang dingin segar menyelesak ke semua sudut ruang, jerih menyingkirkan kepedihan yang telah lama usang.

Lelaki tua itu adalah ayahku. Seperti yang telah diceritakan tukang ojek itu, ayahku telah bagai mati. Tubuhnya kini kurus dan ringkih, tersembunyi di balik baju longgarnya yang lusuh dan busuk. Matanya masih tak lepas dari pintu. Tatapan yang begitu kosong. Begitu muram.
“Ayah,” kataku kemudian, dengan suara bergetar. Tangisku pun pecah. “Maafkan aku!” Aku menjatuhkan diri ke kakinya, membasahi ujung jemari kakinya dengan air mata dan liurku. Aku terisak merana.
“Kau pulang, Sandy?” tanya ayahku tiba-tiba, dengan suara sangat serak. Suaranya begitu berat, lirih, dan dalam, seakan berasal dari masa lalu yang kelam. Aku mendongak, dan melihat ayahku seperti baru saja terbangun dari tidurnya yang sangat panjang dan melelahkan.
“Ini aku, Ayah,” jawabku dengan cucuran air mata. Aku bangkit dan berlutut di depannya.
Lama sekali ayahku menatapku, seolah mata itu begitu payah. Namun, dalam sekejap, mata tua itu berubah menjadi garang berbahaya.
“Tapi, kau bukan Sandy!” bisik ayahku mengerikan. “Kau bukan Sandy!”
“Aku anakmu, Ayah!” kataku memelas. “Aku anakmu…” Aku terisak dan akhirnya terjatuh melorot ke kakinya.
“PERGI KAU!” hardik ayahku dengan suara gemetar diamuk marah. “Aku tak punya anak perempuan sepertimu! Anakku LAKI-LAKI! Kau hanya aib busuk keluarga ini! PERGIII..!!!” Suara itu menggetarkan rumah ini. Detik berikutnya, tendangan dari ayahku membuatku tersungkur ke lantai tanah, menyisakan pecah di ujung bibir, dan mengalirkan darah kental-hangat.

Aku bangkit, masih terisak. Segala kenangan di rumah salon mengguyur benakku; tawa duka, lirih luka, serta harapan dan impian yang tak pernah mewujud nyata, berkecamuk dalam badai kepedihan di gemuruh dadaku. Rosalina, Margareth, Mince, dan lainnya, hanya mereka keluargaku yang tersisa. Lalu ayahku?
Setelah merangkak mendekati pintu untuk menghindari serangan berikut ayahku, aku menoleh ke belakang. Ayahku sudah tenggelam lagi ke dalam lamunan panjangnya, mengepulkan lebih banyak asap rok*k. Kesuraman berebut menyelebunginya dan udara pun kembali sunyi, bahkan lebih kental dari sebelumnya. Kehangatan yang sesaat tadi telah dihantarkan cahaya matahari ke setiap celah rumah ini, kini telah menguap. Hanya puing-puing kepedihan yang tersisa. Maka telah kuputuskan, dan berjanji dengan diri sendiri, cukuplah ini kali terakhir aku pulang. Aku tak punya siapa-siapa lagi di sini. Biarlah aibku terbenam ke dalam kenangan masa lalu. Masa lalu kelam yang tak pernah ingin kugali. Biarlah semuanya lebur bersama kesunyian pekat rumah ini. Bersama ibuku. Juga ayahku.

Cerpen Karangan: Seprianus
Facebook: Seprianus Cecep Rian Kevin

Cerpen Lelaki Aib merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Bayangan Dalam Risauku

Oleh:
“Ayah, kenapa kita tidak bisa mengulang masa lalu?” Seseorang yang dipanggil ayah itu menengok ke arah bocah kecil di pangkuannya, dengan beberapa kerutan di dahinya. “Kenapa kamu bertanya seperti

06.15.30

Oleh:
Minggu, 17.30 WIB. “Keputusan Astrid sudah bulat! Apapun yang ayah dan ibu bilang gak akan mengubah pendirian Astrid untuk kuliah di Yogya!!!” bentak Astrid ketus kepada kedua orangtuanya. Sore

Kemalangan Seseorang

Oleh:
Saya punya sahabat, namanya Lisa, Risa, dan Rista. Lisa mengajak kita untuk menghabiskan malam tahun baru bersama-sama dan bersenang-senang untuk melepas beban di kepala kita setelah perang dengan soal

Manusia Cyber

Oleh:
Udara panas terbiasa menyengat kulitku di antara gedung-gedung yang menjulang tinggi dan jalan kota yang padat dilalui kendaraan setiap harinya. Namaku Fajri, saat menjadi salah satu accounting di salah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *