Lelaki Paruh Baya di Sekolah Tua

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Inspiratif, Cerpen Kehidupan, Cerpen Pendidikan
Lolos moderasi pada: 31 January 2013

Kaki kecil nya tak pernah letih untuk melangkah menuju sekolah tua itu. Seperti gubuk yang telah lama ditinggal oleh penghuninya. Meja dan kursi enggan menyatu dengan kakinya. Papan tulis hitam di dinding masih berdebu oleh kapur. Loteng triplek yang lepas melambai-lambai diatas kepala lelaki paruh baya itu. Dinding yang terbuat dari papan mulai berlubang dimakan rayap. Namun, semua itu tak menyurutkan langkahnya untuk berbagi ilmu dengan murid-muridnya.

Umur lelaki paruh baya itu sekitar 52 tahun. Tangan dan pipinya sudah mulai keriput bahkan giginya telah mulai rontok satu persatu. Pagi itu jam menunjuk angka 7, lelaki paruh baya itu bergegas mandi dan bersiap-siap untuk menuju sekolah tua tempat ia mengabdi. Baju yang berlubang-lubang bekas abu rokok yang menjadi ukiran yang unik selalu ia kenakan.

Dengan sigap dan lincah, kaki kecilnya berjalan menyusuri tanah yang berdebu dan berlubang-lubang. Kadang kakinya tersandung batu-batu yang tergelatak dijalan. Namun senyum dan tegur sapa lelaki paruh baya itu selalu terlontar untuk orang-orang yang duduk-duduk dikedai sambil menikmati segelas kopi dan selinting rokok.

Sekolah tua, sekolah yang penuh kenangan bagi lelaki paruh baya. Sudah 20 tahun lelaki paruh baya mengabdi di sekolah tua itu. Kadang cacian dan pujian yang ia dapat. Semangatnya untuk mendidik tak pernah pudar. Meskipun ia hanya tamatan SLTA, tapi ia berharap anak didikannya memiliki gelar yang lebih tinggi.

Hal yang membuat ku sedih dan teriris ketika mengingat lelaki paruh baya itu diserang oleh keluarga salah satu siswanya, kebetulan ia saudara dekat dari lelaki paruh baya itu. Entah apa sebabnya aku tak tahu pasti. Lelaki paruh baya itu dipukul pakai kayu sebesar lengan dengan kuatnya oleh ibu siswa itu. Sampai kaki lelaki paruh baya itu lembam dan terkilir. Semua itu terjadi didepan mataku…

Aku tak bisa melupakan semua itu sampai saat ini…

Dendam?? mungkin, karna itulah sifat dasar ku…

Sulit untuk dirubah, namun telah sering dicoba…

Sebelum kejadian itu, lelaki paruh baya telah mengingatkan aku dan kakak ku agar tidak ikut campur dengan urusan nya. Apapun yang terjadi dengannya biarlah ia sendiri yang tangani. Aku tak bisa berbuat apa-apa lagi. Kejadian ini tak menyurutkan langkah lelaki paruh baya.

Sekarang, impian itu menjadi kenyataan bagi lelaki paruh baya. Banyak alumni didikannya sukses dan melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi. Lelaki paruh baya merasa puas dengan perjuangannya selama ini. Dan lelaki paruh baya itu masih semangat untuk mendidik anak-anak kampung itu.

Lelaki paruh baya, semoga jasa mu dikenang selalu. Ku bangga dengan tekad hidup mu. Kan ku ingat selalu pepatah cina yang selalu kau lontarkan pada ku “berjalan seribu mil dimulai dari satu langkah”. Lelaki paruh baya, semoga semua impian mu tercapai.

To : Bapak Umrizal

Cerpen Karangan: Nilma Yuliza
Facebook: Nilma Yuliza

Cerpen Lelaki Paruh Baya di Sekolah Tua merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Ruang Tunggu Bandara

Oleh:
Bandara udara internasional minangkabau, Sumatera Barat. Kami menjejali langkah menuju ruang tunggu bandara, di sampingku seorang pria sedang asyik memotret langit-langit bandara yang dihiasi lukisan-lukisan pemandangan Sumatera Barat, mulai

Kado Untuk Mama

Oleh:
Selimutku sedikit terbuka pagi itu, perlahan udara dingin nan menusuk menyentuh pori-pori kulit kakiku. Jelas, aku memilih tidur lagi pagi itu. Jam dinding pun samar-samar ku lihat masih pukul

Yang Terindah Tapi Tidak Selamanya

Oleh:
Ini mungkin hanya cerita yang sering kalian dengar. cerita tentang lelakiku yang sekarang berada di sana. sebut saja dia ‘Gigi’. dia adalah teman SD-ku. kami sempat beberapa tahun satu

Surat Untuk Idaman

Oleh:
Sengaja aku buat surat ini untuk kenang-kenangan kepada keluargaku kelak. Siapa tahu, ya siapa yang bisa tahu persis jumlah umurku ini? Aku bisa baca tulis, dan tentu harus kupergunakan

Tentang Wisnu Anak Kelas Satu

Oleh:
“Krincing… krincing… krincing…” Itu suara uang logam beradu satu dengan yang lain di dalam saku. Saku itu punya Wisnu anak sekolah kelas satu di SD Negeri Kosong Satu di

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Lelaki Paruh Baya di Sekolah Tua”

  1. Devany says:

    Mba, saya izin mengeprint cerpen ini untuk tugas bahasa indonesia. Terima kasih

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *