Lelaki Trotoar

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan
Lolos moderasi pada: 20 February 2019

Hujan sudah reda, tinggal gerimis yang menyisa. Entah hujan akan berhenti atau akan turun lagi. Senja berjalan sambil sesekali melompat di atas trotoar yang sudah banyak berlubang. Dia tampak terburu-buru menuju halte tempatnya biasa menunggu bus yang biasa mengantarnya menuju kantor. Untunglah sekarang hujan reda, sehingga Senja bisa berangkat ke kantor tepat waktu. Tidak seperti yang lainnya, Senja biasa naik kendaraan umum, berbaur dengan banyak orang untuk pergi ke kantor. Sebenarnya dia memiliki mobil pribadi, tetapi dia enggan dan jarang mengendarainya, karena lebih asyik bila bersama banyak orang di perjalanan.

Di samping halte, tampak laki-laki di depan toko. Umurnya mungkin 50 tahunan, tetapi dia tak seperti kebanyakan orang seusianya. Dia basah kuyup, mungkin karena kehujanan tadi pagi, bajunya lusuh, rambutnya sebahu dan tampak kumal sudah seperti keset yang terbuat dari sabut kelapa. Banyak orang berlalulalang di depannya, tetapi orang-orang itu berjalan menjauh ketika akan sampai di depannya, kebanyakan melihatnya jijik, tidak ada yang peduli padanya. Entah dia orang gila atau apa, Senja tak tahu pasti, yang pasti lelaki itu selalu saja di situ setiap pagi. Apakan dia tidak memiliki tempat tinggal? Atau keluarga? Entahlah..

Bus yang Senja tunggu datang, sampai Senja duduk di dalam bus dia memandangnya, pandangan lelaki itu tampak kosong. Bahkan mungkin lelaki itu tak sadar jika sedari tadi ada orang yang memperhatikannya. Bus terus melaju meninggalkan halte, yang juga menjauhkan pandangan Senja kepada lelaki itu sampai dia tidak terlihat lagi.

Sepulang dari kantor, seperti biasa Senja turun di halte yang sama dengan halte yang digunakannya menunggu bus. Jalanan sekarang ramai tidak seperti tadi pagi. Cuaca juga panas, tidak seperti pagi tadi yang hujan. Entah.. hari-hari ini cuaca tak menentu, terkadang hari hujan tetapi tiba-tiba saja panas. Semilir angin menerpa tubuh semampai Senja siang itu, dia berjalan menuju rumahnya setibanya di halte. Tetapi dimana lelaki tadi? Iya.. lelaki yang pagi tadi duduk di depan toko itu. Dia tidak terlihat sedari tadi, dia sudah beranjak. Siang itu sangat panas, jauh dari keadaan pagi tadi, aspal terasa sangat keras dan panas siang itu.

“pergi kau.. dasar orang gila, kabalikan roti itu sekarang juga..” Senja tersentak dengan suara yang tiba-tiba didengarnya. Dia mencari sumber suara itu, ternyata seorang ibu-ibu pemlik toko seberabg jalan yang sedang marah-marah kepada seorang lelaki. Lelaki itu menunduk, tetapi juga diam dan sepertinya tengah mendekap sesuatu. Ahh.. itu lelaki yang tadi pagi. Senja tersentuh melihat kejadian itu, lalu dia menghampiri mereka.
“permisi bu.. ada apa ya bu?” Tanya Senja kepada ibu pemilik warung itu.
“ini mbak ada orang gila ambil roti di toko saya” jawab ibu itu dengan nada yang kesal
“berapa bu harga roti itu? Biarkan saya yang membayarnya” kata Senja sambil menyerahkan uang sepuluh ribuan kepada ibu pemilik warung.
“mari pak pergi dari sini, bawa roti itu” ajak Senja lembut kepada lelaki itu, lelaki itu hanya terdiam, sedikit menengadahkan wajah kepada Senja sambil sedikit tersenyum tanpa sepatah katapun terucap dari mulut lelaki itu. Mungkin itu cara dia berterimakasih kepada Senja.

“nama bapak siapa?” Tanya Senja tiba-tiba membuka pembicaraan. Dia merasa penasaran juga dengan lelaki itu, tetapi lelaki itu diam saja, wajahnya pun datar-datar saja.
“rumah bapak dimana?” Senja kembali mencoba mengajak bicara, tetapi tetap saja lelaki itu diam saja. Beberapa orang memandang Senja, sikap mereka seolah mengisyaratkan kepada Senja agar menjauhi lelaki itu.

Setelah mencoba berbicara kepada lelaki itu tetapi tidak ada sedikitpun hasilnya, Senja akhirnya menyerah juga, Senja memutuskan pergi meninggalkan lelaki itu untuk melanjutkan perjalanannya tadi, bahkan lelaki itu pun tampak tidak peduli dengan kepergian Senja, dia tampak sedang asyik menikmati roti yang dibelikan Senja untuknya tadi. Sepanjang pertemuannya dengan lelaki itu, hanya sekali saja lelaki itu mengekspresikan diri, yaitu sewaktu keluar dari toko tempatnya mengambil roti.

Semenjak hari pertama kerja, semenjak itu juga Senja selalu melihat lelaki itu, setiap hari dan selalu. Terkadang dia berjalan yang sepertinya tanpa arah yang jelas dengan tatapan kosong, terkadang sekedar duduk di trotoar depan toko yang tentu saja masih dengan tatapan kosong. Senja tak tahu pasti siapakah dia. Tetapi menurut cerita orang-orang, lelaki itu adalah korban keanarkisan pendemo tahun 1998, rumahnya dibakar dan dijarh. Lalu keluarganya? Tak ada seorangpun yang tahu. Mungkin saat itu adalah titik balik dari kehidupan lelaki itu, iya.. titik balik dari dari hidup yang mungkin terasa sempurna, dalam waktu sekejap berubah menjadi kehancuran yang begitu luar biasa dan mengerikan, dan mungkin saat itu juga lelaki itu mulai berada dan memutuskan tinggal di sepanjang trotoar kota ini. Uniknya lelaki itu hanya berada di satu sisi trotoar, dia tak pernah menyeberangi jalan raya menuju trotoar seberang. Ahh.. perubahan hidup memang sangat cepat, jika hari ini kita bersukacita, bisa saja besok kita akan berduka. Tak banyak orang yang mempedulikan lelaki itu, hanya segelintir orang saja orang yang mau peduli mungkin sekedar member makanan. Seandainya lelaki itu diberi cermin apakah dia masih bias mengenali dirinya sendiri?

Satu bulan berlalu, waktu terasa bagitu cepat. Senja tetap dalam rutinitasnya. Menunggu bus, pergi ke kantor, berjalan dari halte ke rumahnya dan sebaliknya. Tetapi, ada satu hal yang tidak ada pagi itu. Ya .. lelaki trotoar itu, dimana dia?

Sore hari, sewaktu Senja pulang dari kantor, setelah turun dari bus Senja mampir ke warung untuk membeli makanan. Di warung itu ada 3 orang bapak-bapak yang sedang berkumpul. Salah satu dari mereka bercerita bahwa semalam terjadi kecelakaan, seorang lelaki setengah baya tertabrak truk yang sedang melaju kencang. Ketika diidentifikasi ternyata lelaki yang tertabrak itu adalah orang gila.

Oh.. maksudnya lelaki trotoar itu, tetapi mereka menyebutnya orang gila. Semalam lelaki trotoar itu telah keluar dari zonanya, dia keluar dari trotoar menuju jalan raya, yang ternyata saat dia memutuskan untuk meninggalkan zonanya itu, malaikat juga mengeluarkannya dari dunia ini selama-lamanya. Tuhan telah memanggilnya, mungkin sudah saatnya penderitaan lelaki itu berakhir dan sudah saatnya dia bahagia di pangkuanNya. Amin…

The end

Cerpen Karangan: Diana Natalia
Blog / Facebook: Diana Natalia

Cerpen Lelaki Trotoar merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


17:00

Oleh:
Wanita tua itu masih terdiam di beranda runahnya bersama secangkir teh hangat di kanannya. Tangannya yang telah keriput telah menunjukkan umurnya yang telah lama, setengah abad lebih enam tahun

Relung Hati Sang Wanita Orange

Oleh:
Kumulai hariku di saat penghuni kota masih terhanyut akan belaian mimpi mereka, bahkan deru indah ayat suci belum terdegar. Dengan menahan letih yang tak pernah lepas dari setiap sendi-sendi

Mentari Pun Masih Tetap Tersenyum

Oleh:
Pagi ini langit bergelayut cuaca yang sangat cerah, dengan cahaya matahari menatap tajam ke arah bumi. Sinarnya yang tajam menyengat lembut menyapa tubuh tubuh manusia yang berkerumun di pinggir-pinggir

Sekardus Uang Cinta Untuk Lala

Oleh:
Pagi itu Selasa 20 Juni 2017. Bak petir mengelegar, gempa 9.9 skala ricter menguncang dasyat Negeri Bencoolen yang notabene merupakan pagi yang sejuk, meriah, aman, rapi, kenangan. Akronim dari

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *