Lembayung Senja Dikala Hujan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Islami (Religi), Cerpen Kehidupan
Lolos moderasi pada: 3 January 2018

Bak senja dikala hujan, sebuah keindahan yang tersembunyi dibalik jutaan tetes air yang terus turun. Yang merengkuh jemariku erat, menuntunku menuju sebuah titik terang tak berpenghujung yang menjadi awal dari pencarian jati diriku yang sebenarnya. Setelah sekian lama tersesat dalam kegelapan yang membuatku selalu lari dari sisi-NYA.

Andai saja kejadian itu tak pernah terjadi, mungkin Aku takkan pernah sampai ke titik ini. Kerikil-kerikil tajam yang terus menerus menerpa hidupku telah membuatku jauh dari-NYA. Aku terjerat dalam kegelapan nyata yang menyesatkan. Hingga sebuah cahaya terang menghampiriku, mengiringi langkahku untuk menggapai surga-NYA.

Sore itu hujan turun dengan deras, Aku terduduk di sudut kafe memandang bulir-bulir air hujan yang membasahi jendela. Di ujung jalan sana, kulihat seorang wanita tua tengah menjajakan dagangan sambil sesekali membasuh air hujan yang membasahi wajahnya. Jilbab putih yang digunakannya tampak basah begitupun dengan pakaian usang yang digunakannya. Semakin aku perhatikan semakin aku penasaran, ia berperilaku seolah-olah ia buta. Aku pun memutuskan untuk mendekatinya, demi mencari tau kebenaran atas penglihatanku.

“Nek, Apa yang sedang nenek lakukan di sini?” Aku bertanya sambil memandangnya lekat-lekat. Dan ternyata dugaanku benar. Wanita tua itu tak dapat melihat, matanya buta.
“Saya sedang berjualan, nak. Apakah kamu berniat membeli beberapa kue ini? Kamu dapat membayarnya berapa pun.” Kata wanita tua itu Sambil menyodorkan beberapa kue. Kulihat sebuah kaleng kecil terletak di samping kue-kue itu.
“Baiklah. Saya akan membeli kue ini dan yang ini juga. Oh ya nek, untuk apa kaleng kecil itu?” Tanyaku sambil mengambil beberapa lembar uang di dompet.
“Oh itu untuk meletakkan uang-uang hasil dagangan. Karena saya tidak bisa melihat, pelanggan dapat meletakkan uangnya di situ dan mengambil uang kembaliannya sendiri.” Balas sang nenek. Aku pun memasukkan beberapa lembar uang lima puluh ribu ke kaleng itu.

“Apa nenek tidak merasa khawatir jika ada orang yang mengambil uang itu sewaktu-waktu?” tanyaku.
“Saya tidak perlu khawatir, nak. Rezeki itu sudah ada Allah yang ngatur. Lagipula Allah maha mengetahui apa yang diperbuat hambanya. Jadi apapun yang orang lain perbuat kepada saya, Allah pasti melihatnya.” Hatiku tersenyum mendengarnya. Aku bercermin pada diriku sendiri, selama ini Aku berbuat seenaknya tak pernah berpikir bahwa Allah selalu mengawasiku. Selalu merasa kecewa setiap kali usahaku gagal, setiap kali keuanganku menipis ataupun ketika Aku kehilangan uang. Padahal Rezeki sudah ada yang mengaturnya.

Sejak pertemuan pertama kami hari itu, Aku menjadi lebih sering menemui nenek itu. Setiap hari ia mengajarkanku ajaran-ajaran islam yang belum pernah kuketahui sebelumnya. Aku juga sering mengajak nenek itu datang ke rumahku.

Hari ini nenek mengajakku pergi ke panti asuhan tempat ia dulu sering berjualan. Aku diperkenalkan dengan ibu pengurus panti dan beberapa anak di sana. Kulangkahkan kaki menuju sebuah pondok yang terletak di belakang panti asuhan, tampak di mataku beberapa anak sedang belajar mengaji di sana. Kulihat seorang gadis buta tengah membaca Al-qur’an berhuruf breille, anak-anak yang duduk di sekelilingnya ikut mendengarkannya dengan seksama. Pakaian kurung panjang yang melekat di tubuhnya membuat penampilannya begitu mempesona dilengkapi kerudung panjang yang membingkai wajah cantiknya. Aku pun mendekatinya dan ikut mendengarkan suaranya yang merdu.

Berulang kali kuusap air mata yang membasahi pipi setiap kali lantunan surat Ar-rahman itu memenuhi pendengaranku. Ayat-ayat yang berlukiskan betapa indahnya nikmat yang telah Allah berikan, Membuat bulu kudukku merinding.

‘Maka nikmat Allah yang manakah kau dustakan?’

Aku tak pernah tau bahwa ada begitu banyak nikmat yang telah Allah berikan padaku selama ini. Bahkan dari hal sekecil sekalipun. Aku tidak pernah bersyukur dan malah menyalahkan Allah ketika apa yang kuinginkan tidak kudapatkan. Seharusnya Aku sadar, bahwa ada banyak orang yang ingin berada di posisiku namun Aku masih saja mencoba mengingkari rahmat yang telah diberikan-NYA.

“Mengapa kamu menangis? Apakah kamu sedang memiliki masalah?” Gadis buta yang tadi membaca Al-qur’an datang menghampiriku dan bertanya.
“Tidak. Saya hanya berpikir bahwa Allah ternyata sangat mencintai saya namun saya tidak pernah sekalipun berterimakasih kepadanya” Ujarku sambil mengusap kembali air mataku yang terus mengalir.
“Jika kamu benar-benar ingin berterima kasih kepada Allah, kembalilah ke jalannya. Saya tau pasti ada sesuatu yang membuatmu sempat lari darinya. Yang harus kamu lakukan adalah menaklukan hal tersebut dan coba untuk lebih optimis ke depannya. Percayalah bahwa Allah tak pernah memberi cobaan melebihi kemampuan umatnya. Semua cobaan yang diberikan sesuai kadar kesanggupan hambanya. Jadi, jangan putus asa dan menyerah dalam menjalani kehidupan.” Ujarnya panjang lebar.
“Sebenarnya sulit untuk melupakan hal itu, Aku belum terbiasa dengannya. Aku takut ketika Aku telah menetapkan hatiku, hal itu akan sesekali menghantuiku.” Balasku sambil menatapnya sendu.
“Jika saya boleh tau apa yang sebenarnya terjadi pada kamu sampai kamu tak bisa melupakannya. Jika kamu bisa berbagi dengan ku, mungkin itu dapat mengurangi sedikit bebanmu”
“Baiklah, sebenarnya….”

Hujan takkan turun jika mendung tak menyelimuti. Air mata takkan jatuh jika tak ada luka yang menghampiri. Aku lelah, seolah semua yang kulakukan kini tak artinya. Tak peduli seberapa kuat Aku bertahan, seberapa keras Aku berusaha semuanya takkan bearti apa-apa di mata mereka. Mereka tetap saja seperti itu, lebih mementingkan ego dari pada keluarga yang hampir hancur ini. Umurku masih 8 tahun saat itu, Namun Aku sudah sangat mengerti apa yang terjadi di keluargaku.

Sejak Aku lahir mungkin tak pernah sekalipun kurasakan kasih sayang dari kedua orangtuaku. Hanya Mbak Ainun dan Pak Darto lah yang menyayangi dan membesarkanku selama ini. Mereka sudah mengajarkanku ajaran islam sejak kecil, namun setiap kali Aku mencoba mengamalkannya perseteruan Papa dan Mama kembali membuatku kembali lari dari jalan Allah.

Aku marah pada Allah, mengapa Allah menghadirkan keluarga yang seperti ini untukku. Aku menginginkan keluarga yang harmonis dan bahagia, bukannya keluarga yang lebih mendahulukan emosi daripada keharmoisan keluarganya.

Puncaknya adalah ketika Aku berumur 16 tahun, tepat di depan mataku kulihat Ibu menusuk Ayah dengan pisau tajam. Darah mengucur deras dari dada Ayahku, pisau tertancap tepat mengenai jantungnya. Belum 5 menit kepergian Ayah, ibu kembali menusukkan pisau itu ke jantungnya sendiri seolah menyesal akan apa yang telah ia lakukan.

Tanpa memikirkan akan seperti apa Aku tanpa mereka nantinya, Mereka mati dengan sia-sia. Bahkan Ayah maupun Ibu tak pernah mengucapkan bahwa mereka menyayangiku hingga akhir hayat mereka. Dan kini Aku kehilangan arah, tak punya tujuan ataupun harapan hidup. Tuhan telah merenggut segala hal yang terindah dalam hidupku, mempermainkan takdirku sesukanya.

Tak peduli sekeras apa Aku mencoba melupakan hal itu, Aku tak pernah bisa melakukannya. Meskipun penyebab dari luka itu telah tiada, namun luka itu tidak pernah hilang. Seperti halnya papan kayu yang telah tertancap paku tajam, jikalau pun paku itu dicabut papan kayu takkan kembali seperti semula.

“Oh jadi begitu ceritanya. Maaf sudah memaksamu untuk bercerita. Saya tidak menyangka jika itu akan membuka luka lamamu kembali.”
“Tidak apa-apa. Saya merasa dengan saya menceritakan kepada kamu beban saya sedikit berkurang.”
“Saya yakin kamu pasti bisa berubah. Saya akan membimbingmu agar kembali ke jalan yang benar”
“Benarkah, terima kasih banyak.. “
“Fatimah, panggil saya Fatimah”
“Terima kasih banyak, Fatimah. Kenalkan nama saya Deeva.”
“Senang bertemu denganmu. Deeva”
“Senang bertemu denganmu juga”

Tak ada batasan bagi seorang manusia untuk dapat berubah menjadi lebih baik. Selama kemauan itu ada maka akan selalu ada jalan untuk melakukannya. Seperti halnya yang telah Allah sampaikan kepada umat muslim di seluruh alam, tidak ada yang bisa mengubah suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang ingin merubahnya. Maka dari itu tidak usah menunggu seseorang yang nantinya merubah kita jika diri kita sendiri tidak ingin merubahnya. Dan hal itu terjadi pada diriku, aku memutuskan hijrah bukan untuk siapapun. Aku berubah demi diriku sendiri, Aku menyadari jika Allah telah mengirimkan banyak hidayah kepadaku namun Aku saja yang tidak menyadarinya. Mulai hari ini Aku akan memantapkan keimananku, belajar untuk melupakan masa suram dalam hidupku dan takkan merasa ragu lagi untuk melangkah ke depan.
Aku sangat nyaman menggunakan pakaian tertutup seperti ini, Aku jauh merasa lebih nyaman dan aman. Fatimah benar-benar menepati janjinya padaku, ia membimbingku dengan sabar. Setiap hari kami bertemu di panti asuhan, belajar ajaran-ajaran islam dan membaca al-qur’an bersama. Dan kini Aku pun telah menjadi salah satu relawan di panti ini sama seperti fatimah. Anak-anak yang masih polos yang penuh canda dan tawa itu berhasil membuat rasa sakitku menghilang perlahan-lahan. Aku sangat bersyukur karena Allah telah menghadirkan orang-orang yang luar biasa dalam hidupku. Hingga Aku pada akhirnya dapat menempuh hidupku dengan lebih baik.

Seperti Lembayung senja dikala hujan, Allah telah menunjukkan mega-mega merah indah yang tersembunyi di balik jutaan rintik air. Menunjukkan indahnya hidayah di balik hujan penderitaan yang lebat. Maka hanya mereka yang benar-benar ingin melihat keindahan itulah yang dapat menemukannya.

JIka hujan yang kau takuti, maka jangan pernah membenci air. Jika senja yang kau nanti tak kunjung datang jangan salahkan mendung. Tak ada satupun di dunia ini yang tidak terjadi karena kehendak Allah begitupun cobaan yang selalu menghadirkan hikmah di baliknya.

Cerpen Karangan: Derani Safira
Facebook: Derani Safira

Cerpen Lembayung Senja Dikala Hujan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


In My Life

Oleh:
Suatu hari disaat malam pun tiba keluarlah seorang wanita dari dalam rumahnya, dia seorang wanita yang cantik jelita namun sayang dia ditinggalkan oleh orang tuanya sejak kecil, kinipun dia

Sebuah Kehidupan

Oleh:
Setiap hari hujan turun begitu deras. Sederas air mata yang jatuh di kedua pipiku. Entah mengapa seakan hidup ini begitu melelahkan untuk dijalani, tapi kaki ini masih bisa untuk

Yang Terindah Tapi Tidak Selamanya

Oleh:
Ini mungkin hanya cerita yang sering kalian dengar. cerita tentang lelakiku yang sekarang berada di sana. sebut saja dia ‘Gigi’. dia adalah teman SD-ku. kami sempat beberapa tahun satu

Ranah Itu Bertuan, Malam Diperuntukkan

Oleh:
Yang kutahu dirinya adalah anak dari keluarga terpandang. Entah itu benar ataupun salah, aku pun kurang yakin. Terlebih kulihat beberapa warga selalu menundukkan kepala acapkali orangtua Janni lewat. Hari

Secangkir Kopi Hitam

Oleh:
Lalu lalang kendaraan melintasi jalan raya yang kian hari semakin meretak, rapuh. Jalan raya tua yang sudah tak dihiraukan lagi oleh pemerintah untuk diperbaiki. Konon katanya jalan raya ini

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *