Liang Lahat Untukku

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Islami (Religi), Cerpen Kehidupan
Lolos moderasi pada: 17 October 2020

Setiap hari Pak Dodi selalu semangat dan gigih dalam bekerja. Walaupun pekerjaannya hanya sebagai penjaga makam di TPU, namun dia tidak pernah mengeluh dan malu akan pekerjaannya itu. Pak Dodi hanya hidup sendiri tanpa keluarga, anak dan istrinya telah meninggal dunia dua tahun lalu setelah terjadi gempa di kampungnya. Istri dan anaknya dikubur di TPU tempat Pak Dodi bekerja. Makam mereka pun selalu ia rawat dengan baik dan penuh kasih sayang, walaupun ada satu kotoran pun ia selalu membersihkannya demi kesenangan anak dan istrinya yang sudah hidup di alam lain.

Sudah berpuluh-puluh tahun Pak Dodi bekerja sebagai penjaga dan pembersih makam, namun penghasilannya tidak pernah bertambah sepeser pun. Ia hanya mendapatkan uang lebih jika ada ahli waris yang berziarah ke makam keluarganya. Orang yang selalu memberi Pak Dodi uang setiap kali berziarah adalah sosok pemuda yang tampan dan begitu baik. Pemuda itu bernama Farhan, ia sangat kagum terhadap sosok Pak Dodi yang selalu gigih dalam pekerjaannya walaupun harus merasakan terik sinar matahari setiap harinya.

“Nak Farhan, tumben sekali hari kerja ziarah ke makam”, sahut Pak Dodi.
“Iya pak, saya teringat dengan mamah. Semalam saya bermimpi dengannya pak”.
“Oh begitu ya nak Farhan, kalo begitu bolehkah bapak membantu nak Farhan untuk berdo’a?”
“Ya pak Dodi terimakasih, saya juga belum mahir dalam membacakan do’a”.

Pak Dodi pun akhirnya membacakan do’a kepada ibu Farhan. Setelah selesai membacakan do’a, seperti biasa Farhan pun memberikan sepeser uang kepada Pak Dodi. Pak Dodi pun menerimanya dengan senang. Hanya Farhan lah yang rutin memberikan uang kepada Pak Dodi jika sedang beriarah ke makam keluarganya.

Suatu malam, Pak Dodi merasakan sebuah getaran yang sangat dahsyat sehingga membuatnya terbangun. Ketika terbangun, Pak Dodi sudah terjatuh dari tempat tidurnya. Saat itu di kampungnya sedang terjadi gempa, Pak Dodi takut jika kejadian yang menimpa istri dan anaknya dua tahun lalu akan menimpa kepada dirinya. Pak Dodi terburu-buru lari keluar untuk mencari perlindungan, sementara itu rumah sederhananya hancur tiada sisa. Ia sangat sedih dan bingung harus tinggal bersama siapa karena sudah tidak mempunyai tempat tinggal lagi untuk didiami.

Bingung mencari tempat tinggal, Pak Dodi pun memutuskan untuk tinggal di saung dekat tempatnya bekerja. Pak Dodi rela jika harus hidup kedinginan di malam harinya daripada tidak mempunyai tempat tinggal, toh tempat itu adalah tempat sehari-hari dari Pak Dodi. Walaupun Pak Dodi harus tinggal di sebuah saung, tetapi ia tidak pernah mengeluh sedikit pun. Ia yakin bahwa dibalik semua ini pasti ada hikmah yang indah dari Tuhan. Ia bersyukur karena saat terjadi gempa nyawanya masih selamat berkat pertolongan Tuhan.

Sudah tiga bulan Pak Dodi hidup di saung dekat pemakaman. Selama tiga bulan itu pula tidak ada satu orang pun yang peduli akan hidup Pak Dodi. Pak Dodi pun tetap sabar, karena Tuhan selalu memberikan yang terbaik bagi hambanya. Saat itu, Farhan pemuda yang selalu Pak Dodi banggakan akan kebaikannya datang kembali ke pemakaman untuk berziarah ke makam keluarganya. Farhan pun bingung dengan banyak perlengkapan rumah yang terdapat di saung dekat pemakaman.

“Pak, itu semua barang milik siapa pak? Kok kaya perlengkapan di rumah pak?”, tanya Farhan.
“Oh itu, barang itu milik bapak nak Farhan”.
“Buat apa bapak bawa barang sebanyak itu ke sini?”
“Sekarang bapak tinggal di saung itu nak Farhan, bapak sudah tidak mempunyai tempat tinggal lagi. Tiga bulan lalu rumah bapak ambruk karena gempa, jadi bapak memutuskan untuk tinggal di saung itu.”
“Ya Allah kasian sekali bapak, kenapa bapak gak mencari tempat tinggal lain selain di saung itu pak? Saung itu kan terbuka pak, gimana kalau bapak mau tidur malam? Bapak kan pasti kedinginan?”
“Ya gak papa nak Farhan daripada bapak tinggal di jalanan. Lagian bapak kan udah gak punya keluarga lagi selain anak dan istri bapak yang udah meninggal”.

Mendengar hal tersebut membuat hati Farhan tersentuh. Farhan berniat untuk mengajak Pak Dodi tinggal bersamanya. Di rumahnya, Farhan hanya tinggal bersama satu adiknya, anggota keluarganya yang lain telah meninggal dunia akibat kecelakaan mobil 10 tahun lalu. Awalnya Pak Dodi tidak menerima tawaran Farhan untuk tinggal di rumahnya karena Pak Dodi bukanlah siapa-siapa Farhan. Karena Pak Dodi adalah orang yang selalu mengurus makam keluarga Farhan, Farhan pun terus membujuk Pak Dodi untuk tinggal bersamamya. Dengan perbincangan yang cukup lama, akhirnya Pak Dodi pun bersedia untuk tinggal bersama Farhan walau berat rasanya. Pak Dodi meminta untuk Farhan mempekerjakan dirinya tanpa upah agar dia tidak terlalu membebani Farhan saat berada di rumahnya. Farhan pun dengan terpaksa harus mempekerjakan Pak Dodi sebagai tukang kebun di belakang rumahnya.

Setelah beberapa bulan Pak Dodi tinggal bersama Farhan dan adiknya, ia merasa tidak betah dan tidak enak terhadap Farhan. Pak Dodi pun mencoba untuk pergi dari rumah Farhan, namun Farhan selalu mencegahnya karena kasihan melihat Pak Dodi yang telah tua. Farhan pun membutuhkan Pak Dodi untuk belajar membacakan do’a ketika di pemakaman. Sejak kecil Farhan sangat jauh dari ajaran agama, untuk shalat pun Farhan dan adiknya masih harus belajar terhadap Pak Dodi. Inilah alasan Pak Dodi untuk tetap bertahan di rumah Farhan dan niat untuk kabur dibuang jauh-jauh dari hatinya.

“Pak, saya mohon bapak jangan sekali-kali lagi mencoba untuk kabur dari sini ya pak. Saya sangat butuh sosok bapak untuk mengajarkan saya agama lebih dalam lagi pak.”
“Iya nak Farhan maafkan saya, saya berjanji akan mengajarkan nak Farhan dan adiknya untuk bisa membacakan do’a di pemakaman dan belajar untuk shalat yang baik.”

Hati Pak Dodi sangat senang bisa mengajarkan agama kepada orang lain walaupun ilmu yang dimilikinya tidak begitu banyak, namun walaupun begitu ia masih bisa mengajarkan sedikit hal-hal yang berhubungan dengan agama karena dahulu ia pernah mengenyam pendidikan di pesantren walaupun dengan waktu yang tidak begitu lama. Lambat laun Farhan dan adiknya pun dapat melaksanakan shalat dengan baik, bahkan sudah satu minggu ini mereka selalu shalat berjamaah di rumah dengan di imami oleh Pak Dodi.

Tidak terasa sudah tiga tahun Pak Dodi hidup bersama Farhan dan adiknya, mereka sudah seperti keluarga yang sesungguhnya. Farhan dan adiknya pun sudah bisa membacakan do’a di pemakaman untuk keluarganya dan ilmu agamanya pun semakin baik. Farhan pun sudah menganggap Pak Dodi seperti ayahnya sendiri.

Sesekali Pak Dodi pun selalu menyempatkan diri untuk menengok tempat tinggal dan tempat kerja dahulunya yaitu di pemakaman yang sering di kunjungi oleh Farhan. Farhan pun sering ditemani Pak Dodi jika akan berziarah ke makam, dan kali ini Farhan lah yang memimpin do’anya berkat ajaran dari Pak Dodi.

Suatu hari Pak Dodi menawarkan Farhan untuk mempelajari bagaimana cara menshalati jenazah dan menguburkannya. Awalnya Farhan merasa tidak berani, namun Farhan berpikir bahwa ia juga harus bisa melakukan hal itu karena takut jika ada orang meninggal yang harus Farhan shalati. Pak Dodi mengajarkan hal ini kepada Farhan supaya Farhan bisa membantu orang-orang yang membutuhkan seseorang yang bisa menshalati jenazah ketika dalam kondisi darurat. Hanya butuh tiga hari untuk Farhan mempelajari bacaan-bacaan dalam shalat jenazah, Farhan pun sangat benang bisa melakukannya dengan baik. Farhan pun akan mengajarkan hal ini kepada adiknya.

“Kamu hebat sekali nak Farhan, baru juga tiga hari belajar sudah langsung bisa mempraktikannya. Nanti kamu ajarkan ini kepada adikmu.”
“Haha Pak Dodi bisa saja, ia pak saya akan mengajarkan adik saya agar bisa menshalati jenazah.”
“Ya baguslah, siapa tahu besok ada seseorang yang harus kamu shalati nak Farhan.”
“Ah bapak, saya kan baru bisa betul, saya belum siap kalau harus langsung menshalati jenazah sungguhan.”
“Kamu harus siap nak Farhan, kamu kan sudah bisa mempraktikannya dengan baik.”
“Insya Allah pak saya siap.”

Keesokan harinya Pak Dodi pergi ke pemakaman tempatnya dahulu bekerja, ia merasa sangat rindu sekali dengan suasana disana dan rindu pula dengan istri dan anaknya. Sementara itu Farhan tidak ikut dengan Pak Dodi karena bekerja. Pak Dodi berangkat sendirian dengan membawa pacul untuk membuat makam bagi dirinya sendiri, entah apa yang ada di pikirannya. Pak Dodi berpikir tidak ingin menyusahkan orang lain untuk membuatkan makamnya ketika suatu saat nanti meninggal dunia. Pak Dodi ingin membuat makam bagi dirinya sendiri untuk ia tempati apabila suatu saat nanti ia kembali kepada Tuhan. Dengan pacul yang ada ditangannya, Pak Dodi tetap bersemangat menggali kuburan walau terik matahari menyengatnya sampai liang lahat tersebut sudah cukup dalam.

Bagi Pak Dodi, hari itu adalah hari yang cukup berbeda dari biasanya, tubuhnya merasakan kesejukan walau langit sangatlah panas. Ia merasakan jantungnya cukup berdebar, namun entah apa yang dirasakannya itu ia sama sekali tidak tahu. Merasa lelah dengan pekerjaannya, Pak Dodi memilih untuk beristirahat di bawah pohon rindang sambil meminum minuman bekalnya tadi. Sungguh nikmat rasanya saat itu, hingga membuat Pak Dodi tertidur pulas dengan sebuah senyuman yang indah.

Jam 4 sore Farhan pun baru pulang dari kantornya, namun ia tidak melihat Pak Dodi sudah berada di rumah. Farhan kira Pak Dodi tidak akan sampai sesore ini di makam, Farhan pun berniat untuk menyusul Pak Dodi di makam karena langit sudah mendung. Ketika sampai di makam, Farhan melihat Pak Dodi yang sedang tertidur pulas di bawah pohon. Farhan mencoba untuk membangunkannya, namun Pak Dodi tetap saja tertidur tanpa terganggu dengan senyumannya itu. Farhan memeriksa jalur nafasnya, ternyata saat itu Pak Dodi telah tiada di dunia. Hati Farhan saat itu sangatlah terpukul, sosok yang selama ini mengajarkannya bagaimana cara beribadah kini telah pergi meninggalkannya untuk selama-lamanya.

Pak Dodi dishalatkan oleh Farhan di masjid dekat rumahnya dan dimakamkan di tempat yang sudah Pak Dodi siapkan untuk dirinya sendiri. Keesokan harinya Pak Dodi dimakamkan dengan tenang, kerabat yang datang pun cukup banyak. “Dodi Supendi bin Dedi Supendi” adalah nama di batu nisan milik Pak Dodi yang sudah dianggap sebagai ayah oleh Farhan dan adiknya itu.

Setiap bulan Farhan dan adiknya pun selalu berziarah ke makam keluarganya termasuk Pak Dodi untuk membersihkan dan mendo’akannya. Farhan dan adiknya sangat bersyukur telah banyak mendapatkan pelajaran yang berhubungan dengan dunia dan akhirat berkat Pak Dodi. Kini Farhan dan adiknya pun dapat hidup dengan ajaran agama yang baik.

Cerpen Karangan: Erfransdo
Blog / Facebook: erfransvgb.blogspot.com / Erfrans Do
The key to success is the courage to step and dare to fail. When you feel a failure, you are ready to be successful.

Cerpen Liang Lahat Untukku merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Harunya Rencana Mu

Oleh:
Tak terasa hari sudah sore. Terdengar suara adzan magrib berkumandang di mana-mana, suara yang menenteramkan hati damai sekali rasanya Tuhan. Mendengarnya aku ingin segera bersujud pada-Mu Robbiku. Tapi aku

Negeri Islamcholic

Oleh:
Adriana fatin fatimah siswi kelas 5 sekolah bunga bangas, Ia bingung dengan tugas yang diberikan oleh ibu alsa, wali kelasnya. “Kalian harus berimajinasi untuk mengunjungi negeri. Tapi bukan sembarang

Firman

Oleh:
“Firman Tuhan halus mengundang, mengundang jawabanku..” Lagu tema religi nasrani itu di mengerti oleh Abdul Firman, seorang pemuda muslim, 25 tahun yang memang berkepribadian baik dan teman dari Steven

Gila

Oleh:
Dinginnya malam yang penuh rintangan, banyak nyamuk berkeliaran di kanan kiriku yang kubiarkan tubuhku tergeletak lemas di atas kasur kumuhku. Tangan kugerakkan terasa berat untuk menggapai hp yang ada

Aku Disiksa Pacarku

Oleh:
“Wi, aku sudah terlanjur mencintainya. Aku gak bisa ngelepasin dia begitu aja” ucap temanku Nisa di dalam pesan singkat yang kubaca di layar handphone ku. Aku berusaha meyakinkan dia

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *