Life is Game

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 28 October 2017

Sinar mentari pagi menerobos masuk melalui celah celah tirai jendela. Ruangan berdekorasi stiker bunga sakura pink itu sudah ditinggal pemiliknya dengan kasur dan meja belajar yang tertata rapi seperti seharusnya. Boneka beruang cokelat di ujung atas kasur terduduk ditimpa sinar mentari yang menerangi seisi kamar.

Namanya Raya. Pelajar Sekolah Dasar yang hari ini akan menghadiri Upacara Kelulusannya bersama Mama. Sejak pukul 4 tadi, Mama sudah berkutik dengan alat make up untuk mendandani Raya. Mama juga sangat terampil dalam membalutkan kebaya merah muda ke badan Raya. Kini, Raya sudah cantik dengan Dandanan kebaya dan sanggul kecil di belakang kepalanya.

“Raychan, minum airmu dengan sedotan. Lipstiknya bisa terhapus.” Mama mengingatkan Raya saat sarapan, “Jadi, pukul berapa Mama akan ke sekolah Raya?” Raya mengganti topik sambil menghabiskan airnya dengan sedotan.
“Tentu saja sehabis sarapan ini kan?” Raya hendak membuka mulutnya kembali, tapi sebelum terjadi, Mama lebih dulu melanjutkan, “Raychan habiskan makananmu dengan cepat. Kita tidak boleh terlambat.” Raya pun mengangguk dan melanjutkan sarapannya. Ketika jarum pendek menunjuk angka 7, Raya berpamitan pada Puppy lalu menggandeng tangan mama untuk menuju stasiun kereta.

“Maaf Bu Guru, Keretanya terlambat setengah jam.” Mama menjelaskan kepada wali kelas Raya ketika mereka sampai di sekolah pukul 8.
“Tidak apa, Mama Raya. Upacaranya baru akan dimulai.”, Wali kelas Raya tersenyum. Mama segera duduk bersama orangtua siswa lain di belakang kelas, semantara Raya bergabung dengan teman-temannya di luar kelas.

Wali kelas Raya memulai Upacara Kelulusan tahun ini. Pertama ia memberikan sambutan dan ucapan selamat kepada seluruh anak didiknya yang berhasil menempuh pendidikan selama 6 tahun. Kemudian, giliran Pak kepala sekolah yang memberi Motivasi dan Pesan kepada siswa-siswanya yang lulus tahun ini agar Tetap menjadi anak baik, berubah dan berperilaku lebih dewasa, juga agar selalu menghormati orangtua. Raya dan teman-temannya mendengarkan dengan khidmat.

Setelah semua sambutan selesai, Wali Kelas Raya memanggil nama anak-anak satu persatu untuk masuk dan berbaris di depan kelas urut dengan ketinggian masing masing. Raya yang tidak terlalu tinggi dipanggil di akhir dan mendapat barisan depan tengah.

Musik mulai mengalun dan anak anak menyanyikan lagu lagu Kelulusan. Di tengah lagu, salah seorang anak membacakan puisi perpisahan yang isinya sungguh menyayat hati. Beberapa orang tua ada yang meneteskan air mata, termasuk Mama. Mama yang duduk di belakang pojok bahagia sekaligus sedih melihat Putri bungsunya akan tumbuh menjadi remaja sebentar lagi dan segera meninggalkan masa masanya menjadi seorang anak kecil.

Suasana ruang kelas 6 di Sekolah Dasar Raya hari itu benar benar penuh dengan kesedihan. Balon-balon yang berhiasan di sudut sudut ruangan dan langit-langit bercat hijau seolah menjadi saksi bisu atas lulusnya para tunas bangsa yang dulu sempat memenuhi ruangan ini untuk belajar dan sesekali bercanda gurau. Anak-anak yang mengenakan Kebaya dan baju adat itu saling bersalaman mengucap selamat tinggal ketika Upacara Kelulusan selesai dilaksanakan.

Mama memberi hadiah sebuah boneka kepada Raya atas keberhasilannya. Boneka itu berbentuk kelinci berwarna ungu dan dibungkus dengan plastik bening bermotif hati serta diikat Pita putih di bagian atas. Dulu, ketika Mama memberi hadiah apapun, Raya selalu melonjak kegirangan dan mengucap terima kasih sambil berputar putar dengan membawa hadiahnya. Tapi setelah kelulusan ini, Raya hanya tersenyum, berterima kasih lalu membawa hadiahnya ke kamar untuk dibiarkan terbungkus rapi di atas meja belajar.

Di hari pertama menjadi seorang siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP), Raya tidak lagi dibangunkan Mama seperti biasanya karena ia sudah bisa bangun lebih awal.

Raya menjadi jarang bermain dengan Puppy, anak anjing cokelat yang dulu di dapatnya dari Papa. Ketika akhir pekan, Raya lebih suka keluar bersama teman barunya. Seperangkat game dan DVD nya tertata rapi di dalam lemari kaca Ruang TV.

Mama sangat ingat, seminggu sebelum Ujian Nasional, Raya sering bermain game bersama Shon, anak laki-lakinya yang 2 tahun lebih tua dari Raya. Di hari Minggu, Raya juga biasa bermain bersama kakaknya di Ruang TV, entah memainkan DVD Game terbaru atau bermain boneka dan robot. Suasana yang hangat itu benar benar dirindukan Mama.

3 tahun kemudian, saat Raya berulang tahun yang ke 15, Raya menyumbangkan semua mainannya ke Panti Asuhan termasuk seperangkat game dan DVD game miliknya. Raya berpesan kepada anak anak panti agar mau menjaganya baik-baik. Dalam bayangannya, Raya berpikir, Anak anak panti ini mungkin tidak akan menjadi maniak game seperti dirinya dulu.

Tiada hari tanpa game dan mainan lain, itulah motto Raya. Sampai saat ini, Raya memang masih terngiang tentang semua yang pernah dimainkannya.

Tapi waktu telah menuntunnya. Raya digiring menuju hidup yang sesungguhnya, tanpa game dan tanpa mainan. Karena tanpa disadari Raya, hidupnya juga dapat diibaratkan seperti game. Butuh seorang pemain untuk mengontrol karakter dalam game dan itulah Raya. Dirinya mendapat posisi ganda, mampu menjadi pemain sekaligus menjadi karakter hidup. Melakukan semua misi dan tujuan sampai hidup berakhir. Raya mungkin sudah lupa. Ia pernah menghabiskan banyak waktu untuk memainkan DVD Game miliknya. Tapi dalam yang sebenarnya, Raya dapat mengendalikan hidupnya tanpa batas sampai Tuhan memanggil namanya untuk mengakhiri permainannya.

Cerpen Karangan: Salsabila Nur Aulia
Remaja 13 tahun lahir di Kediri, 16 Januari 2004. Hobi berkhayal dan menulis fiksi. Di waktu senggang memilih coret coret di kertas bersama imajinasi. Warna kesukaan? Tentu saja ungu.

Cerpen Life is Game merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Halimun di Tengah Malam

Oleh:
Hu…hu…hu!” Isak tangis kecil memblender ulu hati Berulang-ulang ambul dalam pilu Meringis miris menggidik bulu kudukku “Uuuuuk… uuuuuk!” Lolongan panjang anjing di tengah malam buta Menguras rasa menggetar atma

Lebik Baik Seperti Ini

Oleh:
Seorang lelaki tua terus berjalan tanpa henti walaupun panas terik matahari menyakiti kulit rapuhnya. Di perjalanan ia terus memikirkan bagaimana memberitahu keluarganya bahwa dia baru saja dipecat dari tempat

Peri Tanpa Sayap

Oleh:
Tatapan mata itu, aku masih sangat mengingatnya, kurasa aku takkan pernah lupa dengan mata itu, mata yang seperti momok menakutkan, mata yang besar seperti monster yang membelalak yang ingin

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *