Lighter (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Kehidupan, Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 26 April 2016

Ku temukan janji manis dari kumpulan kata-katanya, teduh dari gema suara baritonnya. Seperti gulali dari toko manisan di depan rumah, manisnya mengikat lidah. Seperti pohon besar menjulang tinggi di tengah taman kota, teduhnya memberi sejuk rumput kecil di bawahnya. Aku belum melihatnya, hanya aku tahu aku akan selalu, menyukainya. Jauh sebelum hari ini aku hanya biduan jalanan, biduan tanpa nyanyian biduan tanpa penggemar, aku hanya suka berjalan suka menerawang ke luar dari kenyataan.

“Huweee!”

Rengek suara tangis temanku karena giginya yang sakit semakin dibuat-buat, suaranya seperti membawaku kembali ke masa puluhan tahun yang lalu. “Sakit gigi” penyakit yang selalu menyambangiku saat umurku 12 tahun waktu itu, penyakit yang selalu berhasil membuatku menangis bergulung-gulung di atas tempat tidur yang sama sekali tidak empuk. “Gila, aku kesakitan kamu malah senyum-senyum sendiri!” Suara temanku mengutukku yang malah tersenyum-senyum sendiri sementara dia kesakitan.

Kalau saja saat itu aku sudah cukup besar dan tidak asing dengan kata umpatan, mungkin aku juga akan mengumpat pada siapa pun yang ada di dekatku, atau aku akan mengumpat pada apa pun yang ada di dekatku waktu itu. Mungkin juga, aku akan berani mengumpat pada ayahku, yang saat itu hanya asik dengan apa yang dilakukannya sendiri tidak sedikit pun bertanya kenapa aku menangis, atau, bagaimana sakit gigimu, atau mungkin belum sembuhkah gigimu? Seolah ada sebuah palu besar yang memukul kepalaku, aku akan begitu merasa kesakitan kalau kembali mengingat ke masa itu, masa dimana aku menangis sendiri karena Ibu tidak berada di sisi, sementara ayahku, sangat dekat di samping tubuh ini hanya terasa tak menemani dan ribuan mil jauhnya dari hati.

Aku tumbuh besar di rumah orang, sebut saja begitu karena aku tidak menghabiskan masa remajaku di dalam rumahku sendiri, tidak dengan Ibuku, Ayahku ataupun kakak dan adik-adikku. Belum genap usia 15 tahunku aku memutuskan ke luar dari rumahku yang sama sekali tidak nyaman. Ku sebut tidak nyaman karena rumah itu selalu saja berisikan aku, ayakku, dan adik perempuanku yang saat itu masih berusia 5 tahun. Sepi, selalu sepi, bahkan lelucon televisi tidak berhasil membuatku tertawa. Ada yang mau bertanya di mana Ibuku? dia tinggal di tempat lain jauh dari rumah, merawat nenekku yang sudah renta dan hidup seorang diri.

Kalau mau menghitung, sudah lebih dari sepuluh tahun aku tidak kembali ke rumah dalam waktu lama. Terakhir aku pulang aku hanya tinggal di rumah selama 3 hari. Bukan aku tidak mau menetap hanya mungkin jalanan milik orang sudah menjadi sahabat. Sahabat? berbicara tentang sahabat, itu pun ku rasa aku tidak memilikinya. Aku hanya memiliki banyak teman yang akan selalu datang dan pergi, hingga aku mulai terbiasa dengan tiap orang yang tiba-tiba hilang dari sampingku, dengan mereka yang tiba-tiba berkhianat di belakangku. Menyebalkan, tapi aku sudah biasa diabaikan, bukan lagi hal baru yang harus dengannya aku berkenalan.

Aku tidak tahu apa yang membuatku menjadi semakin menjauh dari rumahku, dari keluargaku. Uang? Kebebasan? ataukah karena kebiasaan, kebiasaan dari masa kecilku yang tak hidup serumah berhimpit dengan ibu dan ayah. Aku semakin jauh melangkah sendirian, orang yang ku temui di jalan ku jadikan teman, barang haram yang disodorkan teman ku jadikan halal, aku hidup semau aku berjalan, mengikuti alur teman dan membuat peraturan jalanan yang hanya aku dan kawan-kawan yang akan paham. Menyenangkan.

“Excusme do you have a lighter?” Suara seorang cina tiba-tiba mengagetkanku yang sedari tadi berdiri sendirian, bersandar pada dinding toko elektronik yang belum buka. Aku jawab sebisaku, sambil ku sodorkan korek api yang ku ambil dari dalam saku celanaku.
“So, you a smoker too?” Tanya dia lagi sambil mematik korek api yang ku berikan dan menyalakan r*kok berwarna hitam di sela jarinya.
“No! I just love to bring that thing with me,” Aku tidak merasa aku harus berkata jujur pada orang ini apakah aku perok*k atau bukan. Aku merok*k, hanya tidak selalu merok*k, dan aku tidak harus menjelaskan padanya.
“I don’t know I can believe that or not, but you’re too cute to be a smoker,” Baiklah, orang ini mengejak atau apa, dia tertawa di akhir kalimatnya.
“Sure, try it this is for you!” Katanya kemudian sambil memberiku sebatang rok*k yang sama dengan miliknya, setelah aku meminta padanya, jujur saja aku tersinggung dengan tawanya di depan tadi.

Satu jam sudah aku dan cina aneh ini bercengkerama di depan toko milik orang yang belum buka, di dalam shopping mall yang berada tidak jauh dari tempatku bekerja.
“I’m waiting for my friends,” jawabku singkat padanya ketika dia bertanya kenapa aku di sini dan tidak berjalan ke tempat lain. Tentu saja aku ingin berjalan ke tempat lain, tempat ini sudah mulai banyak orang, terlalu riuh belum lagi asap rok*k miliknya yang sedari tadi mengepul di sekitar kami berdua seperti tak mau terbang ke tempat lain.
“So where’s your friends now?” Orang yang kemudian aku tahu berasal dari Korea ini, terlalu banyak bicara, terlalu banyak bertanya.
“I don’t know, dead probably.” Jawabku seenaknya disambut dia dengan tawa lantang di tengah riuh derap kaki orang. Benar juga di mana teman-teman yang aku tunggu, satu jam penuh aku menunggu menghabiskan 3 batang rok*k dengan orang asing ini, bahkan hidung mereka pun belum menampakkan ujungnya.

“So how about you, why are you still here, don’t you wanna go to toilet and just leave me alone here?” Suaraku sinis padanya, aku mulai bosan, bosan dengan tertawanya bosan dengan pertanyaannya, dan juga sangat sebal dengan teman-temanku yang membosankan, membiarkan aku menunggu mereka hingga mati bosan. Sedangkan orang di sampingku ini sama sekali tidak terlihat marah ataupun menunjukkan wajah aneh lainnya mendengar perkataanku, sebaliknya dia hanya terus saja tertawa seperti hanya sebuah lelucon untuknya, dia mulai bertanya siapa namaku, karena sejak tadi memang tidak ada perkenalan di tengah-tengah kami.

Aku tidak mau menjawabnya, dan ketika dia tidak mendapatkan jawaban dariku dia hanya tersenyum dan berkata, “You are a beautiful girl, smart, and mysterious, don’t waste your time for dancing in the dark no one will ever see the beautiful of you.” Terserah aku hanya tersenyum padanya, aku tidak begitu menanggapi kata-katanya, sebenarnya aku tidak begitu mengerti apa maksudnya. “Thank’s for the lighter and your time, hope I’ll see you again.” katanya lagi sambil berjalan pergi dan melambaikan tangannya padaku. Tentu, silahkan saja pergi terima kasih untuk tiga batang rok*knya.

“Yang benar saja, aku kira kalian sudah mati kalian tahu berapa lama aku menunggu?”
Tidak lama setelah kepergian orang Korea itu akhirnya terlihat juga kepala ketiga temanku.
“Maaf!” satu kata keluar dari mulut mungil temanku yang paling kecil.
“Maaf?” Kataku mengulangi kata-katanya tadi, “Kalau saja maaf bisa membuat perutku berhenti bernyanyi.” Lanjutku dan setelahnya tanpa aku berkata lebih ketiga orang ini menarik tanganku memasuki restoran cepat saji di dalam shopping mall ini.

“Sial aku lapar!” Aku mengumpat. Selalu saja mengumpat. Sangat tidak asing dengan semua kata kotor itu, entah dari kapan, atau bagaimana aku memulainya tiba-tiba saja kata-kata itu betah menghuni otakku dan mengendalikan mulutku. Aku mengungkapkan hampir semua perasaanku dengan umpatan. Senang aku mengumpat, terkejut aku mengumpat, dan saat sedih tidak perlu disuruh lagi mulutku akan dengan otomatis mengumpat. Dan damn.. aku sama sekali tidak merasa salah dengan mengumpat, seperti sudah menjadi bahasa nasional yang sehari-hari aku ucapkan, mungkin salah satu alasannya adalah aku bergaul dengan mereka teman-temanku yang keren dalam dunia mereka, dan bahasa aneh ini bahasa wajib yang sering digunakan.

DRRTTH! DRRTTH!

Sial. Menyebalkan siapa orang-orang ini. Banyak pesan beruntun dari orang-orang yang sama sekali tidak aku kenal. BBM Group. Benar saja aku dimasukkan pada satu group chat tanpa aku tahu, dan obrolan sampah mereka membuat ponselku tidak berhenti bergetar. Menyebalkan, tidakkah mereka mau berhenti bertukar pesan, atau keluarkan saja aku dari group gosip ini?

“Gila!” Kembali aku memekikkan kata umpatan ketika aku sudah berhasil mengeluarkan diriku dari group tapi belum satu menit bebas, kembali aku dimasukkan dalam group itu lagi. “Holycrap seriously?”

DRRTTH! DRRTTH!

Aku rasa ponselku sendiri juga sudah lelah sedari tadi bergetar tanpa henti. Mereka ini benar-benar terlalu suka bermain, tidak adakah yang bisa dikerjakannya selain berkencan dengan ponsel dan berhenti berkirim pesan? Ku putuskan untuk coba membuka pesan-pesan mereka, apa yang sebenarnya mereka bicarakan. PING! PING! PING! Pesan yang asalnya bukan dari group, hanya orang yang mengirim masih berasal dari dalam group, jadi orang yang mengundang aku tadi berasal dari dalam group menyebalkan ini. Tidak punya kerjaan. Ku abaikan. Orang ini pasti juga hanya penjahat jalanan. Aku begitu cepat menilai orang. Salah? tentu itu salah, tapi dengan tatto di tubuhnya yang dijadikan sebagai display pict BBM-nya tidak terlalu salah menurutku kalau aku berpikir dia salah satu penjahat jalanan, setidaknya mungkin dia orang seperti diriku yang masih suka bermain dan menciptakan dunia hiburan sendiri.

Ku buang ponselku ke atas tempat tidur, ku biarkan dia bergetar sendirian di sana. Lama, aku meninggalkan ponselku sendirian sementara aku berperang dengan jam dan pekerjaan. Sampai sore hari aku kembali mengambilnya saat aku ingat aku harus menghubungi ibuku di rumah. BBM. 21 pesan dari kontak yang sama, kontak yang aku sebut penjahat jalanan siang tadi. Awalnya isi dari pesan-pesan itu hanya membuatku tertawa, sampai pada satu pertanyaan yang berhasil membuat mataku membulat.

“Damn!” Aku kembali mengeluarkan kutukan, kali ini aku mengutuk ponselku. Belum selesai aku membaca ponselku sudah kehilangan nyawa. “Rambutmu aneh, pendek dengan cat merah dan poni jatuh ke depan. Wajahmu aneh, kau terlihat menakutkan dan terkesan kasar, kau wanita apa seorang pria, tubuhmu terlihat kecil tapi terkesan sangat kuat, tapi aku suka senyummu, manis seperti es jeruk yang baru saja aku minum habis.”

Namanya Ipunk. Tidak tahu itu nama asli atau hanya nama panggung, namun setiap kali ingat pesan panjang dari orang aneh yang berasal dari group BBM ini, akan selalu berhasil membuatku tersenyum sendiri. “Kamu sendiri terlihat sangat aneh, rambut pendek dengan poni terbelah, kamu pelawak atau apa. Wajahmu juga terlihat aneh, menakutkan dan terlihat kasar, pekerjaanmu apa? tukang pukulkah, atau kau penagih hutang.” SEND-

Dari hari itu dia selalu menghubungiku dengan lelucon-leluconnya yang tanpa dipaksakan bisa selalu berhasil membuat aku tertawa gila pada ponselku sendiri. Kami bertukar facebook, ID Line dan pada akhirnya kami bertukar nomor telepon. Aneh rasanya aku sangat jarang bisa mau memberikan nomor ponselku pada orang lain, terlebih lagi aku sama sekali belum bertemu dengan orang ini, tidak tahu perasan ini asalnya dari mana, tapi aku percaya padanya.

“Kamu cantik, pintar dan misterius, kenapa belum menikah ataupun berpacaran dengan seorang pria?” Pertanyaannya sekilas mengingatkanku pada perkataan seseorang yang entah sulit aku mengingat kembali siapa yang sudah berkata seperti itu. Benar, seseorang dari Korea itu dia yang berkata seperti itu padaku. Setelah lama ku mengingat-ingat akhirnya aku berhasil menggali kembali memori dari beberapa bulan yang lalu. “You are a beautiful girl, smart and mysterious, don’t waste your time for dancing in the dark no one will ever see the beautiful of you.” Tanpa sadar bibirku bergerak mengucapkan kata-kata pria Korea itu dengan sendirinya.

Benar, kini aku baru mengerti maksudnya, seberapa baik cantik atau buruknya diriku tidak akan ada orang yang bisa melihat, menyukai ataupun mengomentariku kalau aku hanya terus berada di dalam duniaku sendiri. Di dalam dunia yang aku pikir selalu akan baik kalau hanya ada aku dan teman-teman sukaku di sana, tanpa perlu berpikir aku akan bagaimana dan ke mana juga dengan siapa aku akan berada saat dunia ciptaan logika gilaku ini lenyap. Aku tersenyum sendiri mungkin akan terlihat gila bagi orang yang melihatku, aku tidak peduli dengan itu. Aku baru menyadarinya.

Bersambung

Cerpen Karangan: E Krish
Blog: inocassio.blogspot.hk
Facebook: E Krish
Saya bukan penulis yang baik hanya suka membaca dan sangat suka menulis. ^_^

Cerpen Lighter (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Jilbab Ummi

Oleh:
“An, sudah sampai.” Kata kakakku membangunkanku. “Oh, udah sampai rumah?” Tanyaku kebingungan. “Iya adikku.” Jawabnya. Ku turun dari mobil berwarna merah milik kakaku itu. Terlihat di depanku istana penuh

Silly Feeling

Oleh:
Hari ini perasaanku nggak enak banget. Pagi-pagi dimarahin sama atasan ditambah dari semalam pikiran dan perasaanku memang sudah terasa nggak enak banget. Nggak tahu, rasanya pengen teriak, jerit-jerit, sampai

Manusia Sebelah Mata

Oleh:
“Berhenti mengejarku!” bentakku. “Kak, aku minta maaf! Aku tidak bermaksud…” “Cukup! Jangan memanggilku dengan sebutan itu. aku muak! Jujur saja, mantra apa yang kau gunakan untuk mengambil hati orangtuaku?

Stasiun Cinta

Oleh:
Dari kejauhan terlihat wanita sedang duduk di kursi tempat perhentian kereta api, atau bisa disebut stasiun. Wanita itu tampak sedang memakai alat yang terpasang di telinganya, sepertinya musik yang

First Love

Oleh:
First love 1704-2011 Sore ini, sambil menikmati gorengan dan teh hangat yang dibuatkan mama, duduk di teras rumah. Aku melihat lalu lalang pengemudi kendaraan yang lewat di depan rumahku.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *