Lighter (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Kehidupan, Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 26 April 2016

Orang yang meminjam korek padaku itu, dia adalah beranda rumah yang menyambutku, dan Ipunk pria dari BBm group yang sekarang berteman denganku dia adalah api yang membakar kerasnya kepalaku juga pintu yang terbuka menyambut langkah kakiku, mengingat ceritanya yang juga pernah berada dalam dunia suka-suka sepertiku dia juga adalah cermin yang menjadi refleksi pribadiku. Sejak hari itu dia menjadi sebuah kebutuhan untukku. Dia orang yang sangat terbuka, dia mendengarkan semua keluhanku, aku rasa aku mulai bersahabat dengan orang yang berada sangat jauh dariku, persahabatan yang terjalin melalui media social. Benar aku memiliki seorang kakak, aku juga memiliki adik tapi entah kenapa aku tidak bisa terbuka dan bercerita tentang semua keluhanku pada mereka.

Sejak hadirnya orang ini aku berubah, ada keinginan yang sangat besar dalam diriku yang membuatku ingin sekali merubah penampilanku, memanjangkan rambutku, tidak lagi mewarnainya dengan cat-cat rambut aneh. Ingin terlihat cantik, bahkan aku ingin belajar bagaimana cara bermake-up, sampai ujung dari semua keinginan itu, saat aku ingin sekali memakai hijab. Sebenarnya memakai hijab bukan keinginan yang datang karena adanya Ipunk, namun sudah lama aku ingin mengenakan hijab. Hanya mungkin kepalaku terlalu keras juga hatiku yang sudah terlanjur tertutup pasir kasar, hingga datangnya orang ini seolah membuat keinginanku untuk mengenakan hijab semakin kuat.

“Aku benar-benar serius dengan hubungan ini, mungkin benar kita belum pernah saling bertemu tapi hati ini sudah merasa sangat mengenalmu, apa yang akan aku lakukan kalau kau tak menerimaku..” Semua pesan-pesannya membuatku semakin menyukainya, seolah dia memang menulis semua itu dari ulu hatinya. “Sempat aku meragukan penampilanmu, namun itu hanya salah satu kebodohanku.. aku tetap saja menyukaimu, karena aku jatuh cinta pada pribadimu bukan tubuhmu..” Sebut saja aku gila, aku suka pada sebuah suara, pada deretan kata yang kadang terlalu manja dan memalukan untuk dibaca,. Kata yang kadang juga bisa terasa seperti palu yang melukai kepala tapi hangat ketika hatiku yang membaca. Anggap saja aku gila, karena ku rasa aku jatuh cinta.

“Seperti itukah.. bukankah kau sempat membenciku di awal cerita?”
“Itu bukan sebuah kebencian, biar ku jelaskan, perasaan itu adalah perasaan antara mataku yang melihat bahwa kamu itu nakal dan terlihat kasar, tapi hatiku berkata kau hanya kapas yang masih berada di dalam cangkang yang sudah mengering. Perasaan itu adalah perasaan antara aku ingin menjauh tapi tanganku ingin menjangkaumu. Kau sebut apa perasaan seperti itu?” Wajahnya terlihat kecil di dalam ponsel yang sedang aku pegang, dia mengoceh panjang tentang semua yang dirasakannya saat melihatku, hingga pada akhirnya dia berkata dia menyukaiku. “Aku tidak sedang bercanda dengan ucapanku!” Dia mempunyai wajah serius, namun lucu secara bersamaan.

Aku tidak tahu seperti apa jelas wajahnya, hanya gambar multimedia yang selalu aku terima darinya melalui ponsel pintar yang aku punya. Kadang juga melalui media videocall dari salah satu aplikasi yang aku punya dalam ponselku. Rahangnya, matanya, senyumnya, aku tidak tahu alasannya apa tapi aku menyukainya. Jangan sebut dia tampan, dia sama sekali tidak memilikinya, ditambah lagi deretan lukisan tinta di tubuh sebelah kirinya itu sama sekali tidak memberi nilai positif untuk membuatnya terlihat tampan, tatto itu hanya membuatnya terlihat garang dan urakan seperti preman-preman yang ada di sinetron TV Nasional. Mungkin akan ada orang yang memandang tidak percaya padaku kenapa aku bisa mengenal dan dekat dengan orang seperti dia, tapi aku tidak apa-apa, tidak apa-apa dengan tattoo di tubuhnya ataupun tindik di telinganya, karena aku bukan menyukai fisiknya melainkan sosok lembut yang berada di dalam tubuh garangnya.

“Jadi kapan kau akan pulang?” Pesan singkat kembali aku dapatkan darinya pagi ini. Selalu setiap hari, tidak sehari pun kami lewatkan untuk saling menghubungi, bertelepon, videocall ataupun sekedar bertukar pesan. Kami sedekat itu saat ini, sedekat yang bisa kami harapkan untuk saat ini.

Pulang? Benar, mungkin memang sudah saatnya aku pulang, kalaupun aku masih enggan untuk pulang setidaknya aku juga harus memikirkan orangtuaku dir umah yang sudah lama aku tinggalkan. Apa kabarnya mereka, dengan siapa saat ini mereka, sudah makankah mereka.. sementara saat ini aku memegang makanan yang mereka sekalipun belum pernah merasakannya. Rumah, pikiranku seketika ingin berada di sana, di mana aku bisa selalu kembali dan tinggal. Akhirnya aku memutuskan untuk mengundurkan diri dari pekerjaanku selama tiga tahun ini, pekerjaan yang paling menyenangkan di antara pekerjaan-pekerjaanku sebelumnya.

“Awal bulan enam ini aku akan berada di rumah!” Aku sudah memutuskan, aku ingin bersama keluargaku, dan berkeluarga tentunya. Apalagi yang akan aku kejar dari dunia yang tak mungkin bisa sepenuhnya aku genggam, aku pun semakin menua. Aku mengatakan iya padanya saat dia berkata akan meminangku, tidak apa-apa kalau akan ada yang berkata aku terlalu gegabah ataupun gila karena menerima seseorang sebelum aku bisa menatap wajahnya, setidaknya selama berbulan-bulan aku mengenalnya lewat media sebuah ponsel, mendengar suaranya dan membaca tulisannya membuatku yakin dia bukan penjahat jalanan seperti dugaanku saat pertama melihat fotonya, tidak apa-apa mungkin saja ini sudah jalan yang gariskan Sang Penciptaku untuk aku lalui bersamanya.

Aku tidak tahu bagaimana nantinya, aku suka tersenyum-senyum sendiri saat memikirkannya. “Berjumpa?” Aku menjadi suka menyebut kata itu tanpa sadar. Bagaimana nanti ketika aku bertemu dengannya, akankah kami akan sangat baik seperti saat ini, hubungan yang melalui media.. ataukah aku hanya akan tersenyum menjabat tangannya dan kata canggung berada di tengah-tengah kami.. atau mungkin malah ayahku saja yang akan menyambutnya. Aku tidak bisa untuk tidak berhenti menebak, dan itu membuatku terlihat gila.

Bertahun-tahun aku tidak kembali ke rumah, aku benar-benar merindukan mereka. “Alhamdulillah..” Suara teduh ibuku berhasil membuat mataku berair, pelukan hangatnya membuat hatiku hancur betapa bodohnya aku selama ini, betapa egoisnya aku selama ini meninggalkan ibu dan ayahku di belakang sementara aku bergelut dengan dunia yang sangat menyenangkan menurut versiku sendiri. “Maafkan aku Ma..” Air mataku benar-benar tumpah, tak bisa ku tahan membasahi pundak ibuku yang sedang ku peluk. Aku baru menyadarinya ibuku tidak lebih tinggi dariku, tubuhnya juga semakin kurus, suaranya parau serak karena batuk yang dideritanya, namun senyum yang penuh warna, senyum tulus itu tidak pernah hilang dari wajahnya. Perempuan ini, ibuku.. benar-benar merindukanku.

“Ndok!” Suara lantang seorang laki-laki membuatku mengangkat wajahku mencari sumber suara orang yang memanggilku.

BRAKKK!

Suara tumpukkan kayu yang terbanting ke tanah membuatku tahu siapa yang membuat suara itu. Seorang laki-laki yang umurnya sudah tidak lagi muda, seorang laki-laki tinggi dengan senyum di wajahnya yang tak pernah berubah, dia selalu seperti itu ayahku. “Pak!” Aku tidak peduli dia sedang berkeringat, bajunya kotor atau apa pun itu, aku merindukan orang ini. Aku jatuh ke dalam pelukannya, aku sudah lupa kapan terakhir aku memeluk ayahku dan pelukan kali ini benar-benar menyadarkanku, ayahku tidak lagi segagah dulu. “Kangen aku ndok!” Aku tidak bisa menghentikannya, lagi-lagi aku menangis di pelukan orangtuaku.

Aku pernah membuat satu pertanyaan yang sampai saat ini belum juga aku jawab, karena aku belum menemukan jawabannya. “Siapa orang terbodoh dalam keluargaku, apakah Ayahku yang kadang selalu marah dan mementingkan dirinya sendiri, apakah Ibuku yang terlalu baik pada tiap orang hingga dia sangat gampang terluka, apakah Kakakku yang hanya bisa menyuruh ini juga itu tanpa dia perlu memahami apa yang aku rasa, ataukah Adik-adikku yang hanya bisa bermain saja, ataukah aku sendiri orangnya?”

Kini aku tahu, orang yang paling bodoh itu, adalah aku sendiri.. si egois yang meninggalkan orangtua sendirian di rumah, si egois yang hanya bisa mengirimi uang tiap bulan dan bertanya kasar ke mana perginya uang ketika ku rasa terlalu cepat uang itu musnah. Si egois yang hanya bisa berkata, ‘Hati-hati’ pada ibu bapak saat menelepon tanpa berusaha mengerti bahwa mereka tidak membutuhkan kata-kata itu. Mereka hanya membutuhkan anaknya berada di rumah bersamanya. Si bodoh itu.. aku. Lagi-lagi air mataku meleleh keluar tanpa aku perintah, aku tidak tahu sejak kapan aku menjadi secengeng ini. Aku merasa aku kembali pada diriku di usia 12 tahun waktu itu. Aku si bodoh bersalah yang hanya mengikuti amarah, mengekor dunia maya yang tidak akan selamanya aku bernyawa. Aku menyesal aku terpuruk, aku ingin menunduk, sujud tunduk pada ibu bapakku, pada penciptaku.

“Besok dia akan datang..” Aku mulai bercerita dan mereka mengerti semuanya, entah hanya cara agar aku bisa merasa diterima atau memang itu sebuah pengertian tulus dari mereka, tapi mereka berhasil membuatku lega dan lebih terbuka.

Dalam hitungan jam, Ipunk benar-benar mendatangi rumahku, suara tawa ayahku tidak berhenti terdengar dari awal beliau menjabat tangan Ipunk dan Ayahnya sepertinya mereka menikmati obrolannya. Dan saat itu ketika kami saling bertemu dan menyapa untuk pertama kalinya tanpa melalui media ponsel atau apa pun itu namanya. Aku tidak tahu terlihat seperti apa aku di depannya, seperti sebuah bungakah, seperti rok*k yang selalu menjadi candunyakah, atau seperti orang yang baru dikenalnya saja.

“Kau cahayaku!” pikiranku salah. Saat ini dia tidak mungkin sedang membaca pikiranku bukan? kata yang ingin aku katakan padanya “Penerangku”, dia mencurinya dariku. Aku tidak ingin menebak semerah apa wajahku saat ini, wajahnya yang terus saja tersenyum sambil menatapku membuat bibirku ikut tertarik di setiap sudutnya, mengembangkan senyum tanpa aku perintah. Aku tidak tahu setulus apa dia, sejujur apa dia, yang aku tahu hanya dia mampu menjadi penerang di gelapku, dan .. aku percaya padanya.

Cerpen Karangan: E Krish
Blog: inocassio.blogspot.hk
Facebook: E Krish
Saya bukan penulis yang baik hanya suka membaca dan sangat suka menulis. ^_^

Cerpen Lighter (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Nostalgia

Oleh:
Langit kuning kemerah-merahan, di ujung sana tampak setengah lingkaran matahari, cahayanya mulai meredup, teduh, terbias di permukaan danau yang terbentang luas. Angin nan dingin menyelimuti daerah puncak. Di dekat

Dibalik Sebuah Kapal Besar

Oleh:
Aku mencarimu dibalik bayang-bayang yang tertawa dan kesepian yang menanti. Mungkin kapal raksasa berwarna biru, putih, kuning dan merah yang mewakilkan warna salah satu mini market Indonesia ini akan

Rintihan Senja

Oleh:
Hujan yang turun membasahi bumi tak mampu menyirami hati ku, sejenak aku berfikir tentang rasa sakit dimana kekasihku pergi dan tak pernah melihat kembali pada kekasih yang dulu dia

Ketika Autisku Berbeda

Oleh:
Aku ada karena cinta. Begitu juga dengan kau, kau ada karena cinta. Aku tak habis pikir betapa teganya orangtuaku menelantarkan aku di panti asuhan, karena aku didiagnosa berpenyakit autis

Pangkuan Annisa

Oleh:
Mobil angkutan umum yang berjurusan Taman mini – kampung rambutan berjalan lamban, agaknya hari ini belum dapat banyak uang setoran. Sopirnya begitu teliti melihat tiap sisi jalan, tiap gang,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *