Lima Belas Juni

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Kehidupan, Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 2 October 2013

Kasih…
Atas nama cinta, aku akan menahan himpitan kemiskinan dan kepedihan derita, serta kehampaan yang terasa dalam perpisahan. Atas nama cinta, aku akan tetap berdiri kokoh laksana batu karang yang di hempas gelombang pasang samudera, menahan derasnya cercaan dan hinaan yang menerpa di kehidupan. Aku akan terus melawan segala cobaan ini sampai kemenangan kuraih dan kuletakkan di atas tanganmu. Suatu kekuatan yang bakal menopang kita melalui segala penghalang demi pencapaian tujuan hidup ini…

Arman kembali menatap bait-bait itu yang sengaja ia tempelkan di dinding kamar kostnya. Bait-bait yang selama ini menemaninya dan memberikan semangat yang menyala dalam segenap relung jiwanya. Sepenggalan syair yang ia buat untuk Cristine kekasihnya benar-benar telah menjadi bahan bakar yang setiap saat mensuplai semangat yang selalu berkobar.

“Selamat pagi, Cristine kekasihku, kuharap harimu senantiasa terpenuhi kasih, sukacita dan kebahagian” gumamnya sambil menatap seraut wajah yang tersimpan dalam bingkai indah yang terletak di atas meja belajarnya. Hik.. hik.. lucu juga yah kok jadi kaya orang gila bicara sama foto, suara pikirannya berkata. Namun hal itu senantiasa ia lakukan dalam mengawali segala kegiatannya, semua itu ia lakukan untuk memberikan suntikan semangat dalam menghadapi kehidupan. Hari ini adalah hari yang penting bagiku, aku harus lebih awal tiba di kampus. Aku adalah seorang Mahasiswa tingkat akhir Jurusan Manajemen Keuangan dan Perbankan, Fakultas Ekonomi, di Universitas Ekuitas, Kota Bandung.

Inilah babak penentuan dari sebagian hidup ku, aku yakin dapat melaluinya dengan kemenangan, yah, sebuah kemenangan dan juga suatu kebanggan untuk kedua orangtuaku. Hari ini adalah sidang skripsi ku, setelah ujian akhir dan pra sidang telah aku lalui inilah tahapan akhir dari empat tahun enam bulan aku berada di kota ini, jauh dari kedua orangtuaku dan berjuang untuk sebuah impian masa depan yang lebih baik. Orangtuaku hanyalah seorang petani dan ibu ku membantu menopang perekonomian keluarga dengan membuka warung sederhana. Mereka sangat mengharapkan agar aku meraih gelar sarjana dan memiliki kehidupan yang lebih baik dibandingkan mereka. Aku sendiri adalah anak nomor dua dari empat bersaudara, kakakku yang tertua seorang perempuan dan kini berprofesi sebagai guru sekolah dasar dan ia pun telah menikah dengan seorang guru pula dan dikaruniai seorang puteri cantik yang kini berusia empat tahun. Sedangkan adikku yang ketiga kini kelas tiga di Sekolah Menengah Kejuruan Negeri favorit tidak jauh dari desaku, dan adikku yang nomor empat seorang laki-laki, ia masih duduk di bangku kelas empat sekolah dasar. Kami tinggal di desa Menyan kajen persis di kaki bukit Suryoroyo di kecamatan karang wates, Kabupaten Sringgalih.

Untuk menambah uang saku dan meringankan beban kedua orangtuaku, aku menjadi tukang loper koran. Setiap pagi aku mengantarkan koran ke pelanggan-pelanggan dan saat malam sekitar jam 19.00, aku mengajar matematik di salah satu tempat les. Sesekali juga aku jadi juru tik bagi mereka yang membutuhkan jasa pengetikan baik makalah, skripsi atau apapun juga. Aku senantiasa melakukan pekerjaan apapun untuk menambah uang saku, dan rasanya senang sekali apabila mendapatkan hasil dari jerih payah sendiri.

Brum… brum.. brum… tiiittt.. lamunanku terpecah saat suara motor dan klakson berbunyi, aku lihat di atas meja belajarku, ternyata kunci motornya tidak berada disana, pastilah aku tadi lupa menarik kembali kunci motor dari lubang starter. Wah, jangan-jangan di ambil maling nih! Aku pun langsung bergegas keluar.
“Hai sayang apa kabarnya? Moga kamu hari ini sudah siap yah untuk mengikuti sidang skripsinya” kemudian “Kamu kaget yah? Nggak biasanya jadi pelupa, kenapa hari ini jadi pelupa, ninggalin kunci motor sembarangan”
“Pa..pa.. pagi sayang, aku pikir motorku raib di gondol maling, ternyata yang nongol cantikku” jawab Arman sambil menahan kaget.
Lalu lanjutnya, “Aku sudah siap secara materi dan mental, mudah-mudahan sidang skripsinya berjalan dengan baik, aku benar-benar nggak nyangka kamu akan datang ke tempat kostku, apa kamu hari ini tidak ada kuliah?”
“Baguslah! Aku percaya sayangku sudah mempersiapkan segala sesuatunya, hari ini aku tidak ada kuliah dan aku pikir lebih baik ke tempat kamu dan memberi suport untukmu” Cristine pun memberikan jawaban.

Kami pun pergi ke kampus dengan berboncengan, tempat kost dan kampusku berjarak sekitar 9 km, sebenarnya tidak begitu jauh namun di karenakan jalur menuju ke kampus adalah jalur padat maka waktu tempuhnya jadi agak lebih lama. Seharusnya jarak seperti itu paling 15 hingga 20 menit sampai tapi karena jalurnya padat menjadikan waktu tempuh yang harus kami lalui sekitar 40-50 menit. Tepat pukul 08.00 pagi, kami pun tiba di kampus dan aku langsung memarkir motor ku di halaman belakang supaya lebih dekat jaraknya dengan ruang sidangku, biasanya aku memarkirkan motor di halaman depan. Dengan langkah pasti aku menuju ruang sidang dan juga dengan adanya Cristine menambah obor semangat dalam batinku.

“Pagi Dan, gimana kabarnya? Sudah siap dengan pertempuran hari ini?” Aku menyapa Dani teman sekelasku, yang juga sama-sama hari ini mengikuti sidang skripsi.
“Hai Man! Siap nggak siap mesti siap lah, lihat romannya, sudah pasti kamu siap yah, apalagi Cristine ikut dan jadi tim pedukung” Jawab Dani,
“Mudah-mudahan siap selalu dan juga nggak gugup saat menghadapi tim penyidang nanti, ngomong-ngomong Mirna nggak datang support kamu?” aku menjawab, sambil menanyakan Mirna kekasih Dani
“Ehm bagus lah… Mirna…, nggak bisa datang sebab ia lagi sibuk dengan tugas pekerjaannya, kalau acara wisuda pasti ia datang” Dani menjelaskan

Obrolan yang terkesan agak kaku terjadi sudah, mungkin juga karena suasana tegang sedang menyelimuti setiap diri kami, betapun hari ini adalah hari dimana menjadi penentu bagi kami untuk dapat meraih sebuah gelar kesarjanaan yang kami tunggu dan kami kejar selama ini.

Aku menunggu bersama dengan Cristine dan beberapa rekan peserta sidang lainnya, setiap peserta yang masuk ke ruangan sidang berjumlah Tiga orang. Dan terlihat sudah wajah-wajah yang tegang, dan aku pun melihat bagaimana para peserta yang telah keluar dari ruang sidang tampak berwajah kusut dan ada juga yang berwajah ceria. Wah, jantung ku semakin berdegup kencang dan rasa tegang ini masih menyelimuti segenap pikiranku, tak henti-hentinya aku minum untuk menghilangkan ketegangan dan sesekali Cristine berbisik,
“Tenang sayang, kamu pasti dapat mengatasi semua ini”
Aku hanya dapat mengangguk dan dalam hati tak henti-hentinya berdoa memohon ketenangan.

Tidak lama kemudian tibalah giliranku untuk memasuki ruang sidang dan kurasakan jantungku berdegup semakin kencang, dengan penuh kelembutan Cristine mengelus tanganku dan memberikan kata-kata suport. Sungguh apa yang ia lakukan telah membuat hatiku agak menjadi tenang. Aku pun memasuki ruang sidang, aku ucapkan salam pada tim penyidangku yang telah siap di depan. Ada tiga orang yang akan menyidang, aku mengenal mereka dan saat hari-hari biasa dalam perkuliahan aku tak merasakan ketegangan seperti ini, namun saat ini benar-benar aneh, semua diluar kendali, aku merasa gugup dan tegang. Salah satu tim penyidang mungkin mengetahui jikalau aku agak nervous lalu ia pun berkata,

“Man, santai saja nggak perlu tegang, duduk dan ini coba kamu minum dulu biar agak tenang dan kami dapat melanjutkan sidang ini” katanya
“Iya pak, terimakasih atas tawaran minumnya, saya sudah siap untuk melanjutkan sidang ini” Jawabku, ternyata pak Munthe dosen perpajakan, baik sekali beliau.

Lama juga aku dalam ruangan ini, pertanyaan demi pertanyaan saling mencercar ke arah ku, aku mempertahankan dengan segenap tenaga tentang tema, isi dan bahan dari skripsiku. Adu argumentasi pun terjadi dan setiap jawaban dariku pasti di balas lagi dengan pertanyaan lain yang lebih tajam dan kritis, lelah juga kurasakan namun aku harus dapat mempertahankan dan memberikan penjelasan yang logis dari paparan yang aku skripsikan. Hingga akhirnya selesai sudah persidanganku, lega rasanya telah usai dan kini aku tinggal menunggu hasilnya. Aku pun keluar dari ruangan sidang dan terasa lebih ringan keadaannya dibandingkan tadi sebelum masuk ruangan sidang.

“Kamu ok sayang?” tanya Cristine dengan penuh kelembutan,
“Fine Honney, tetapi entahlah hasilnya bagaimana, baru nanti sore di umumkan” Jawabku,
“Is’t good sweety, bagaimana kalau sekarang kita relaks sejenak dan kita makan dahulu?” Cristine memberi usulan,
“Good idea, ngomong-ngomong makan dimana say?” lanjut aku,
“Bagaimana kalau makan di kantin 88 dekat kampus Telkom? Kan jaraknya tidak berjauhan dari kampus ini?” Cristine pun mengusulkan sebuah nama,
“Ok! Yuk kita ciaw sekarang” kataku penuh semangat.
Cristine pun melingkarkan tangannya di antara perutku, ehm… sungguh indah bila ia selalu ada di sampingku. Aku pun melajukan motorku dan segera menuju tujuan yang dimaksud.

Tepat pukul 16.30, aku kembali ke kampus untuk melihat pengumuman hasil sidangku, Cristine pulang lebih awal ke rumahnya, ia mendapatkan kabar jikalau neneknya jatuh sakit dan di rawat di rumah sakit. Jadi aku kini sendiri menuju kampusku, rasanya sepi juga ia tidak dapat mendampingiku namun mau bagaimana, toh nanti hasilnya juga aku akan kabari ke Cristine. Sesampainya di kampus aku langsung menuju ruang papan pengumuman dan sudah banyak juga yang kumpul disana dan aku lihat Lucky, Syam dan Hilda ada di sekitar sana.

“Hai, gimana sudah ada beritanya?” tanyaku,
“Belum sob! Katanya nanti pukul lima tepat” Jawab Lucky,
“Oh, dikirain udah terpangpang beritanya” aku pun berbasa-basi,
“Iya nih, gua dari jam empat sore dimari nggak tahunya di undur jam lima, agak ngaret juga, kaya jadwal kereta api” keluh Hilda,
“Man, yang pasti elo lulus dah! Nggak usah khawatir” Syam ikut nimbrung,
“Syukurlah kalau emang begitu, lulusnya sih lulus tapi gimana selanjutnya?” Arman menimpali,
“Maksud elo?” tanya Syam dengan nada setengah kebingungan,
“Ya iya kita lulus, tapi lahan kerjanya gimana?” Arman menjawab dengan pesimis,
“Nggak usah pesimis begitu kali, kalau lahan kerja tidak dapat menampung kenapa kita tidak membuka lahan kerja buat orang lain?” Sahut Hilda penuh semangat,
“Bener juga, smart juga luh Hil!” Sambut Lucky, lalu,
“Namun bidang usaha apa yang akan di geluti dan di kembangkan?”
“Persis seperti itulah kebingungan gua, sebab selama sekolah otak gua penuh dengan beragam macam teori, sedangkan dunia kerja atau usaha memerlukan aplikasi daripada sejuta teori” Sambar Syam sambil sesekali garuk-garuk kepala saking kebingungan,
“Prinsipnya mudah saja sob!, yang penting ada kemauan, gigih dan tekun pasti ada jalan” Kata Hilda dengan nada yang terkesan simple,
“Iyah sih Sob! Tolok ukurnya emang itu dalam membangun sebuah usaha, tetapi jangan remehkan pula masalah modal ini juga penting” Kilah aku dengan sedikit beragumentasi,
“Sudahlah kenapa jadi pada melow begini, lebih baik kita lihat hasil sidangnya dan setelah itu baru kita berpikir sambil merenungkan kemana kita selanjutnya, yang penting usaha dulu hasil belakangan. Kalau modal tidak ada yah kita cari kerja dahulu, kalau kerjaan nggak dapat yah tetap jangan menyerah” Sambung lucky, kemudian katanya sambil setengah berteriak, “Tuh! akhirnya pengumuman datang juga!”

Kami pun melangkahkan kaki menuju papan pengumuman yang sudah mulai dikerumuni para mahasiswa-mahasiswi dengan beragam perasaan. Terdengar olehku teriakan histeris tanda kelulusan diraih, ada juga isak tangis pertanda adanya kegagalan. Aku lihat beragam wajah tergambar disana, suka, duka dan hening penuh kediaman tergambar disana. Hiruk pikuk yang tadi nampak seakan menjadi keheningan, kala duka menerpa, peluk hangat terangakai dalam keharuan. Aku datangi papan pengumuman itu, aku telusuri satu persatu mencari namaku… aha! Akhirnya ketemu juga, dengan diiringi degup jantung yang berdetak cepat aku lihat dengan seksama… Puji syukur kuucap pada-Mu Tuhan, aku lulus… terimakasih Tuhan atas penyertaan-Mu… aku tak henti-hentinya memuji dan bersyukur kepada-Nya… aku pun menyelinap keluar dari kerumunan dan dengan hati yang sukacita, aku mencari tempat yang agak sepi untuk menelepon memberi kabar.

“Selamat malam, Bunda” kataku, “Bunda dan Ayah beserta keluarga bagaimana kabarnya?”
“Eh.. anakku Arman, malam juga sayang, keadaan kami sehat dan bagaimana kabarmu nak?” tanya suara dari seberang sana, yang tak lain adalah Ibundanya Arman,
“Baik Bunda dan syukurlah kalian semua ada dalam keadaan baik-baik saja, gini bunda, aku hendak mengabarkan kabar gembira untuk bunda dan Ayah sekeluarga” Kata ku, sambil menghela napas panjang, lalu aku melanjutkannya,
“Begini bunda, hari ini sidang skripsinya telah usai dan Arman berhasil lulus, kini Arman sudah memperoleh gelar sarjana. Terimakasih atas doa dan semua dukungan dari Bunda dan Ayah yang tak mungkin dapat Arman balas di sepanjang hidup”
“… Nak… Oh terimakasih Tuhan! engkau telah menghantarkan anak kami menjadi sarjana” lalu “Engkau telah berhasil merampungkan cita-cita kami dan juga cita-cita mu nak, kami bangga padamu. Tetapi kamu tetap jangan berlaku sombong, tetaplah rendah hati” pinta ibundanya, terdengar getar-getar nada keharuan dari balik suaranya
“Iya bunda, Arman akan senantiasa mengikuti nasehat bunda, tapi Ayah ada disana Bun?” Tanya ku
“Anakku sayang… anakku yang tabah… sabar yah sayang…” Jawab dari seberang sana, dengan getar-getar suara yang berat,
“Bun…a…a… ada apa sebenarnya ini?” Lanjutku dengan penuh kecemasan,
“Sayang… maafkan bunda, baru dapat memberikan kabar padamu. Ayahmu nak!…a..a.. ayahmu… te…te…te…lah berpulang tadi siang tepat pukul 14.00. Bunda tak kuasa untuk mengabarkannya, karena bunda tahu hari ini engkau sedang menempuh ujian akhir dan bunda tak ingin konsentrasimu terpecah. Tapi percayalah nak! Ayah mu pasti bangga atas keberhasilan kamu” Sahut Bundanya, dengan nada penuh kegetiran,

“…” hanya keheningan yang hadir dalam pikiran Arman, ia begitu terpukul menerima kenyataan ini. Dimana, di hari ini tanggal 15 Juni adalah tepat hari kelahiran ayahnya. Dan ia ingin memberikan kado terindah untuk sang ayah dengan keberhasilannya meraih gelar kesarjanaan. Bingung… risau… kecewa… dan selaksa kesedihan bergalut dalam jiwa, terbayang sebuah gambaran sosok perkasa yang begitu kuat dan kerasnya berusaha untuk kemajuan anak-anaknya… aku teramat kehilangan engkau ayah, aku kini telah berhasil mewujudkan impianmu dan impian kita… oh Tuhan, tidakkah aku, Engkau beri kesempatan untuk memberikan sehelai kertas tanda keberhasilanku?

“Bun…da.. aku kangen ayah… aku… rindu ayah…” kataku terselingi isak tangis,
“Sudahlah nak! Jangan engkau menangis, kita semua pun pasti akan mengalami perpisahan, ingat anakku, ayahmu sungguh-sungguh bangga padamu… berdoalah dan temui ayahmu dalam doamu” bunda menenangkanku, kemudian “Selesaikan segala urusanmu barulah kamu datang ke rumah, jangan kamu bengkalaikan urusanmu, biarlah urusan ayahmu, bunda, kakak dan adik-adikmu yang mengurus. Kami semua bangga padamu dan jangan kamu sia-siakan kepergian ayahmu, lebih baik selesaikan segala perkaramu dan barulah kemari… yah nak?” pinta ibu sebari memberikan nasehat

“Iya bunda, aku akan selesaikan semuanya dan barulah aku kembali ke kampung. Terimakasih atas semua dukungan bunda, kakak dan adik-adik” aku mengakhiri pembicaraan.

Dalam kesunyian petang menjelang malam, dalam kepiluan hati yang bergejolak… sejuta kerinduan hinggap dalam benak, teringat sudah masa kecil, kala engkau menggendong tanpa letih… ayah, aku bangga padamu… ayah engkau adalah matahari yang selalu memberikan kehangatan dalam tubuhku… engkau tak pernah ingkar akan janjimu laksana mentari yang tak pernah ingkar menyinari bumi ini… selamat jalan pahlawan kehidupan… aku yakin engkau tersenyum bangga dan ku yakin surga-Nya telah menanti engkau disana… selamat jalan, ayahku terkasih…

Walau dalam suasana hati yang masih tergelayuti kesedihan dan kepedihan, Arman mencoba untuk memberitahukan tentang keberhasilannya kepada Cristine, dengan menghela nafas panjang, ia mulai menekan tuts handaphone. Tuut..tuut..tuut… “Maaf telepon yang anda tuju sedang di luar area”… aneh, nggak biasanya seperti ini. Arman kembali mencoba dan jawaban seperti itu kembali muncul, ia tak menyerah dan mencoba lagi namun kali ketiga tetap saja jawaban seperti itu yang terdengar. Mungkin Cristine sedang sibuk atau ia sedang mengobrol dengan sanak-saudaranya dan teleponnya tidak dibawa, itulah yang terpikirkan dalam benaknya. Dan Arman pun memutuskan untuk mengabari Cristine melalui SMS,

Cristine sayang,
Terimakasih atas semua dukungannya sungguh berkat doa dan dukunganmu aku kini beroleh kemenangan. Ketahuilah sayangku, hasil dari sidang skripsiku telah kuperoleh dan hasilnya sungguh luarbiasa, aku lulus dengan catatan “Cum a laude”. Terimakasih yah sayang, semua ini aku persembahkan untuk cinta kita.

Sayang cintaku,
Namun di balik kebahagian kita terselip duka di dalamnya, ayahku yang terkasih, pahlawan dalam kehidupanku… telah berpulang ke haribaan-Nya, tepat dimana di hari kelahirannya dimana aku ingin persembahkan keberhasilanku sebagai kado terindah untuknya. Namun Tuhan berkata lain, ia telah mengakhiri pertandingannya dengan meraih kemenangan.

Cristine my Honn’s
Maaf apabila aku hanya mengabari lewat sms ini, sebab berkali-kali aku telepon namun nomormu tak dapat juga aku hubungi. Sayang… esok pagi aku akan kembali ke kampung untuk menghadiri pemakaman ayahku, mungkin selama sepekan aku akan ada disana untuk membereskan hal-hal yang lainnya. Sekali lagi terimakasih atas semua dukunganmu selama ini… Love and Miss u…

Pagi yang cerah tak nampak kecerahannya dalam hati dan batinku, aku masih larut dalam suasana kesedihan, namun aku tetap harus bangkit dan melanjutkan kehidupanku. Aku paksakan tubuh ini untuk bangkit dan bangun dari tempat tidurku, aku raih handuk yang tergantung dan bangkit berdiri menuju kamar mandi. Hari ini aku akan ke kampus dan kemudian melanjutkan perjalanan menuju kampung halaman, dan aku pun telah meminta ijin pada bos koran, jikalau aku hendak pulang ke kampung halaman dan aku ceritakan semua kejadiaannya. Ia pun mengijinkan aku untuk cuti dari rutinitasku dalam meloper koran dan ia carikan pengganti sementara untuk jalur pengirimanku. Begitu pula tempat aku mengajar les matematika telah aku hubungi, dan mereka pun mengerti, lagi pula pekan ini adalah terakhir memberikan les sebab anak-anak didik kami akan menghadapi ujian.

Sebelum berangkat aku buka handphone ku yang sedari tadi aku charger, dan kulihat adakah balasan sms dari Cristine. Ternyata tak ada jawaban darinya, mengapa? Nggak biasanya seperti ini, namun aku alihkan perhatianku dari masalah itu untuk menghindari kecurigaan hati. Aku pun bergegas bangkit dan berangkat menuju kampus, dengan angkutan kota aku menuju kesana. Sebab jika aku pulang dengan mengendarai motor agak riskan juga perjalanannya, jadi aku memilih pulang ke kampung dengan naik bus.

Setiba di kampus aku langsung menuju ruang administrasi untuk mengurus segala sesuatunya, dua hingga tiga jam lamanya aku berada di kampus. Selain menyelesaikan administrasi dan urusan wisuda, aku pun ke senat mahasiswa untuk memberikan berkas pertanggung jawaban selama aku bertugas sebagai seksi Sosial dan Kemasyarakatan, juga aku ke himpunan mahasiswa manajemen untuk membereskan hal-hal lain. Aku memberitahukan kepada ketua senat dan ketua himpunan perihal kejadian yang menimpa aku, agar mereka tidak kecarian apabila melihat aku dalam sepekan yang akan datang tidak berada di tengah-tengah mereka. Selepas itu aku pun segera berangkat menuju terminal bus dan melanjutkan perjalanan menuju kampung halaman.

Selama dalam perjalanan sengaja handphone aku off, aku tak ingin terganggu dalam perjalanan ini. Aku ingin dalam kesendirian dan bercekrama dalam lautan alam renungku. Aku hanya ingin menikmati kesendirian ini dan bercekrama dalam alam kalbuku.

Enam jam sudah kulewati perjalanan ini hingga akhirnya aku sampai di terminal bus kabupaten, dari sini aku melanjutkan kembali perjalanan dengan bus seperempat menuju terminal kecamatan di kampung halamanku. Dari terminal kabupaten ini aku masih harus menempuh tiga jam perjalanan, sungguh perjalanan yang cukup melelahkan.

Karena hari sudah menjelang malam, sekitar pukul 21.00 aku baru tiba di terminal kecamatan dan angkutan kota menuju kampungku hanya beroperasi sampai dengan pukul 19.00, aku pun menggunakan kendaraan ojeg untuk menuju ke rumah ku. Rasa lapar yang kembali menerpa aku tahan sejenak, aku hanya ingin segera sampai di rumah dan melihat wajah ayahku untuk terakhir kalinya. Semalam bunda kasih kabar kalau ayah di makamkannya esok hari karena menunggu aku, dan sesuai pesan ayah jikalau ia kembali kepangkuan Tuhan ingin agar aku yang pertama kali menutup liang lahatnya. Bila ku ingat kembali masa-masa itu sungguh hati ini sedih sekali, namun aku harus tetap tegar.

Dengan menggunakan ojeg aku menuju rumahku, aku meminta kepada tukang ojeg agar melajukan kendaraannya agak dipercepat. Sebelumnya aku beritahukan juga tujuanku, ternyata tukang ojeg itu mengetahui akan ayahku. Ayah memang sangat dikenal di kampungku. Walau hanya seorang petani beliau tetap senantiasa memberikan bantuan pada yang lemah dan dalam hal ilmu pertanian, tanaman serta ternak, ia selalu berbagi dengan sesama petani. Ia senantiasa menginginkan para petani hidupnya kecukupan, dari tukang ojeg pula aku baru mengetahui bahwa ia pun pernah di tolong oleh ayah ku. Ia mengatakan bahwa motor yang kini menjadi tumpuan keluarganya adalah buah tangan dari ayahku, dari beliau lah modal untuk uang muka motor ini. Tak sengaja aku menitikan airmata, aku tahu ayahku memang senantiasa murah hati dan ia selalu mengajarkan untuk memberi pertolongan kepada yang lemah dan memberi bantuan kepada yang kuat. Dulu aku tak memahami apa maksud perkataannya, namun lambat laun aku menjadi faham apa yang ia ucapkan. Di sepanjang perjalanan menuju rumahku aku lebih mengerti lagi dan lebih memahami akan siapa ayahku, dari pak Ibrahim tukang ojeg ini yang bercerita banyak tentang ayah. Ayah adalah kebanggan bagi kehidupanku, aku bangga padamu ayah!. Tak terasa akhirnya aku sampai juga di rumah, aku pun menyodorkan beberapa lembar uang sebagai ongkos, namun pak Ibrahim menolaknya sebab ia tahu jikalau aku adalah anaknya pak Yakub. Tetapi aku tetap memaksa agar ia mengambilnya karena ini adalah hasil jerih payahnya, karena ia tidak mau maka aku selipkan uangnya di balik kantong jaketnya.

“Selamat malam bunda, kakak dan adik-adikku” sapaku dengan penuh ketegaran, aku pun langsung menghampiri bunda dan memeluknya erat-erat. Kudengar rintihan isak tangis dari bunda, kurasakan berat nafasnya dan kurasakan kepiluan batinnya serta kurasakan kerinduan yang dalam dari setiap tarikan nafasnya.
“Bunda… tetap sabar, ikhlas… dan yakinlah surga telah menanti ayah… kita harus senang dan bangga memiliki seorang ayah dan suami yang kokoh serta tabah dalam iman. Kita harus bangga kepada Allah karena senantiasa mengiringi hati ayah untuk selalu menjadi terang dalam dunia ini. Bunda, aku bangga kepada ayah yang telah mengakhiri kehidupan ini sampai dengan garis finish dan keluar sebagai pemenang. Aku yakin mahkota kehidupan telah Tuhan persiapkan untuk ayah kita” hiburku kepada bunda dengan suara yang tetap bernadakan ketegaran hati.

Bunda pun tetap dalam pelukan erat, seakan ia menumpahkan segala kerinduannya akan ayah, dan aku merasakan aliran kasih dari pelukannya. Kini isak tangisnya tak lagi terdengar, degup jantungnya tak lagi lemah, nafas-nafas kepiluan itu tak lagi nampak dan kulihat cahaya terang menghiasi relung wajahnya. Bunda kini mulai tenang, pikir hati ku, bundaku kini telah merasakan kenyaman dalam hatinya. Lalu ku tuntun bunda untuk memasuki kamarnya dan kurebahkan bunda di ranjangnya, lalu kuucap kata, “Bunda tetap tegar yah, aku sudah datang dan kini istirahat dahulu karena esok masih ada perjalanan yang harus kita lalui. Jangan khawatir aku kini ada di samping bunda… tidur yah bunda”. Bunda pun mengganggukkan kepala dan terus memegang tanganku, dan aku pun duduk di sampingnya menemani bunda hingga terlelap.

Tanggal tujuh belas bulan Juni, tepat pukul 09.00 pagi, kami hantarkan ayahanda tercinta pada peristirahatannya yang terakhir. Iring-iringan sanak keluarga dan handai taulan mengiringi kepergiannya, dengan tetap tegar aku mulai menutup liang lahatnya untuk yang pertama kali dan kutatap jasadnya untuk yang terakhir kalinya. Aku tetap berusaha tegar dan kutepis perasaan pilu. Aku tak ingin ayahku sedih, aku tak ingin ayahku berduka, seperti kata beliau, kematian bukanlah akhir dari kehidupan, kematian adalah sebuah perjalanan baru menuju alam kekekalan. Jasad kita mati dan tertanam dalam tanah namun ruh kita kembali keharibaan-Nya untuk menjalani kehidupan yang baru. Kesedihan, isak tangis dan duka yang dalam hanya akan menghambat laju pengembaraan yang baru, dan pesan ayahku jangan tangisi setiap jasad orang yang berpulang sebab tangisan itu akan menjadi penghambat perjalanan mereka menuju alam yang kekal. Mengingat perkataan ayah membuat aku bertahan untuk tetap tegar dan tabah.

Sepulang dari pemakaman kami sekeluarga berkumpul di rumah, beberapa saudara dari ayah dan bunda pun sebagian masih turut berkumpul di rumah. Bunda sendiri memiliki dua orang saudara kandung dan mereka tinggal jauh di luar kota, namun hari ini mereka tetap menyempatkan datang untuk memberikan dukungan moral kepada kami sekeluarga. Sedangkan ayah tidak memilki saudara kandung, ia adalah anak tunggal namun famili dari mendiang kakek dan nenek terlihat hadir disana, mereka pun memberikan dukungan moral bagi bunda dan keluarga kami. Dukungan moral seluruh keluarga ayah dan bunda telah memberikan kami kekuatan dan semangat yang baru. Sungguh dibalik duka, Tuhan senantiasa memberikan penghiburan yang besar dan itulah yang kami rasakan.

Setelah semua sanak famili meninggalkan rumah kami, aku baru membuka handphoneku. Dan disana ada beberapa sms yang ternyata dari Cristine, dan begini lah isinya;

Dear kekasih hati dan jiwaku,
Dengan sejuta untaian kata yang terangkai dalam rangkaian kalimat agung, aku turut berbelasungkawa, aku yakin ayah kita yang tercinta telah meraih mahkota kehidupan dan surga-Nya telah menanti. Janganlah kau tangisi kekasih, airmata dan kepedihanmu hanya akan menyayat hatinya… tabah dan tegar… perpisahan adalah penghiburan dalam duka, kebahagiaan adalah pena sukacita dalam derita… aku yakin, engkau adalah kekasihku yang selalu bersabar dalam segala hal

Kasih cintaku,
Dalam sedih dan kepedihanku ada selaksa kebahagiaan dan sejuta sukacita, kala aku mendengar sang bayu mengirimkan kabar akan kemenangan yang engkau raih… maafkan aku kekasihku, dalam kepedihan dan kebahagianmu aku tak dapat hadir di sisimu… jangan tangisi ketiadaanku, karena nafasku adalah sebagian jiwamu dan aku hadir dalam setiap nafas yang kau hirup. Dalam nisbi tidak lah kosong, dalam kehampaan tidaklah kerontang…

Kasih belahan jiwa,
Aku bangga akan engkau,… engkau adalah mentari bagiku yang tak pernah ingkar janji dalam menyinari setiap sendi relung tubuh dan jiwaku. Janjimu telah kau tepati dengan membawa kemenangan ke atas pangkuanku. Inilah awal kemenangan yang telah engkau berikan dan kuyakin kemenangan-kemenangan yang lain pasti akan kau peroleh..

Duhai Rajawaliku…
Buatkanlah untukku sarang di tempat yang tertinggi dan bawalah aku serta disana agar tak seorang pun dapat meraihku dari sisimu. Bawalah aku berkelana dalam cakrawala biru megahnya angkasa raya, bersama denganmu mengelilingi samudera tanpa batas. Datanglah Rajawaliku dan hentakkan sayapmu dan lesakkan lajumu menembus batas sang waktu, cengkramkan cakarmu dan koyaklah hati para pemburu yang gelap mata yang hanya mengejar dunia yang fana… duhai rajawaliku, aku rindu akan nafas dan harum tubuhmu… datanglah kasih dalam pekatnya malam yang gelap gulita dan jadilah pelita dalam kehidupanku…
… aku sayang dan mengasihimu selamanya …

Ada apakah dengan Cristine? Mengapa ia membuat beberapa sms dengan kalimat-kalimat seperti itu? Aku merasakan ada kepiluan yang dalam yang sedang ia rasakan, ada kesedihan yang begitu membuat hatinya terluka… ada apakah gerangan?… jangan…jangan… pikiranku mulai meracau ke arah yang negatif. Aku harus singkirkan pikiran-pikiran buruk itu, aku yakin semua ini mungkin karena kesedihan dia yang tak dapat hadir di sisiku. Namun mengapa pada beberapa kalimat yang terakhir seperti itu? Jelas itu adalah suatu kegalauan yang besar dan pasti telah terjadi sesuatu, aku harus meneleponnya untuk menanyakan hal ini, begitulah pikiranku mengatakan.

Tuuutttt.. tuuutt… tuuut, nada sibuk terdengar dari seberang sana. Aku coba lagi beberapa saat kemudian… tuuutuut. tuutuut.. tuututuuut, masih juga nada sibuk… aku terdiam dan setelah lima menit kuberdiam, aku kembali mencoba untuk menghubunginya, … tuuut.. tuut.. tuut.. “Maaf telepon yang anda tuju tidak menjawab”. Aneh sekali kenapa bisa begini? Dalam diam di keheningan hatiku, aku rebahkan tubuh ini di ranjang yang dahulu setia menemani aku di dalam samudera impian, sebelum akhirnya aku meninggalkan kamar ini untuk melanjutkan studiku, aku dekap handphoneku didada… aku pejamkan mata ini untuk mendapatkan rasa tenang dalam hati… drettt.. drettt.. drettt… tiba-tiba teleponku bergetar, aku lihat dan ternyata nomor yang tidak aku kenal, namun kode wilayahnya menunjukkan kode wilayah internasional, siapakah gerangan? Apakah dari paman Yosua, salah satu kerabat ayah yang kini berada di Australia. Aku pun mengangkatnya,

“Hai sayang, i..i..ni aku Cristine… a…a…aku.. mohon.. maaf.. tidak dapat berada di sisimu saat ini” lalu “Sms ku sudah kamu terima, sayang?”
“Hai sayang, aku sudah terima sms dan terimakasih atas belasungkawanya. Tapi ngomong-ngomong dilihat dari kode areanya ini kode internasional, memang kamu lagi dimana?” jawab dan sekaligus aku bertanya dengan nada agak datar,
“A…aku.. lagi di Australia, ke tempat paman dan tante aku yang stay disana bersama nenek. Mereka membawa kabar bahwa nenek sakit keras dan beliau ingin banget berjumpa dengan aku. Kebetulan papi lagi ada di sini dan aku esoknya bersama mami dan mereka berdua akhirnya menyusul ke Australia” lanjutnya dan kemudian, “Aku kangen kamu sayang! Really miss u so much, my hon’s”
“Oh.. begitu toh rupanya, jujur sayang aku pun kangen sama kamu namun mau bagaimana lagi jarak telah memisahkan kita” Jawabku singkat,
“Say, rencananya aku sepekan di Australia, aku sih ingin sekali cepat-cepat pulang. Aku ingin berjumpa dengan Bunda, kakak dan adik-adik kita. Aku merasakan kedamaian yang luarbiasa apabila berada dekat keluargamu. Honney! Please marry me quickly!… bunda sekeluarga kabarnya baik-baik saja kan hon’s?” lanjut Cristine dengan manjanya yang khas,
“Mereka sehat wal’afiat tak kurang apapun dan mereka juga menanyakan kabarmu dan aku jawab bahwa kamu sedang menengok nenekmu jadi belum dapat datang ke rumah” jawabku dan tak menjawab permintaan Cristine,
“Ok dah my lovely, aku nggak bisa lama-lama sebab sebentar lagi aku hendak ke rumah sakit lagi, ok yah darling aku tunggu lamarannya.. please marry me quick!” lanjut Cristine, sambil mengucap kalimat permohonan menikah untuk kedua kalinya,
“Ok Cristine sayang aku pasti melamarmu dan menikahimu, namun untuk saat-saat ini aku belum siap sebab aku belum memiliki pekerjaan tetap” aku sedikit menjelaskan,
“Aku tak peduli kamu sudah punya pekerjaan tetap atau tidak namun aku hanya ingin kamu selamanya di sisiku, bukankah selama ini pun sayangku sudah mempunyai pekerjaan?” lanjut Cristine menggebu,
“Benar sayang, aku memiliki pekerjaan namun tentunya apabila untuk kita berdua aku khawatir tidak akan mencukupi dan juga bukankah kuliahmu masih tinggal satu tahun?” aku memberikan alasan yang mungkin logis,
“Sayang bagiku bersama denganmu selamanya adalah cukup, dan semua itu sangat mendatangkan kebahagiaan, berapapun dan apapun kamu, semuanya aku tak peduli. Jikalau kamu hendak membawa aku ke kampung dan tinggal disana sambil engkau meneruskan usaha ayah kita, aku rela untuk berkubang dengan lumpur… jujur sayang hanya denganmu aku merasakan bahagia dan hanya kamu yang dapat membuat aku bahagia. Tahukah kamu apa yang menyebabkan aku begitu amat mengasihi kamu? Karena kamu apa adanya dan kamu tidak memanfaatkan akan keberadaan aku, bahkan kamu telah membuka cakrawala dalam alam pikiranku” jawab Cristine panjang lebar
“…” aku hanya terdiam dan sesekali menghela nafas panjang dan berpikir… ada apakah Cristine?
“Halo…sayang kamu masih disana?” lanjut Cristine,
“Iya sayang aku masih disini mendengarkanmu dan suara hatimu, kejujuran hatimu telah menggugah jiwa ini. Cristine sayang, ada apakah gerangan hingga engkau ngotot seperti ini?” aku pun balik bertanya,
“Tidak sayang tidak ada apa-apa, aku hanya khawatir saja engkau tiada lagi untukku dan aku tiada lagi untukmu… entahlah mengapa rasa cemas ini bergelayut terus dalam alam pikir” sahut Cristine, dengan getar-getar cemas yang tampak dari nadanya.
“Sudahlah sayang tak usah kamu risaukan lebih baik kita berdoa dan biarkan kehendak-Nya yang berlaku untuk setiap kehidupan yang terjadi pada kita, istirahatlah dan pejamkan matamu lihatlah lebih dalam apa yang hati dan jiwamu katakan” aku sedikit memberikan Cristine ketenangan,
“Baiklah sayangku, kamu memang mengerti akan aku dan hanya kamu yang memahami hati, jiwa dan pikiranku… selamat istirahat sayangku… aku sayang padamu… mmmuuaaahhh” dengan centil Cristine berucap,
“Dah sayang… love and miss u so much” Aku membalas ucapanya.

Alam pikirku menerawang mencari jawab atas kisah yang baru saja terlintas dalam kehidupan, ada apakah ini? mengapakah seperti ini? aku terus mencari jawaban dari pertanyaan dan pernyataan darinya yang hingga kini belum dapat kuperoleh jawaban. Dalam lautan gelombang prahara resah, ku kaitkan sauh asaku pada satu gemintang yang bergemerlap dengan megah, yang menyinari dan menjadi pelita dalam pekatnya malam di samudera raya… kugapai hangatnya rembulan dan kurengkuh tangan-tangan lembutnya dan berharap cakrawala memberiku jalan keluar yang bijak dari apa yang sedang terjadi pada kehidupanku… dalam gelapnya malam kusibak tirai yang menutupinya, namun tetap saja samar kuperoleh jawab disana… hanya kosong dan nisbi serta kehampaan yang kerontang kuperoleh… aku sandarkan tubuhku pada empuknya ranjangku dan kubiarkan mataku terpejam dan kunikmati pekatnya malam ini tanpa bayangmu hadir dalam relung kalbuku…

“Selamat pagi bunda” Sapaku sambil mengecup keningnya,
“Pagi Arman sayang” Jawab bunda, kemudian lanjutnya, “Hari ini kamu jadi pulang?”
“Jadi bunda, selain hendak mengurus urusan di kampus juga yang terpenting aku harus kembali kerja. Sesuai janji aku pada pak Yance bos koran, bahwa aku ijin satu pekan. Begitupula dengan bang Amri yang sudah ijinkan aku untuk rehat sejenak memberi les privat pada anak-anak” Aku pun memberi penjelasan,
“Bagus nak! Janji adalah hutang, kamu harus senantiasa komitmen dalam segala hal dan dapat di percaya dalam memegang amanah” Nasehat bundanya,
“Terimakasih Bunda atas nasehatnya, oh iya bun! Akte kematian dan surat-surat penting lainnya sudah aku tempatkan dalam satu map file dan aku simpan di lemari bunda” Ucapku mengingatkan bunda tempat penyimpan surat-surat penting,
“Terimakasih nak!, sebelum pulang kamu sarapan dulu yah, bunda buatkan ikan mas cobek kesukaanmu” Sahut bunda,
“Pantas saja sedari tadi aku mencium wangi yang sedap, ternyata menu kesukaanku bunda buatkan” lanjutnya, “Bunda, kita makan sama-sama kebetulan rasa lapar sudah mulai menendang-nendang perutku”
“Tidak sayang, makanlah kamu dengan kenyang, kebetulan bunda sedang berpuasa” bunda berkata sambil memberikan penjelasan,
“Oh… baiklah bunda, aku segera makan, terimakasih sudah menyiapkan makanan ini” Arman pun berkata, dan kemudian berjalan dan menghilang dibalik tirai menuju ruang makan.

Tepat pukul 08.00 pagi, Arman pamitan kepada Bunda dan sebelum ia berangkat, Arman mengingatkan kembali kepada bundanya akan jadwal wisuda yang akan diselenggarakan pada tanggal 2 Juli bulan depan. Bunda mengganggukkan kepalanya dan sesekali ia mengusap airmatanya, Arman pun melangkahkan kakinya hingga bayangan dan dirinya hilang dari tatapan sang bunda…

Semilir angin yang keluar dari air conditioner bus Patas ekklusif Mulyo Sari ini cukup nyaman, walau hawa panas di luar sangat menyengat namun di dalam sini begitu dingin dan terasa menyejukkan. Membuat mataku mulai meredup dan ingin secepatnya dipejamkan, namun entah kenapa hati ini masih saja tak dapat menahan kerinduan kepadanya, yah! Wajah Cristine yang manis itu seakan tergambar jelas melayang dan bermain dalam relung kalbu… mmmhhh, andai engkau ada disini sayang, begitulah suara hati ini berkata…

Dimanakah engkau kekasih? Apakah engkau berada dalam taman surga, menyirami bunga-bunga yang mulai merekah. Ataukah engkau berada di sudut kamar sambil berlutut berdoa kepada sang alam, tempat bersemayam impian-impian kita? Ataukah engkau terbaring kaku di atas meja persembahan, kala durjana-durjana keserakahan dunia ingin merengut kesucian cintamu? Adakah engkau ingat wahai kekasih, kala ku ucap selamat malam dan kau rengkuh tanganku, lalu kau kecup hangat bibirku…

Itulah sebuah ciuman yang mengajariku, bahwa ciuman mesra sepasang kekasih dapat menyingkap rahasia-rahasia surgawi yang tak dapat di ungkap dengan untaian kalimat. Ciuman hangat itu begitu memberikan kesan yang panjang dan dalam bagi relung jiwaku. Laksana nafas Tuhan yang menghidupkan jiwa-jiwa yang mati. Laksana tetesan embun di luas padang gurun sahara, yang melepaskan dahaga yang berkepanjangan.

Dimanakah engkau duhai kembaran jiwaku? Apakah engkau mendengar jeritan dan tangisan hatiku dari balik hamparan samudra? Apakah engkau tahu akan kebutuhanku? Apakah engkau tahu keagungan kesabaranku? Dimanakah engkau kekasihku… tahukah kamu aku merindukanmu?

16 August 2013 (21.00 WIB)

Cerpen Karangan: Ar Rahadian
Blog: Arsy_imanuel.blogspot.com

Cerpen Lima Belas Juni merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Bintang

Oleh:
Sepuluh tahun sudah aku tidak ditemani bintang sahabatku, dia adalah sosok yang baik, serta peduli dengan keadaan di sekelilingnya, seperti namanya bintang memang selalu menyinari hati yang dirundung kelam.

MyCerpen 1: Terakhir Kuingat Namamu

Oleh:
Namaku Ajang, sekarang ini aku berada dikelas 10 SMK. Aku sangat senang belajar disekolah kejuruan ini, gak pernah terpikir kalau aku akan melanjutkan sekolah lagi. Biaya sekolah yang mahal,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Lima Belas Juni”

  1. lia'Z says:

    Good story.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *