Lintang Kemukus

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Inspiratif, Cerpen Kehidupan, Cerpen Motivasi
Lolos moderasi pada: 3 October 2012

Garam Mogok Asin

Aku garam. Bentukku macam-macam. Kebanyakan sudah halus dan siap tabur. Tapi di kampung-kampung, masih ada juga yang menggunakanku dalam bentuk kotak-kotak batangan. Mesti ditumbuk sebelum dicampur dalam masakan agar cepat larut.

Rasaku? Jangan ditanya lagi. Keasinanku sudah terkenal dari masa ke masa. Ada yang sangat asin, asin dan cukup asin. Maka kau bisa menaburkanku sesuai dengan kadarnya.

Tanpaku masakan jadi terasa hambar dan tak nikmat. Coba saja kalo tak percaya. Tapi jangan coba-coba mencicipinya begitu saja dalam jumlah banyak. Lidahmu akan kelu keasinan.

Sebalnya, manusia tak menghargaiku! Berapa coba harga garam? Dengan lima ratus rupiah, manusia bisa mendapatkan sekantong garam. Padahal fungsiku tak sebanding dengan harga belinya. Seenaknya saja mereka meremehkanku. Mentang-mentang aku ada dalam jumlah banyak.
Aku memutuskan memulai aksi protes ini dengan mengirimkan sms berantai ke kawanan garam di sebuah kampung.

“Prens, sudah saatnya kita menyuarakan hak kita. Keadilan harus ditegakkan. Jangan mau dihargai semurah ini sementara manusia begitu rakus memanfaatkan kita. Mari bersama kita melakukan gerakan aksi anti asin. Setiap kita yang dicampur dalam masakan, jangan keluarkan rasa asin itu!”

Aku tersenyum puas. Smsku terkirim sempurna ke aneka ragam dan rupa garam di kampung ini. Rasakan pembalasan kami wahai manusia!

“Tadi saya masak sayur pake lima sendok garam, kok enggak asin ya?” seorang ibu curhat pada tetangganya di forum arisan.

“Jangankan lima sendok. Saya pake lima bungkus saja tidak asin,” Ibu lain menyeletuk bingung.

“Suami saya mengira saya enggak pake garam. Sampe ngasih uang belanja tambahan untuk beli garam,” Ibu muda yang punya anak balita ikut nyambung.

“Sayur saya juga hambar. Saya sampe beli garam di kampung sebelah. Tapi setelah masuk kampung kita, asinnya hilang. Padahal saya udah bela-belain nyicip itu garam di warung kampung sebelah,” Ibu yang gemuk ikut berkomentar.

Aku mneyeringai penuh kemenangan. Rasakan kau!

Aksi yang kumobilisasi ini akhirnya terdengar juga hingga garam-garam di kampung lain, hingga sampai pada tambak-tambak pembuatan garam dan bergaung di lautan. Bangga jadinya. Ada yang mendukung, ada yang acuh, ada yang mencemooh. Biarin, bukankah perubahan selalu dimulai dengan penolakan?

Laut akhirnyamengirimsms padanku, menanyakan sebab musabab boikot kami. Bagaimanapun juga ia berperan melahirkanku menjadi garam.

“Kita gak dihargai sebagaimana mestinya. Makanya kita protes,”

“Emang kamu mau minta dihargai berapa?”

“Yah, jangan lima ratus rupiah lah,”

“Kan kalo beli garam satu truk harganya bukan limaratus rupiah,”

Aku mendengus marah.

“Enakan punya nilai diri daripada harga diri?”

“Maksudnya?” aku bertanya.

“Jangnlah kita peduli berapa kita dihargai orang. Bagaimana kita dinilai orang. Asalkan kita tetap memberikan manfaat bagi mereka. Itulah nilai diri,”

“Bagaimana bisa?” aku protes.

“Kita tak butuh penghargaan. Bermanfaat saja sudah membahagiakan hati. Asal kita lapang dan ikhlas melakukannya,”

Aku termenung sesaat. Teman-teman garam lain juga ikut berpikir.

“Jadilah garam yang dicari karena manfaatnya meskipun kau terlihat sepele dan remeh. Bagaimanapun mereka membutuhkanmu. Bukankah tujuan kehidupan kita adalah bermanfaat bagi yang lain?”

Aku jadi malu dengan ucapan laut. Ia memang selalu luas dan lapang hatinya. Ia selalu menerima segala sesuatu yang dikirim sungai tanpa protes. Mau air, mau sampah, mau limbah, mau mayat. Ia terima dengan terbuka. Ia kembalikan pada pesisir pantai pada waktunya.

Andai aku bisa selapang laut dengan kedalaman keikhlasannya, tentulah tak jadi soal bagaimana manusia menghargaiku. Bermanfaat bagi mereka menjadi nilai pribadiku semestinya.

“Alhamdulillah, garam saya sudah asin lho,”

“Iya, masakan saya kembali nikmat. Suami dan anak-anak tak lagi protes,”

“Garam benar-benar bermanfaat ya,”

Saya tersenyum bahagia mendengarnya. Kami mengakhiri mogok kami usai berdialog dengan laut kemarin sore.

Sekarang, saatnya aku berkorban. Sebuah wajan panas dengan tumisan kangkung memanggilku mesra. I’m coming!

Cerpen Karangan: Yosi Prastiwi
Blog / Facebook: ochikohumaira
menyukai hujan dan kopi

Cerpen Lintang Kemukus merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Senyum Terindah Darimu

Oleh:
Senyum itu, bukan sekedar ku menggapai bintang. Bukan sebatas ku berpijak dalam awan. Juga bukan hanya hiasan saat ku lihat hujan. Walau sekilas pelangi, tapi sangat berharga bagiku tuk

Dirimu Apa Adanya

Oleh:
Gadis berjilbab ungu itu begitu manis, senyumnya begitu menawan, dan lesung pipinya sangat menarik hati. Gadis itu tengah bersandar pada pohon kelapa di kebun milik Pak Totok sembari membaca

Maafkan Aku Ibu

Oleh:
Pada malam itu Novi bertengkar hebat dengan ibunya.karna sangkin marahnya mereka ibunya mengusir Novi.Dan ia pergi dari rumah tanpa membawa apapun.. Setelah lama berjalan,Novi melewati sebuah kedai mie.Ia lapar

Bullying In Last 15 Years

Oleh:
“Ibu Thalita, ini berkas-berkas penerimaan karyawan-karyawan baru di perusahaan kantor kita” “Ah, iya taruh saja di meja saya ya, terima kasih” “Iya Bu” Thalita masih memandang kota Jakarta dari

Yang Terindah Tapi Tidak Selamanya

Oleh:
Ini mungkin hanya cerita yang sering kalian dengar. cerita tentang lelakiku yang sekarang berada di sana. sebut saja dia ‘Gigi’. dia adalah teman SD-ku. kami sempat beberapa tahun satu

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *