Lockdown

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan
Lolos moderasi pada: 20 April 2021

Yasa baru saja mendatangkan 4 unit armada barunya untuk bisnis pariwisata miliknya yang semakin berkembang. Unit senilai 7 m itu bahkan belum sempat mengaspal ke destinasi wisata mana pun. Satu pun belum pernah sejak datang dari karoseri. Namun, pemerintah tiba-tiba melakukan lockdown karena penyebaran virus corona yang membahayakan kesehatan dan keselamatan setiap orang.

“Sekolah diliburkan, suruh belajar dari rumah,” kata Diva, putrinya yang masih kelas 5 SD.
“Kenapa?” tanya Yasa, papanya.
“Kata bu guru ada virus berbahaya, semua siswa harus belajar di rumah,” jawab Diva.
“Virus?”
“Ya, virus corona.”

Hari-hari pertama lockdown masih seperti libur biasa dan belum terasa dampaknya.
“Berapa lama lockdownnya?”
“Entahlah, bisa satu bulan, dua bulan bahkan mungkin satu semester kalo melihat anak sekolah.”
“Waduh, bisa bangkrut aku kalo selama itu lockdownnya.”
“Tapi cicilan kan juga dihentikan bank kalo saya dengar di TV?”
“Lha yang dimakan?”
“Depositonya dicairkan dong, bisnismu kan untungnya besar?”
“Modalnya yang besar?”
“Untungnya pasti juga besar, paling tidak, ya seimbang.”
“Alhamdulilah.”
“Jalani saja. Semoga corona cepat dapat diatasi. Semua pasti terdampak, langsung ataupun tidak langsung.”
“Tapi gajimu kan utuh.”
“Iya, gaji abdi negeri kan kecil, tidak ada apa-apanya dengan pendapatanmu. Gajiku satu bulan sama dengan gajimu sehari,”
“Ah, bisa saja.”

Sudah 10 bulan masa darurat pandemi corona berjalan dan belum ada tanda-tanda akan berakhir. Justru orang-orang yang terpapar semakin banyak. Pembatasan-pembatasan yang dilakukan pemerintah tak digubris masyarakat. Banyak orang tak patuhi protokol kesehatan, tak mau pakai masker, sering berkerumun alias tak mau jaga jarak.

“Gimana Bos kapan boleh jalan?” tanya Anang, sopir bus pertamanya.
“Tak tahulah Pak. Wong tempat wisata ya masih belum dibuka. Mau rekreasi ke mana?”
“Anak sekolah ya belajar daring di rumah, katanya tidak ada studi tur. Saya juga pusing Pak.”
“Hanya ziarah wali ini yang tampaknya masih jalan ya Pak?”
“Sama saja. Tidak berani. Orang-orang takut kena razia lalu di-rapid test. Kan bayarnya mahal. Kalo positif langsung dikarantina. Siapa yang tak takut?”
“Zaman susah…”

Situasi yang tak menentu masih terus berjalan. Bus sudah disesuaikan kapasitasnya hanya 75 persen karena physical distancing. Namun, kebijakan itu hanya untuk bus yang melayani trayek tertentu, bus patas dan bus bumel. Bukan untuk bus pariwisata.
Sopir dan kernet menganggur. Bus terparkir di garasi sampai menjamur entah sampai kapan. Tak ada kepastian.

“Sudah sampean cari kerja lainnya. Kembali nggandeng ya gak apa-apa. Tapi saya tidak mem-PHK kalian. Kalau keadaan sudah kembali normal pintu terbuka untuk kembali bekerja di sini,” kata Yasa dengan putus asa.
“Saya tunggu saja Bos,” jawab salah satu sopir.
“Monggo. Tapi mulai besok nunggunya di rumah. Di garasi tidak saya sediakan makan siang seperti biasanya karena tidak ada pekerjaan. Semua reparasi sudah selesai. Bus sudah siap jalan semua,” kata Yasa menutup arahannya.
20 sopir itu tampak kecewa tapi semua tak bisa berbuat apa-apa.

“Nyesel aku milih presiden dia,” celetuk seorang sopir.
“Lho… kok jadi ke presiden segala?”
“Iya dong. Sopirnya negara ini kan presiden.”
“Iya, tapi nyopir negara sebesar Indonesia itu tidak semudah nyopir bus pariwisata kayak sampean Cak,” komen yang lain.
“Tapi kalo sopirnya tentara pasti tidak seperti ini, lebih tegas!”
“Pasti kamu sudah dikarantina,” jawab lainnya.
“Aku enggak positif Cuk!”
“Memang… tapi dikarantina di rumah sakit jiwa,” kata lainnya.
“Hahaha,” tawa mereka riuh. Mereka memang pandai menghibur diri. Lalu bubar pulang ke rumah masing-masing dengan tangan hampa. Mereka terus menunggu, menunggu, dan menunggu. Tak tentu.

Cerpen Karangan: Suwarsono
Blog / Facebook: Suwarsono S.

Cerpen Lockdown merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Bara Cinta Rindu

Oleh:
12 Desember 2000 “Dasar wanita gak tahu diri!”teriakan Papa menyambutku di balik pintu. Wajahnya merah padam.Napasnya memburu penuh amarah.Dengan tangan kanan terangkat ke atas.Siap menerjang Mama yang kini bersandar

Buku Harian Seorang Tapol

Oleh:
Namaku Parto Giman. Aku hanyalah seorang guru SD ndeso. Aku tinggal di kampung, di rumah warisan mertua. Sebuah rumah bergaya limasan dengan pendopo seluas lapangan bulu tangkis. Disini aku

Nggak Beli Lotre Pa?

Oleh:
“Nggak beli lotre Pa?” tanya Juariah ketika Joko suaminya baru pulang dari kantor. Joko memandang Juariah dengan tatapan yang sama seperti kemarin dan seperti kemarin lagi dan seperti yang

Mental Kuli

Oleh:
Lampu merah tanda berhenti, aku menyeberang saat semua kendaraan mulai berhenti, berjalan di trotoar menuju ibu-ibu yang membawa seabrek koran, “beli satu bu, berapa?” tanyaku sambil milih-milih koran yang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *