Look Around, It’s Drowning

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Sastra
Lolos moderasi pada: 22 August 2017

Beberapa orang terlihat bahagia melalui media sosialnya disertai tawa untuk meyakinkan kebahagiaannya. Beberapa yang lain tak segan menunjukkan kesedihannya disertai tangis untuk membuktikan betapa pilunya perasaan mereka. Ada pula yang mencoba menghibur diri dengan emoji tawa yang disertai kata yang mengatakan betapa sedihnya mereka.
Tidak ada yang tahu apa yang sebenarnya mereka rasakan, orang terpaksa atau memaksakan diri sebagai pengamat hanya bisa berasumsi dengan foto yang telah terunggahkan ke dunia maya.

Sama halnya seperti saya, yang terkadang tak ingin melewatkan momen yang saya alami untuk kemudian merekam dan masuk ke dalam maya, tidak lupa dengan menambahkan emoji yang selalu tersedia mewakili rasa.
Menjadi seorang pengamat maya memang sedikit berbahaya, antara kita yang terbawa dengan apa yang kita amati, atau mungkin menuliskan cela, meskipun sang pembagi tak bermaksud untuk menerima cela, hanya saja para pembagi mungkin sedikit lupa, bahwa maya masih terlalu kejam untuk mereka.

Maya memang mendekatkan mereka yang telah terjarakkan, maya memang menjarakkan mereka yang sempat berdekatan, antar mata yang kemudian menjadi antar udara, hingga antar dunia yang melalui sepenggal tulisan doa. Mereka dulu yang sempat berbagi tawa ketika bersila di atas tikar di depan emparan pertokoan, kini telah kesulitan untuk bertegur sapa meskipun melalui layar perangkat mereka.

Alas tikar kini telah berganti kursi nyaman, modernisasi latah mewariskan kehambaran, mungkin hanya secangkir kopi yang menawarkan kepahitan. Percakapan ringan yang dulu mengalir wajar, kini berganti dengan mata yang menunduk mengamati apa yang ada dalam genggaman. Hanya sedikit yang membiarkan, hampir semua menunggu getaran, menunggu bunyi-bunyian, berharap berapa cinta yang telah mereka dapatkan dari pengabadian fana secangkir caffelatte yang bergambar tanda cinta yang terpotret begitu cangkir itu mendarat. Padahal caffelatte memiliki pesona sejati tersembunyi di balik kesederhanaan dan kelembutan, Folosofi Kopi sendiri pernah mengutarakan.

Bersila dulu sempat dirindukan, hingga kemudian terlupakan, terangggap usang, yang dulu tak perlu maya sebagai tempat untuk pengabadian, yang begitu mudah terpatri melalui kenangan. Kedai-kedai berceceran, hanya sebagian kecil yang menawarkan kualitas, selebihnya hanya kuantitas, dengan ornamen kedai yang dianggap layak untuk menjadi latar pengabadian.

Kedai kopi dan maya menjadi satu hal yang tak bisa lagi dipisahkan, yang bisa saja menyatukan, namun bisa pula memisahkan. Mereka yang beralih dari bersila tanpa maya, memilih duduk nyaman dengan semakin jarang munculnya ocehan, terlalu berkutat dengan apa yang ada di dalam genggaman, coffelatte harus sedikit terpinggirkan, terdinginkan kemudian hanyut melalui tenggorokan. Maya, menjadi alat untuk pengabadian.

Maya memang seperti itu, dunia abu-abu yang hanya menimbulkan pertanyaan, yang hanya akan muncul jawaban jika kita mencoba mengindahkan.

Cerpen Karangan: Afief R. Hudiyawan
Blog: hudiyawan.id
Hidup adalah berbagi, media cerpen ini pun adalah tempat untuk berbagi, kepada mereka yang ingin mengetahui isi hati, kepada mereka yang ingin mengingat kembali, kepada mereka yang ingin memanggil memori, kepada mereka … yang gagal bermimpi.

Cerpen Look Around, It’s Drowning merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Ice Cream Love

Oleh:
Kopi ini hanya terlihat kabut tipisnya dan menebarkan aroma khas. Belum berhenti mencari inspirasi untuk apa yang sekarang harus ku tulis setelah aku kehilangannya. Waktu seakan berhenti ketika aku

Sebelah Mata

Oleh:
“Allah ya nabi, salam alaika…” Shalawatan terdengar dari rumah Pak H. Asep. Setiap sebulan sekali, Pak H. Asep kerap mengadakan pengajian yasinan. Dan kebetulan, pada saat Pak H. Asep

Kau tak Sendiri

Oleh:
Apakah diantara kalian ada yang pernah membayangkan yang akan terjadi pada diri kalian begitu hari berganti? Aku rasa kalian pernah membayangkannya, tapi hasilnya berbeda jauh dengan apa yang kalian

Hidup Tak Seindah Surga

Oleh:
Di dalam gelapnya sebuah malam terdapat pemuda yang hidup dalam kesederhanaan. Ia hanya memiliki seorang ibu dan ditemani oleh 7 orang saudara-saudarinya. Ayahnya telah tiada sejak ia masih kecil.

The Gift For My Parents

Oleh:
“Duaaaaarrrrr.” suara gemuruh petir yang diiringi dengan derasnya hujan malam ini membuat tak terdengarnya isak tangis Salsa di dalam kamar. Ia tak percaya bahwa perbincangan dengan orangtuanya tadi membawa

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *