Lorong Gelap

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Kehidupan, Cerpen Nasihat
Lolos moderasi pada: 2 January 2014

Seorang lelaki berjalan menyusuri deretan pertokoan di tepi jalan. Tampaknya ia berusia sekitar 25 tahun bila diperhatikan dari kulit wajahnya yang mulai kasar, dan jejak kumis yang dicukur seadanya. Ia datang dari tempat yang jauh dan sepertinya ia tak berhenti, meski hanya untuk mandi atau membersihkan wajahnya. Rambut hitamnya tampak kusam oleh debu dan sinar matahari, dan keringat membasahi kaos biru yang membalut tubuhnya yang kurus. Matahari tak terlalu panas hari itu, meski langit tampak begitu jernih. Tak bisa ku bayangkan alasan ia hanya mengenakan baju kaos dalam perjalanan yang cukup jauh. Lelaki itu terlalu sederhana bahkan lebih menyerupai seorang gembel yang kebingungan mencari tempat berteduh dengan rasa cemas agar tak di usir oleh orang-orang yang memandangnya dengan tatapan risih bahkan tak jarang penuh benci.

Ia semakin mendekat, namun satu hal yang sangat menarik perhatianku adalah sorot matanya. Ia memancarkan keteguhan dan kesungguhan dan ketenangan yang membingungkan jika kau menatapnya. Tatapan yang dingin seolah menembus jiwamu bagai sebilah parang besar merobek daging, dan mengguncang batin yang gelap dipenuhi kesuraman. Lelaki itu, dengan kepala tegak tanpa senyuman ataupun ekspresi lainnya, kemudian duduk di sebuah kursi kayu di hadapanku.

“Aku Homer.” Katanya tanpa mengulurkan tangan seperti yang biasa dilakukan orang-orang ketika pertama kali berjumpa. “Kau menghubungiku kemarin malam. Jadi kau ingin menyibakkan misteri yang mengganggumu selama ini?”
Sepertinya ia bukan orang yang suka berbasa basi, dan gayanya berbicara tak peduli terhadap orang yang ia jumpai. Ia begitu menguasai percakapan seolah ia berbicara pada anak kecil yang di pojokan di sebuah sudut ruangan. Mungkin setiap orang akan menyangka ia berlaku tidak sopan, tapi pikiran itu akan lenyap dalam sekejap ketika ia berbicara lagi, dan hal itu sangat mempesona, bahkan pada menit pertama perjumpaan itu.
“Aku…” jawabku ragu-ragu. “Aku tak tahu apakah ini langkah yang tepat. Aku tak tahu bagaimana harus mengatakannya, tapi bagaimana kalau kita mulai saja?”
Lelaki itu mengangguk pelan sambil menatap lurus ke mataku. Sempat kurasakan sekelebat rasa takut melintas di benakku, namun segera ku singkirkan dengan tidak memikirkannya. Bila ketakutan menguasai, aku bisa panik dan bertingkah bagai orang gila. Dan aku tak punya rencana untuk mempermalukan diri hari ini.
“Aku telah menyiapkan kendaraan untuk kita pergi.” Kataku. “Mungkin sebaiknya kita berangkat sekarang juga.”
“Tak perlu kemana-mana.” Katanya. “Kita bisa memulai disini.”
“Maksudmu, di tempat ini? Tapi disini banyak orang, dan aku tak ingin mereka menyaksikan.”
“Jangan khawatirkan hal itu.” katanya.

Ia memegang ujung jemari kananku. Dalam sekejap, ku rasakan aliran udara bertiup kencang di balik rambutku. Semakin lama, semakin keras. Seluruh tempat itu bagai berputar dan tiba-tiba saja seperti memasuki pusaran air, semuanya lenyap; gedung-gedung dan orang-orang bahkan kendaraan-kendaraan yang begitu berisik menghilang. Suasana menjadi tenang dan hening. Kami berada di sebuah tempat yang gelap, meski cahaya dari tengah meja itu tampak menerangi sekitar kami dengan redup. Wajah orang itu tampak menakutkan di bawah bayangan gelap; aku merasakan ia sedang menatapku tanpa berkedip. Beberapa detik berlalu, ketika aku mulai merasa panik, dan dadaku tiba-tiba sesak seperti kehabisan udara. Aku berusaha menarik tanganku yang ia genggam, tapi tak bisa ku lepas.

“Dimana kita?” kataku memberanikan diri sambil memandang sekitar, namun mataku tak bisa menembus tabir gelap yang menyelimuti. Sejauh mata menandang hanya kegelapan dan keheningan. Lelaki itu melepaskan genggamannya, lalu bangkit. Entah apa yang akan ia lakukan. namun ia hanya berdiri di tepi meja membelakangiku. Punggungnya yang sempit dan panjang tampak lebih mengerikan dari pada ketika ia menatapku. Ah, dasar penakut, kataku pada diri sendiri.
“Kita berada di pusat jiwamu.” Katanya singkat.
“Bagaimana aku tahu?” kataku. “Tempat ini terasa begitu asing, bahkan aku tak pernah merasakan berada di dini.”
“Tentu saja.”
Apa maksudnya dengan mengatakan ‘tentu saja’, pikirku. Namun aku tak ingin berdebat, percuma saja. Semua ini ku inginkan atas keinginanku sendiri. Jadi, aku tak bisa menyalahkan orang ini.
“Apa yang akan kita lakukan disini?” kataku.
“Mari kita berkeliling.” Katanya lalu meraih tanganku dan kami mulai berjalan.

Tempat itu tiba-tiba saja diterangi oleh sebentuk cahaya yang tak ku ketahui asalnya. Kami menyusuri sebentuk lorong yang kanan kirinya dipenuhi batu bersusun dan tampak begitu keras. Aku menyentuhnya untuk memastikan, memang batu.
Lelaki itu berjalan terus tanpa memperdulikanku, seolah ia berjalan sendirian. Di ujung lorong, aku bisa melihat seberkas cahaya terang, sepertinya itu sebuah pintu yang terbuka. Beberapa saat kemudian, kami tiba di dalamnya.

Sungguh aneh, ruangan itu panjang sekali, bagai sebuah ruangan dalam istana yang pernah ku kunjungi beberapa tahun yang lalu, dan lebarnya kurang dari sepuluh meter, begitu kira-kira. Langit-langitnya tinggi dan melengkung dan saling menyentuh di tengahnya, dan dipenuhi gambar-gambar aneh, seperti karya Michael Angelo pada langit-langit katedral Santo Petrus, yang tak ku mengerti maknanya. Aku tak melihat adanya lampu di sana, tapi ruangan itu terang, sehingga dinding batu yang berwarna merah dan cokelat tampak jelas seperti di siang hari. Aku merasa damai, dan ketenangan yang telah lama tak ku rasakan, membungkusku dengan lembut sehingga aku merasa berada di rumah sendiri.
“Ini hatimu.” Kata lelaki itu tanpa ragu.
“Apaku?” kataku tak percaya.
“Hatimu.”
“Oh,” seruku. “Indah sekali di sini. Apa artinya ini?”
“Kau cukup bahagia dengan hidupmu.”
“Karena itu, ruangan ini tampak indah?”
Lelaki itu mengangguk. Namun ia tampak murung.
“Kenapa?” tanyaku.
“Masih ada hal lain yang harus kau saksikan.” Katanya lalu membuka pintu lain.

Kami berjalan lagi, menyusuri lorong yang menuntun kami menuju ruangan lain. Dindingnya tinggi dan gelap, seperti menghitam karena terbakar api. Aku bisa merasakan debu mengotori ujung jariku ketika menyentuhnya. Ruangan itu panjang sekali sehingga aku tak bisa melihat ujungnya, dan lebar, dengan beberapa buah jendela yang tertutup di kanan kirinya. Dan yang aneh, ruangan itu kosong seperti tak pernah digunakan selama bertahun-tahun. Di tambah lagi tirai-tirai berwarna merah yang menggantung di beberapa tempat di dinding itu menambah suasana di ruangan itu terasa angker, membuatmu muak dan aneh. Dingin sekali di situ, rasanya ingin segera keluar dan menghirup udara segar. Seolah segala sesuatu di dalam sana akan menyakitimu. Aku memegang lengan lelaki itu, aku takut, bahkan lebih dari yang pernah ku rasakan sebelumnya. Namun lelaki itu tak bergeming, ia diam saja seperti ia baru saja pulang ke rumah dari melakukan perjalanan yang jauh.
“Ini bagian hatimu yang lain.” Katanya tanpa menungguku untuk bertanya.
“Kenapa gelap dan dingin seperti ini?” tanyaku dengan suara bergetar.
Lelaki itu diam saja.
“Aku tak percaya ruangan ini seperti ini; kotor, memuakan, dan aku serasa ingin muntah saja.”
“Tapi kau tak sampai muntah, kan?” katanya.
Betul juga. Mungkin hanya perasaanku saja. Tiba-tiba, aku bisa menguasai diriku. Tak ada lagi rasa takut, atau muak dan benci. Malah timbul rasa ingin tahu sehingga aku memperhatikan sekeliling ruangan itu.
“Apa artinya ini?” kataku, seolah mengerti ada maksud tertentu dari pemandangan aneh ini.
“Ini di sebut ruang kebencian.” Kata lelaki itu, lalu memutar tubuhnya menghadapku. Wajahnya tampak tenang. Aku diam saja, menunggu penjelasan lain dari mulutnya.
“Kau lihat di ujung sana?” ia menunjuk ke sebuah arah. Sebentuk lemari besar dan tinggi yang terbuat dari kayu keras berdiri begitu saja, seolah memang sudah di letakkan disana entah sejak kapan. “Kemarilah.” Katanya. Lemari itu tiba-tiba sudah berada di hadapan kami. Di sana aku dapat melihat tumpukan kertas yang tak terhitung banyaknya, satu menindih yang lain dan aku tak membayangkan berapa jumlah mereka. Sangat banyak.
“Apa ini?” tanyaku.
“Semua hal yang membuat perasaanmu gelisah; rasa marah, kekhawatiran dan benci. Semua ada di sini.”
“Aku tak menyangka menyimpan sebanyak ini.”
“Tak seorang pun pernah menyadari apa yang mereka lakukan.”
“Menakutkan.”
“Memang.”
“Lalu apa yang harus ku lakukan?”
“Aku tak tahu,” sahut lelaki itu. “Keputusan ada di tanganmu, aku hanyalah seorang perantara.”
“Perantara apa?”
“Seseorang dan hatinya.”
“Bisakah aku hanya sendirian selama beberapa saat di tempat ini? Ku pikir aku harus melihat mereka.”
Lelaki itu mengangguk. Ia berjalan ke arah pintu, lalu menghilang ketika pintu tertutup dengan keras. Tiba-tiba, sebuah cahaya yang berasal dari langit-langit menerangi dinding lemari, namun hanya cukup untuk menerangi kertas-kertas itu.

Aku mengambil satu persatu. Kertas itu tampak sangat usang, berdebu, dan tulisan di atasnya hampir tak bisa di baca. Aku memperhatikan dengan mendekatkannya ke mataku. Tulisan itu seperti tulisan seorang anak kecil, di tulis menggunakan pensil, dan sedikit bernoda darah di ujungnya. Kertas itu bertanggal 13 September 1995, 18 tahun yang lalu. Di dalamnya bertuliskan:

Aku benci ayahku. Bahkan aku ingin membunuhnya, tapi aku hanya seorang anak kecil bodoh yang tak berdaya. Ayah memukulku setelah memukul ibu. Ibu menangis dan menjerit, ia memelukku sehingga aku juga menangis. Aku tak mengerti kenapa ayah melakukan hal ini. Pokoknya aku benci ayah. Aku benci, benci, benci, benci, benci…

Ah, aku bergidik, aku ingat betul kejadian itu, bahkan seperti menyaksikan lewat televisi atau semacamnya dan serasa baru terjadi kemarin. Rasa benci itu muncul lagi. Aku tak kan memaafkannya, ia membuat ibuku menderita dan aku ditelantarkan begitu saja sejak ibuku meninggal karena memar otak yang dideritanya. Sialan terkutuk, batinku. Aku membuang kertas itu, lalu mengambil yang lainnya.

Kertas itu tampak indah, dengan motif bunga-bunga si tepi atas dan bawahnya, dan aromanya wangi. Seperti parfum kesukaanku ketika aku sekolah di SMP. Aku membaca di dalamnya:

Temanku mengajakku pergi ke sebuah pesta di malam hari. Pesta ulang tahun itu begitu riuh dan liar, banyak pemuda dan pemudi yang masih ABG semuanya mulai tak terkendali. Aroma minuman yang menusuk hidungku berputar-putar di seluruh ruangan yang pengap itu. Aku ingin pulang, ketika ku lihat temanku menghilang. Aku mencarinya hingga ke pekarangan belakang. Sial, sekelompok pemuda yang lain, sepertinya para pemabuk yang kerap mengganggu gadis-gadis memergokiku. Aku bersiap pergi ketika salah seorang dari mereka menggenggam tanganku. Lalu menarikku dengan paksa, melucuti seluruh pakaianku dan…

Aku menghela nafasku sejenak. Ah, semua itu menerjang batinku. Sialan. Kertas itu ku biarkan terkulai. Aku tak ingin melanjutkan membaca lagi, sudahlah. Aku membalikkan badanku hendak pergi dari sana, tapi ada sesuatu yang menahanku. Mendadak, kekuatan merasuki dan aku memutuskan untuk membacanya sampai habis.

Aku mendapati diriku tergeletak begitu saja di tengah hutan. Pakaianku sobek dan celana panjangku koyak di bagian selangkangan. Rasanya sakit, nyeri, bahkan untuk berjalan saja susah. Tawa itu terngiang di telingaku, bahkan tubuh yang berat dan aroma alkohol masih menumbukku. Perasaanku semakin tak tertahankan, aku benar-benar membenci mereka dengan seluruh hidupku. Aku ingin mereka mati dengan cara yang paling mengerikan. AKU BENCI MEREKA DALAM NAMA TUHAN.

Ah, kisah yang menyedihkan. Tak ku sadari, ternyata, hidupku dipenuhi oleh kisah-kisah mengerikan. Ku pikir Tuhan akan menolongku dan memberi tangan-Nya, tapi ia diam saja. Ia tertawa dan seperti hanya menoleh sepintas lalu saja, lalu pergi entah kemana. Semenjak saat itu, aku membenci apapun, bahkan hidupku sendiri. Air mataku menetes hangat di wajah. Perasaanku pahit, dan mulai mengutuki hari-hari kelahiranku dan pencipta yang tak perduli padaku. Apa gunanya lagi aku hidup jika harus begini.

Aku mengambil lagi kertas-kertas itu. Disana ku saksikan ocehan, fitnah, bahkan pelecehan yang mereka perbuat padaku. Aku memang perempuan lemah tak berdaya, tapi apakah mereka sadar kalau aku juga seorang manusia? Ah, pikiran mereka seperti binatang dan hanya memikirkan perut mereka dan keinginan yang membakar jiwa mereka. Api yang sama membakar jiwaku sehingga tulang-tulangku larut dalam kebencian yang amat sangat.

Beberapa tahun kemudian, aku bekerja di sebuah rumah sakit yang mengurus orang-orang jompo sambil berusaha berdamai dengan masa lalu. Hidupku sudah terasa tenang sampai pada suatu hari, aku mengalami mimpi yang sama selama beberapa minggu dan hal itu membuatku gila. Gambaran masa lalu dan kejadian-kejadian itu kembali mengoyak hatiku. Seolah mereka telah menemukan buruan yang selama ini dicari tanpa berpikir untuk melepaskan lagi.

Aku menceritakan hal ini pada temanku, yang kemudian ia menyarankan untuk bertemu Homer, seorang yang mampu membawa kembali masa lalu melalui terapi hipnotis dan memperbaiki semuanya. Justru hal itu semakin membuatku kacau. Kebencian yang tertanam dalam jiwaku semakin menjadi-jadi. Aku bahkan jadi bingung sendiri.

Homer, lelaki itu, membuka pintu. Oh, aku masih berada di ruangan ini rupanya. Tapi lemari besar tadi telah menghilang. Ia berdiri di muka pintu, dan aku mengerti ini saatnya untuk pergi. Aku tak tahu apa yang ku pikirkan, karena segalanya ini membuatku seperti mayat hidup dan aku tak peduli lagi. Aku berjalan dengan pelan mendekati pintu, lalu ia menutupnya dengan sangat rapat. Aku masih sempat menoleh ke arah pintu besar tersebut, sesaat sebelum kami menghilang dari sana dan melalui lorong lain. Aku tak sempat memperhatikan ketika sebuah cahaya besar yang sangat terang menelan kami, dan angin kencang membawa kami kembali.

Aku membuka mata. Ternyata kami masih berada di sana, di sebuah kafe tepi jalan. Aku melirik jam tanganku. Jarum jam menunjukan pukul 2.15. Tak ku kira hanya sepuluh menit kami berada disana, sedangkan rasanya seperti selamanya.

Homer tersenyum padaku, mungkin senyuman pertama yang ia lontarkan. Dengan senyuman itu, ia tampak sangat ramah dan simpatik.
“Aku tak mengerti kenapa aku harus melihat semua hal itu.” kataku.
Homer dengan tenang menjawab, “Kau tak bisa menghindarinya.”
”Kenapa?”
“Itu bagian dari hidupmu.”
“Bisa kah aku menghilangkannya agar mereka tak pernah lagi menggangguku?”
“Bisa saja, tapi kau akan menjadi seseorang yang lain, dan aku ragu apakah kau akan menyukai dirimu yang baru.”
“Kenapa begitu?”
“Karena kau akan menjadi seseorang yang terjebak dalam ruang dan waktu yang tumpang tindih. Apakah arti kehidupan seorang manusia yang tak memiliki masa lalu dan masa depan?”
“Aku tak mengerti.” Kataku.
“Masa lalu, sepahit apapun itu, kau tak bisa melewatkannya atau menghapusnya dari ingatanmu. Bagaimanapun, ia akan terus membayangimu. Satu-satunya yang harus kau lakukan adalah mendamaikan jiwamu.”
“Jadi, menurutmu aku harus memaafkan semua yang terjadi, termasuk diriku sendiri?”
“Ku rasa kau lebih tahu. Pergilah, sebelum racun itu merusak jiwamu dan lakukan sesuatu agar kedamaian tetap menjadi penerang langkahmu.”

Cerpen Karangan: Patrick Hariadi
Facebook: Patrick Andromeda

Cerpen Lorong Gelap merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kekasih Yang Hilang (Part 1)

Oleh:
Entah aku sedang bermimpi atau tidak, yang jelas saat aku terbangun aku sudah berada di ruangan yang asing, ini bukanlah kamarku. Ruangan ini sangat besar dengan beberapa figura yang

Harapan Kecil Untuk Rafi

Oleh:
“BRAK!!!” Suara gebrakan pintu itu mengagetkanku. “Ayo bangun, mau sampai kapan lo tidur terus?! Dasar anak tidak tahu malu. Udah numpang, males-malesan lagi!! Lama-lama gue usir juga lo!!!” bentak

Haunted Hause (Homokulus)

Oleh:
“Hantu alah gak mungkin ada hantu” kata kata yang pasti keluar dari mulutku yang tidak percaya akan adanya hantu, tapi ternyata mereka ada sesekali muncul di hadapan kita, akankah

Rumah Baru

Oleh:
Di sebuah hutan ada dua ekor kelinci yang bersaudara namanya Aka dan Ifi. Aka adalah kakak laki-laki Ifi, mereka tinggal di dekat sungai di hutan. Suatu hari ratu hutan

Pemberontakan Kami

Oleh:
Selamat datang di Negara “Tanpa Peraturan”. Negara ini merupakan negara kecil dan terpencil. Kau tidak akan bisa menemukannya di peta, atlas, atau manapun. Negara ini adalah tempat yang indah.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *