Lukas

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Persahabatan, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 22 May 2013

Aku pandangi anak itu penuh tanda tanya, sederhana, sekedar memakai kaos putih lusuh sampai warnanya kecoklatan, ada bolong dan sobek di beberapa bagiannya, krahnya molor ke satu sisi sehingga tampak kedodoran, rambutnya basah gondrong dengan beberapa helainya merumbai di jidat.. gayanya seperti anak-anak yang lain… seenaknya dan riang, tapi aku suka, lugu, polos dan… penuh semangat. Kedua tangan mendekap besi payung di dada menahan dingin, dan pandangan penuh harap, semula aku tak tertarik, tapi aku mengiyakan saja saat dia menyodorkan payungnya meski aku sendiri belum tahu akan jalan kemana… akhirnya aku ajak dia ke kedai di ujung jalan itu dan aku tawarkan makan untuk menemaniku.

Namanya Lukas, umurnya sekitar 10 tahun, semula aku hanya sekedar menanyakan keadaannya saja tapi dia malah menjabarkannya lebar.
Lukas hidup dengan ibu dan dua saudaranya.
“Sedih ataupun senang kita harus selalu tersenyum karena senyum itu termasuk ibadah, bagitu kata ibu, mbak..” ceritanya.
Aku mengiyakan. Aku topangkan satu tanganku ke dagu mendengarkan dia melanjutkan ceritanya…
Ibunya bekerja keras, tak pernah mengeluh, tak pernah menyerah. Ayahnya jarang pulang, bila datang hanya ada amarah dan pertengkaran bahkan Lukas pernah kena pukul. Lukas menginginkan kebersamaan keluarga, seperti teman-temannya yang lain, yang bila ada sempat waktu bisa pergi bermain dengan ayahnya.

“Mau minum apa Lukas?” tanyaku.
“Terserah mbak saja deh!” jawabnya lirih. Lukas tampak malu-malu.
“Panggil saja mbak Yayan dan jangan takut, saya yang traktir.. Lukas tinggal pilih aja mana yang mau..” aku melongokkan mukaku ke telinganya sambil berbisik. Lukas tersipu. Aku kerlingkan mataku satu, memberi tanda “oke” padanya. Dia tersenyum. Makanan datang dan Lukas segera menikmati.
“Jangan buru-buru makan Lukas, santai saja biar gak kesedak” kataku mengingatkan. Lukas tersenyum malu. Tapi makanan itu tak di habiskannya masih ada sisa separuh lebih. Ketika aku tanyakan, pelan dia menjawab.
“Bisa minta di bungkuskan saja, mbak..” katanya berbisik.
“Kenapa? kok nggak di habiskan saja..” tanyaku. Masih dengan berbisik dia menjawab.
“Makanannya enak, saya ingat kakak dan adik di rumah.. maaf”. Aku melongok saja.
“Oh.. gak usah, kamu habiskan saja itu, nanti kita pesan lagi untuk kakak dan adikmu ya.. ayo! habiskan dulu, ingat lho gak boleh ‘nyisa”. kataku. Dengan tersipu Lukas melanjutkan makannya sambil menceritakan tentang kakak dan adiknya.
Kakak Lukas adalah perempuan yang cantik, kakaknya tidak mau sekolah lagi karena malu, kabarnya dulu pernah di perk*sa hingga depresi, sedangkan adiknya kena radang otak.

“Lukas sedih mbak, orang-orang bilang katanya adik idiot, padahal kata dokter dia kena radang otak… entahlah..” Lukas memainkan sendoknya. Rautnya berubah pilu. Tiba-tiba ada nyeri yang menjalar hingga ke dalam batinku,… sedih ini sulit aku tahan, aku sembunyikan bulir air mata, jangan sampai menetes keluar, aku benci di kondisi ini… pffhh.
“Lukas pengen ke timezone, mbak.. main tembak-tembakan, balap motor, balap mobil, main komputer… seneng banget deh, Lukas juga pengen ngajak adik, Lukas mau ajak dia balap mobil.. hahaha… pasti dia senang banget!” Lukas cerita dengan berapi-api. Wajahnya bergemuruh dengan asa. Matanya bersih, bening dan berbinar. Benar… anak ini berusaha untuk tetap gembira.

Sudah beberapa hari aku tidak melihat Lukas, beberapa kali aku melewati jalan itu tidak juga ketemu. Entah kenapa aku pengen ngobrol lagi dengannya. Mungkin semangatnya memberi sense of spirit bagiku, aku senang melihat dia bercerita. Lukas, anak 10 tahun itu memberiku imanjinasi yang tinggi untuk tulisanku, di usianya, Lukas adalah sosok anak yang penuh semangat, lugu, ceria… meski getir menghambat masa depannya, semoga semangatnya tak lekang oleh keadaan, terus riang hingga impiannya terwujud… karena demikian itu juga harapanku. Aku ingin ending yang baik baginya… wallahua’lam.

Noor menelepon, mengajak berkumpul di tempat biasa, begitu juga Yana mengingatkan.
“Jangan lupa lho kumpul makan siang..!” kata Yana.
Noor, Yana, Deni, Ana dan kadang beberapa teman yang lain adalah teman-teman lamaku, kami dulu satu kelas di SD Banyumanik Semarang. Selepas SD kami masih saling bertemu, sekedar makan-makan atau refreshing kecil lainnya melepas penat rutinitas sehari-hari, dan waktu begitu banyak berubah, tapi keakraban kami masih tetap berjalan, setidaknya itulah harapanku.. entah di manapun nantinya kami berada.

Banyumanik adalah kenangan, letaknya ada di sebelah selatan kota Semarang berbatasan dengan kabupaten Ungaran. Daerahnya sejuk dan nyaman, masih termasuk lereng gunung Ungaran… aku rasa. Banyumanik tempatku semasa kecil, bersama dengan Noor dan beberapa teman yang lain, kami lewati masa kanak-kanak kami dengan riang…
Mereka sudah pada kumpul ketika aku sampai, tempat mangkal kami ada di ujung pasar Jati, ada dua blok warung tempat kami biasa kumpul, satu warung bakso satu lagi warungnya pak ‘Mat penjual tahu petis, enak banget…
“Lama nian, tadi aku jemput tapi kata ibu, kamu belum pulang..” kata Noor.
“Aku ke Gramedia sebentar..” jawabku.
“Buku melulu, kali lain fashion dong.. biar modis gitu..” Yana menimpali. Aku nyengir. Yana benar, aku bukan tipe modiste, bukan seperti dia yang selalu tampil cantik dan up tu date dalam fashion, urusanku sering kali hanya buku.
“Buat referensi…” kataku kalo ada yang menanyakan’ kenapa buku lagi?
“Mo nulis opo maneh to?” kata Deni.
“Tunggu wae lah..” jawabku.

Dan kamipun akrab bersama, saling mengejek, saling menimpali, saling menceritakan pengalaman kecil kami.. Noor yang pinter tapi playboy, Yana yang cantik dan di sukai banyak teman, Deni yang baik, Ana yang di kejar-kejar Noor tapi justru memilih yang lain… Masa itu kami juga suka bersepeda, saling menghampiri, saling dolan bareng, masa anak-anak… tapi masa kecil kami mungkin tidak seperti Lukas, kami penuh kesenangan dan hampir tidak pernah memikirkan bagaimana dilema orang tua, apa yang kami nikmati.. ya itu yang kami nikmati, kami egois dengan masa kanak-kanak kami… masa kami memang tidak seperti Lukas…

Tiba-tiba, beberapa meter dari tempatku ngumpul, di pertigaan jalan ada suara teriakan-teriakan, beberapa orang berlarian ke sana, termasuk Noor dan Deni, tadinya aku malas bergabung tapi rasa penasaran memaksaku ikut. Orang-orang bergerombol melihat apa yang terjadi, Noor dan Deni menyeruak masuk kedalamnya, dan Deni menarikku bersamanya… Anak itu… aku melihat anak itu.. aku terdiam.. dan hanya diam.. badanku lemas, aku tak bisa bergeming… yang aku tahu kemudian Noor dan Deni membopong anak itu masuk dalam mobil dan melaju menuju Rumah Sakit terdekat, aku mengikuti dari belakang bersama beberapa yang lain.

Di Rumah Sakit, orang-orang bergunjing tentang anak itu, tentang kejadian awalnya, aku pusing dan tetap terdiam, aku tahu Yana dan Ana sangat heran padaku, aku belum bisa cerita. Deni menghampiriku, menatapku lama tidak berkata-kata. Noor datang dengan baju berbecak darah, Noor lusuh dan kotor sekali. Kali ini tatapan Noor lebih tajam, aku menunduk.
“Dimana kamu kenal anak itu?” katanya. Noor duduk di sampingku, aku mengerti, kemudian aku ceritakan semuanya… yah anak itu Lukas, aku masih ingat dengan mata yang berbinar itu, Lukas yang punya semangat, Lukas yang memang beberapa hari ini pengen aku temui lagi… Noor mengacak rambutku pelan dan meminta Dedi untuk mengantarku pulang.

Dari cerita Deni baru aku tahu peristiwa yang dialami Lukas. Lukas kena pukul ayahnya karena ingin membela ibunya dan harga diri keluarga. Dari pertengkaran itu, Lukas juga baru tahu kalau yang memperk*sa kakaknya adalah ayahnya sendiri, demikian juga apa yang menimpa adiknya akibat ulah ayahnya.
Serasa darahku naik dan mendidih.. panaass sekali.. hingga ke kepala, aku yakin mukaku merah… ikhhh… sakit bangeett rasanya. Geram di hati ini tanpa terasa aku menangis. Deni menepikan motornya ke kiri jalan, membuka helmnya dan menanyakan keadaanku, aku menggeleng.
“Benar kamu gak apa-apa?” katanya. Aku tersenyum.
“Ayo pulang…” kataku sendu. Aku sandarkan kepalaku di punggung Deni. Dia memahamiku, di tariknya kedua tanganku untuk memeluk pinggangnya.
“Lebih enakan?” katanya lagi.
“Ya…” jawabku lirih. Aku merasa lebih nyaman dan kamipun melaju pulang.

Pagi itu mendung… tapi ibu menyuruhku ke pasar, gak jauh.. hanya beberapa meter dari rumah tapi aku malas.. aku bilang pada ibu mungkin sebentar lagi akan hujan, namun ibu tetap saja menyuruhku pergi.
“Gak ada bahan makanan Yan.. cepat gih.. mumpung belum hujan..” kata beliau. Aku berangkat dengan nggrundel. Tuh kan.. gerimis turun, semula kecil-kecil kemudian makin deras, orang-orang mulai banyak yang berpayung.
Pasar basah, jalanan basah, tanahpun becek.. aku tidak suka suasana pasar seperti ini.. orang-orang lalu-lalang dengan terburu-buru, segan aku belanjakan semua kebutuhanku dan cepat beranjak pergi…
“Kalo jalan jangan nunduk, ntar ada gajah di depan gak tau…!” Aku cepat mengangkat wajahku… haaah.. wajah itu tepat didepanku sambil meringis mengejek. Noor.. selalu begitu. Aku diam dan tetap berjalan…
“Yan!.. Yan!” teriakannya memaksaku berpaling.
“Apaan!… hujan ini, aku mesti buru-buru pulang..!” jawabku.
“Aku anterin!” teriaknya lagi. Noor menyorongkan payungnya menghalangi hujan di kepalaku.
“Bawa payungnya biar aku bawa belanjaannya…!” katanya memerintahku. Kemudian kami berjalan menyibak hujan yang semakin deras.

“Ibu mau masak apa Yan..?” tanya Noor begitu sampai rumah.
“Tanya sendirilah.. aku gak tau”, jawabku.
“Gimana sih.. anak perempuan kok males masak.. bantuin ibu tuh!”
Aku cuma nyengir, kemudian Noor ngeloyor masuk ke dalam rumah.
“Noor antar aku ke tempat Lukas yuk..” pintaku. Noor menyeret bangku kecil dan mendudukinya di sebelahku, rambutnya yang basah dan sedikit gondrong di usap-usap dengan handuk berharap cepat kering…
“Handuk siapa tuh!” kataku. kebiasaan bangat, asal comot gak permisi…
“tau’..” jawabnya meringis.
“Sekarang?.. hujan-hujan begini..?” tanya Noor.
“Besuk..!” jawabku sambil menyodorkan segelas kopi susu padanya.
“Mumpung masih hangat…” kataku. Noor menerima kopi susu yang aku buat.
“Kenapa kita harus ketemu dengan anak itu… aku gak tahu apa yang mesti aku perbuat, aku gak tega…” Noor menunduk lesu. Dia menyeruput kopinya perlahan-lahan, memainkan gelasnya dan menyeruputnya lagi. Aku paham isyarat itu. Noor tampak gak enak hati..

Lukas tergeletak lemas di tempat tidur Rumah Sakit. Aku iba sekali melihatnya, lirih aku sapa “Hai…”. Lukas menoleh dan agak terkejut. Wajahnya tampak masih pucat, di samping tempat tidur sebelah kanan ada ibu dan adiknya, sedangkan sebelah kiri mungkin kakaknya, mereka tersenyum saat aku datang.
“bagaimana kamu..” aku tersenyum padanya.
“Baik mbak, terima kasih..” jawabnya lemah. Aku pegang tangannya yang lemas, tangan itu kecil dan kurus. Aku bilang padanya bahwa dia akan segera sembuh, dan kami akan menunggunya untuk main ke timezone.
“Benar mbak?” Lukas riang menyambut niatku. Aku menyakinkannya.
“Bolehkah ibu dan saudaraku ikut?” tanya Lukas. Kali ini Noor menyakinkannya tegas.
“Boleh banget, nanti kakak jemput kalian, kita rame-rame ke timezone, kita balap mobil, Lukas gak mau kalah kan?” kata Noor.
“Kita balapan dengan adik juga, Kak..” kata Lukas senang. Noor mengerlingkan matanya. Ada rasa tenang di batinku, setidaknya masih ada yang memperdulikan mereka, dan aku rasa akan ada banyak yang peduli.

Aku lihat ibunya menangis. Aku mendekat dan menenangkannya. Bagi ibu Lukas, beban batin itu terasa begitu berat. Perlindungan terhadap anak-anaknya terkoyak oleh kebejatan suaminya sendiri. Kepiluan dan kekecewaan yang dalam begitu perih bila mengingat masa depan anak-anaknya, terutama kakak perempuan Lukas, pupus sudah hari-hari kedepannya terenggut ulah liar ayahnya sendiri. Begitu juga adik Lukas… hmm.. Getir sekali… sedangkan Lukas, sekecil itu sudah harus merasakan semua beban berat dalam hidupnya. Aku tidak mampu lagi membayangkan kisah pilu ini. Satu rasa syukur yang ada di hatiku bahwa ayah Lukas akan segera di penjara, proses pengadilan tengah berjalan, ada peran LSM dan beberapa pemerhati masyarakat yang dengan sukarela membantu proses ini, menuntut keadilan dalam hukum yang berlaku.

Akhirnya usai sudah tulisanku, tinggal mengirimkannya ke penerbit. Aku ingin kisah Lukas ini jadi acuan bersama. Anak-anak sebaiknya punya kemerdekaan yang memang seharusnya mereka miliki pada masanya tapi tetap dalam pengawasan dan perlindungan yang benar. Aku juga bersyukur bahwa dengan adanya beberapa kaum pemerhati masyarakat yang peduli pada masa depan Lukas dan saudara-saudaranya, membuat tulisanku ber-ending baik.

Cerpen Karangan: Emma Rahma
Facebook: rahma.dewayanti[-at-]yahoo.com

Cerpen Lukas merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Please Come Back

Oleh:
Siang ini, panas sekali. Haduuhhh, bisa-bisa aku meleleh, nih, gara-gara panas ini. Menyengat sekali. Aku harus jalan kaki dari sekolah, karena hari ini tak ada yang menjemputku. “ES KRIM!

Manusia Setengah Malaikat

Oleh:
Malam. Ada sebuah kisah yang begitu menyakitkan. Ada segelintir cerita yang begitu perih menyedihkan. Ada segores harapan kecil dalam kenistanaan. Ada doa suci dalam dosa-dosa malam. Malam. Terpaksa aku

Imaji Semu (Part 1)

Oleh:
Darah mengalir susah tuk Aura hentikan, air mata menjadi sebuah tambahan yang memperdalam luka di hatinya. Dia berdiri dengan tangan terluka tapi serasa pilu, sendiri dengan luka hati yang

Sebuah Rasa Yang Terpendam (Part 1)

Oleh:
Sekolah. Ahh, senangnya. Hari ini, hari pertamaku memasuki sekolah yang baru. Masa SD sudah kutinggalkan. Saatnya melangkah lebih jauh. Masa SMP sudah ada terpampang nyata di depan mata. Ohya,

Raisya

Oleh:
Raisyaaa, semua karenamu “Raisyaaa.. Raisyaaa” panggil wanita tua di hadapan Raisya. Seolah tak menggubris, Raisya hanya terdiam kaku, bibirnya terkatup, dan matanya tertutup. Suasana sunyi, yang terdengar hanya kicauan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *