Maafku Untuk Kakek Tua

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Penyesalan
Lolos moderasi pada: 24 October 2017

Pagi itu aku tengah berjalan untuk pergi ke sekolah, dari jauh kulihat seorang kakek yang sedang meminta-minta. Aku pun membuka sakuku untuk mengambil handphone, lalu sibuk memainkannya, dan tak memperhatikan jalan, hingga tak kusadari aku sudah berhadapan dengan si kakek tua yang tak kuketahui namanya.

“dek, sedekahnya!”. Aku pun meiriknya, bajunya lusuh, dan rambutnya acak-acakan. Dia tersenyum padaku dengan tatapan lelahnya.
“maaf ya pak”. Ucapku dan pergi meninggalkan sikakek tua itu. Aku pikir untuk apa aku memberikan sedikit uangku untuknya, aku yakin sekali sebenarnya rumahnya layak huni dan uangnya banyak, karena zaman sekarang ini banyak sekali orang-orang mampu pura-pura miskin, cacat, atau apapun itu untuk menarik siapapun iba atau simpatik padanya.

Waktu bergulir begitu cepat, pulang sekolah pun tiba, aku berjalan pulang bersama temanku. Hingga pada persimpangan jalan kulihat ada bendera kuning di gang kecil yang bukan arah pulangku, kuajak temanku untuk melihat siapa yang meninggal. Setelah kutelusuri, gang kecil itu, ternyata di sana ada gubuk kecil yang terbuat dari anyaman bambu, tak ada kursi di dalamnya, hanya ada tanah beralaskan tikar untuk tempat tidurnya, bahkan saat hujan tiba, rumahnya pasti kebanjiran.

Banyak sekali warga yang melihat dan mendo’akanya. Aku penasaran siapa yang meninggal, saat kulihat lebih dekat dan seseorang membuka kain penutupnya, aku tercengang, terkejut. Oh tuhan itu adalah kakek tua yang tadi pagi minta-minta dan sekarang dia telah kembali ke pangkuan yang maha kuasa.

Setibanya di rumah, aku sudah tak kuasa menahan tangisku lagi, lalu kuceritakan semuanya pada ibu bahwa aku menyesal, menyesal karena tak menolongnya pagi tadi. Akhirnya ibuku menenangkanku.

Sekarang aku sadar tidak sepatutnya aku berpikiran negatif dan pilih-pilih dalam bersedekah. Jika ada yang meminta-minta mau itu pura-pura apalagi benar, harusnya aku tak bimbang. Karena memberi bukan untuk mencari tahu siapa diri mereka. tapi, Memberi adalah untuk menolong dan mengurangi beban di kehidupannya.

Cerpen Karangan: Siti Ulpa Adawiyah
Facebook: Siti Ulpa Adawiyah

Cerpen Maafku Untuk Kakek Tua merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Jangan Khianati Aku

Oleh:
Namaku Nadine. Aku tinggal di Komplek Aster, bersama orangtuaku. Aku punya tetangga, sekaligus sahabat terbaikku sejak kami masih TK. Nama sahabatku itu Mila. Mila ini sekelas denganku. Kami masih

Taman Syurga Raudhatul Jannah

Oleh:
Suara gemuruh hati menikam dari dalam jiwaku. Hasrat tuk menjejaki suasana baru itu membuatku resah tak karuan. Sebenarnya apa juga yang harus kuresahkan. Praktek menjadi seorang guru itu kan

1966

Oleh:
IBU: Ibu masih bayi saat itu, paling cuma bisa menangis. Kata kakekmu, saat itu, ibu dibawa oleh kakek dan nenekmu mengungsi ke kebun kami yang ada di timur desa.

Di Penghujung Waktu

Oleh:
Kisah ini tercipta karena kerinduan yang memaksa hati untuk tetap diam dalam pengabaian. “akan selalu ada ruang tersendiri di hatiku untukmu” itulah ucap yang kurindu, ya! Aku percaya itu.

Andri Sayang Papa (Part 2)

Oleh:
Sudah terhitung beberapa minggu Intan di sini, sebentar lagi dia kembali untuk melanjutkan kuliahnya, dan hari itu dia menyempatkan untuk membeli segala kebutuhannya, jelas saja dia lebih memilih berbelanja

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Maafku Untuk Kakek Tua”

  1. masa depan goong yoo says:

    Cerpen nya bagus
    Tapi lebih bagus kalo tokohnya itu sehun dan ada chanyeol.dan kalo bisa ada goong yoo nya oya satu lagi kalo bisa ada hadianya nya ya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *