Malaikat Tak Bersayap

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Keluarga, Cerpen Perjuangan
Lolos moderasi pada: 29 April 2016

Terdengar suara guntur mengejutkan penduduk bumi. Sore itu langit digantungi awan hitam yang bergumpalan. Tampak awan itu tak sanggup menahan beban yang ia rasakan. Gerimis pun terjun ke bumi mengenai siapa saja di bawahnya. Seperti awan hitam tadi, seorang perempuan setengah abad berlari menuju tempat berteduh. Beban hidup semakin membungkukkan badannya yang sudah tua, tampak tak sanggup menjalani hidupnya. Menyerah, ah tak mungkin, semua untuk anak-anak tercinta. “Untung saja kayu-kayu ini langsung diangkat ke gubuk.” Begitu pikirnya.

Mak Hayati namanya. Seorang janda 50 tahun dengan 3 orang anak. Kepergian suami tercinta sempat membuat dia putus asa untuk merawat anak-anak seorang diri. Peninggalan suami pun tak bisa diharap untuk memberi pendidikan untuk anak-anaknya. Makan, ah tentu bisa makan meski dengan garam dan beras bantuan pemerintah. Ia mengintip di balik gubuk. Gerimis yang berubah menjadi hujan tak kunjung reda. Waktu pun berubah menjadi maghrib.

“Aku harus pulang sekarang juga. Ku tinggalkan saja kayu-kayu ini. Besok si Didit ku suruh membawanya pulang.” Perempuan tua itu berlari kecil agar tak terlalu basah. Tubuhnya yang kurus dan sedikit membungkuk masih semangat. Semangat karena anak sulungnya akan mendaftar sidang. Artinya gelar strata pertama akan menambahi nama anaknya. “Kenapa basah kuyup Mak? Dari ladang? Tapi tadi kita sudah menderes.” ujar Didit. Didit, yang nama aslinya Ditmar, seorang Laki-laki lima belas tahun itu cemas melihat Ibunya. Dia langsung mengambil handuk yang tergantung di pintu dapur mereka.

“Buk May kan mau wirid. Jadi dia nyuruh Mamak ngambil kayu. Satu meter seratus ribu kan lumayan. Ada tambahan untuk Kakakmu.” Jawab Mak Hayati sambil membuka penutup kepalanya, lalu mengeringkan rambutnya yang sebahu panjangnya.
“Mamak terlalu memikirkan Kak Suci. Dia kan sudah besar, bisa cari uang sendiri. Mamak sudah tua. Lagian dia nggak berpikir. Udah miskin begini masih saja mau kuliah. Kalau biaya sendiri lumayan.” Didit protes.

Mak Hayati hanya menggeleng-geleng kepala. Dia maklum dengan ucapan anaknya. Didit sedikit tak bisa menjaga mulut kalau sedang kesal. “Mana Adekmu?” tanya Mak Hayati tanpa membalas protes anak keduanya itu.
“Sudah pergi mengaji sebelum hujan tadi. Mak, bilang sama Kak Suci nggak usah kuliah kalau menyusahkan Mamak.”
Didit masih menatap wajah keriput ibunya. Anak remaja itu merasa kalau Kakaknya menambah banyak biaya keluar.
“Kita saja mengambil bagian ladang orang, harus bagi dua hasilnya, belum lagi uang sekolahku, dan Fazli.” Lanjut Didit. “Kalau rezeki itu sudah diatur Allah Dit. Besok jangan lupa ambil kayu yang Mamak potong tadi. Nanti diambil orang.”

“Didit nggak mau. Mamak cuma sayang Kak Suci.”
“Kakakmu saja di sana belum pasti makan atau tidak. Apalagi sebentar lagi harus mendaftar sidang. Butuh banyak biaya Dit. Jangan cemburu begitu Nak. Kakakmu juga bekerja di sana supaya bisa nambah biaya makan, biaya tugas-tugasnya. Sudah jangan begitu lagi.”

Didit terdiam. Ia baru mengetahui kalau kakaknya tak hanya menghabiskan uang Ibunya. Lalu remaja itu memberikan sepiring nasi untuk Ibunya. Hanya dua potong tempe goreng dan daun singkong rebus. Ia memperhatikan Ibunya makan. Goresan luka hidup tampak jelas di wajah keriputnya. Mak Hayati mendorong sepeda yang berisi kayu bakarnya. Ia melewati rel kereta agar sampai ke rumah Buk May. Tangannya kembali mengusap keringat yang bercucuran di wajahnya. Panas sekali hari itu.

“Angkat tangan aku melihat si Hayati ini. Dia masih sanggup menguliahkan anaknya, sekarang mau mendaftar sidang katanya.” Ujar seorang laki-laki sebaya Mak Hayati di warung kopi yang dilewati Mak Hayati.
“Selain itu, anaknya si Suci juga cerdas. Siapa yang tidak semangat menguliahkan anak yang pintar, dapat beasiswa berprestasi tiap tahun?” sahut teman satunya lagi.
“Intinya ada kemauan, usaha dan tidak lupa doa.” Terdengar sahutan dari pemilik warung kopi.

Mak Hayati sangat bangga melihat anak-anaknya masih bisa melanjutkan pendidikan. Terkadang dia mengeluh karena lelah bekerja di ladang orang, mengambil upahan. Apa saja ia kerjakan asal berbuah uang. Memijat, menjual kayu, mencuci, semua ia kerjakan bila ada yang memintanya. Perempuan tua itu duduk di belakang rumah menghadap sumur. Air matanya perlahan mengalir membelah pipinya yang keriput. “Alhamdulillah Ya Allah, masih ada rezeki untuk anakku.”

Mak Hayati mengusap air matanya yang terus-terusan mengalir. Baginya tak ada yang lebih membahagiakan selain bisa melihat anak-anaknya bersekolah, berpendidikan.
“Ke mana aku mencari separuhnya lagi? Besok hari terakhir pendaftaran sidang.” Gumam Mak Hayati. Tiba-tiba “Brakkk…” dinding dari kulit kelapa yang menutupi dapur Mak Hayati terjatuh. Ada dua kulit batang pohon kelapa yang tak terpasang lagi ke tiang yang sudah rapuh. Mak Hayati langsung beranjak dari duduknya. Hal seperti itu sudah biasa ia hadapi. Ia menempelkan lagi lubang kulit kelapa bekas paku ke tiangnya. Akhirnya dinding dapurnya kembali tertutup. Ia terbawa suasana. Air matanya kembali jatuh.

“Yang penting masih punya tempat tinggal.” Pikir Mak Hayati setelah memperbaiki dapurnya. Dapur yang bila disenggol semut akan bersujud ke tanah.
“Assalamualaikum Wak. Ini ada telepon dari Kak Suci.” Ira, tetangga Mak Hayati menyerahkan handphone-nya.
“Waalaikumsalam. Mana Ra? Wiii, induan Uwak sama Kakakmu Ra.” Spontan Mak Hayati meraih alat komunikasi itu.
“Assalamualaikum Mak. Kek mana kabarnya Mak? Orang Adek?” Suci berbicara logat Batak yang sudah menjadi bahasa ibunya. Suara itu terdengar sangat semangat.
“Waalaikumsalam. Alhamdulillah baek Nang. Suci baek juga kan?” jawab perempuan itu dengan nada sedih.
“Mamak nangis ya? Kenapa Mak? Karena biaya mendaftar sidang?”
“Maaf Mamak nggak bisa dapat uangnya semua. Kek manalah itu Ci? Takut Mamak Suci nggak bisa wisuda Nang.”

Mak Hayati seperti mengadukan nasibnya pada sang Anak. Suci tak kuasa menahan air mata. Ia tahu bahwa Ibunya itu sudah bekerja keras untuk mendapatkan uang pendaftarannya. Ingin rasanya ingin memeluk tubuh kurus Ibunya. Menenangkan, menghapus air matanya. Perlahan ia menarik napas. Ia tak ingin terdengar cengeng.
“Nggak usah khawatir Mak. Doakan supaya Suci menang lomba membuat karikatur ya Mak. Kalau Suci menang, uangnya bisa untuk nambahi separuh biaya pendaftaran Mak. Doakan juga supaya sidang Suci nanti lancar.”
“Aamiin. Mamak selalu mendoakan yang terbaik untuk anak-anak Mamak. Besoklah Mamak kirim ya Nang.”

Mak Hayati menutup telepon setelah berbincang panjang lebar dengan putri sulungnya itu. Jiwa keibuannya masih tak terkalahkan. Perempuan yang sudah kurus dimakan usia terus memperjuangkan hidup untuk anak-anaknya. Tubuhnya mengatakan agar ia beristirahat walau sekejap. Namun tak ia dengarkan. Panas maupun hujan tak membuat semangatnya luntur. Ia mendatangi orang-orang kampung yang sedang berkumpul. Mereka adalah tetangga di luar gang rumahnya.

“Mau ke mana Wak?” tanya kepala desa kampung panas dan gersang.
Mak Hayati berhenti di teras rumah kepala desa itu. “Mau cari orang yang mau dipijat. Biasanya rame yang mau dipijat, sekarang kok nggak ada ya Ros?” Tanya Mak Hayati dengan lugunya.
“Kebetulanlah Wak. Badanku sakit loh Wak abis bersih-bersihin rumah.”

Mak Hayati tersenyum dengan gigi yang masih lengkap. Giginya memang kuat seperti dirinya. Dia pun masuk setelah dipersilahkan. Kurang lebih setengah jam, Mak Hayati sudah keluar dari rumah sederhana itu. Syukur ia ucapkan. Setengah jam saja ia sudah mendapat uang 50 ribu. Ia tak langsung pulang. Rasanya ingin memperpanjang jam untuk hari itu. Ia tak memikirkan perutnya yang belum terisi nasi dari pagi, ia juga tak memikirkan kepalanya diterpa panas matahari meski ia berkerudung. Semua demi anak. Tidak ada yang bisa mengalahkan tulus cinta seorang Ibu. Meski dibayar dengan bumi dan seisinya. Cinta Ibu tetap yang termahal, tak bisa dinilai dengan mata uang.

Ternyata panas hari mengalahkan semangatnya. Seperti kumpulan besi tajam yang menghujam kepala, sakit luar biasa. Langkah perempuan setengah abad itu terhenti di warung kopi yang terletak di awal gang rumah tuanya. Sejenak ia istirahat. Wajah pucatnya menggambarkan kesusahan yang sedang ia hadapi. Ia tak pernah lelah, tak pernah menyerah. Hanya mengingat anaknya, semangatnya kembali. Namun hari itu semangatnya kalah seperti kondisi tua tubuhnya yang rapuh. Penjual kopi menyuguhkan kopi hangat tanpa dipesan.

“Uwak sakit? Jangan berjalan di tengah panas Wak. Apalagi cuaca nggak bagus sekarang, kadang panas, kadang hujan turun deras.” Penjual kopi menasihati. Penjual itu wanita berusia 30. “Kalau nggak dicari, nggak ada nanti uang untuk sidang Adekmu. Besok pula hari terakhir pendaftaran sidang. Ke manalah Uwak mencari uang.” Cerita Mak Hayati.
“Tapi jaga kesehatan juga Wak. Nanti kalau Uwak sakit, itu lebih parah biayanya Wak. Berapa rupanya biaya sidangnya Wak?”
“Hampir 2 juta. Tapi uang Uwak baru separuh. Entahlah, Tuhanlah yang tahu rezeki Adekmu, Min.”
Minah, pemilik warung kopi hanya memperhatikan keluhan hidup yang tampak jelas di wajah Mak Hayati meski yang punya badan tak mengeluarkan kata-kata keluhan.

“Pake uangku dulu Wak. Tapi cuma 500 ribu aja yang ada.” Tiba-tiba Minah mengejutkan.
“Alhamdulillah, benar Min? Makasih Min makasih. Bisalah Adekmu sidang Min. Uwak janji kalau ada uang Uwak, langsung Uwak bayar, tapi sabar ya Min.”
“Nggak usah terlalu dipikirkan Wak. Kapan ada uang Uwak lebih saja. Lagian aku nggak terlalu butuh sekarang, Wak.”
Mak Hayati pulang dengan harapan yang hidup kembali. Meski kurang setengah juta, ia tetap yakin anaknya bisa sidang skripsi. Di tengah jalan ia menangis dengan kepala menunduk. Jalanan sunyi, tidak ada yang memperhatikannya. “Ya Allah, anakku bisa sidang Ya Allah. Bisa Ya Allah. Terima kasih Ya Allah.”

Begitu Mak Hayati menangis bahagia. Anak memang satu-satunya pembangkit semangat Ibu. Dia usap butiran air di sudut matanya. Sampai di rumah. Ia tergeletak lemah. Tak berapa lama adzan Ashar terdengar dari masjid yang tak jauh dari depan rumahnya. Berat rasanya kepala itu bila diangkat. Tapi karena ingin mengadu pada sang Pencipta, Mak Hayati bangkit. Tangannya memegangi dinding saat berjalan agar tak jatuh. Kakinya bergetar karena tak kuat. Hari itu ia memang tak sanggup berjalan dengan cepat seperti biasanya. Ia ambil air wudu. Membasuh wajah keriputnya dengan air sumur yang segar dan masih suci. Tampak bercahaya wajah tua itu. Mak Hayati mengungkapkan semua isi hatinya pada sang Penciptanya. Setelah selesai, Mak Hayati lega. Tenang meskipun ia belum mendapat uang tambahan. Tiba-tiba Ira kembali mengejutkan dari pintu masuk.

“Assalamualaikum Wak. Ini ada telepon dari Kak Suci.”
“Waalaikumsalam. Masuk aja Wak.”
Gadis muda itu masuk dan langsung menghampiri Mak Hayati yang baru selesai menyusun Mukena kusamnya.
“Makasih Ra.” Ujar Mak Hayati sembari menerima handphone keluaran India itu.
Terdengar ucapan syukur dari seberang telepon.

“Alhamdulillah terima kasih ya Allah. Mak Suci bisa daftar sidang Mak.”
“Alhamdulillah Ya Allah. Dari mana uangnya Ci? Suci minjam uang siapa?”
“Suci menang lomba karikatur Mak. Hadiahnya 700 ribu bisa untuk tambahan sidang. Baru aja panitia yang sms supaya Suci ngirim rekening Suci. Mamak nggak usah kerja keras lagi Mak. Suci saja yang kerja nanti.”
“Syukurlah Suci menang.”

Anak beranak itu terus bercerita sekilas sidang dan wisuda yang akan dijalani. Mak Hayati merasakan kebahagiaan yang tak terbilang lagi. Pekerjaan sesulit apa pun ia kerjakan untuk cita-cita mulia anak-anaknya. Dia ingat kata-kata yang pernah diucapkan anak sulungnya saat semangatnya hilang. “Bintang bersinar karena adanya gelap.” Kata-kata itu Suci ambil dari kata mutiara online. Kalimat itu singkat namun bermakna.

Mak Hayati langsung membelanjakan sisa uangnya untuk memasak makanan seadanya. Ia bagi-bagikan makanan lezat masakannya itu ke anak yatim di gang rumahnya. Makanan itu hanya seadanya. Hanya mi goreng. Namun niat tulusnya itu yang membuatnya istimewa. Usai sudah kegelisahan yang mengganjal hati. Air mata kembali membasahi pipinya. Kini air mata itu bukan cerminan kesedihan hati, tapi sebaliknya, kebahagiaan yang memenuhi ruang jiwa. Di auditorium kampus megah dimana anak sulung itu wisuda, lagi-lagi Mak Hayati meneteskan air mata bahagia. Tentu saja perempuan setengah abad itu bahagia. Namanya dipanggil untuk datang ke depan seluruh undangan dan wisudawan yang memenuhi auditorium berkapasitas 5 ribu orang itu.

“Ibu Hayati orangtua dari Suci Purnama Pohan.” Begitu moderator acara memanggil namanya. Suara riuh dan tak sabaran untuk melihat siapa kiranya Ibu dari anak yang menyandang status wisudawati terbaik dari jurusan Hukum itu. Ternyata hanya seorang perempuan separuh abad yang sudah kurus dan sedikit bungkuk. Semua terharu melihat gerakan sedikit lambat dari perempuan tua itu. Para undangan ikut merasakan momen menyentuh. Mak Hayati mencium anak sulungnya dengan penuh kasih.

“Anakku sayang, semoga ilmumu bisa memberi keadilan pada yang membutuhkan.” Bisik Mak Hayati.
“Semua ini untuk Mamak. Mamak yang sudah berjuang dari Suci lahir hingga sekarang.” Balas Suci sambil mencium kembali Ibunya.
“Terima kasih sudah mau menjadi malaikatku, Mak.” Suci menutup kata-katanya.

Awan kini tak bergelantungan dengan warna hitamnya. Kini awan itu menghiasi langit dengan warna putih yang ia miliki. Mempercantik langit yang berwarna biru. Mereka ikut tersenyum melihat perjuangan seorang Ibu yang tak bisa ditakar dengan mata uang. Dan malam pun berbintang terang karena adanya gelap. Begitu juga manusia, keberhasilan tak didapat dari zona yang aman. Selalu ada senyuman setelah ada tangisan dan perjuangan. Seorang yang hebat pasti bisa melewati banyak rintangan untuk mencapai keberhasilannya. Karena great thing doesn’t come from comfort zones.

Cerpen Karangan: Anisyah Ritonga
Facebook: Anisyah Ritonga
Nama: Anisyah Ritonga
Alamat: Padangsidimpuan
Hobi: Traveling

Cerpen Malaikat Tak Bersayap merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cinta

Oleh:
Banyak hal yang telah ku lewati… dan sekarang ku tiba di saat ini. Tapi ku sadari aku masih belum banyak mengerti tentang hidup ini. Banyak tanda tanya di hatiku

Good Boy

Oleh:
Hap! dengan satu lompatan Ari berhasil menaiki sebuah angkutan umum yang hendak melaju. Bocah dekil itu duduk di pintu sambil memangku ukulelenya, lalu dalam hitungan ketiga ia mulai memetik

Perahu Bapak

Oleh:
BUNYI kecipak ombak yang menampar-nampar lambung perahu tidak pernah membangunkanku dari tidur siang sebelumnya. Namun kali ini lain. Suara itu lebih dekat, lebih keras, dan aku terusik untuk mencari

Dasar Payah Dasar Lemah

Oleh:
Aku adalah seorang remaja laki-laki yang baru lulus sma. Setelah lulus aku memilih bekerja daripada melanjut ke perguruan tinggi, bukannya aku tidak ingin, tapi kondisi keluargaku yang membuatku memutuskan

Tak Seindah Anggapanku

Oleh:
“siapa juara pertama lomba lari tahun ini?” ucap salah seorang siswa. “ya pasti kelas kitalah… kan Aryan yang mewakili kelas kita”. “oh pantas saja itu. Dia kan sangat berbakat

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *