Malam Minggu Itu Mengingatkanku Pada Masa Lalu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Galau, Cerpen Kehidupan
Lolos moderasi pada: 15 December 2013

“Kamar ini berantakan sekali”. Ucapku ketika membuka pintu kamar.
Kamar ini begitu berantakan tidak terurus, ranjang dan kasur berserakan seperti diterjang banjir yang telah melanda saat itu juga, debu-debu sesekali membuat aku bersin, kamar yang berada di lantai empat itu sedikit melelahkanku, aku harus beberapa kali naik turun. Saat itu juga aku segera membereskannya.

Matahari di ufuk barat bagai buah jeruk itu tersenyum menyapaku seolah mengucapkan selamat tinggal. Saat bersamaan terdengar jauh lantunan adzan memanggilku, memberi isyarat waktu shalat maghrib. Langkah demi langkah aku bergegas menuruni anak tangga dari lantai empat hingga ke paling dasar. Sempat aku memutar badan dan kepalaku ke sekeliling, aku tidak melihat satupun masjid yang berada di sekitar asrama ini. Tidak berfikir panjang, aku memutuskan untuk pergi shalat ke masjid yang berada di kampus.

Sunyi membuat langkah demi langkahku terdengar jelas. Bola jeruk itu tidak menghentikan langkahnya untuk meninggalkan langit biru. Tidak lama akhrinya aku sampai di masjid dan segera melaksanakan shalat berjamaah.

Bunyi perut ini terdengar sampai ke telingaku, udara malam minggu yang menusuk hingga ke tulang ini melengkapi rasa lapar saat itu. Tanpa berpikir panjang lebar aku langsung saja mencari tempat makan yang berada di pinggir jalan. Perutkku yang lapar ini tersenyum ketika melihat tempat makan yang hanya terhalang oleh beberapa sepanduk yang bertuliskan “Nasi Goreng” dengan gambar ayam jago merah.

“Mas nasi goreng satu porsi ya!” dalam kesendirian aku memesan satu porsi, belum ada pembeli yang lain disana selain aku seorang diri.
“Dibungkus atau disini de?” tanya penjual nasi goreng.
“Disini aja mas”
“Oh iya, yang pedes ya mas”. Jawabku kembali.

Karena waktu shalat maghrib dan isya tidak terlalu jauh, sambil menunggu Isya, aku makan terlebih dahulu, terlebih lagi yang sedari tadi perut ini tidak mau diam dengan ocehannya. Sempat ku melihat atraksi penjual nasi goreng saat membuat nasi gorengnya yang sengaja dipersembahkan untuk aku seorang. lihai sekali, nasi dan bumbu-bumbunya dengan profesional ia aduk. Teringat acara Master Chef di televisi. Semoga aku bisa membuatnya seperti apa yang sedang aku lihat, dan setelah itu bisa membuat lapak nasi goreng di beberapa lokasi. Batinku penuh harap, tersenyum dalam hati.

“ini de nasi gorengnya”
“oh.. iya, terima kasih mas”

Nasi goreng sepesial sudah berada di depan mataku, seolah menolak untuk disantap. Aroma khasnya membuat perut ini sudah menarik-narik tenggorokan. Angin malam dan bunyi knalpot motor dan mobil saja yang menemainku saat bersantap.
Tidak lama kemudian, datang dua orang pemuda-pemudi yang turun dari sepeda motornya itu. sepertinya mereka berdua juga akan memesan nasi goreng. Pikirku sambil melahap butiran coklat yang ada disendok.
“Mas nasi goreng dua porsi ya..!” terdengar seorang pemuda yang memesan nasi goreng lalu mereka langsung duduk tepat di meja hadapanku.

Sambil melirik jam yang ada di handphone, waktu shalat isya masih agak lama. Terlihat di hadapanku sepertinya mereka sepasang kekasih, terlihat dari bercengkraman dan tingkah mereka. Apakah mereka sedang berpacaran, karena memang malam ini adalah malam minggu. Melihat tingkah mereka sedikit mengganggu makan malamku. Ah mungkin mereka pengantin baru yang sedang bulan madu. Batinku positif thinking.

Melihat mereka sedang berasyik-asyik dengan candaan dan tawanya membuat aku semakin gelisah. Pikiran dan hatiku seolah terbang ke masa lalu. Setahun yang lalu, dimana saat itu posisi aku sama seperti yang ada di hadapanku sekarang ini. Dulu ketika itu aku juga masih bersama dengan seseorang yang sangat aku cintai. Masa itu juga kami memesan nasi goreng berdua, tepat di malam minggu kelabu. tetapi kami hanya memesan satu porsi. Ya, satu porsi untuk dimakan berdua. Betapa indah masa itu.

Akan tetapi semua itu musnah ditelan waktu, yang ada hanya tinggal cerita. Dengan sebuah piihan. Sebuah pilihan yang timbul dari hati, kesadaran diri. Memutuskan aku untuk memilih dalam kesendirian. Setahun sudah aku berada dalam kesendirian. Sebuah pilihan yang mengorbankan perasaan. bahagia menjadi sedih dan sedih menjadi bahagia, beginilah dunia dihela silih berganti.

Handphone berdering membangunkan lamunanku. Kulihat mereka masih asik bercengkraman. Benda kotak kecil cahaya putih ini yang selalu menemaniku, sesekali kubuka facebook untuk menghilangkan dinginnya angin malam menusuk jantung yang membawa ke masa lalu. Kulihat jam nampaknya waktu isya sudah dekat. Kutinggalkan semua yang ada disini dengan mengeluarkan selembar kertas merah dari dompet hitamku.

“Ini mas, terimakasih banyak ya”. Aku tersenyum sambil menjulurkan uang kertas merah di tanganku.
“Sama-sama dek, lain kali kalau kesini bawa pasangannya ya..”
Aku balas dengan senyuman, senyuman penuh sinar di kegelapan malam. Dengan hati sedikit menengok masa lalu di sebuah tempat nasi goreng.

Cerpen Karangan: Ari Irawan
Blog: http://ariirawan1.blogspot.com
Facebook: https://www.facebook.com/arie.irawan.58

Cerpen Malam Minggu Itu Mengingatkanku Pada Masa Lalu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Green Tea Latte

Oleh:
Secangkir green tea latte dan dua buah donat dengan topping green tea pun menemani sudut kesendirianku yang mengingatkan aku pada dirimu. Terik cuaca di luar terasa begitu menyengat. Aku

About Me

Oleh:
Gue beda dengan yang lain dan gue paham, itu membuat gue sering dibully. Mulai dari SD sampai gue SMP. Gue penakut dan jarang sekali tuk berani ngelawan mereka. Sampai

Android

Oleh:
Ini pertama kalinya aku jauh dari rumah utuk menempati kost baruku, ya.. karena aku mendapat tempat magang yang sangat jauh dari rumah yaitu lamongan. Aku tidak sendirian di kost

Bersama Hujan

Oleh:
Hujan turun membasahi jendela kamarku, berembun sejak butiran pertama. Aku tersenyum melihat ada segerombolan anak kecil bermain sepeda. Seperti itu aku yang dulu. Polos, yang hanya tahu bermain dan

Bulan dan Venus

Oleh:
Aku sedang meneguk air dari botol minumanku di tepi halaman sekolah. Akhir-akhir ini aku harus disibukkan dengan latihan basket untuk persiapan turnamen basket antar sekolah yang akan diadakan seminggu

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *