Malam Takbir

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Kisah Nyata, Cerpen Ramadhan
Lolos moderasi pada: 2 July 2019

Senja telah tergantikan oleh kabut hitam di awan, penghias langit telah berganti menjadi malam yang gelap. Di setiap jalan sudut kota telah terhiaskan lentera lentera malam kemenangan menemani dan menerangi jalanku kembali.

Aku adalah seorang anak yang selalu disimpangkan dan tersisihkan oleh saudara saudaraku, semua teman selalu meremehkanku. Namaku Buyung terdengar sangat aneh jika mendengar kata itu, entah apa yang dipikirkan orangtuaku mereka memberikan nama itu kepadaku.

Sorotan lampu mengantarkanku pada tujuan akhirku, sebuah rumah kecil tak bernyawa tampak di depan kelopak mataku.
Terlihat seoarang duduk menantiku di sebuah kursi tua di teras depan sambil menghirup asap rokok, rasanya seperti seorang penentu nasib di rumahku. Aku langkahkan kakiku menuju ke dalam rumah dan melewati seoarang di teras itu, sontak terkejut aku, dia bertanya padaku macam macam hal yang buatku sangat terganggu dan rasanya jantung hatiku berdetak kencang, seperti sedang bertemu dengan seorang malaikat kubur yang konon ada. Ingin rasanya jantung ini keluar dan lepas bebas, ingin sekali kaki ini melangkah ke dalam dan menjauh dari kenyataan.

Di malam kemenangan itu aku sempat bertanya tanya mengap semua itu harus dikumandangkan, dari saat tenggelamnya sang senja seruan, deruan, lantunan kalimat yang selalu terdengar, hanya satu kalimat dan berulang ulang diucapkan. Kadang mereka itu jalan mengikuti parade membawa lampu lentera api yang menyala di atas sebilah bambu yang telah disiapkan.

Pikirku melambung dan memikirkan tanggapan, saran apa yang cocok untuk mereka saat itu, parade itu membuat kemacatan lalu lintas yang tak berujung, dari timur ke barat, dari utara ke selatan. Rasanya telinga ini sangat sulit tuk menerima suara suara yang sangat mengganggu itu.

Masuk dan tidur tanpa memikirkan keributan keributan yang tengah terjadi, di tengah gelapnya melam aku terjaga karena suara suara itu, lantas aku melangkah keluar untuk melihat apa yang terjadi, ternyata semuanya belum terlarut dalam tidur mereka semua malah terlihat sangat santai dan sekilas kulihat bola mata mereka yang sangat cerah. Mereka asyik mengobrol, menggurau dan ngerumpi kehidupan seseorang yang gak terlalu jelas kudengarkan.

Karena terbawa dengan cerita cerita mereka aku jadi terbawa suasana, sontak aku terkejut saat aku semakin mendekat mereka ternyata sedang membicarakan tentang seorang yang sangat disegani, dan dihormati di desaku. Topik mereka kini sangat menarik yakni Kepala Desa yang saat itu mengadakan acara acara perlombaan antar RT tapi hadiah untuk pemenang hanya sebuah piala tak berharga meski banyak maknanya.
Maklum, di desaku hanya uang yang diincar dan diburu, meski awalnya bekerja sama akhirnya semua terpecah belah karena uang.

Detik detik terlewati oleh cerita cerita yang unfaedah. Akhirnya mereka semua pulang dan terlarut di dalam mimpi yang mereka impikan.

Suara suara kumandangan takbir di malam itu pun kini terdengar lagi dan mampu mengantarkanku dalam mimpiku yang menjadi mimpi yang sangat indah.

Cerpen Karangan: Buyung Wijianto
Blog / Facebook: Buyung Wijianto

Cerpen Malam Takbir merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Jemari Tuhan (Masih Ada Cinta Di Sana)

Oleh:
“Kubisikkan doaku di celah-celah ruang hidupku, Tuhanku satu…” Pernah terlintas suatu pemikiran bodoh dari diriku. Akulah insan paling merugi sepanjang masa. Aku merasa Tuhan tidak adil. Hingga saat aku

Rindu Si Anak Pemulung

Oleh:
Entah apa yang sedang dia fikirkan, aku tidak tahu. Sedari, sejam yang lalu dia hanya duduk dan terus memperhatikan langit. Aku mencoba untuk memperhatikan juga apa kira-kira yang sedang

Cincin Kawin Ibu

Oleh:
Suara mesin jahit ibu sudah mulai terdengar, pertanda subuh sudah datang. Seperti biasa ibu meneriakiku untuk bangun dan salat subuh. “Bangun, Le. Sudah subuh,” Ibu yang sudah bangun lebih

Akhirnya Matahari Itu Pun Terbit (Part 1)

Oleh:
“Kebenaran adalah apa yang tahan menghadapi ujian pengalaman,” (Albert Einstein) “Mari kita turun ke dasar fakta-fakta. Awal mula segala tindakan mengetahui, dan karena itu titik tolak segala ilmu, haruslah

Abu Abu Setelah Biru

Oleh:
Aku terdiam di sudut ruangan menyandarkan tubuhku yang kurasakan amat lelah. Lututku ku tekuk kemudian ku peluk. Pandanganku kosong. Aku sibuk menikmati suasana hati yang bergemuruh. Teringat semua ucapan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *