Malusia

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Islami (Religi), Cerpen Kehidupan
Lolos moderasi pada: 30 September 2020

“DIAM” teriakku sambil memasang wajah garang dan bertolak pinggang. Semua orang yang betengkar terdiam, mungkin kaget.
“kalian tak usah bertengkar lagi, percuma, toh kunci surga sudah Iblis patahkan.” lanjutku
Mendengar hal itu, mereka bersatu padu mengejar Iblis yang berlari sekuat tenaga, hendak menangkap dan memukulinya.
Saat tertangkap, sesaat sebelum pukulan mendarat di wajahnya, mereka dikagetkan, ternyata yang tertangkap adalah manusia yang berpakaian Iblis.
Aku berbicara dalam hati. “Gila, saat genting seperti ini masih ada Manusia masih sempat menaburi garam pada luka yang tak kunjung sembuh.”

Sebelum manusia itu habis dikeroyok masa yang amarahnya sudah naik melebihi tinggi badannya, Aku peluk dia, dengan punggung membelakangi gerombolan umat, bukan aku pro dia, tapi tak tega saja jika melihat seseorang habis dipukuli.
Iya memang, dia salah karena mematahkan kunci, tapi bertengkar depan pintu surga dan memukuli orang sekehendak amarah apakah itu tak salah? yang menentukan salah benar itu siapa? tak terlalu kupedulikan karena semua merasa benar, yang jelas aku disini hanya menegaskan kepada mereka, bahwa lantai yang kotor, tak akan bersih jika dibersihkan oleh lap yang kotor, meneriaki Iblis sambil diam-diam menjadi followersnya.

“EUHH” terpental aku didorong manusia itu, dia berdiri, membusungkan dada, sambil menarik nafas lalu bicara dengan suara lantang “ayo kalau mau pukul, pukul aku, habisi aku, bunuh aku. Bukan hanya kunci surga yang kupatahkan, besok akan kubawa air untuk memadamkan neraka, setelah itu akan kubawa obor untuk membakar surga, agar kalian tak saling betengkar memperebutkannya, dasar tak punya muka, kau pikir dengan cara seperti itu tuhan suka, dan mau merahmati kalian, dasar lumpur comberan” Dia terus memaki dengan nafas tersendat-sendat bercampur guyuran air mata.
“Tapi..” sebelum gerombolan umat sempat melanjutkan bicara, manusia itu memotongnya “Diam bangs*t, sampai kapanpun kalian menunggu, beliau tak akan datang, walaupun kalian betengkar sampai salah satu dari kelompok kalian bermandikan darah, syafaatnya tak akan datang”
“loh kenapa?”
“Diam!”
“iya kenapa?”
“kalian tau maknanya diam bukan!”
Gerombolan umat menahan mulutnya.

“Rosulullah dilarang Allah menemui kalian, beliau dilarang memberi syafaat kepada kalian, karena kalian terlalu rakus dan berbangga diri”
“Bahkan Rosulullah tak berani menghadap Alloh karena merasa malu menjadi Rosul paling gagal sepanjang periode risalah”
“saat zaman nabi Musa, Fir’aunnya satu dua, tetapi umat beliau terdapat jutaan Fir’aun, periode dulu Bal’amnya bisa dihitung jari, periode kini Bal’am ada di seluruh pelosok negeri, dan saat beliau masih hidup Abu Jahalnya cuma satu, setelah beliau wafat semua berlomba menjadi Abu Jahal”
“Akibat ulah kalian, beliau hanya diam mengurung diri, tak mau bertemu dengan siapapun, menangis, bersedih hati”

“Lalu kami harus bagaimana?” tanya salah seorang dari kerumunan masa.
“kita tak bisa melakukan apa-apa selain menunggu kanjeng Rosul menemui kita”
“sampai kapan?”
“sampai kita pantas untuk beliau temui”

Semua tak ada yang merasa tak resah, rasa bersalah mengiris hati mereka, masing-masing dari mereka tak daya membendung air mata mereka, yang terus mengguyuri tubuh mereka, tak ada yang terdengar disini, selain isakan penyesalan. suasana ricuh berubah jadi rintih, yang tadinya saling menyalahkan orang lain, sekarang semua menyalahkan diri sendiri.

Di tengah-tengah rasa pilu tersebut terdengar suara terbata-bata, yang kemudian diikuti oleh satu dua orang, sepuluh, seratus, semilyar, hingga semua.
“Ya Robbibil Musthofa, Balighmaqosidana Waghfirlanaa Mamadho, Ya Wasyi’al Karomi,
Huwal Habibulladzi Turjan Syafa’atuhu, Likulli Haulan Minal Awali Mukhtaqomi
Maulaya Sholli Wa Salim Da iman Abada, ‘Alan Nabiyyi Wa ’Ahlil baitikullihimi”
Suara yang semakin tinggi frequensinya memecah keheningan, jeritan harapan yang diiringi rasa bersalah terus bergema, wajah-wajah menengadah menghadap langit, tangan pengharapan menjulur ke atas, diikuti mulut yang berteriak memanggil-manggil panutan umat.

Suasana itu terus terjadi entah berapa lama, sulit dihitung saatnya. Sampai suara yang lantang itu memudar, serak, habis dimakan oleh penyesalan. Seketika, ‘jeup’ semua diam tak berdaya, seluruh rasa yang ada bercampur, sulit di presentasikan, saat muncul sesosok lelaki dari suatu arah, membawa kabar gembira.

Ciamis, 23 November 2017.

Cerpen Karangan: Derry Ridwan M.
Blog / Facebook: derry exact
Derry Ridwan M adalah salah seorang jamaah maiyah dari Lingkar Daulat Malaya Kabupaten Ciamis sejak tahun 2016.

Cerpen Malusia merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Naungan Sang Pecandu

Oleh:
Cerita ini dimulai saat aku mulai berkenalan dengan seorang laki-laki bernama Firman. Aku berkenalan dengannya melalui seorang temanku, Geo. Siang itu Geo memberikan nomor teleponku kepada Firman. Ternyata malam

Bukan Kamu Yang Dulu

Oleh:
Aku melihatnya. Gadis bertubuh atletis dengan rambut panjang yang diikat satu di tengah dan dengan hidung mancungnya, menggunakan celana jeans ketat dan baju kaos berlengan pendek berwarna hitam yang

Di Pulau Pasifik

Oleh:
Nama saya jaya Hairuddin kerja sebagai mekanik di kapal tanker milik Amerika, masa kecil saya sama seperti anak pinggiran Jakarta yang lain bermain di kebon milik pak haji sambil

Metamorfosa Senja Bersama Awan Putih

Oleh:
Awan putih indah dihiasi pelangi senja di sore itu menyelinap di setiap celah awan. Menatapnya, menikmati keindahannya bersama kerinduan yang terselip di setiap celah hati, kembali merasa kurang dihargainya

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *