Mama, Tuhan dan Hidup

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Keluarga, Cerpen Kisah Nyata
Lolos moderasi pada: 26 November 2013

Orang baik yang selalu bersyukur akan menjadi tokoh yang serba kekurangan dan teraniaya, sedangkan orang jahat akan menjadi tokoh dengan kekayaan berlebih namun angkuh, dan enggan memikirkan sesama-nya. Jika tukar posisi, apakah si miskin yang telah menjadi kaya akan tetap menjadi orang baik yang selalu bersyukur, dan si kaya yang telah menjadi miskin akan tetap egois dan angkuh?

Hanya mereka dan Tuhan yang tahu.

Dan apakah Tuhan sendiri itu benar-benar ada? Atau Tuhan hanyalah sosok yang ‘diciptakan’ imajinasi naif manusia yang mengalami keberuntungan? Mungkin banyak orang yang memiliki pemikiran seperti ini setelah ditimpa hal memilukan yang menghilangkan semangat hidup, bahkan, aku sendiri pernah meragukan keberadaan Tuhan. Bagaimana bocah kelas 2 SMP yang sedang dalam fase labil masih bisa percaya Tuhan yang katanya akan selalu melindungi dan menjaga umat-Nya jika dia dihadapkan kenyataan bahwa ibunya menderita kanker payudara sekaligus kanker paru-paru dan sudah berada pada stadium mematikan?

Semua orang bilang, Tuhan akan mengabulkan doa umat-Nya jika orang itu berdoa dengan tulus. Walaupun begitu, Tuhan hanya akan memberi sesuatu yang ‘dibutuhkan’ umat-Nya, bukan yang ‘diinginkan’.

Saat itu bulan Agustus, awal semester pertama di kelas VII. Di sekolah, aku mendapat pesan bahwa papa menelepon pihak sekolah, dan memberitahu bahwa keluargaku sedang membawa mama ke rumah sakit. Aku bukan orang realistis, aku juga tidak bisa menerima sesuatu yang merugikan hidupku dengan ikhlas, walaupun alasannya sudah sangat logis. Entah, apa-apaan perasaanku saat itu. Sedih, kesal, marah… dan yang lebih menyakitkan adalah, seharusnya di saat seperti itu aku menangis.. tetapi aku malah tidak bisa menangis.

Libur lebaran aku habiskan dengan menjaga mama di rumah sakit. Yang bisa kulakukan hanyalah menemaninya, menyuapi makan, memandikannya (atau lebih tepatnya mengusap tubuhnya dengan handuk basah). Aku senang mengipasi dan memijit tangannya. Memang tak akan memberikan efek yang berarti untuk kesehatan mama, tapi aku tak tahu lagi apa yang harus kulakukan..

Dulu, sewaktu kecil, aku senang menyisir rambut mama dan mencabut uban mama. Saat mama mulai sakit, rambutnya memutih, dan ketika aku menyisir rambut mama, ada banyak gumpalan rambut yang menyangkut di sela-sela gigi sisir. Ya, sekarang, tanpa kucabut pun rambutnya akan rontok.

Aku senang mengelus punggung mama sampai mama tertidur. Namun, melihat wajah mama yang tengah tertidur, aku membayangkan, bagaimana jika itu adalah tidur mama yang terakhir? Bagaimana jika saat itu mama berhenti bernafas? Dan bagaimana jika mama enggan membuka kembali kedua kelopak matanya? Aku sungguh ingin menangis jika menatap wajah mama, tapi aku tidak bisa..

Hal menyedihkan tidak berhenti sampai di situ saja. Suatu hari, Pastor datang bersama teman-teman gereja mama. Pastor memberikan sakramen pengurapan/orang sakit kepada mama. Walaupun maksud sakramen itu adalah minta penyembuhan kepada Tuhan, tapi saya yang masih kecil pun tahu bahwa itu adalah sakramen untuk orang yang hampir meninggal, atau mengalami penyakit parah yang sudah tidak bisa disembuhkan.

Beberapa minggu setelahnya, mama dipindahkan ke rumah sakit yang lebih baik dari rumah sakit sebelumnya. Saat aku datang mengunjunginya, mama terlihat lebih segar. Wajahnya cerah, bola matanya memancarkan semangat kehidupan, mungkin itu adalah awal pertanda mukjizat Tuhan, dan aku sangat mensyukurinya.

Namun, banyak kejanggalan di hari itu. Mama biasanya berbicara jika diajak ngobrol, namun di hari itu mama hanya diam saja. Mengangguk dan menggeleng, atau bahkan tak merespon. Diberi makan pun mama menolak terang-terangan, tetapi aku dan keluarga yang lain masih bersikap biasa-biasa saja. Kami menganggap bahwa mama sedang beradaptasi dengan lingkungan barunya, atau mama memang sedang membutuhkan waktu untuk dirinya sendiri.

Perkiraan kami ternyata salah. Beberapa jam dari saat itu mama mendadak merasa sesak. Ia tiba-tiba berteriak tersendat sambil terus memegangi dadanya. Sontak aku memencet bel perawat sambil berteriak histeris memanggil suster. Papa yang tak tahan menunggu, berlari keluar ruangan, berharap segera menemukan suster. Tak lama dari saat itu, para suster datang berbondong-bondong, kemudian larut dalam kesibukan mereka masing-masing. Ada yang memasang masker oksigen, ada yang mendorong ranjang mama, ada yang memindahkan infus, dan ada juga yang kebingungan menelepon dokter.

Mama pun harus dibawa ke ruang ICU. Aku bisa melihat wajah papa yang dijamah kepanikan. Dari kedua bola matanya yang sayu, aku melihat tetesan air mata yang selama ini tidak pernah kulihat. Papa yang selama ini kukenal sebagai sosok yang tegar, perlahan-lahan menunjukkan kerapuhannya ketika dihadapkan dengan persoalan seperti ini. Bagaimana perasaannya jika nasib orang yang 15 tahun dicintainya bergantung pada dokter, peralatan medis, mukjizat, dan… Tuhan?

Aku hanya bisa menggigit bibir bawahku, dan menahan diriku untuk tidak menangis. Hanya itu yang dapat kulakukan. Pergerakan suster-suster itu sangat lamban di mataku. Perasaanku berkecamuk melihat mama yang terbaring sesak seakan kesulitan bernafas. Ingin rasanya aku memberikan seluruh nafasku untuk mama. Aku terus memohon kepada Tuhan, aku akan memberikan apapun asalkan mama tetap hidup.

Tak lama kemudian, seorang dokter lari dengan tergesa-gesa menuju ranjang tempat mama dibaringkan. Dokter yang datang terlambat itu ternyata tidak mengubah apapun, yang ia lakukan hanya menaikturunkan tekanan oksigen dan mengelus-elus tubuh mama sambil berwajah panik. Apa gunanya? Semua itu tetap dilakukannya hingga akhirnya mama berhenti bernafas. Hatiku rasanya sakit, air mata yang terbendung selama ini, akhirnya mengalir.. Aku tidak mengharapkan bahwa yang kulihat ini hanyalah mimpi, setidaknya, aku tidak ingin melihat mama meninggal dengan cara yang penuh penderitaan seperti itu. Tanpa sadar, aku mengutuk semua orang. Mengumpat kepada Tuhan meminta nyawa mama dikembalikan. Perasaan marah yang tidak dapat terbendung lagi meledak dari dalam jiwaku, namun perlahan-lahan semua itu menguap ketika kedua tangan papa memeluk badan kecilku..

Mama bagaikan oase yang hilang dari dalam hidupku, sepeninggalan mama, rasanya aku kehilangan arah dalam menapaki hidup. Rumah tangga yang mulai berantakan, adik-adik yang masih kecil, ayah yang harus bekerja lebih keras dari biasanya, bukan itu yang aku harapkan untuk kusaksikan di masa remajaku. Sebenarnya bisa saja aku bertindak seperti anak kecil yang menganggap bahwa dirinya belum bisa menerima kenyataan pahit yang telah terbentang luas di depan mata, namun aku sadar bahwa tidak ada gunanya terus-terusan merasa terpuruk. Posisiku sebagai anak pertama membuatku harus berjuang menggantikan sosok ibu di dalam keluarga kecil kami. Aku tidak ingin ada orang lain yang menyesali kematian mama karena kelakuanku yang mengecewakan.

Aku mulai belajar bagaimana cara mengurus pekerjaan rumah, dan mengurus adik. Aku merasakan betapa kesalnya jika masakan yang dibuat tidak dimakan, betapa marahnya jika lantai yang sudah di-pel diinjak-injak oleh adik yang baru pulang sekolah, betapa bahagianya jika pekerjaanku dipuji papa, dan betapa sedihnya jika mengikuti perayaan hari Ibu tanpa kehadiran mama.. Semua itu kulakukan tanpa penyesalan, bahkan aku tetap bersyukur karena walau sepeninggalan mama pun, Tuhan masih mengizinkan aku hidup bahagia bersama papa dan adik-adikku.

Hidup dan mengalami takdir buruk, bukan berarti harus menderita. Dan jika begitu terus mama di surga pun pasti akan bertanya, “kenapa orang yang ditinggalkan tidak bisa hidup dengan tabah?”

Yang jelas, Tuhan itu adil. Di setiap agama-pun sudah ditanamkan persepsi bahwa Tuhan tidak akan memberikan cobaan melebihi kemampuan umat-Nya. Setiap manusia juga punya beban dan takdir yang harus ditanggung selama hidup, walau rasionya berbeda-beda. Semua hal itu membuatku seakan mengerti segalanya, dan perlahan mulai mengikhlaskan semua yang terjadi pada mama, pada hidupku, dan pada hidup seluruh keluargaku. Karena kami percaya, Tuhan punya jalan yang indah untuk hidup kami.

Dan jika kalian yang mengalaminya, apakah kalian akan membenci dan mulai meniadakan keberadaan Tuhan? Atau malah lebih bersyukur setelah menemukan hikmah dibalik kejadian yang kalian alami?

Cerpen Karangan: Angelica Angie
Blog: enjiichan.blogspot.com

Cerpen Mama, Tuhan dan Hidup merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kamarku

Oleh:
Gemercik air mulai terdengar berjatuhan membasahi atap yang sudah telihat rapuh pada rumah tua yang besar ini. Berlomba seakan siapa yang akan jatuh lebih dulu untuk membuat kayu pada

Paruh Baya Yang Berjasa

Oleh:
Sinar mentari pagi mulai terpancar dari balik awan putih yang terus bergerak menjauhi sang surya mengikuti alunan angin. Juga terdengar seruan dan kicauan burung-burung yang terbang menyusuri langit biru.

Pandhebhe

Oleh:
Di antara dedaunan yang satu per satu mulai gugur menghiasi sajadah panjang kehidupan, biarlah semua nestapa dan duka runtuh bersama daun terakhir yang jatuh kala penghujung musim gugur tiba,

Peri Gigi Tania

Oleh:
Tania adalah seorang gadis cilik yang rajin, baik, cantik, dan cerdas. Ia adalah anak yatim alias tidak punya ayah lagi. Ibunya, dia dan Tara, adiknya, kemudian tinggal bersama paman

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *