Mamah

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Keluarga, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 10 September 2014

Semua Orang, anak-anak baik besar atau yang kecil pasti memiliki orangtua, yang biasa disebut Ayah dan Mamah, akan sangat melengkapi jika salam satu atap memiliki keduanya, tapi tidak dengan ku. Di waktu umurku 2 tahun aku sudah kehilangan seorang mamah, mamahku merantau ke negeri sebrang untuk mencari penghasilan demi perubahan ekonomi, sementara Ayah hanya bekerja serabutan dan dominan sebagai petani itu hanya sepintas cerita dari nenek, aku sangat senang dan bahagia ketika nenek memberikan surat dari mamah yang merantau di Arab Saudi itu, yang nenek dapat dari tukang pos pagi tadi, surat itu berisikan uang dan surat untukku dan isi suratnya
“jaga dirimu baik-baik nak, jangan nakal sayang” dan ternyata surat itu merupakan surat pertama dan terakhir dari mamah untukku.

Sekarang umurku beranjak 10 tahun, tepatnya kelas 4 SD semenjak mamah tak pernah pulang ayah pun merantau ke ibu kota DKI Jakarta, tidak 1 tahun beliau disana ayah telah menikah lagi dengan seorang janda beranak 3, mula-mulanya aku tidak setuju aku punya mamah baru, tapi setelah aku berpikir dan berbicara dengan nenek aku pun tidak bisa mengatakan apa-apa, aku hanya bingung.

terus nanti kalau mamah pulang dari Arab gimana?
terus nanti mamah sakit hati gimana?
mah maafin ayah mah?

Dan kini akupun tinggal di DKI Jakarta bersama 3 saudara tiri, aku selalu takut ketika melihat di tv-tv bahwa ibu tiri itu kejam, 1 minggu berlalu aku serasa dibedakan dengan 3 orang saudaraku, aku terus saja diperlakukan layaknya yang di tv-tv, tenyata benar ibu tiri itu kejam, dan ketika ayah pulang dari pekerjaanya yang hanya sebagai pemulung aku meminta bahwa aku ingin tinggal di tempat nenek saja bukan sama tante atau ayah. Ayah pun bertanya kenapa? Alasanku, aku ingin mengurus nenek dan ingin tinggal di kampung saja ayah pun mengiyakanya.

Pagi harinya aku dan ayah berangkat naik bis dari lebak bulus menuju bandung, setelah di stasiun kami pun naik angkot jurusan Bandung-Panjalu yang sering dipanggil BP. aku tertidur di dekapan ayah aku bermimpi disana bertemu mamah dan tersenyum padaku dan mamah mengatakan dalam mimpi itu “jaga dirimu baik-baik nak, jangan nakal sayang” persis dengan pesan di surat mamah dulu, di mimpi itu mamah akan mencium keningku namun ayah malah membangunkanku. Ternyata kami telah sampai di Panjalu, desa tempat nenek tinggal, tempat aku dan mamah dilahirkan. Desa yang masih bersih, nyaman dan jauh dari hingar bingar lalu lalang mobil layaknya di DKI Jakarta.

Aku pun berjalan melewati gang-gang kecil yang dulu aku selalu bermain disini, main petak umpet, pecle dengan temanku bernama ina akhirnya aku menemukan gubuk bilik yang reyod namun masih bisa untuk ditinggali di ujung gang, terlihat nenek sedang menyapu halaman dan aku serentak berlari memeluk nenek menangis, dan setelah itu kami duduk di balkon depan rumah nenek atau rumah peninggalan mamah, disana terdapat getuk, bubuy sampeu, goreng singkong, dan air teh manis. Setelah ada 1 jam kami bersedagurau dia atas balkon ayah pun di telpon oleh tante, untuk segera balik lagi ke Jakarta, aku pun mencegah ayah, namun ayah tetap pergi dengan berat hati aku pun melambaikan tangan dan ayah pun memelukku dan mencium keningku. setelah itu aku mengadu pada nenek dan nenek hanya bisa memberikan aku semangat.

Dari kepulanganku ini ayah tak pernah pulang atau sekedar menanyakan kabar lewat surat tentang keadaanku aku kadang sedih namun nenek lah yang selalu menguatkanku. hari-hari pun berlalu kini aku mulai remaja aku sudah lulus dari sekolah dasar dan melanjutkan di smp yang jaraknya dekat dengan rumah. dan tanpa disadari kini aku telah kelas 9, disana aku menemukan sahabat lama ina namanya, aku pun satu bangku dengan dia, kadang pulang sekolah aku ngak langsung pulang ke rumah kadang aku main terlebih dahulu di rumah ina dan sempat aku bermalam dan pergi sekolah dari rumah ina karena ada tugas dari guru tataboga. Dari sinilah aku sirik pada ina ku lihat setiap pagi ina dibangunkan oleh mamahnya, diberikan sarapan diberikan ciuman di keningnya dan ketika berangkat sekolah ina senantiasa mencium tangan mamahnya, dan yang paling aku iri ketika hasil pelulusan di bagikan, ina didampingi mamahnya diberikan amplop oleh wali kelasku sementara aku hanya sendiri karena aku tau jika aku meminta nenek menemaniku aku sangat egois karena aku tau nenek sudah renta untuk berjalan saja ia memerlukan tongkat untuk pijakan, aku pun melihat ina mebuka amplop itu ku lihat ia mendapatkan tulisan lulus ia menangis dan teriak “MAMAH ku LULUS” dan mamah ina pun segera memeluk ina, sementara aku sendiri di pojok kelas dan membuka amplop itu dan aku pun lulus dengan nilai yang sungguh buat aku sujud syukur.

Ketika perjalan pulang aku tertuju pada danau, danau yang tepat di bawah rumah, aku ingim kesana aku ingin menyendiri ketika itu aku langsung tertuju disana ku duduk di tampian tempat mandi orang-orang desa, ku berkaca di atas air ku perhatikan mukaku, aku pun membuka tas ku dan melihat foto berukuran 3 x 4 satu-satunya yang aku punya foto mamahku, aku tersenyum.. ternyata aku mirip dengan mamah..
senyuman di photo itu seperti senyuman ku, rambut kriting itu seperti punyaku… aku pun menjerit
MAH…
mamah…!
mamah dimana?
mah aku lulus mah!
apakah mamah tau aku rengking 1 mah?
mah aku ingin seperti orang lain mempunyai mamah
mah aku pengen cium tangan mamah kayak ina
aku pengen dibangunin tidur, disiapin sarapan oleh mamah
aku pengen dimarahin ketika aku nakal
aku ingin dipukul ketika nilai kecil
aku ingin dijewer ketika ku melakukan kesalahan
aku ingin yang mengambil kelulusan ini mamah agar mamah tau anak mu ini berprestasi mah!
mah aku rindu mamah mah…
mah pulang mamaah pulanggg…
mamah dimana?
Tanpa aku sadari air mata trus bercucuran

Aku pun pulang aku takut nenek khawatir karena aku pulang terlambat, dan aku harus terlihat tegar di hadapan nenek. namun ketika aku pulang ku buka pintu “asslamualikum nek, nek… dimana?” ternyata di rumah tidak ada siapa-siapa, aku pun duduk di balkon rumah dan ku perhatikan lagi surat kelulusan yang dari tadi aku genggam aku merenung lagi, “andai mamah disini, mungkin aku takkan kesepian, dan andai nenek disini, pasti nenek senang lihat hasil belajarku” tiba-tiba aku lihat dari arah selatan ada yang membawa padung yaitu tempat membawa orang mati. aku terperanjat dari renunganku ku, ku perhatikan arah padung itu perhatikan “siapa yang meninggal” tanyaku tapi orang-orang malah diam membisu dan arah padung itu semakin lama semakin berarah ke rumah ku ini, aku pun menjerit “NENEK” ku peluk padung itu sampai jatuh ke tanah dan ketika ku buka, ternyata benar neneklah yang meninggal, memang seminggu ini nenek sakit hanya saja nenek selalu terlihat sehat di hadapanku, waktu itu begitu membuat duka nestapa buatku terpukul, satu-satunya orang yang sayang padaku, dan satu-satunya keluarga yang aku punya kini telah meninggalkanku selamanya, aku pun teringat mamah..
“maahhh maamahh tau nenek meninggal mah” di sela-sela aku mencium kening nenek
“mah maamah kesini mah ini nenek mah yang melahirkan mamah, bapak! Bapak kesini pak! kini aku sebatang kara, puas kalian puas!”
Semua orang disana melihat ku dengan iba, malahan ada yang menyuruh tinggal bersama namun aku tak mau.

Setelah peninggalan nenek hari-hariku lewati sendiri, hingga pada saat nya ku temukan selembaran kertas dari bawah bantal nenek, ternyata disana terdapat beberapa kertas yaitu surat nenek yang berisikan “cu, bersabarlah kelak kau kan temukan kebahagiaanmu cu, nenek tau cucu nenek yang satu ini pinter pasti rangking satu, tapi maaf nenek gak bisa lihat itu cu, jaga diri baik-baik” surat itu membuat aku tegar untuk menghadapi hidupku akupun menangis bahagia kulihat kertas kedua dari mamah tapi tertuju untuk nenek yang berisikan “ma lis dah nemuin calon suami juragan korma ma jaga anakku disana ma maafin lis gak bisa pulang ke panjalu, lis cukup bahagia tinggal di Arab ma” dan aku pun terdiam sugguh tega mamah membuang aku! dan tak kuhiraukan surat itu ku lihat surat berikutnya dari nenek lagi “cu ambil hikmana bageur, kini kau sudah dewasa kau bisa mengerti mana yang benar mana yang salah suatu saat jika kau menjadi ibu jangan pernah mengikutu jejak ibumu, janjilah cucuku” aku pun tersenyum dan pada saat itu pun aku berjanji, ketika ku lihat kertas selanjutnya ternyata itu sertifikat sebidang tanah yang aku tau maksudnya untuk kelangsungan hidupku.

Kini aku harus memikirkan ke SMA mana aku harus bersekolah, dan aku pun memutuskan bersekolah di luar daerahku disana aku mulai berpacaran dengan Arya seorang anak Purnawirawan berpangkat Letnan setelah tamat sekolah kami pun masih melangsungan hubungan kami Arya pun mengenalkanku dengan orangtuanya, dan mereka menanyakan asal usul ku dan akhirnya mereka pun bisa menerima aku apa adanya.

Pada umur 23 tahun Arya pun melamarku dan pada saat itu Arya telah menjadi anggota TNI berpangkat KOPKA sementaraku bekerja sebagai karyawan di PT. SAMUDERA dan kami berdua pun melangsungkan penikahan 1 minggu yang akan datang, aku pun pergi ke Jakarta dengan bermodalkan foto ayah dan alamat yang dulu, pas kulihat ternyata rumahnya sudah bagus beda dengan 11 tahun yang lalu, aku pun coba ketuk pintu akhirnya tantelah yang membukanya disana kita berbincang-bincang dan ketika ku lihatkan foto ia agak sinis dan mungkin ia gak menginginkan kehadiranku berada disini, ayah pun datang dan aku langsung menjelaskan maksud dan tujuan aku datang kesini dan ku berikan alamat dimana gendung penikahan aku dan arya. aku pun pamit pulang kembali.

Satu minggu kemudian 13 03 2013 tepat penikahanku, disana suasana sangat ramai dan disana ada ayah pula, ini hari paling bahagia di dalam hidupku sayangnya nenek dan mamah tak ada disini. Setelah pernikahan aku dan Arya ayah tak pernah memberikan kabar lagi menghilang layaknya di telan bumi…

Pernikahanku kini beranjak 10 tahun, kebahagiaan yang tiada tara, aku dikaruniai 2 orang anak dan mereka kembar.. dan setiap pagi selalu ku bangunkan mereka yang dulu tak pernah ku dapatkan dari seorang mamah ku cium mereka, ku siapkan sarapan untuk mereka ku selalu hadir di sekolah tuk mengetahui perkembangan prestasi mereka. benar kata surat nenek “kau kan temukan kebahagiaanmu kelak” dan kini aku telah menemukanya nek, walaupun dulu aku tidak pernah menyebut mamah pada seseorang wanita yang melahirkanku tapi aku bahagia kini Arya dan kedua anakku menyebutku dengan sebutan Mamah.

Cerpen Karangan: Ratih
Blog: ratihangelheart.blogspot.com
Nama: Ratih
Alamat: cukangpadung Rt/07 Rw/04 Panjalu-ciamis
Sekolah: Smk Plus Ysb Pp Suryalaya
Ttl: Ciamis, 13-03-1996

Cerpen Mamah merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Ayah Membuat Derita Menjadi Cerita

Oleh:
Sejak pertama aku melihat dunia, aku tak pernah menemukan dia di sampingku. Dia yang mengandungku selama 9 bulan, dia yang memperjuangkan agar aku bisa tetap hidup dalam rahimnya bahkan

Kamu Bisa

Oleh:
Ada sebuah keluarga yang tinggal di Palangkaraya. Mereka baru saja pindah dari Jakarta ke kota ini sekitar 2 minggu yang lalu. Mereka pindah ke Palangkaraya karena Ayah dipindahkan oleh

Kebahagiaan Ayah

Oleh:
Aku melihat kesedihan yang dalam dari matanya. Matanya yang dulu tegar kini seakan rapuh. Serapuh pelepah kurma yang sudah berumur puluhan tahun. Aku mendekapnya guna menyampaikan bahwa ia tidak

Luh Sari

Oleh:
BALI… Tak pernah terbayang olehku kalau aku akan kembali menginjakan kaki di Pulau ini. Tanah tempat aku dilahirkan 32 tahun yang lalu. Hari ini untuk pertama kalinya sejak 12

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *