Mantel Kesayanganku

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Keluarga, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 24 July 2018

Hari ini cuaca sangat buruk. Hujan lebat mengguyur bumi dan petir menyambar-nyambar. Aku duduk melamun di depan rumahku memikirkan suatu hal yang bisa kulakukan supaya kebutuhan anak dan istriku tetap terpenuhi.

Beberapa hari yang lalu aku dipecat oleh majikanku tanpa alasan. Aku terpaksa pulang dengan harapan hampa. Aku mencoba menerima kenyataan ini walaupun terasa pahit dan berharap Allah SWT memberi yang terbaik untukku dan keluargaku.

Semenjak dipecat, aku belum dapat menemukan pekerjaan yang baru. Anakku Mayang sudah merengek-rengek dari kemarin minta dibelikan buku pelajarannya. Istriku juga terus mendesakku agar segera mencari pekerjaan. Aku hanya mengiyakan kata-kata mereka berdua. Aku sudah banyak melamar pekerjaan tapi tidak ada yang diterima. Terkadang aku menyalahkan diriku karena semasa sekolah dahulu aku tidak serius dalam belajar dan bosan pergi ke sekolah sehingga akhirnya aku berhenti sekolah ketika duduk di bangku kelas 2 SMP. Ijazah SD ku tidak berarti di zaman sekarang, sulit sekali untukku mencari sebuah pekerjaan. Untuk itu, aku selalu menekankan pada Mayang supaya selalu rajin dalam belajar agar ia tak senasib dengan ayah dan ibunya ini.

Hujan tak kunjung reda. Aku terus memperhatikan rintik-rintik hujan yang turun. Air yang turun tak pernah mengeluh padahal ia terus jatuh ke bawah. Aku menyadari hidup itu tak selalu ada di atas, sesekali akan jatuh jua layaknya hujan. Tapi air hujan tak pernah menyerah, ia tetap sabar meskipun berkali-kali jatuh dan suatu saat akan kembali ke atas. Aku terharu dengan apa yang kusaksikan. Subhanallah.

“Pak.. Pak..” Suara Alif tetanggaku membuatku kaget. Ia tampak basah kuyup berdiri di sampingku.
“Ada apa Lif?” tanyaku.
“Gini Pak.. ayahku mau pergi ke rumah teman sekantornya, tapi hujan tak reda juga. Jadi ayah minta tolong padaku untuk meminjam mantel bapak. Kalau Pak Amri tak keberatan, aku mau minjam mantel.” kata Alif.

Mantel yang dimaksud Alif adalah mantel pemberian orangtuaku. Itu satu-satunya benda yang masih kusimpan dan kujaga. Aku teringat pada mereka berdua yang telah susah payah membesarkanku dan bahkan berani mempertaruhkan harta dan nyawanya hanya untukku.

“Pak.. Pak.. kok melamun Pak?”
“Eh iya, sebentar Lif! Bapak ambilkan dulu.”

Aku lalu mengambilkan mantel itu dan meminjamkannya pada Alif. Alif pun segera pulang ke rumahnya. Aku kembali ke lamunanku. Teringat saat ayah dan ibu berpesan agar aku bisa menjadi anak yang baik. Namun, pesan-pesan mereka tak pernah kuindahkan. Sekarang aku sadar bagaimana susahnya menjadi orangtua. Aku menyesal telah mengubur harapan mereka dahulu. Aku tak pernah menduga nasihat orangtuaku itu berguna untukku sekarang padahal dahulu aku menganggap nasihat itu hanya bualan yang tak berguna.

Aku bangun dari tempat dudukku dan masuk rumah. Kulihat anakku Mayang sibuk membuat PRnya. Aku berjalan ke ruang tengah dan mendapati istriku sedang menangis.
“Kenapa kamu menangis Bu?”
Istriku menolehkan pandangannya ke arahku dengan tatapan iba.
“Kenapa?” tanyaku lagi.
“Ibumu meninggal Pak.” Tangisnya pecah dan hp yang digenggamnya diberikan padaku. Dengan tangan menggigil kuletakkan hp itu di telingaku dan terdengarlah suara Epi adikku.
“Bang, ibu meninggal setengah jam yang lalu.”
Hp di tanganku terjatuh ke lantai, aku menangis sejadi-jadinya.

“Sabar Pak.” Istriku berusaha menenangkanku.
Aku segera mengambil sepeda motorku dan berniat pergi ke rumah orangtuaku yang jauhnya sekitar 5 jam dari rumahku.
“Pak, mau ke mana Pak?” tanya istriku.
“Ke rumah ibu.” jawabku singkat.
“Hujan-hujan begini Pak? tunggulah teduh dulu Pak! Rumah ibu sangat jauh dari sini. Bapak pergi sendiri saja?”
“Iya, kamu jaga Mayang baik-baik.” jawabku seolah-olah tak mempedulikan kekhawatiran istriku.

Sekarang aku menuju rumah ibu dengan menempuh hujan lebat dan diramaikan oleh suara hebohnya petir. Tanpa mantel.

Cerpen Karangan: Mei Defrita Ratna Sari
Blog / Facebook: Dhea Meidefrita Ratna Sari

Cerpen Mantel Kesayanganku merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Bermain Di Punggung Malam

Oleh:
“Pengusik”. begitu aku menyebutnya, sebutan untuk sosok kecil yang selalu mengusik tidur malamku, sosok bocah lelaki yang menjadikan malam adalah waktu untuk melakukan segala hal yang ia mau, tak

La Petite Mort

Oleh:
Malam hari terasa aneh bagiku. Suhunya dingin, tetapi tak ada waktu lain yang lebih menghangatkan hatiku dibanding saat malam hari. Makanya, ini adalah waktu favoritku untuk berjalan-jalan di taman

Kakek

Oleh:
Setiap kali kotak musik kayu itu mengalunkan lagunya, Igo akan selalu teringat pada Kakek. Kotak musik itu pemberian Kakek. Bentuknya kecil dan jika ia memainkan lagu, dari dalam kotak

Arina Mana Sikana

Oleh:
“Ibu berwajah bulat, sama sepertimu Rin. Tapi kadang terlihat lonjong. Ah, mungkin wajah ibu sedikit oval dan sedikit lonjong. Akak tak pernah memperhatikan secara detail, tapi karena setiap hari

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *