Manusia ke Tiga

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan
Lolos moderasi pada: 5 June 2013

Jikalau kau memandang seseorang di jalanan kota sana, mungkin kau akan sadar tuk sekedar bertanya, “dari mana asal nya!” Haruskah ku sebut apa, tentunya ialah jelmaan manusia.
Dandanannya sunggu seksi, badannya lebih ramping dari seorang gadis ranum yang jelita. Tapi tak pantas di sebut cantik, tak pantas jua kau sebut tampan.
Lalu apa? Sementara kau termenung melihatnya dengan kegelian dan mungkin bertanya, “Tak merasa malukah ia?” Jangan bodoh iapun begini bukan karena racun kegilaan fana, bukannya bermetamorfosa menjadi jelmaan makhluk lain.
Segelintir orang akan menghindarinya tapi ia tak salah jika ia berkehendak seperti itu.
Sisi demi jalan ia jajahi demi memperuntukan keberuntungannya dan berharap dapat mengupulkan harapan pundi-pundi rupiah. Sering di caci maki, sering juga ku lihat mereka berlarian ketika seseorang dari mereka berseru “Rasia! Rasia! Cepat mendendang kejalanan, melesatlah cepat bak kalah seorang lelaki”

Terkadang sejumlah pedanggang liar kaki limapun jua ikut panik dan menghilang bersama mereka.
Yang tertangkap kan berseru “Tolong jangan tangkap kami, kami ini juga manusia!”
Tak habis pikir kau membatin, berusaha mencerna kata dan maksudnya. Jikalau engkau bingung, bukan kau saja, akupun jua sama! Tikus-tikus got pun hanya berlarian, ketika langkah sang ayu jadi-jadian itu melompati pagar melucuti kejaran seseorang bersenjata. Mereka kan berubah menjadi super herkules untuk melesat cepat dan hanya meninggalkan jejak di rerumputan hijau yang lama tercemar sampah plastik.
Lihat gang-gang sempit itu pun jua jadi pelindung pelarian mereka.
Jikalau kau tau mereka telah menghilang dari rangkulan pandangan mu dengan memunculkan pilosofi, di benak mu. Atau sekedar bertanya di mana mereka? Aku tau di mana mereka berada! Aku juga tau mereka sedang tertelungkup gemetar di semak-semak sana, ada yang nekat masuk di tong sampah berkarip dengan kecoak dan belatung dalam ribuan tetelan busuk di dalamnya.
Para pengerat seperti ku pun ia tahan meski dalam hati melolong dan menjerit gila. Dan lain dari mereka hilang di telan kegelapan malam.
Jikalau kau pergi melangkah menuju tempat yang lebih sepi, yang di penuhi limpah ruah genangan air dan rumah bagi jentik nyamuk atau apalah! Kau akan mendengar suara alunan yang di terbangkan angin dan di jejaki embun dingin. Apakah itu hanya lantunan nyanyian angin, atau suara kendaraan yang menjalar ke telinga mu, atau mungkin apakah hanya sekedar suara gemericik air yang kau buat dengan cara menjejaki langka sepatumu itu.
Tentu suara itu mempunyai asal muasalnya, dan bernyiang kembali pada pemiliknya.
Jika kau sedikit perlahan menjejakan kaki mu itu, kau akan mendengar alunan gelar tangis halus. Ia sedang bersedih ketika kau dapati ia diam-diam, ia sedang bersungut, “Binatangkah kami? Sehingga pemerintahpun menumpas keberadaan kami, kami ini juga punya hak, meski banyak dari sang pelopor berkata kami ini hama jalanan, bukankah kami ini manusia. Aku tau sembari sang Tuhan hanya menciptakan dua manusia, wanita dan lelaki. Tapi Tuhanpun menciptakan kami, di antara kedua ciptaannya itu. Apakah kami ini manusia? Yah kami menyebut diri kami manusia ke tiga”

Dengarkanlah baik-baik keluhannya jika kau sempat mendengar, tapi malah kau menyergapnya dan meringkusnya tanpa melihat bahwa ia juga punya perasaan.
Dan dengan bangganya kau menyeretnya masuk, sampai ke mobil tahanan. Meninggalkan uang recehan yang terbuai dan tercecer di tanah, membuat ku menerawang benda itu dengan hidung ku untuk kemudian ku tinggalkan. ku lihat kau telah selesai dengan tugas mu, melesat gagah dengan kendaraan dinas mu.
Membawa pergi mereka, bersama anak jalanan, dan para pedagang liar seperti membawa buronon kelas kakap.

Setelah kau pergi suasana tampak ambur aduk kios-kios pedagang kaki lima kau remukan tiangnya, tanpa memikirkan satu-satunya sambungan hidup mereka. Sudahlah bukankah kau hanya menerima tugas dari atasan mu, dan seraya atasanmu jua hanya menjalankan kebijakan pemerintah yang mencoba membersihkan kota ini dari para hama jalanan seperti Mereka!
Tapi sebenarnya para pemerintah hanya berusaha menunjukan ketegasan mereka pada rakyat seraya memakai cara, menumpas keberadaan mereka yang sebenarnya adalah rakyat juga, yang di lahap rakus hak kesejatraan mereka dengan cara, mengambil hak bantu bagi wong cilik, tak terkecuali si manusia ke tiga itu, yang sebenarnya hanya menumpang hidup di jalanan berdebu, panas di siang hari, dan dingin di malam hari.

Usaha demi usaha kalian hanya sekedar membuang garam di laut, sia-sia belaka kebijakan para pemimpin keparat yang bersandiwara politik.
Seperti halnya rumput ketika di potong akan tumbuh kembali. Demikianlah mereka juakan memenuhi tempat itu esok nanti.
Akupun hanya melihat pada akhirnya negara ini takkan pernah maju, sebelum di tumpas para, hama politik yang sebenarnya, yaitu para koruptor.

Cerpen Karangan: Daniel Satria Sutrisno
Facebook: Daniel Satria Sutrisno
Nama : Daniel S Sutrisno
TTG : Manado, 15-06-1995

Cerpen Manusia ke Tiga merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


1966

Oleh:
IBU: Ibu masih bayi saat itu, paling cuma bisa menangis. Kata kakekmu, saat itu, ibu dibawa oleh kakek dan nenekmu mengungsi ke kebun kami yang ada di timur desa.

Fragmen Kehidupan

Oleh:
Dinginnya Kota Bogor pada malam itu hingga menusuk sendi-sendi tulang. Berlahan curah hujan beransur reda, seiiring terdengarnya lantunan ayat-ayat Tuhan dari dinding kamar sebelah Motel, yang mengalun dan mendayu-dayu.

Teroris

Oleh:
Suara jangkrik berdayun di sekeliling rumah. angin malam seakan membuat suara ngeri, aku terbangkit dari tidur. Sambil menatap bola jam yang bergerak pelan. “andai saja aku menyetujui papa untuk

Akhir Hayat Sang Honorer

Oleh:
Suasana pagi itu tak seperti biasanya, rumah yang sepi kini mendadak menjadi ramai. Banyak mobil-mobil mewah yang hilir mudik ke sebuah rumah kecil yang terbuat dari ayaman bambu. Tak

Turn Left Turn Right

Oleh:
Beberapa tahun lalu, seorang sahabat karibku menelpon ku, sekitar pukul 10 malam. Saat itu aku menginap di rumah kakak tertuaku, awalnya niatku adalah menemani beliau karena buah hati pertamanya

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *